<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tag dari sejarah - NU PONOROGO</title>
	<atom:link href="https://nuponorogo.or.id/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuponorogo.or.id/tag/sejarah/</link>
	<description>Official Website PCNU Ponorogo</description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Nov 2025 02:06:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2020/09/cropped-favi-nu-ponorogo-32x32.png</url>
	<title>Tag dari sejarah - NU PONOROGO</title>
	<link>https://nuponorogo.or.id/tag/sejarah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Spiritualitas Kaderisasi: Kisah Mbah Romazin Ditolong Mbah Hasyim</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/spiritualitas-kaderisasi-kisah-mbah-romazin-ditolong-mbah-hasyim/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/spiritualitas-kaderisasi-kisah-mbah-romazin-ditolong-mbah-hasyim/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Nov 2025 02:06:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[kh hasyim asyari]]></category>
		<category><![CDATA[mbah hasyim]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[nu ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8171</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah kisah yang menggugah hati didapatkan redaksi, Kamis (20/11).... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/spiritualitas-kaderisasi-kisah-mbah-romazin-ditolong-mbah-hasyim/">Spiritualitas Kaderisasi: Kisah Mbah Romazin Ditolong Mbah Hasyim</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_8172" aria-describedby="caption-attachment-8172" style="width: 768px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-8172" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/11/Hasyim_Asyari.jpg" alt="" width="768" height="982" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/11/Hasyim_Asyari.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/11/Hasyim_Asyari-235x300.jpg 235w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption id="caption-attachment-8172" class="wp-caption-text">Foto Mbah Hasyim, (sumber: wikipedia)</figcaption></figure>
<p>Sebuah kisah yang menggugah hati didapatkan redaksi, Kamis (20/11). Cerita itu disampaikan Drs. H. Fatchul Aziz, M.A., Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur, melalui sambungan WhatsApp. Mantan Ketua PCNU Ponorogo periode 2014–2024 itu mendapatkannya dari Sekretaris PWNU Jawa Timur, Ir. H. Moh. Faqih, Ph.D., yang menuturkan kembali pengalaman KH. Ali Mashar, salah satu instruktur PD PKPNU.</p>
<p>Kisah ini terjadi saat Pelatihan Dasar PD PKPNU Klarangan, Sidoagung, Tempuran, Magelang, 16 November 2025. Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Mbah Romazin, seorang sepuh dari Dusun Kemutuk. Baru pulang dari perantauan, ia tiba-tiba diberi amanah menjadi ketua takmir musala di kampungnya. Merasa belum memahami NU, ia memutuskan untuk ikut PD PKPNU sebagai bentuk tanggung jawab dan ikhtiar belajar.</p>
<p>Dengan berbekal semangat, ia berangkat menuju lokasi pelatihan menggunakan sepeda, diantar oleh sang istri. Namun perjalanan itu tidak mulus. Di tengah jalan, Mbah Romazin mengalami kecelakaan tunggal dan terjatuh ke selokan. Dalam kondisi lemah, muncul seorang lelaki yang menolongnya dan bertanya hendak ke mana ia pergi.</p>
<p>“Ajeng nderek PD NU (PD PKPNU, Red), niku (akan ikut PD PKPNU, itu)&#8217;,” jawab Mbah Romazin.</p>
<p>Penolong itu menepuk pundaknya sembari member dorongan semangat. “Sae pun niku… teraske, teraske (bagus itu, teruskan, teruskan).” kata si penolong. Kalimat sederhana inilah yang memperkuat langkah Mbah Romazin untuk tetap mengikuti pelatihan hingga tuntas.</p>
<p>Puncak kisah terjadi pada hari terakhir kegiatan, ketika peserta menjalani rihlah. Mbah Romazin mendapat tugas ke Dusun Pletukan dan lebih dulu sowan kepada Mustamid, Ketua Tanfidziyah Ranting NU setempat. Saat memasuki ruang tamu, langkahnya mendadak terhenti. Matanya terpaku pada sebuah foto besar Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‘ari yang terpajang di dinding.</p>
<p>Tubuhnya melemas. Rekan-rekannya panik dan bertanya, &#8220;Enten nopo, Mbah? Enten nopo? _(ada apa, mbah? Ada apa?).” tanya salah satu anggota kelompok rihlah. Dengan suara bergetar, mbah Romazin menjawab pertanyaan itu yang membuat semua yang hadir merinding.</p>
<p>“Niku… seng teng foto niku… seng nulungi kulo pas tiba saking sepeda winggi… (Itu… yang di foto itu… yang menolong saya ketika saya jatuh dari sepeda kemarin…).</p>
<p>Ruangan seketika hening. Sebuah pengalaman spiritual yang tak mungkin ia lupakan, dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.</p>
<p>Menurut KH. Ali Mashar, cerita Mbah Romazin bertemu Hadratussyaih menjadi pengingat bagi para instruktur dan pengurus NU bahwa kaderisasi bukan hanya proses belajar, tetapi juga perjalanan ruhani yang sering diiringi pertolongan Allah dengan cara yang tak terduga.</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/spiritualitas-kaderisasi-kisah-mbah-romazin-ditolong-mbah-hasyim/">Spiritualitas Kaderisasi: Kisah Mbah Romazin Ditolong Mbah Hasyim</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/spiritualitas-kaderisasi-kisah-mbah-romazin-ditolong-mbah-hasyim/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ponorogo Dalam Catatan Lucien Adam (Residen Madiun 1934-1938)</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/ponorogo-dalam-catatan-lucien-adam-residen-madiun-1934-1938/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/ponorogo-dalam-catatan-lucien-adam-residen-madiun-1934-1938/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2025 08:37:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[nu ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[residen madiun]]></category>
		<category><![CDATA[reyog]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7426</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Membicarakan Ponorogo sering kali identik dengan Reyog dan... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/ponorogo-dalam-catatan-lucien-adam-residen-madiun-1934-1938/">Ponorogo Dalam Catatan Lucien Adam (Residen Madiun 1934-1938)</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_7427" aria-describedby="caption-attachment-7427" style="width: 1048px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-7427" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-09-at-15.30.36_75501f3e.jpg" alt="" width="1048" height="832" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-09-at-15.30.36_75501f3e.jpg 1048w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-09-at-15.30.36_75501f3e-300x238.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-09-at-15.30.36_75501f3e-1024x813.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/09/WhatsApp-Image-2025-09-09-at-15.30.36_75501f3e-768x610.jpg 768w" sizes="(max-width: 1048px) 100vw, 1048px" /><figcaption id="caption-attachment-7427" class="wp-caption-text">Rumah Asisten Residen Masa Hindia Belanda di Ponorogo tahun 1915, sekarang menjadi bangunan SMPN 1 Ponorogo/ sumber foto Instagram @ponorogo_heritage</figcaption></figure>
<p><span style="color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 17px;">Membicarakan Ponorogo sering kali identik dengan Reyog dan pesantren. Namun, jika kita menelusuri lebih dalam, Ponorogo menyimpan jejak sejarah ketatanegaraan yang panjang, kompleks, dan menarik untuk dikaji. Salah satu sumber penting adalah catatan Lucien Adam, Residen Madiun periode 1934–1938, yang kemudian diterjemahkan dan diterbitkan dalam buku </span><em style="color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 17px;">Antara Lawu dan Wilis (KPG, 2022)</em><span style="color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 17px;">. Melalui karya tersebut, Ponorogo tampil bukan sekadar daerah pinggiran, tetapi simpul penting dalam dinamika politik dan hukum kolonial di Jawa Timur. </span>Lucien Adam bukanlah pejabat kolonial biasa. Ia berasal dari keluarga kosmopolitan Belanda yang telah menetap di Hindia sejak abad ke-19. Adam memiliki latar akademis kuat, menguasai bahasa Melayu dan Jawa krama, serta menaruh perhatian serius pada hukum adat. Catatan yang ia tulis semasa menjabat residen di Madiun memuat kisah Ponorogo, Magetan, Pacitan, Ngawi, hingga Madiun—wilayah yang kala itu berada dalam satu karesidenan.</p>
