<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tag dari grebek suro - NU PONOROGO</title>
	<atom:link href="https://nuponorogo.or.id/tag/grebek-suro/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuponorogo.or.id/tag/grebek-suro/</link>
	<description>Official Website PCNU Ponorogo</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Jun 2026 04:18:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2020/09/cropped-favi-nu-ponorogo-32x32.png</url>
	<title>Tag dari grebek suro - NU PONOROGO</title>
	<link>https://nuponorogo.or.id/tag/grebek-suro/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Reyog Lesbumi Ki Ageng Mirah: &#8220;Tiji Tibeh! Mukti Siji, Mukti Kabeh!&#8221;</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/reyog-lesbumi-ki-ageng-mirah-tiji-tibeh-mukti-siji-mukti-kabeh/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/reyog-lesbumi-ki-ageng-mirah-tiji-tibeh-mukti-siji-mukti-kabeh/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 04:18:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[grebek suro]]></category>
		<category><![CDATA[lesbumi]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[nu ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[reog]]></category>
		<category><![CDATA[reyog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8744</guid>

					<description><![CDATA[<p>NU Online Ponorogo &#8211; Tidak seperti biasanya, Mbah Jenggo... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/reyog-lesbumi-ki-ageng-mirah-tiji-tibeh-mukti-siji-mukti-kabeh/">Reyog Lesbumi Ki Ageng Mirah: &#8220;Tiji Tibeh! Mukti Siji, Mukti Kabeh!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_8745" aria-describedby="caption-attachment-8745" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-medium wp-image-8745" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0001-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0001-300x200.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0001-1024x683.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0001-768x512.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0001.jpg 1302w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-8745" class="wp-caption-text">Penampilan Reyog Lesbumi PCNU Ponorogo &#8220;Ki Ageng Mirah &#8216; pada FRNP XXXI</figcaption></figure>
<p>NU Online Ponorogo &#8211; Tidak seperti biasanya, Mbah Jenggo malam itu lebih banyak diam.</p>
<p>Pria yang selama ini dikenal ramah, grapyak, dan selalu melontarkan guyonan segar itu tampak berbeda. Berkali-kali ia menyulut rokok, namun baru sekali hisap, puntung itu kembali diletakkan di atas asbak. Sesekali ia berdiri, berjalan menuju bagian depan kantor PCNU Ponorogo, tetapi urung masuk ke ruangan tempat para remaja NU sedang dirias. Beberapa kali pula ia melangkah ke tepi jalan raya, memandang kendaraan yang lalu-lalang, lalu kembali lagi tanpa mengucapkan apa pun.</p>
<p>Dua ambulans sudah terparkir di halaman. Tak lama kemudian, ambulans milik RSU Muslimat NU Ponorogo datang menyusul. Mbah Jenggo memperhatikannya dari kejauhan. Ia tetap diam. Tak banyak bicara. Tak ada tawa yang biasanya selalu menghidupkan suasana.</p>
<p>Ia kemudian kembali ke ruang santai di sisi timur belakang kantor PCNU Ponorogo. Di sana, Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idham Mustofa, M.Pd., duduk di sampingnya. Keduanya sama-sama lebih banyak terdiam. Hanya sesekali mereka melayani orang-orang yang datang menyalami, lalu kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing.</p>
<p>Barangkali, malam itu mereka sedang memikul beban yang sama.</p>
<p>Bukan beban untuk meraih kemenangan.</p>
<p>Tetapi beban menjaga amanah.</p>
<p>Tepat pukul delapan malam, suasana mendadak berubah. Mas Kancil yang telah mengenakan busana Klono Sewandono memimpin doa. Seluruh penari telah selesai dirias. Mereka berdiri melingkar, saling berpegangan tangan, lalu menundukkan kepala.</p>
<p>&#8220;Ilā hadrati Syaikh Hasyim Asy&#8217;ari&#8230;&#8221;</p>
<p>Suara itu menggema pelan.</p>
<p>Tak lama kemudian, beberapa penari mulai menangis.</p>
<p>Suasana menjadi hening dan sakral.</p>
