<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kategori Budaya - NU PONOROGO</title>
	<atom:link href="https://nuponorogo.or.id/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuponorogo.or.id/budaya/</link>
	<description>Official Website PCNU Ponorogo</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 May 2025 01:27:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2020/09/cropped-favi-nu-ponorogo-32x32.png</url>
	<title>Kategori Budaya - NU PONOROGO</title>
	<link>https://nuponorogo.or.id/budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Nama-Nama 12 Bulan Hijriyah dan Maknanya</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/nama-nama-12-bulan-hijriyah-dan-maknanya/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/nama-nama-12-bulan-hijriyah-dan-maknanya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 May 2025 01:27:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7174</guid>

					<description><![CDATA[<p>NU Online Ponorogo &#8211; Umat Islam memiliki sistem penanggalan... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/nama-nama-12-bulan-hijriyah-dan-maknanya/">Nama-Nama 12 Bulan Hijriyah dan Maknanya</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_7176" aria-describedby="caption-attachment-7176" style="width: 646px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-7176" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-2025-05-17-082417.png" alt="" width="646" height="365" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-2025-05-17-082417.png 646w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-2025-05-17-082417-300x170.png 300w" sizes="(max-width: 646px) 100vw, 646px" /><figcaption id="caption-attachment-7176" class="wp-caption-text">Ilustrasi bulan sabit</figcaption></figure>
<p>NU Online Ponorogo &#8211; Umat Islam memiliki sistem penanggalan sendiri dalam menetapkan penanda waktu dan ibadah, yakni dikenal sebagai hijriyah. Penanggalan hijriyah berbeda dengan penanggalan masehi, di mana untuk menetapkan jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriyah berpatokan pada Bulan dalam mengelilingi bumi.</p>
<p>Penanggalan kalender hijriyah pertama kali dimulai sejak tahun 622 Masehi, di mana ketika itu Nabi Muhammad Saw sedang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi dan para pengikutnya itu menjadi tonggak bersejarah penting dalam peradaban Islam hari ini.</p>
<p>Sama dengan jumlah bulan pada kalender Masehi, bulan di kalender Hijriyah berjumlah 12 bulan. Dan menariknya penamaan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini berdasarkan pada nama musim, padanan dengan bulan Masehi, dan nilai yang berhubungan dengan ibadah umat Islam.</p>
<p>Berikut adalah nama-nama bulan menurut kalender Hijriyah dan maknanya:</p>
<ol>
<li>Muharram</li>
</ol>
<p>Muharram adalah nama bulan pertama dalam kalender hijriyah. Kata &#8220;<em>muharram&#8221;</em> berarti yang dihormati. Makna ini merujuk dari tradisi dan kebiasaan orang Arab yang mengharamkan peperangan di bulan-bulan ini.</p>
<p>Khalifah Umar bin Khattab menjadi orang yang pertama kali menetapkan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah. Umat Islam seringkali melakukan peringatan-peringatan keagamaan di bulan ini.</p>
<p>Menariknya, sampai di Jawa, umat Islam menyebut bulan ini sebagai bulan Suro.</p>
<ol start="2">
<li>Safar</li>
</ol>
<p>Setelah bulan Muharram, bulan yang kedua adalah Safar, yang artinya kuning. Nama ini diambil dari kondisi tumbuhan di Arab masa lalu yakni daun-daun mulai menguning.</p>
<p>Namun ada juga yang mengatakan bahwa bulan ini merujuk dari kebiasaan orang Arab yang sedang pergi atau ada yang menyebutnya kosong.</p>
<p>Ini disebabkan orang Arab dulu pada bulan ini sedang bepergian untuk berdagang atau berperang. Sehingga kota-kota ditinggalkan dan menjadi kosong.</p>
<ol start="3">
<li>Rabiul Awwal</li>
</ol>
<p>Bulan ini menjadi salah satu bulan yang Istimewa, karena pada bulan ini Rasulullah Saw dilahirkan ke dunia. Rabiul awal berasal dari kata rabi yang artinya semi atau musim bunga.</p>
<p>Di bulan ini pula, masyarakat Arab dahulu Kembali dari berdagang atau peperangan setelah merantau di bulan Safar</p>
<ol start="4">
<li>Rabiul akhir atau Rabiutsani</li>
</ol>
<p>Merupakan bulan keempat dalam kalender hijriyah. Penamaan itu tidak terlepas dari peristiwa alam musim rabi‘ atau musim semi yang terjadi di Jazirah Arab.   Pada musim itu rerumputan menghijau, tanaman tumbuh subur, dan pepohonan banyak yang berbuah. Umumnya musim itu terjadi selama dua bulan. Sehingga nama ini pun disematkan kepada dua bulan terjadinya musim tersebut, yang sekarang dikenal dengan nama Rabiul Awal dan Rabiul Akhir.</p>