<p>Namun, catatan kolonial selalu menyimpan ambivalensi. Di satu sisi, ia memberikan data berharga tentang konfigurasi politik, hukum adat, hingga kehidupan sosial budaya masyarakat lokal. Di sisi lain, ia adalah produk kekuasaan: pandangan kolonial yang mengonstruksi realitas sesuai kepentingan Belanda.</p>
<p>Dalam struktur kolonial, Ponorogo ditempatkan di bawah Karesidenan Madiun. Residen berperan sebagai penghubung pusat kekuasaan di Batavia dengan elite lokal seperti bupati. Bupati Ponorogo, sebagaimana kabupaten lain di Madiun Raya, tak lagi bertanggung jawab pada Sultan Yogyakarta atau Surakarta pasca-Perang Diponegoro 1830, melainkan langsung ke residen. Inilah wujud nyata perubahan relasi kuasa: otonomi lokal Jawa secara perlahan dilemahkan dan digantikan oleh hierarki kolonial.</p>
<p>Ponorogo dalam catatan Adam digambarkan sebagai wilayah dengan basis Islam kuat melalui pesantren dan tradisi perdikan. Desa perdikan, yakni desa bebas pajak yang kerap terkait pesantren atau makam tokoh penting, menjadi ruang interaksi antara kekuasaan lokal dan kolonial. Di sinilah peran residen tampak: mengawasi, mencatat, bahkan mereinterpretasi adat agar selaras dengan kepentingan kolonial.</p>
<p>Analisis atas catatan Adam dapat diperkaya dengan teori kekuasaan Michel Foucault. Kekuasaan tidak hanya bekerja lewat represi fisik, melainkan juga melalui produksi pengetahuan. Dengan mendokumentasikan adat, struktur sosial, atau tradisi Ponorogo, Adam sedang membangun “arsip kolonial” yang merepresentasikan masyarakat lokal sebagai objek studi, bukan subjek sejarah.</p>
<p>Hal ini senada dengan kritik Edward Said tentang orientalisme: pengetahuan kolonial sering menyajikan masyarakat Timur sebagai “terbelakang” dan “perlu dibimbing.” Pujian terhadap budaya lokal seperti Reyog atau pesantren sering kali dibarengi nada paternalistik, seakan kemajuan itu tak lepas dari campur tangan kolonial. Dengan demikian, catatan Adam adalah wacana yang mengandung kekuasaan, bukan netral.</p>
<p>Pemerintahan kolonial di Jawa menerapkan dualisme hukum: hukum Barat untuk orang Eropa, hukum adat untuk pribumi. Residen memiliki kewenangan mengawasi jalannya hukum adat. Bila dipandang bertentangan dengan kepentingan kolonial, hukum adat bisa diintervensi atau diubah.</p>
<p>Dalam kerangka teori hegemoni Antonio Gramsci, dominasi ini berjalan bukan semata lewat paksaan, melainkan melalui konsensus semu. Hukum adat dibiarkan hidup, tetapi maknanya diarahkan agar selaras dengan kolonialisme. Misalnya, hak tanah perdikan yang semula terkait fungsi religius diubah menjadi instrumen kontrol politik dan ekonomi. Ponorogo, dengan banyak desa perdikan, menjadi laboratorium kecil dari politik hukum semacam ini.</p>
<p>Lucien Adam juga memainkan peran penting dalam menjaga relasi antara pemerintah kolonial dan elite lokal Ponorogo. Politik kooptasi dijalankan: bupati dan tokoh pesantren dilibatkan dalam administrasi kolonial untuk menciptakan stabilitas. Bila loyal, mereka dipuji; bila membangkang, bisa segera dipinggirkan.</p>
<p>Relasi semacam ini menimbulkan ambivalensi. Di satu sisi, elite lokal tetap memiliki ruang manuver, misalnya dalam mengelola pesantren atau tanah perdikan. Di sisi lain, ruang tersebut dibatasi oleh garis merah kolonial. Ponorogo pun menjadi contoh bagaimana kekuasaan kolonial bekerja halus, memanfaatkan struktur tradisional untuk kepentingan penjajahan.</p>
<p>Catatan Adam juga menyingkap bahwa Ponorogo bukan sekadar kabupaten terpencil, melainkan ruang historis yang strategis. Sejak masa Hindu-Buddha, Islam, hingga kolonial, wilayah ini berulang kali menjadi lokasi pengungsian keluarga raja, medan perlawanan, hingga pusat perdikan pesantren. <em>Babad Panaraga</em> dan <em>Babad Pacitan</em>, yang jarang disentuh sejarawan, memperkaya gambaran bahwa Ponorogo memiliki jejak panjang dalam sejarah politik Jawa.</p>
<p>Dalam konteks pemerintahan daerah hari ini, memori kolektif itu penting. Ia mengingatkan bahwa Ponorogo punya tradisi panjang dalam mengelola kemandirian politik dan hukum, meski seringkali ditekan kekuatan eksternal.</p>
<p>Membaca catatan Lucien Adam dengan kacamata pemerintahan daerah memberi dua pelajaran penting. <em>Pertama,</em> perlunya kesadaran kritis terhadap warisan kolonial dalam administrasi lokal. Dualisme hukum, kooptasi elite, hingga dominasi wacana masih bisa berjejak dalam praktik pemerintahan pasca-kemerdekaan.</p>
<p><em>Kedua,</em> pentingnya menggali sumber sejarah lokal untuk memperkuat identitas daerah. Sejarah Ponorogo dalam catatan Adam, babad lokal, maupun memori pesantren memperlihatkan betapa kaya modal sosial-budaya daerah. Modal ini dapat menjadi pijakan bagi pemerintah daerah dalam membangun kebijakan berbasis kearifan lokal—bukan sekadar mengulang pola kontrol dari luar.</p>
<p>Catatan Lucien Adam tentang Ponorogo bukan sekadar arsip kolonial, melainkan cermin tarik-menarik kekuasaan, hukum, dan budaya. Ia menunjukkan bagaimana Ponorogo diposisikan, direpresentasikan, bahkan dikendalikan dalam kerangka kolonial. Namun, sekaligus memberi ruang bagi kita hari ini untuk membaca ulang, merebut kembali, dan menuliskan sejarah dari perspektif lokal.</p>
<p>Bagi Ponorogo, membaca sejarah bukan nostalgia belaka. Ia adalah upaya mengingat identitas, memahami relasi kuasa, dan merumuskan masa depan pemerintahan daerah yang lebih berpihak pada rakyatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penulis: <strong>Lukman Santoso Az<em>, </em></strong><em>merupakan akademisi dan peneliti di UIN Ponorogo. Ia aktif menulis esai, opini, artikel ilmiah, dan buku mengenai hubungan negara, masyarakat, dan tradisi hukum. Selain mengajar, ia terlibat dalam berbagai riset kolaboratif di bidang hukum, syariah, serta pemerintahan daerah. Melalui karya-karyanya, Lukman berupaya menjembatani perspektif historis, hukum, dan sosial untuk memperkaya wacana akademik maupun kebijakan publik.</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/ponorogo-dalam-catatan-lucien-adam-residen-madiun-1934-1938/">Ponorogo Dalam Catatan Lucien Adam (Residen Madiun 1934-1938)</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/ponorogo-dalam-catatan-lucien-adam-residen-madiun-1934-1938/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pancasila dan Qanun Asasi</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/7289-2/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/7289-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 May 2025 23:14:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7289</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kronik Sejarah Siapa yang menyangka di balik Surat Keputusan... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/7289-2/">Pancasila dan Qanun Asasi</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img decoding="async" class="wp-image-7290 alignleft" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/06/Pancasila.jpg" alt="" width="370" height="370" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/06/Pancasila.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/06/Pancasila-300x300.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/06/Pancasila-1024x1024.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/06/Pancasila-150x150.jpg 150w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/06/Pancasila-768x768.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/06/Pancasila-250x250.jpg 250w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/06/Pancasila-80x80.jpg 80w" sizes="(max-width: 370px) 100vw, 370px" />Kronik Sejarah</strong></p>
<p>Siapa yang menyangka di balik Surat Keputusan Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda De Jonge tertanggal 28 Desember 1933, ternyata Tuhan menitipkan catatan takdir sejarah yang indah untuk Indonesia. Surat yang menjadikan Ir. Soekarno harus diasingkan ke Pulau Ende itu, justru menjadi peristiwa bersejarah. Ya, karena di situlah Bung Karno menemukan inspirasi tentang 5 Sila yang kelak akan menjadi pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.<span id="more-7289"></span></p>