<p>&#8220;Kita adalah penerus para pendiri NU. Kita membawa nama besar beliau. Bermainlah tanpa beban. Perjuangan kita tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan beliau. Bermainlah dengan sungguh-sungguh, karena malam ini kita mewakili para muassis Nahdlatul Ulama.&#8221;</p>
<figure id="attachment_8746" aria-describedby="caption-attachment-8746" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-8746" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0002-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0002-300x200.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0002-1024x682.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0002-768x512.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0002.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-8746" class="wp-caption-text">Mbah Jenggo saat di Panggung utama FRNP XXXI</figcaption></figure>
<p>Kalimat sederhana yang disampaikan Mas Kancil itu justru membuat banyak hati bergetar. Air mata tak lagi bisa dibendung.</p>
<p>Lalu dari aula depan kantor PCNU Ponorogo terdengar pekikan yang menggetarkan.</p>
<p>&#8220;Reyog Lesbumi Ki Ageng Mirah; Tiji Tibeh! Mukti Siji, Mukti Kabeh!&#8221;</p>
<p>Seakan menjadi energi yang menghapus seluruh keraguan, rasa takut, dan kegelisahan yang sejak sore menghinggapi para penari muda itu.</p>
<p>Satu per satu mereka memasuki ambulans yang akan membawa mereka menuju Alun-Alun Ponorogo, tempat berlangsungnya Festival Reyog Nasional Ponorogo XXXI. Sebagian lainnya berangkat dengan sepeda motor. Termasuk Ketua PCNU Ponorogo yang memilih membersamai mereka.</p>
<p>Sirene ambulans meraung memecah kemacetan malam.</p>
<p>Barangkali pemandangan itu menjadi sesuatu yang tidak biasa. Ketika ambulans yang lazimnya membawa orang sakit, malam itu justru membawa semangat, harapan, dan cita-cita.</p>
<p>Setibanya di belakang panggung utama, rombongan Reyog Lesbumi PCNU Ponorogo &#8220;Ki Ageng Mirah&#8221; bergabung dengan peserta-peserta lain.</p>
<p>Di sana mereka menyaksikan kelompok-kelompok besar dengan segala kemegahannya. Bus-bus eksekutif berjajar rapi. Dukungan dana yang besar memungkinkan sebagian peserta datang dengan fasilitas yang serba mewah.</p>
<p>Sedangkan mereka datang dengan ambulans.</p>
<p>Peserta lain mungkin memiliki perlengkapan yang lebih lengkap dan dukungan yang berlimpah. Namun bagi Reyog Ki Ageng Mirah, dapat ikut serta saja sudah menjadi rasa syukur yang luar biasa.</p>
<p>Karena mereka tahu, kemewahan tidak selalu melahirkan semangat.</p>
<p>Dan semangat itulah yang mereka miliki.</p>
<figure id="attachment_8749" aria-describedby="caption-attachment-8749" style="width: 225px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-8749" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0005-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0005-225x300.jpg 225w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0005-768x1024.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0005-1152x1536.jpg 1152w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0005.jpg 1200w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /><figcaption id="caption-attachment-8749" class="wp-caption-text">Kelono Sewandono, Mas Kancil memimpin pasukan Mbah Hasyim</figcaption></figure>
<p>Sejak pukul dua siang mereka telah mulai berdandan dan mempersiapkan diri. Delapan jam lamanya mereka menunggu giliran tampil hingga akhirnya nama mereka dipanggil sekitar pukul sepuluh malam.</p>
<p>Tak ada wajah mengeluh.</p>
<p>Tak ada yang menyerah pada rasa lelah.</p>
<p>Yang mereka bawa hanyalah semangat pengabdian.</p>
<p>Mereka adalah putra-putri terbaik Nahdlatul Ulama.</p>
<p>Anak-anak muda yang dididik untuk mencintai tradisi dan menjaga warisan leluhur.</p>
<p>Sebagaimana pesan yang diwariskan para guru mereka:</p>
<p>&#8220;Bondo, ndonyo, yen perlu sak nyawane.&#8221;</p>
<p>Harta, dunia, bahkan bila perlu nyawa sekalipun.</p>
<p>Begitulah cara mereka memaknai perjuangan.</p>
<p>Ketika suara pembawa acara memanggil nama Reyog Lesbumi PCNU Ponorogo &#8220;Ki Ageng Mirah&#8221;, seluruh keraguan seolah sirna.</p>
<p>Jaranan berhamburan memasuki gelanggang.</p>