<ol start="5">
<li>Jumadil awwal</li>
</ol>
<p>Bulan ini diambil dari kondisi cuaca atau musim di Arab masa lalu. &#8220;Jumad&#8221; berarti &#8220;kering&#8221; atau &#8220;membeku,&#8221; dan &#8220;Awal&#8221; berarti &#8220;pertama,&#8221; sehingga Jumadil Awal berarti &#8220;bulan kering pertama&#8221; atau &#8220;bulan pertama dari musim dingin&#8221;. Bulan ini mengingatkan pada kondisi cuaca di Semenanjung Arab yang sering mengalami dingin dan kekeringan di masa lalu.</p>
<ol start="6">
<li>Jumadil akhir</li>
</ol>
<p>Merupakan bulan keenam dalam kalender hijriyah. Ini merujuk pada bulan kedua dari musim dingin atau yang menandai berakhirnya musim dingin.</p>
<ol start="7">
<li>Rajab</li>
</ol>
<p>Rajab berasal dari kata ‘ajaba’ yang berarti menghormati atau mengagungkan. Jika melihat kondisi musim, bulan rajab ini bertepatan dengan mencairnya musim dingin atau setelah jumadil akhir. Di bulan ini pula terdapat peristiwa yang luar biasa bagi umat Islam, yakni Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.</p>
<ol start="8">
<li>Sya’ban</li>
</ol>
<p>Sya’ban memiliki makna terpecah atau beterbaran. Dinamai demikian karena orang Arab mulai berpencar untuk mencari air atau berperang setelah Rajab yang suci. Dalam Islam, Sya’ban adalah bulan yang dianjurkan untuk puasa sunnah.</p>
<ol start="9">
<li>Ramadhan</li>
</ol>
<p>Kalender hijriyah kesembilan ialah bulan Ramadhan. Berasal dari kata &#8216;<em>ramdha&#8217;</em> yang berarti sangat panas atau membakar. Ini merujuk pada kondisi musim di Arab saat itu sedang panas-panasnya. Bagi umat Islam, di bulan ini merupakan salah satu bulan yang suci dan penuh makna. Terdapat ibadah Puasa di dalamnya yang menjadi salah satu syariat.</p>
<ol start="10">
<li>Syawwal</li>
</ol>
<p>Syawwal memiliki makna naik atau meningkat. dari segi bahasa, penamaan Syawal sendiri dipercaya berkaitan dengan tradisi Arab pra-Islam, di mana unta betina mulai menolak kawin di bulan ini. Namun, setelah datangnya Islam, makna apa arti Syawal berubah menjadi simbol spiritual yang jauh lebih dalam. Pada bulan Syawwal merupakan waktu terjadinya Idulfitri, yaitu hari raya besar umat Islam yang dirayakan setelah berakhirnya puasa Ramadhan</p>
<ol start="11">
<li>Dzulqa’dah</li>
</ol>
<p>Secara etimologi, nama Dzulqa&#8217;dah berasal dari kata &#8220;<em>qa&#8217;ada</em>&#8221; yang berarti &#8220;duduk&#8221; atau &#8220;berdiam diri&#8221;, yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Arab pada masa lau di mana mereka lebih banyak beristirahat dan menghindari peperangan di bulan ini. Bulan ini dinggap sebagai bulan haram untuk peperangan karena bersiap-siap menyambut bulan haji.</p>
<ol start="12">
<li>Dzulhijjah</li>
</ol>
<p>Dzulhijjah merupakan bulan terakhir dalam kalender hijriyah yang memiliki arti &#8220;pemilik haji&#8221;. Maksudnya adalah pada bulan ini masyarakat Arab saat itu sedang menunaikan ibadah haji. Dalam tradisi Islam bulan ini merupakan bulan yang suci dan Istimewa karena terdapat ibadah haji dan idul adha.</p>
<p>Demikian nama-nama bulan dalam kalender hijriyah yang dipedomani umat Islam untuk menentukan ibadah. Semoga bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/nama-nama-12-bulan-hijriyah-dan-maknanya/">Nama-Nama 12 Bulan Hijriyah dan Maknanya</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/nama-nama-12-bulan-hijriyah-dan-maknanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pasar Malam Ponorogo: Tarian Tradisi di Tengah Riuh Kemajuan</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/pasar-malam-ponorogo-tarian-tradisi-di-tengah-riuh-kemajuan/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/pasar-malam-ponorogo-tarian-tradisi-di-tengah-riuh-kemajuan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2025 09:15:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6928</guid>