<p>Dan inilah skenario Tuhan; berawal dari Bung Karno, Inggit Garnasih (istrinya), Ratna Djuami (anak angkat), Ibu Amsi (mertua) yang dibawa kapal barang KM van Riebeeck berangkat dari Surabaya menuju Flores. Butuh waktu 8 hari untuk sampai di Pelabuhan Ende. Bung Karno dan keluarga dibawa ke rumah pengasingan milik H. Abdullah Amburawu di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kotaraja. Di pelataran rumah inilah, tepatnya di bawah pohon Sukun, Bung Karno mendapat inspirasi Pancasila di sela-sela 4 tahun masa pengasingannya (14 Januari 1934 – 18 Oktober 1938).</p>
<p>Untuk pertama kalinya, Soekarno membawa rumusan Pancasila di Sidang Pertama BPUPKI (Dokuritsu Junbi Chosakai) di Gedung Chuo Sangi In pada tanggal 1 Mei 1945. Rumusan Pancasila ini kemudian masih harus diuji oleh Panitia Sembilan beranggotakan Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Mr. AA Maramis, dan Achmad Soebardjo. Hingga akhirnya Pancasila dimasukkan ke dalam UUD 1945 dan disahkan menjadi dasar negara pada Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945.</p>
<p>Dalam perjalanannya sebagai dasar negara, Pancasila mengalami pasang surut. Ironisnya, tantangan terberat justru datang dari dalam. Sejarah mencatat, berkali-kali Pancasila diuji kesaktiannya. Dari yang terang-terangan ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi lainnya, baik dari gerakan ekstrim kiri maupun gerakan ekstrim kanan. Pancasila bahkan juga pernah dikerdilkan dari hakekat dan spirit yang ada di dalamnya melalui penerapan butir-butir P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) di jaman Orde Baru.</p>
<p><strong>Nilai Pancasila</strong></p>
<p>Pancasila tidak lahir dari ruang kosong yang berisi gagasan absurd. Sebaliknya, Pancasila adalah kristalisasi nilai yang sudah dipraktekkan selama ratusan tahun. “<em>Aku tidak mengatakan bahwa aku menciptakan Pancasila. Yang kulakukan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami sendiri, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah</em>,” aku Bung Karno kepada Cynthia Heller Adams, satu-satunya kolumnis Amerika yang diijinkan wawancara.</p>
<p>Gagasan awal Bung Karno tentang Pancasila, memang sedikit berbeda. Baik dari segi urutan maupun redaksional. Pada awalnya, Bung Karno menawarkan sila pertama berisi peneguhan atas identitas sebagai <em>nation</em>–<em>state</em> dengan redaksi <strong>Kebangsaan Indonesia</strong>. Gagasan ini merujuk pada kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit yang dinilai Bung Karno pernah menerapkan konsep <em>nation</em>–<em>state</em>.</p>
<p>Kesadaran berbangsa dan bernegara ini tidak boleh melampaui batas. Bung Karno sangat memahami bahwa kesadaran ini bisa overdosis dan pada akhirnya terjerumus pada ultra nasionalisme atau <em>chauvinisme</em> (sikap cinta tanah air berlebihan, <strong><em>red</em></strong>). Maka sila kedua yang diusulkan adalah <strong>Internasionalisme</strong> atau <strong>Perikemanusiaan</strong>.</p>
<p>Internasionalisme yang diusung Bung Karno bukanlah <em>Internationale</em> ala Vladimir Lenin, Leon Trotsky ataupun Joseph Stalin yang tergambar melalui <a href="https://en-m-wikipedia-org.translate.goog/wiki/Communist_International?_x_tr_sl=en&amp;_x_tr_tl=id&amp;_x_tr_hl=id&amp;_x_tr_pto=sge#:~:text=The%20Communist%20International%2C%20abbreviated%20as,1943%20and%20advocated%20world%20communism.">Komintern</a> (Komunisme Internasional, <strong><em>red</em></strong>). Juga bukan model Tandhimul Jihad yang mengejawantah menjadi Hizbut Tahrir, atau Ikhwanul Muslimin yang mengeras setelah selingkuh dengan gerakan salafi.</p>
<p>“<em>Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme</em>,” kata Bung Karno dalam pidatonya.</p>
<p>Sila ketiga adalah <strong>Mufakat</strong> atau <strong>Demokrasi</strong>. Bung Karno mengingatkan bahwa Indonesia didirikan bukan hanya untuk kelompok atau golongan tertentu saja. Bung Karno menyebutnya dengan ‘<em>semua buat semua</em>, <em>satu buat semua</em>‘. Maka segala hal perbedaan dan perselisihan, hendaknya diselesaikan secara musyawarah dengan persepektif untuk kebaikan semua golongan.</p>
<p>Ketika semua hal sudah bisa dibicarakan bersama melalui musyawarah mufakat, maka tujuan berikutnya adalah <strong>Kesejahteraan Sosial</strong> yang sekaligus diusulkan sebagai sila keempat. “<em>Semua rakyat sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi</em>”, begitu kata Bung Karno. Dan inilah yang menjadi salah satu tujuan kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Dan pada akhirnya, Indonesia Merdeka yang memegang teguh 4 prinsip (sila) di atas akan sampai pada kehidupan Ketuhanan Yang Berkebudayaan. Bahwa masing-masing umat beragama akan menjalankan agamanya secara berkebudayaan. Yakni dengan menghindarkan diri dari egoisme agama. Dengan begitu, maka agama akan tumbuh subur dalam suasana harmoni yang indah.</p>
<p>Alih-alih memahami substansi dan spiritnya, yang terjadi malah justru pembelokan atas Pancasila meskipun dari luar terlihat baik. Sebagaimana dilakukan Soeharto di era Orde Baru dengan klaim P4 sebagai manifestasi dari Pancasila. Kenyataannya, jauh dari spirit Pancasila.</p>
<p>Bung Karno menerangkan secara lugas, andaikata Pancasila diperas untuk diambil intisarinya maka akan menjadi Trisila. Yaitu : <strong>Sosio Nasionalisme</strong>, <strong>Sosio Demokrasi</strong> dan <strong>Ketuhanan</strong>. Dan jika Trisila diperas lagi untuk diambil <em>core of the core</em>-nya, maka akan diperoleh Ekasila. Yaitu : <strong>Gotong Royong</strong>.</p>
<p>Gotong royong inilah yang menjadi pondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila yang sudah ditetapkan sebagai dasar negara, harus tercermin di semua bidang kehidupan. Dalam bidang ekonomi misalnya, maka formula seperti apa yang mencerminkan satu bentuk gerakan ekonomi yang berbasiskan gotong royong. Salah satunya adalah model gerakan koperasi. Dan begitulah seharusnya di bidang-bidang lainnya.</p>
<p>Dan pada akhirnya, muncul satu pertanyaan sebagaimana judul di atas ; Apakah Pancasila sejalan dengan Qanun Asasi? Apakah spirit Pancasila sejalan dengan spirit Qanun Asasi? Bukankah Qanun Asasi yang ditulis Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari juga memuat nilai-nilai gotong-royong meskipun dengan menggunakan redaksi yang berbeda? Bukankah Qanun Asasi yang secara hirarki berada di atas AD/ART Nahdlatul Ulama juga memuat nilai perkumpulan (<em>ijtima’</em>), saling mengenal (<em>ta’aruf</em>) persatuan (<em>ittihad</em>), dan kebersamaan (<em>ta’alluf</em>)?</p>
<p>Maka tidak perlu heran jika <em>nahdliyin</em> adalah penjaga sejati Pancasila.</p>
<p>Siapa kita? NU</p>
<p>Pancasila? Jaya</p>
<p>NKRI? Harga Mati</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>AGUS NASRUDDIN, ST</strong></p>
<p>(<em>Sekretaris PCNU Ponorogo</em>)</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/7289-2/">Pancasila dan Qanun Asasi</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/7289-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KEUTAMAAN MEMBACA RIWAYAT KISAH PARA AULIYA ALLAH SWT</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/keutamaan-membaca-riwayat-kisah-para-auliya-allah-swt/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/keutamaan-membaca-riwayat-kisah-para-auliya-allah-swt/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 23:04:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[auliya]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>
		<category><![CDATA[wali]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=5252</guid>

					<description><![CDATA[<p>۞ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ْعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ‎ وَعَلَى الِ... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keutamaan-membaca-riwayat-kisah-para-auliya-allah-swt/">KEUTAMAAN MEMBACA RIWAYAT KISAH PARA AULIYA ALLAH SWT</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5411" aria-describedby="caption-attachment-5411" style="width: 1920px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-5411" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/04/KEUTAMAAN-MEMBACA-RIWAYAT-KISAH-PARA-AULIYA-ALLAH-SWT.jpg" alt="KEUTAMAAN MEMBACA RIWAYAT KISAH PARA AULIYA ALLAH SWT" width="1920" height="1080" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/04/KEUTAMAAN-MEMBACA-RIWAYAT-KISAH-PARA-AULIYA-ALLAH-SWT.jpg 1920w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/04/KEUTAMAAN-MEMBACA-RIWAYAT-KISAH-PARA-AULIYA-ALLAH-SWT-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/04/KEUTAMAAN-MEMBACA-RIWAYAT-KISAH-PARA-AULIYA-ALLAH-SWT-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/04/KEUTAMAAN-MEMBACA-RIWAYAT-KISAH-PARA-AULIYA-ALLAH-SWT-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/04/KEUTAMAAN-MEMBACA-RIWAYAT-KISAH-PARA-AULIYA-ALLAH-SWT-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/04/KEUTAMAAN-MEMBACA-RIWAYAT-KISAH-PARA-AULIYA-ALLAH-SWT-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-5411" class="wp-caption-text">KEUTAMAAN MEMBACA RIWAYAT KISAH PARA AULIYA ALLAH SWT</figcaption></figure>