<p>Puluhan warok dengan gagah dipimpin warok sepuh melangkah menuju arena. Ganongan berjumpalitan tanpa lelah. Dadak merak dan harimau meliuk-liuk diterpa angin malam Alun-Alun Ponorogo yang kering oleh musim kemarau.</p>
<p>Di bawah komando Klono Sewandono, seluruh gerak tampak menyatu. Gamelan bertalu-talu mengiringi setiap adegan. Irama yang menghentak itu menghadirkan suasana yang seolah membawa penonton pada sebuah medan perjuangan.</p>
<p>Bukan peperangan dengan senjata.</p>
<p>Tetapi perjuangan menjaga budaya.</p>
<figure id="attachment_8748" aria-describedby="caption-attachment-8748" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-8748" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0003-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0003-300x200.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0003-1024x682.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0003-768x512.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0003-1536x1023.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0003.jpg 1600w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-8748" class="wp-caption-text">Tak ada kata lelah bagi mereka saat berkhidmah</figcaption></figure>
<p>Perjuangan mempertahankan identitas.</p>
<p>Perjuangan merawat warisan yang telah dititipkan oleh para leluhur.</p>
<p>Riuh tepuk tangan penonton berkali-kali menggema. Sorak-sorai terdengar dari berbagai penjuru. Di kursi undangan tampak para kiai, pengurus PCNU, serta para tokoh yang menyaksikan dengan penuh kebanggaan.</p>
<p>Dan ketika drama kolosal itu berakhir, satu per satu para penari berjalan menuju sisi selatan panggung.</p>
<p>Tak ada teriakan kemenangan.</p>
<p>Yang terdengar justru tangis haru.</p>
<p>Mereka bersujud syukur.</p>
<p>Beban panjang yang selama ini mereka pikul akhirnya terlepas.</p>
<p>Mereka telah menunaikan tugas.</p>
<figure id="attachment_8747" aria-describedby="caption-attachment-8747" style="width: 225px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-8747" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0004-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0004-225x300.jpg 225w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0004-768x1024.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0004-1152x1536.jpg 1152w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG-20260615-WA0004.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px" /><figcaption id="caption-attachment-8747" class="wp-caption-text">Pasukan warok andalan NU</figcaption></figure>
<p>Mereka telah menyelesaikan amanah.</p>
<p>Dan saat itulah, keceriaan Mbah Jenggo yang sejak sore menghilang akhirnya kembali terlihat. Tawa khasnya pecah lagi. Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idham Mustofa, pun kembali tersenyum lepas. Kegelisahan yang sejak awal mengiringi perjalanan mereka telah berubah menjadi rasa syukur yang mendalam.</p>
<p>Malam itu, Reyog Lesbumi PCNU Ponorogo &#8220;Ki Ageng Mirah&#8221; mungkin tidak tampil dengan kemewahan.</p>
<p>Tetapi mereka telah memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.</p>
<p>Bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari kelimpahan.</p>
<p>Bahwa keterbatasan tidak pernah mampu mengalahkan ketulusan.</p>
<p>Dan bahwa semangat kebersamaan yang diwariskan para pendahulu tetap hidup dalam dada anak-anak muda Nahdlatul Ulama.</p>
<p>&#8220;Tiji Tibeh! Mukti Siji, Mukti Kabeh!&#8221;</p>
<p>Satu terluka, semua merasakan.</p>
<p>Satu sejahtera, semuanya ikut merasakan.</p>
<p>Sebab bagi mereka, kemenangan sejati bukanlah berdiri paling tinggi di atas panggung.</p>
<p>Melainkan pulang dengan hati yang tenang, karena telah memberikan yang terbaik bagi Nahdlatul Ulama, bagi budaya Reyog Ponorogo, dan bagi Indonesia.</p>
<p>***<br />
Nanang Diyanto/LKNU Ponorogo</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/reyog-lesbumi-ki-ageng-mirah-tiji-tibeh-mukti-siji-mukti-kabeh/">Reyog Lesbumi Ki Ageng Mirah: &#8220;Tiji Tibeh! Mukti Siji, Mukti Kabeh!&#8221;</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/reyog-lesbumi-ki-ageng-mirah-tiji-tibeh-mukti-siji-mukti-kabeh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