					<description><![CDATA[<p>NU Online Ponorogo, (14/3/2025) &#8212;Dua hari sebelum pembukaan resmi... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/pasar-malam-ponorogo-tarian-tradisi-di-tengah-riuh-kemajuan/">Pasar Malam Ponorogo: Tarian Tradisi di Tengah Riuh Kemajuan</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6929" aria-describedby="caption-attachment-6929" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-full wp-image-6929" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1437" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-300x168.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-1024x575.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-768x431.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-1536x862.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-2048x1150.jpg 2048w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-740x414.jpg 740w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0008-355x199.jpg 355w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6929" class="wp-caption-text">Bianglala, wahana khas pasar malam yang telah turun menurun.</figcaption></figure>
<p>NU Online Ponorogo, (14/3/2025) &#8212;Dua hari sebelum pembukaan resmi pasar malam Ramadan oleh Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, alun-alun sudah ramai oleh riuh persiapan. Lumpur bekas hujan menggenang di lapangan yang tidak berpaving, tapi puluhan pedagang tak gentar. Mereka sibuk merakit stan, memasang lampu kerlap-kerlip, dan menyusun barang dagangan.</p>
<p>Di tengah becek, tawa anak-anak yang menyaksikan penataan wahana permainan bersahutan dengan dentuman musik uji coba. Antusiasme ini bukan sekadar persiapan bisnis, melainkan napas kebanggaan warga Ponorogo menyambut ritual tahunan yang telah mengakar sejak abad ke-19.</p>
<figure id="attachment_6930" aria-describedby="caption-attachment-6930" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-full wp-image-6930" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1437" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-300x168.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-1024x575.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-768x431.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-1536x862.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-2048x1150.jpg 2048w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-740x414.jpg 740w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0012-355x199.jpg 355w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6930" class="wp-caption-text">Azam (Jambul), pemuda asli Ponorogo yang menjadi pengusaha musiman dan berpindah pindah dengan omset ratusan juta.</figcaption></figure>
<p>Azam (27), pemuda asli Ponorogo, sedang menata loket terakhir salah satu dari lima wahana permainannya. Dengan menyewa dua kapling seharga Rp80 juta, ia yakin ini investasi yang tepat. &#8220;Dulu 70% pedagang di sini dari luar kota, terutama Solo. Sekarang kami bisa rebut panggung—60% stan dipegang lokal,&#8221; ujarnya bangga. Di sisi barat alun-alun yang berpaving, stan-stan milik warga Ponorogo berjejal menjual mainan hingga kuliner. Sementara di timur, pedagang dari Solo, Kediri atau Madiun masih mendominasi lapak gerabah dan perlengkapan rumah tangga.</p>
<p>Keyakinan Azan bukan tanpa dasar. Setelah dua tahun sepi pandemi, ia mempekerjakan delapan karyawan untuk mengelola wahana seperti mandi bola seluncur, helikopter an, bombocare, dan komedi putar. &#8220;Masyarakat sudah berani keluar lagi. Saya optimis bisa balik modal,&#8221; tambahnya. Semangat serupa terlihat pada pedagang lain: stand sate kelinci, kaos bergambar reyog, hingga jajanan tahu petis (kue tradisional) dipadati pembeli meski pasar malam belum resmi dibuka.</p>
<p>Namun, tidak semua kisah berakhir optimis. Di sudut alun-alun barat dekat pintu masjid Agung , Shoib (25) duduk sendirian di stan celengan tanah liat warisan ayahnya. &#8220;Dulu ayah punya empat stan gerabah. Sekarang tinggal dua, itu pun sepi,&#8221; keluhnya. Sejak peralatan plastik dan keramik modern merebak, pembeli gerabah tinggal para kolektor atau generasi tua yang ingin bernostalgia. Ayahnya yang setia menunggu stan kini lebih memilih bertani di Bojonegoro. &#8220;Saya tetap di sini demi menjaga warisan. Tapi entah sampai kapan,&#8221; ujarnya sembari menatap celengan berbentuk ayam jago yang tak tersentuh pembeli.</p>
<figure id="attachment_6931" aria-describedby="caption-attachment-6931" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6931" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1437" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-300x168.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-1024x575.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-768x431.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-1536x862.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-2048x1150.jpg 2048w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-740x414.jpg 740w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0014-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6931" class="wp-caption-text">Wahana milik Azam di sisi barat alun-alun</figcaption></figure>