<p>۞ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ْعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ‎ وَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ ۞</p>
<p>🟢 ULAMA&#8217; 🟢</p>
<h2>KEUTAMAAN MEMBACA RIWAYAT KISAH PARA AULIYA ALLAH SWT</h2>
<p>Asy-Syekh KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari (Guru Sekumpul), Berkata :</p>
<p>&#8220;Barang Siapa Yang Membaca Dan Mendengar Riwayat Hidup Seorang Waliyulloh, Maka Si Pembaca Dan Si Pendengar Diampuni Alloh Segala Dosanya Dan Diberi Alloh Rahmat Dunia Dan Akhirat. Dan Dibanyakkan Alloh Ta&#8217;ala Rezekinya Yang Halal Dan Diberikan husnul Khotimah.&#8221;</p>
<p>Beliau Juga Berkata :</p>
<p>&#8220;Supaya Jasad Tidak Hancur Di Dalam Kubur adalah Mencintai Para Waliyulloh Dengan Cara Sering Membaca Riwayat Mereka&#8221;</p>
<p>&#8220;Tiada Jalan Untuk Selamat Di Akhir Zaman Ini Melainkan Mendekati Dan Mengambil Berkat Ulama (Wali) Baik Yang Masih Hidup Maupun Yang Sudah Wafat. Maksud Mendekati Dan Mengambil Berkat Yaitu Mencintai, Membantu, Bersilaturrahim, Hadir Majelis, Mengamalkan Segala Ilmu, Wiridan Dan Nasehat Mereka, Serta Ziarah Ke Kubur Mereka Apabila Sudah Wafat.&#8221;</p>
<p>Selamat beraktifitas pada hari ini</p>
<p>Ya Allah&#8230; Bimbing kami tuk menuju jalan ridhoMu berkahi hidup kami matikan kami dengan Husnul khatimah alfatihah 🤲🤲</p>
<blockquote><p>Al-Faqir<br />
H. Marhaban Ahmad<br />
PP ilhamul qudus<br />
Ponorogo</p></blockquote>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keutamaan-membaca-riwayat-kisah-para-auliya-allah-swt/">KEUTAMAAN MEMBACA RIWAYAT KISAH PARA AULIYA ALLAH SWT</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/keutamaan-membaca-riwayat-kisah-para-auliya-allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>WAFATNYA SAYYIDAH FATIMAH AZZAHRA</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/wafatnya-sayyidah-fatimah-azzahra/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/wafatnya-sayyidah-fatimah-azzahra/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2023 02:32:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=4994</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230; WAFATNYA SAYYIDAH FATIMAH AZZAHRA Bismillahirrahmanirrahim&#8230; Shollallahu&#8217;alaa... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/wafatnya-sayyidah-fatimah-azzahra/">WAFATNYA SAYYIDAH FATIMAH AZZAHRA</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_5213" aria-describedby="caption-attachment-5213" style="width: 1920px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-5213" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/02/WAFATNYA-SAYYIDAH-FATIMAH-AZZAHRA.jpg" alt="WAFATNYA SAYYIDAH FATIMAH AZZAHRA" width="1920" height="1080" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/02/WAFATNYA-SAYYIDAH-FATIMAH-AZZAHRA.jpg 1920w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/02/WAFATNYA-SAYYIDAH-FATIMAH-AZZAHRA-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/02/WAFATNYA-SAYYIDAH-FATIMAH-AZZAHRA-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/02/WAFATNYA-SAYYIDAH-FATIMAH-AZZAHRA-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/02/WAFATNYA-SAYYIDAH-FATIMAH-AZZAHRA-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2023/02/WAFATNYA-SAYYIDAH-FATIMAH-AZZAHRA-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-5213" class="wp-caption-text">WAFATNYA SAYYIDAH FATIMAH AZZAHRA</figcaption></figure>
<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230;</p>
<h2>WAFATNYA SAYYIDAH FATIMAH AZZAHRA</h2>
<p>Bismillahirrahmanirrahim&#8230;<br />
Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230;</p>
<p>Ketikah Sayyidina Imam Ali bin Abi Thalib memasukkan jenazah istri tercinta, Sayyidah Fatimah Az-Zahra ke liang lahat, beliau menangis terisak-isak sehingga putranya Sayyidina Hasan berkata :</p>
<p>“Wahai ayahku, gerangan apakah yang membuat dirimu menangis sedemikian rupa?”</p>
<p>“Wahai putraku Hasan, aku teringat pesan kakekmu Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kelak jika putriku Fatimah telah tiada wahai Ali, maka akulah yang akan pertama kali menerima jasadnya di liang lahat,” demikian jawab Sayyidina Imam Ali.</p>
<p>“Dan demi Allah, wahai Hasan putraku, aku melihat tangan kakekmu Rasulullah SAW menerima jasad ibumu Fatimah. Aku melihat kakekmu Rasulullah SAW menciumi wajah ibumu Fatimah.”</p>
<p>Sayyidina Imam Ali bin Abi Thalib kemudian berkata:</p>
<p>“Wahai Rasulullah SAW, kini aku kembalikan amanah yang telah engkau berikan kepadaku. Aku kembalikan belahan jiwamu, yang dimana setiap engkau rindu akan surga, engkau cium wajah suci putrimu Sayyidah Fatimah Az-Zahra.”</p>
<p>Itulah keistimewaan seorang Sayyidah Fatimah Az-Zahra, penghulu kaum muslimah di dunia. Dari rahim beliau, lahir Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Inilah dua cucu Rasulullah yang kemudian melahirkan para ulama’ yang menjadi panutan umat. Para habaib yang ada di dunia khusus nya di Indonesia tak lain adalah anak cucu Sayyidah Fatimah yang sungguh-sungguh dalam mendakwah Islam kepada masyarakat Nusantara.</p>
<p>Semoga kita semua dikumpulkan bersama keluarga suci Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan mendapatkan syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad SAW kelak di akhirat.</p>
<p>Aamiin Allohumma aamiin..🤲</p>
<p>Sayyidah Fatimah Az-Zahra<br />
&#8211;<br />
Al Fatihah<br />
&#8211;</p>
<p style="text-align: right;">اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩</p>
<p>Selamat beraktifitas pada hari ini</p>
<p>Ya Allah&#8230; Kumpulkan kami bersama para kekasihMu, di dunia maupun akhirat&#8230; Amiin</p>
<blockquote><p>Al-Faqir<br />
H. Marhaban Ahmad<br />
PP ilhamul qudus<br />
Ponorogo</p></blockquote>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/wafatnya-sayyidah-fatimah-azzahra/">WAFATNYA SAYYIDAH FATIMAH AZZAHRA</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/wafatnya-sayyidah-fatimah-azzahra/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penciptaan Nabi Adam Memakan Waktu 120 Tahun, Berikut 4 Tahapannya!</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/penciptaan-nabi-adam-memakan-waktu-120-tahun-berikut-4-tahapannya/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/penciptaan-nabi-adam-memakan-waktu-120-tahun-berikut-4-tahapannya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Sep 2022 01:31:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[nabi adam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=4795</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230; Bismillahirrahmanirrahim&#8230;. Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230;. Nabi Adam &#8216;alaihissalam... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/penciptaan-nabi-adam-memakan-waktu-120-tahun-berikut-4-tahapannya/">Penciptaan Nabi Adam Memakan Waktu 120 Tahun, Berikut 4 Tahapannya!</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_4821" aria-describedby="caption-attachment-4821" style="width: 1920px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-4821 size-full" title="Penciptaan Nabi Adam Memakan Waktu 120 Tahun, Berikut 4 Tahapannya" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/09/Penciptaan-Nabi-Adam-Memakan-Waktu-120-Tahun-Berikut-4-Tahapannya.jpg" alt="Penciptaan Nabi Adam Memakan Waktu 120 Tahun, Berikut 4 Tahapannya" width="1920" height="1080" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/09/Penciptaan-Nabi-Adam-Memakan-Waktu-120-Tahun-Berikut-4-Tahapannya.jpg 1920w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/09/Penciptaan-Nabi-Adam-Memakan-Waktu-120-Tahun-Berikut-4-Tahapannya-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/09/Penciptaan-Nabi-Adam-Memakan-Waktu-120-Tahun-Berikut-4-Tahapannya-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/09/Penciptaan-Nabi-Adam-Memakan-Waktu-120-Tahun-Berikut-4-Tahapannya-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/09/Penciptaan-Nabi-Adam-Memakan-Waktu-120-Tahun-Berikut-4-Tahapannya-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/09/Penciptaan-Nabi-Adam-Memakan-Waktu-120-Tahun-Berikut-4-Tahapannya-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-4821" class="wp-caption-text">Penciptaan Nabi Adam Memakan Waktu 120 Tahun, Berikut 4 Tahapannya</figcaption></figure>
<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230;</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim&#8230;.<br />
Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230;.</p>
<p>Nabi Adam &#8216;alaihissalam tidak dilahirkan begitu saja melainkan melalui beberapa proses tahapan penciptaan. Beliau diciptakan tanpa ayah dan ibu.</p>
<p>Bermula diciptakan dari tanah, diproses dari tanah liat, kemudian diproses lagi hingga diciptakan menjadi manusia sempurna. Proses penciptaan manusia pertama ini memakan waktu 120 tahun. Nabi Adam diciptakan pada hari Jumat (penghulu semua hari).</p>
<p>Al-Qur&#8217;an menceritakan secara rinci bagaimana proses penciptaan manusia pertama ini. Nabi Adam diciptakan melalui empat tahapan sebelum tahapan penghembusan ruh.</p>
<p>Keempat tahapan itu adalah (1) Fase Turab (2) Fase Thin (3) Fase Hama&#8217; Masnun dan (4) Fase Shalshal. Berikut penjelasannya dikutip dari Tafsir</p>
<p><strong>1. Fase Turab (Tanah yang Belum Bercampur Air)</strong></p>
<p>Yaitu fase tanah yang belum bercampur air (Turab). Ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang tahapan ini sebagaimana yang terdapat pada Surah Al-Kahf Ayat 37; Al-Hajj Ayat 5; Ar-Rum Ayat 20; Fajir Ayat 11; Gafir Ayat 67; dan Ali &#8216;Imran Ayat 59. Dua dari enam tempat itu berada pada Surah Madaniyah, yaitu Ali &#8216;Imran dan Al-Hajj. Selebihnya adalah pada surah-surah Makkiyah.</p>
<p>Salah satu di antara ayat-ayat tersebut, Allah berfirman: &#8220;Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, &#8220;Jadilah!&#8221; Maka jadilah sesuatu itu.&#8221; (QS Ali &#8216;ImranAyat 59)</p>
<p>Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan at-Tirmidzi disebutkan proses menciptakan Nabi Adam diambil dari berbagai macam dan warna tanah yang terdapat pada seluruh lapisan tanah. Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Allah &#8216;Azza wa Jalla menciptakan Adam dari segenggam tanah yang Allah ambil dari seluruh permukaan tanah, maka lahirlah anak Adam yang sesuai dengan asal tanahnya. Di antara mereka ada yang berkulit putih, merah, hitam dan perpaduan antara warna-warna tersebut. Di antara mereka ada yang bersifat lembut dan kasar serta perpaduan antara keduanya serta di antara mereka ada yang baik dan jahat.&#8221; (HR. Abu Dawud)</p>
<p><strong>2. Fase Thin (Tanah Bercampur Air)</strong></p>
<p>Tahapan kedua yaitu fase tanah yang bercampur air (Thin). Fase Thin adalah fase dimana setelah tanah dicampur dengan air. Karena air adalah prasyarat bagi semua makhluk yang hidup.</p>
<p>Tahapan kedua ini terdapat pada 8 tempat di 7 surah, yaitu: Surat Al-An&#8217;am Ayat 2; Al-A&#8217;raf Ayat 12; Al-Mu&#8217;minun Ayat 12; As-Sajdah Ayat 7; ash-Shaffat Ayat 11; Shad Ayat 71, 76; dan Al-Isra&#8217; Ayat 61. Seluruhnya adalah surah-surah Makkiyah.</p>
<p>Salah satu di antara ayat-ayat tersebut disebutkan: &#8220;Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu).&#8221; (QS al-An&#8217;am Ayat: 2)</p>
<p><strong>3. Fase Hama&#8217; Masnun (Lumpur Hitam)</strong></p>
<p>Tahapan ketiga dikenal dengan istilah fase lumpur hitam (Hama&#8217; Masnun). Fase ini terjadi setelah fase kedua berlangsung lama sehingga menjadi lumpur hitam yang berbau dan berubah bentuk.</p>
<p>Fase ini disebutkan tiga kali dalam Surah Al-Hijr Ayat 26, 28 dan 33. Pada Ayat 26 berbunyi: &#8220;Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.&#8221; (QS Al-Hijr: 26)</p>
<p><strong>4. Fase Shalshal kal Fakhkhor (Tembikar)</strong></p>
<p>Fase keempat ini disebut dengan Shalshal kal Fakhkhar. Fase ini diceritakan oleh Al-Qur&#8217;an pada empat tempat. Tiga tempat pada Surat Al-hijr yang bersamaan dengan fase ketiga. Sedangkan yang keempat terdapat pada Surah Ar-Rahman Ayat 14, Allah berfirman:&#8221;Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.&#8221; (QS Ar-Rahman: Ayat 14)</p>
<p>Lumpur hitam (hama&#8217; masnun) seperti pada fase ketiga, lalu diberi bentuk sebagaimana manusia dalam keadaan berlubang atau kosong. Bentuk manusia yang diciptakan Allah adalah bentuk yang terbaik dari hewan-hewan yang ada.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِيۡمٍ</p>
<p>Artinya: &#8220;Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.&#8221; (QS at-Tin: Ayat 4)</p>
<p>Keadaan ini (calon manusia yang sudah dibentuk) jika kering karena panas matahari misalnya, dinamakan shalsal. Dinamakan ini karena jika benda ini tertiup angin akan bersuara ( shalshalah ). Setelah fase ini yaitu fase penghembusan ruh.<br />
Menurut keterangan shek Muhammad Al misry tubuh nabi Adam diselubungi Selma 120 tahun, yaitu 40 tahun ditanah yang kering 40 tahun di tanah yang basah, 40 tahun yang hitam dan berbau.<br />
Dari situ Allah merubah tubuh nabi Adam dengan kemuliaan , dan tertutuplah dari rupa hakekatnya.<br />
Karena di ciptakan dari tanah maka malaikat dan iblis memandang rendah kepada manusia.</p>
<p>Selamat beraktifitas pada hari ini</p>
<p>Ya Allah&#8230; Jadikan kami hamba yang selalu bersujud dan bersyukur kepada Mu&#8230; Amin</p>
<blockquote><p>Al-Faqir<br />
H. Marhaban Ahmad<br />
PP ilhamul qudus<br />
Ponorogo</p></blockquote>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/penciptaan-nabi-adam-memakan-waktu-120-tahun-berikut-4-tahapannya/">Penciptaan Nabi Adam Memakan Waktu 120 Tahun, Berikut 4 Tahapannya!</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/penciptaan-nabi-adam-memakan-waktu-120-tahun-berikut-4-tahapannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Anak Perempuan Ibrahim al-Harbi Takut Miskin Karena Ayahnya Tidak Punya Harta</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/kisah-anak-perempuan-ibrahim-al-harbi-takut-miskin-karena-ayahnya-tidak-punya-harta/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/kisah-anak-perempuan-ibrahim-al-harbi-takut-miskin-karena-ayahnya-tidak-punya-harta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2022 22:26:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[amal baik]]></category>
		<category><![CDATA[amal jariyah]]></category>
		<category><![CDATA[amal sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah amaliyah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=4379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230; Bismillahirrahmanirrahim&#8230; Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230; Alkisah, suatu ketika... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/kisah-anak-perempuan-ibrahim-al-harbi-takut-miskin-karena-ayahnya-tidak-punya-harta/">Kisah Anak Perempuan Ibrahim al-Harbi Takut Miskin Karena Ayahnya Tidak Punya Harta</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_4401" aria-describedby="caption-attachment-4401" style="width: 1920px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-4401" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/07/Kisah-Anak-Perempuan-Ibrahim-al-Harbi-Takut-Miskin-Karena-Ayahnya-Tidak-Punya-Harta.jpg" alt="Kisah Anak Perempuan Ibrahim al-Harbi Takut Miskin Karena Ayahnya Tidak Punya Harta" width="1920" height="1080" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/07/Kisah-Anak-Perempuan-Ibrahim-al-Harbi-Takut-Miskin-Karena-Ayahnya-Tidak-Punya-Harta.jpg 1920w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/07/Kisah-Anak-Perempuan-Ibrahim-al-Harbi-Takut-Miskin-Karena-Ayahnya-Tidak-Punya-Harta-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/07/Kisah-Anak-Perempuan-Ibrahim-al-Harbi-Takut-Miskin-Karena-Ayahnya-Tidak-Punya-Harta-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/07/Kisah-Anak-Perempuan-Ibrahim-al-Harbi-Takut-Miskin-Karena-Ayahnya-Tidak-Punya-Harta-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/07/Kisah-Anak-Perempuan-Ibrahim-al-Harbi-Takut-Miskin-Karena-Ayahnya-Tidak-Punya-Harta-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/07/Kisah-Anak-Perempuan-Ibrahim-al-Harbi-Takut-Miskin-Karena-Ayahnya-Tidak-Punya-Harta-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-4401" class="wp-caption-text">Kisah Anak Perempuan Ibrahim al-Harbi Takut Miskin Karena Ayahnya Tidak Punya Harta</figcaption></figure>