<p>Keramaian ini adalah warisan Bupati Martohadinegoro, yang pada 1830-an memindahkan pusat kota ke Mangkujayan. Alun-alun sengaja dirancang sebagai ruang hiburan rakyat, bukan lapangan seremonial, atau taman.</p>
<p>Keramaian alun-alun menjadi puncaknya ketika bupati Tjokronegoro (dari keraton Surakarta) menjabat, beliau merupakan keturunan Surakarta dan Ponorogo (cicit Kyai Moh Besari Tegalsari). Beliau mengadopsi alun-alun Keraton Surakarta, baik bentuk dan jenis keramain, maupun saat-saat (waktu) keramaian yaitu pada hari-hari besar Islam. Dan model keramaian tersebut dengan masih adanya tradisi pasar malam sampai saat ini, dimana para pedagang dan jenis hiburannya mirip di Surakarta. .</p>
<p>&#8220;Durung bodho yen durung menyang alun-alun (Belum disebut Lebaran jika belum ke alun-alun),&#8221; begitu prinsip warga yang turun-temurun.</p>
<figure id="attachment_6932" aria-describedby="caption-attachment-6932" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6932" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1436" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-300x168.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-1024x575.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-768x431.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-1536x862.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-2048x1149.jpg 2048w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-740x414.jpg 740w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG-20250315-WA0016-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6932" class="wp-caption-text">Remaja yang lekat dengan sosmed, menjadikan wahana sebagai konten</figcaption></figure>
<p>Geliat ekonomi dan budaya ini tak lepas dari konsekuensi. Alun-alun yang terletak di jalur provinsi penghubung Pacitan-Trenggalek-Wonogiri itu kerap macet parah. Jarak 1,5 km bisa ditempuh dua jam saat puncak keramaian. Pernah dicoba langkah alternatif pasar malam dipindahkan Stadion Batoro Katong jaman bupati Soemani namun gagal total. &#8220;Pedagang protes karena sepi pengunjung. Akhirnya balik lagi ke alun-alun,&#8221; kenang Sudarmaji, pengelola parkir.</p>
<p>Persoalan lain adalah sampah. Alun-alun yang biasa bersih dan hijau kini dipenuhi bungkus makanan dan botol plastik, meski petugas kebersihan disiagakan 2 shift oleh Pemda. Karena kesadaran pengunjung masih rendah. &#8220;Kami sediakan 20 petugas kebersihan, tapi tetap kewalahan,&#8221; aku petugas kebersihan yang sedang bertugas.</p>
<p>Di sisi budaya, Pemda memperkuat pagelaran seni lokal tadarus budaya besuk Ahad malem Senen di depan patung macan, dengan menampilkan puluhan dadak merak. Panggung selatan alun-alun yang biasa dipakai festival reyog, kali ini dipakai pameran UMKM dan pameran seni. &#8220;Ini cara kami mempertahankan tradisi sekaligus memberi ruang pada generasi muda,&#8221; ujar Anindya, salah satu panitia.</p>
<p>Bagi Ponorogo, pasar malam bukan sekadar urusan ekonomi. Ia adalah ruang ingatan di mana tiga generasi—kakek, ayah, dan anak—bisa tertawa bersama naik komedi putar yang sama. Di sini, dentuman musik dangdut koplo bersaing dengan suara tadarus ramadhan masjid agung, sementara aroma sate kelinci berbaur dengan asap rokok elektrik.</p>
<p>Kemacetan dan sampah mungkin adalah harga yang harus dibayar. Tapi seperti kata Azam sambil menatap kerumunan anak-anak yang antre di stannya, &#8220;Yang penting kami tetap bisa berkumpul. Di sini, kami merasa jadi satu keluarga besar.&#8221; Sebuah filosofi yang mungkin tak akan pernah tergantikan oleh modernitas, seperti alun-alun itu sendiri, yang tetap berdiri meski zaman terus berubah.</p>
<p>Di tengah riuh pasar malam, Ponorogo mengajarkan satu hal: tradisi tak harus mati. Ia hanya perlu belajar menari di antara terpaan zaman. Dan alun-alun, dengan segala kemelutnya, tetap menjadi lantai tari yang paling dirindukana.</p>
<p>Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/pasar-malam-ponorogo-tarian-tradisi-di-tengah-riuh-kemajuan/">Pasar Malam Ponorogo: Tarian Tradisi di Tengah Riuh Kemajuan</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/pasar-malam-ponorogo-tarian-tradisi-di-tengah-riuh-kemajuan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