<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230;</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim&#8230;<br />
Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230;</p>
<p>Alkisah, suatu ketika Abul Qasim al-Jili menjenguk lbrahim bin lshaq al-Harbi yang sedang mengidap suatu penyakit parah yang nyaris membuatnya meninggal dunia.</p>
<p>Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya Shifat ash-Shafwah, kepada Abul Qasim, Ibrahim al-Harbi berkata, “Wahai Abul Qasim, aku menghadapi sebuah perkara besar dengan putriku.” Ibrahim kemudian memanggil putrinya, sambil berkata , “Berdirilah! Temuilah pamanmu!”</p>
<p>Putri lbrahim al-Harbi kemudian keluar. Sembari melepas kerudung yang menutup wajahnya, lbrahim kembali berkata kepada putrinya, “lni adalah pamanmu. Bicaralah dengannya!”</p>
<p>Putri lbrahim kemudian berkata, “Wahai paman, kami menghadapi sebuah masalah besar, tidak di dunia dan tidak pula di akhirat. Sepanjang bulan dan waktu, kami tidak memiliki makanan selain sedikit makanan basah dan garam. Kadang kami makan dengan lauk berupa garam. Kemarin Khalifah Al-Mu’tadhid memberikan uang 1000 dinar; namun ayah tidak mau mengambilnya. Ada orang lain yang juga memberinya uang, namun ayah tidak mau menyentuhnya sama sekali, padahal ia sedang sakit parah.”</p>
<p>Mendengar perkataan putrinya, lbrahim pun menoleh ke arahnya dan tersenyum. Kepada putrinya tersebut, dia kemudian berkata, “Wahai putriku, kamu takut miskin?”</p>
<p>“ lya!” Jawab Putri Ibrahim al-Harbi</p>
<p>Mendengar jawaban anak perempuannya tersebut, Ibrahim pun berkata, “Lihatlah ruangan pojok itu!”</p>
<p>Putri lbrahim kemudian melihat ruangan pojok yang dimaksud oleh ayahnya, dan ternyata di sana ada banyak buku.</p>
<p>Ibrahim al-Harbi lalu berkata kepada putrinya, “Di sana terdapat 12.000 jilid buku. Aku menulisnya dengan tanganku sendiri. Jika aku meninggal, jual lah sebuah buku setiap harinya untuk ditukar dengan uang satu dirham. Barangsiapa memiliki 12.000 dirham, berarti dia bukanlah orang miskin.”</p>
<p>Kekayaan seseorang bukan hanya dihitung dan dilihat dari hartanya saja, namun juga dari ilmu dan pengetahuan, serta akhlak yang dimilikinya. Namun, banyak manusia yang takut miskin karena tidak mendapatkan warisan berupa harta. Padahal, sebaik-baik warisan adalah ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan pengamalan dan disebarluaskan, agar bermanfaat untuk umat manusia. Dan salah satu cara agar ilmu itu bermanfaat adalah dengan mengajarkannya dan mengabadikannya melalui sebuah karya.</p>
<p>Allah swt. juga menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, bukan orang-orang yang berharta. Sebab, ilmu akan menjaga pemiliknya, sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya. Ilmu adalah penguasa atas harta, sedangkan harta tidak berkuasa atas ilmu.</p>
<p>Oleh sebab itu, kekayaan ilmu lebih mulia daripada kekayaan harta. Karena kekayaan harta berada di luar hakikat manusia, seandainya harta itu musnah dalam satu malam, jadilah manusia orang yang miskin seketika. Sedangkan kekayaan ilmu tidak dikhawatirkan kefakirannya, bahkan ia akan terus bertambah selamanya, karena pada hakikatnya ia adalah kekayaan yang paling tinggi. Dan untuk mencapai kekayaan yang paling tinggi, tentu harus digapai dengan berbagai cobaan yang harus dilalui.</p>
<p>Selamat beraktifitas pada hari ini</p>
<p>Ya Allah&#8230; Mudahkan urusan kami, lancarkan Rizqi kami, berkahi hidup kami, beri kami ilmu yang bermanfaat&#8230; Amiin</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/kisah-anak-perempuan-ibrahim-al-harbi-takut-miskin-karena-ayahnya-tidak-punya-harta/">Kisah Anak Perempuan Ibrahim al-Harbi Takut Miskin Karena Ayahnya Tidak Punya Harta</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/kisah-anak-perempuan-ibrahim-al-harbi-takut-miskin-karena-ayahnya-tidak-punya-harta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mutiara Subuh &#8211; Musibah Terbesar Hilangnya Kaleng Kecil Abu Hurairah</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/mutiara-subuh-musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-hurairah/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/mutiara-subuh-musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-hurairah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2022 00:54:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[abu hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah subuh]]></category>
		<category><![CDATA[mutiara subuh]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban islam]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=4232</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230; Bismillahirrahmanirrahim&#8230; Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230; Sayidina abu Hurairah... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/mutiara-subuh-musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-hurairah/">Mutiara Subuh &#8211; Musibah Terbesar Hilangnya Kaleng Kecil Abu Hurairah</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_4248" aria-describedby="caption-attachment-4248" style="width: 1920px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-4248" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/06/Musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-Hurairah.jpg" alt="Musibah terbesar hilangnya kaleng kecil abu Hurairah" width="1920" height="1080" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/06/Musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-Hurairah.jpg 1920w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/06/Musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-Hurairah-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/06/Musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-Hurairah-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/06/Musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-Hurairah-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/06/Musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-Hurairah-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/06/Musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-Hurairah-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-4248" class="wp-caption-text">Musibah terbesar hilangnya kaleng kecil abu Hurairah</figcaption></figure>
<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230;</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim&#8230;<br />
Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230;</p>
<p>Sayidina abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata :</p>
<p>Musibah terbesar dalam hidupku ada 3<br />
1. Wafatnya Rasulullah Saw.<br />
2. Wafatnya Sayidina Usman bin Affan.<br />
3. Rumahku dibakar hartaku di rampok dan hilangnya kaleng kecilku.&#8221;</p>
<p>Para sahabat tertawa mendengar musibah terbesar adalah kaleng kecil.</p>
<p>Mereka bertanya&#8221;: memangnya kenapa ya abu Hurairah..? Kenapa engkau bilang kaleng kecilMu hilang adalah musibah terbesarMu..</p>
<p>Abu Hurairah menjawab.. aku pernah bepergian bersama Rasulullah Saw. Aku memasukkan sebelumnya kedalaman kaleng 20 biji kurma, diperjalanan Rasullullah Saw bertanya'&#8221; apa itu wahai abu Hurairah.? Aku menjawab; kurma wahai Rasulullah,&#8221;.. keluarkan!.. perintah beliau..</p>
<p>Maka aku keluarkan Korma tersebut. Kemudian Rasulullah meniup satu persatu sambil membacakan doa.</p>
<p>Lalu Rasulullah Saw berkata: jika kamu lapar masukkan tanganmu kedalam kaleng, jangan kamu tumpahkan,&#8221;</p>
<p>Semenjak itu aku selalu ambil kurma dari dalam kaleng tersebut dan isinya tidak pernah habis, hingga Rasulullah wafat, kurma itu tidak pernah habis, hingga wafat pula Kholifah Kholifah kurma itu tetap tidak habis, lalu Sayidina usmanpun wafat, lalu kaleng itu hilang.</p>
<p>Aku tahu tadinya kurma itu berjumlah 20 dan telah memakainya dan aku mengumpulkan bijinya, hingga jumlahnya 100 karung. Itulah keberkahan doa dan sentuhan tangan Rasullullah Saw..</p>
<p>Allahumma shollallahu&#8217;alaa Sayidina Muhammad&#8230;</p>
<p>Selamat beraktifitas pada hari ini</p>
<p>Ya Allah&#8230; Berkahi hidup kami, pertemukan kami dengan kekasihku Muhammad Saw. Baik dalam mimpi maupun alam nyata&#8230; Amiin</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/mutiara-subuh-musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-hurairah/">Mutiara Subuh &#8211; Musibah Terbesar Hilangnya Kaleng Kecil Abu Hurairah</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/mutiara-subuh-musibah-terbesar-hilangnya-kaleng-kecil-abu-hurairah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jarang Ada yang Tahu, Ternyata Rasulullah Pernah Menyebut Nama Indonesia! Karena Hal Apa?</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/jarang-ada-yang-tahu-ternyata-rasulullah-pernah-menyebut-nama-indonesia-karena-hal-apa/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/jarang-ada-yang-tahu-ternyata-rasulullah-pernah-menyebut-nama-indonesia-karena-hal-apa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 May 2022 00:00:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[ahlussunnah wal jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[aswaja]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[nkri]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=4144</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230; Bismillahirrahmanirrahim&#8230;. Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230; Nabi Muhammad shallallahu... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jarang-ada-yang-tahu-ternyata-rasulullah-pernah-menyebut-nama-indonesia-karena-hal-apa/">Jarang Ada yang Tahu, Ternyata Rasulullah Pernah Menyebut Nama Indonesia! Karena Hal Apa?</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_4161" aria-describedby="caption-attachment-4161" style="width: 1920px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-4161" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/05/Jarang-Ada-yang-Tahu-Ternyata-Rasulullah-Pernah-Menyebut-Nama-Indonesia-Karena-Hal-Apa.jpg" alt="Jarang Ada yang Tahu, Ternyata Rasulullah Pernah Menyebut Nama Indonesia! Karena Hal Apa?" width="1920" height="1080" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/05/Jarang-Ada-yang-Tahu-Ternyata-Rasulullah-Pernah-Menyebut-Nama-Indonesia-Karena-Hal-Apa.jpg 1920w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/05/Jarang-Ada-yang-Tahu-Ternyata-Rasulullah-Pernah-Menyebut-Nama-Indonesia-Karena-Hal-Apa-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/05/Jarang-Ada-yang-Tahu-Ternyata-Rasulullah-Pernah-Menyebut-Nama-Indonesia-Karena-Hal-Apa-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/05/Jarang-Ada-yang-Tahu-Ternyata-Rasulullah-Pernah-Menyebut-Nama-Indonesia-Karena-Hal-Apa-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/05/Jarang-Ada-yang-Tahu-Ternyata-Rasulullah-Pernah-Menyebut-Nama-Indonesia-Karena-Hal-Apa-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2022/05/Jarang-Ada-yang-Tahu-Ternyata-Rasulullah-Pernah-Menyebut-Nama-Indonesia-Karena-Hal-Apa-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-4161" class="wp-caption-text">Jarang Ada yang Tahu, Ternyata Rasulullah Pernah Menyebut Nama Indonesia! Karena Hal Apa?</figcaption></figure>
<p>Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh&#8230;</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim&#8230;.<br />
Shollallahu&#8217;alaa Muhammad&#8230;</p>
<p>Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam (SAW) merupakan nabi terakhir yang salah satu tugasnya menyempurnakan akhlak umat manusia.</p>
<p>Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an yang berbunyi:</p>
<p>“Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 129)</p>
<p>Di Indonesia, Rasul begitu dicintai.</p>
<p>Kecintaan umat muslim di Indonesia terhadap nabi tak bisa diragukan lagi.</p>
<p>Buktinya ketika perayaan maulid tiba, umat muslim di Indonesia akan merayakannya dengan gegap gempita.</p>
<p>Kecintaan umat muslim di Indonesia pun pernah ‘disinggung’ oleh Rasul secara langsung dalam satu cerita.</p>
<p>Rasulullah Pernah Menyebut Indonesia. Karena Apa?</p>
<p>Begini cerita selengkapnya:</p>
<p>Kala itu, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki mendampingi gurunya Syekh Ustman untuk berziarah ke makam Rasul di Madinah.</p>
<p>tak hanya ada Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Syekh Ustman, tapi ikut pula rombongan para ulama.</p>
<p>Saat khusyuk berselawat di depan makam Rasul, tiba-tiba Syekh Utsman dibuka mata batinya atau bisa menyingkap hijab (kasyaf) oleh Allah.</p>
<p>Alhasil, Syekh Utsman bisa bertemu dengan Rasulullah SAW.</p>
<p>Dalam perjumpaan itu, Rasul konon diikuti oleh berbagai kelompok manusia di belakangnya.</p>
<p>Syekh Utsman lalu bertanya:</p>
<p>“Siapakah gerangan [orang-orang tersebut], ya Rasulullah?”</p>
<p>Rasul menjawab dengan wajah teduh dan senyuman.</p>
<p>“Mereka adalah orang-orang dari sebuah bangsa yang sangat mencintaiku dan aku mencintainya.”</p>
<p>Syekh Utsman kian penasaran. Ia pun bertanya kembali.</p>
<p>“Dari bangsa manakah mereka, ya Rasulullah?”</p>
<p>Rasul kembali menjawab dengan senyuman yang mengembang.</p>
<p>“Indonesia,” jawab Rasul.</p>
<p>Saat Syekh Utsman tersadar, ia langsung bertanya kepada seluruh rombongan yang ikut pada saat itu.</p>
<p>“Adakah dari kalian di sini yang berasal dari Indonesia? Aku sangat mencintai Indonesia karena Rasulullah mencintai mereka,” ujar Syekh Ustman.</p>
<p>Kisah di atas konon diungkapkan oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.</p>
<p>Ia adalah ulama ternama yang sering mengunjungi Indonesia.</p>
<p>Sebagai wujud cintanya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki pada Indonesia, ia sampai membangun pesantren khusus orang Indonesia di Mekah.</p>
<p>Selamat beraktifitas pada hari ini</p>
<p>Ya Allah&#8230; Bimbing kami tuk selalu mencintaimu dan mencintai RasulMu&#8230; Amiin</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jarang-ada-yang-tahu-ternyata-rasulullah-pernah-menyebut-nama-indonesia-karena-hal-apa/">Jarang Ada yang Tahu, Ternyata Rasulullah Pernah Menyebut Nama Indonesia! Karena Hal Apa?</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/jarang-ada-yang-tahu-ternyata-rasulullah-pernah-menyebut-nama-indonesia-karena-hal-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Reyog, Islam Nusantara, dan Lahirnya Islam ABC</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/reyog-islam-nusantara-dan-lahirnya-islam-abc/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/reyog-islam-nusantara-dan-lahirnya-islam-abc/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 May 2022 01:17:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[keilmuan]]></category>
		<category><![CDATA[keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[pcnu ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[reog ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=3090</guid>

					<description><![CDATA[<p>Opini &#8211; Masih tentang Islam Nusantara. Kali ini tentang... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/reyog-islam-nusantara-dan-lahirnya-islam-abc/">Reyog, Islam Nusantara, dan Lahirnya Islam ABC</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_3092" aria-describedby="caption-attachment-3092" style="width: 512px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-3092 size-full" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2021/08/1-2.jpeg" alt="reyog santri" width="512" height="341" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2021/08/1-2.jpeg 512w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2021/08/1-2-300x200.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 512px) 100vw, 512px" /><figcaption id="caption-attachment-3092" class="wp-caption-text">reyog santri</figcaption></figure>
<p><strong><em>Opini &#8211;</em></strong> Masih tentang Islam Nusantara. Kali ini tentang sangkaan bahwa ia hendak mengkotak-kotakkan Islam menjadi berbagai jenis. Logika umum yang biasa digunakan terkait isu ini berangkat dari kekhawatiran : “Kalau ada Islam Nusantara, berarti (bisa) ada pula Islam Melayu, Islam Arab, Islam Portugal, dan sebagainya”. Sebelum menawarkan argumentasi untuk meluruskan kekhawatiran tersebut, penulis tertarikuntuk sedikit bergeser pada hal lain ; <a href="https://www.reyogponorogo.or.id/">Reyog</a>.</p>
<p>Perlu disepakati bahwa (agama) Islam dan (budaya) Nusantara merupakan sistem nilai, baik yang berperan dari/untuk wilayah keimanan dan peribadatan pada Tuhan Yang Maha Esa, maupun yang berangkat dari/untuk akal budi manusia dan menjadi pedoman tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari (KBBI).</p>
<p>Dengan demikian, meskipun terejawentah pula dalam tindakan manusiawi yang praksis dan konkret, Islam dan Nusantara merupakan istilah yang abstrak dan tak terbatas (<em>indefinite</em>). Hal ini berbeda dengan Reyog, salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Meskipun lahir dari sesuatu yang abstrak (kebudayaan Jawa), Reyog tetap merupakan sesuatu yang lebih konkret karena jelas istilahnya dan kasat mata tampilannya. Jika anda berkesempatan menyaksikan pementasan kesenian ini, percayalah, penari jathilnya yang cantik akan membuat segalanya semakin jelas.</p>
<h2><strong>Kergaaman adalah Fakta</strong></h2>
<p>Di tahun kelahirannya, Ponorogo, kesenian Reyog ini biasanya berkisah tentang pertarungan pasukan Raja Ponorogo Kuno, Prabu Kelana Sewandhana, melawan Prabu Singabarong dari Kejaraan Kediri Kuno. Pada umumnya dengan dimainkan oleh seorang tokoh sentral penari dadak merak – topeng besar berukuran hingga 2,5 meter dan berbobot hingga 50 kilogram, sebagai pemeran Prabu Singobarong, seorang pemeran Prabu Kelana Sewandhana, beberapa pemeran warok, beberapa penari jathil dan beberapa pendukung lainnya.</p>
<p>Pada zaman dahulu, dengan batasan waktu hngga tahun 1980-an, penari jathil dalam Reyog diperankan oleh remaja laki-laki yang berparas manis. Selain berperan sebagai penari jathil dalam Tari Reyog, dalam kesehariannya remaja-remaja rupawan ini menjadi gemblak yang diasuh oleh warok – pemeran warok dalam Tari Reyog yang berperan sebagai warok (tokoh masyarakat) dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai hubungan antara jathil-gemblak dengan warok ini, kajian yang dilakukan oleh Setya Yuwana (Pascasarjana Fisip UI, 1994) dapat memberikan penjelasan yang cukup, setelah tahun 1980-an, peran penari jathil ini digantikan oleh remaja perempuan.</p>
<p>Pergeseran pemeran ini tampaknya terkait juga dengan keberadaan gemblak dan warok yang semakin surut hingga akhirnya musnah. Dan akhirnya hingga kini, keberadaan penari jathil yang berlatarbelakang gemblak benar-benar telah tergantikan oleh remaja-remaja perempuan – yang tentunya tak kalah bahkan lebih rupawan. Menurut hemat penulis, hal ini sedikit banyak menunjukkan sisi kontekstualitas Reyog. Ia peka jaman,<em> up-to-date, </em>dan ini adalah fakta.</p>
<p>Kita bergeser ke negeri jiran Malaysia. Arik Dwijayanto (Universiti Malaya, 2014) dalam kajiannya, menghadirkan fakta bahwa terdapat komunitas keturunan Ponorogo Jawa Timur yang telah puluhan tahun hidup dan menjadi warga negara Malaysia. Di sana, masyarakat diaspora Ponorogo tersebut masih mempraktekkan beberapa produk budaya dari tanah leluhurnya, Ponorogo, seperti bahasa Jawa dan kesenian Reyog sebagaimana penulis ulas di atas.</p>
<p>Keberadaan Reyog di negeri tetangga ini memang sempat membuat hubungan politik kedua negara menghangat beberapa tahun silam. Dakwaan sebagian publik Indonesia berbunyi “Malaysia mencuri kesenian asli Indonesia, Reyog Ponorogo, kemudian diklaim sebagai asli Malaysia dan diberi nama Tari Barongan”. Kajian yang dilakukan Arik Dwijayantoo dapat memberikan penjelasan yang relevan mengenai polemik tersebut.</p>
<p>Berbeda dengan Reyog di Ponorogo yang memakai pakem cerita kolosal Kelana Sewandana melamar putri Raja Kediri, Reyog di Malaysia mengalami “Islamisasi”. Untuk menarik minat msyarakat dari luar komunitas diaspora Ponorogo, pemerintah Malaysia menggubah tari reyog atau Barongan itu dengan pengisahan yang menggambarkan Nabi Sulaiman as. yang bisa berkomunikasi dengan binatang.</p>
<p>Sebagai catatan, kebijakan pemerintah Malaysia mengenai gubahan cerita ini sebenarnya kurang disetujui oleh sebagian pelaku seni Reyog, yang notabene lebih terkait dengan kesenian ini, karena dianggap merubah pakem sejarah. Selain itu, pergeseran penari jathil yang awalnya remaja laki-laki menjadi remaja perempuan sebagaimana di Ponorogo juga berlaku di Malaysia. Selain itu, hampir seluruh penari jathil di Malaysia mengenakan jilbab dan pakaian tertutup, sebagaimana lazimnya muslimah Malaysia pada umumnya. Tetap lincah dalam melenggak-lenggok di atas kuda bambunya dengan tetap mempertahankan kecantikannya yang berbalut jilbab. Indah sekali.</p>
<p>Meskipun mengalami beberapa adaptasi yang menyesuaikan budaya Islami di tanahnya menjejakkan kaki, dan meskipun pemerintah Malaysia menyebutnya Barongan, bahkan menggubah kisah yang berbeda, Reyog di Malaysia tetaplah Reyog. Meskipun penari jathil itu mengenakan jilbab, mereka tetaplah penari jathil dalam seni tari Reyog. Tidak lain, prinsip yang dapat digunakan untuk menilai perbedaan (baca:penyesuaian) antara Reyog di Malaysia dan Indonesia adalah sikap <em>al muahafadhah</em> <em>alal qadimi as shalih wa l akhdz bil jadidil aslah</em>: mempertahankan seni tari Reyog warisan leluhur dan mengambil sistem niali yang diperoleh di Tanah Melayu.</p>
<p>Walhasil, keberadaan Reyog Ponorogo, di Malaysia dan di tempat lainnya seperti Suriname – yang juga memiliki banyak diaspora Jawa, yang beragam merupakan fakta tak terpungkiri dan menunjukkan keragaman variasi pelakunya dalam menjalankan seni Tari Reyog.</p>
<h3>Islam ABC</h3>
<p>Sebagaimana Reyog yang diamalkan secara unik di Malaysia, demikian juga Islam Nusantara. Hadir dengan seperangkat sistem nilai dari &#8216;pabriknya&#8217;, Makkah al Mukarromah. Di bumi Nusantara, Islam dapat berkembang pesat dengan strategi dakwah yang jitu. Walisongo misalnya, dapat dengan apik menggubah kisah-kisah tradisional yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Nusantara, menjadi bernafaskan Islam. Demikian juga perubahan pemeran jathil yang menunjukkan sisi kontekstualitas Reyog, dapat pula disepadankan dengan penghargaan Islam terhadap posisi laki-laki dan perempuan yang semakin berkembang. Pada akhirnya, prinsip <em>al muhafadzah</em> dan <em>al akhsdz</em> sekali lagi menemukan contoh aplikasinya di sini.</p>
<p>Kemudian, terkait dengan kekhawatiran &#8216;lahirnya&#8217; varian Islam yang beranekaragam akibat adanya Islam Nusantara, penulis berpijak pada penadangan bahwa sejatinya keragaman adalah fakta. Bahkan lebih dari itu, keragaman merupakan fitrah yang membawa rahmah dan berkah. Variasi Islam yang beragam sudah merupakan fakta yang dapat ditemui dengan mudah hari ini. Mereka tidaklah &#8216;lahir&#8217; ataupun &#8216;dilahirkan&#8217; secara seremonial, sebagaimana juga Islam Nusantara. Variasi yang beragam tersebut tumbuh dengan sendirinya di tempat-tempat yang mempertemukan Islam dengan khalayak, menjadi sebuah model (pemahaman, pengalaman dan pengamalan) keislaman. Di sinilah peran strategis NU (dan pengkaji kajian Islam Nusantara yang lain) dalam &#8216;melahirkan&#8217; dan mengkampanyekan Islam Nusantara sebagai model Keislaman yang dianggap memiliki keistimewaan.</p>
<p>Sebagai sebuah model keislaman, tentunya Islam Nusantara tidaklah sendirian. Ia menjadi kolega dan bahkan dapat pula sebagai kompetitior, bagi model Keislaman yang berangkat dari tradisi dan kearifan lokal lain. Terhadap hal ini, Zastrouw al Ngatawi (2015), menyatakan bahwa sebenarnya Islam Nusantara tidak terbatasi oleh batasan-batasan geografis, karena ia dapat menjadi semcam <em>school of thought</em> dalam aspek apapun.</p>
<p>Oleh karena itu, jika nantinya Islam Nusantara memancing &#8216;lahirnya&#8217; kampanye model keislaman yang lain, seperti Islam Arab, Islam Amerika, Islam Tiongkok atau Islam Sontoloyo – seperti umpatan Bung Karno, bahkan Islam Erdogan atau Islam Pokemon, tidaklah menjadi persoalan sepanjang ia tetap di dalam pakem; sistem nilai Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em></p>
<blockquote><p><strong>Penuls : Dawam Multazam</strong></p>
<p>Dosen INSURI Ponorogo, Alumni PPM Islam Nusantara STAINU Jakarta, Mahasiswa Ph.D Utrech University Belanda.</p></blockquote>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/reyog-islam-nusantara-dan-lahirnya-islam-abc/">Reyog, Islam Nusantara, dan Lahirnya Islam ABC</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/reyog-islam-nusantara-dan-lahirnya-islam-abc/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
