NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Menakar Napas Keilmuan Santri: Antara Layar Ilusi dan Kematian Hakiki

Dilema Santri : Antara Kitab atau Gawai

Di tengah deru peradaban yang kian bising, manusia sering kali mengeluh kehabisan waktu. Jadwal terasa padat, pekerjaan seolah tak kunjung tamat, dan kesibukan datang silih berganti tanpa jeda. Namun, ada ironi yang patut kita renungkan bersama. Ketika jemari menari di atas layar gawai, berjam-jam waktu berlalu tanpa terasa. Mata terpaku pada linimasa, perhatian tersedot oleh hiburan, sementara kesempatan untuk duduk di majelis ilmu justru kerap dikesampingkan. Untuk kesenangan dunia, waktu seolah selalu tersedia; untuk menuntut ilmu, alasan seakan tak pernah habis tercipta.

Padahal, bagi seorang mukmin, ilmu bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan cahaya yang menuntun perjalanan. Ia menerangi akal, melembutkan hati, dan membimbing langkah agar tidak tersesat di tengah gemerlap zaman. Ada empat jalan yang patut kita jaga untuk merawat nyala keilmuan dalam diri dan keluarga: mondok, madrasah, mengaji, dan majelis ilmu. Mondok menjadi ruang menempa adab sekaligus menimba keberkahan dari para masyayikh. Madrasah menjadi tempat menguatkan akidah dan memperluas wawasan keagamaan. Mengaji menjadi ikhtiar mendalami warisan ilmu para ulama secara berkesinambungan. Sementara itu, majelis ilmu dan selawat menjadi ruang untuk menyegarkan iman, memperhalus budi, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Keempat jalan tersebut bukanlah pilihan yang saling meniadakan, melainkan ikhtiar yang dapat saling melengkapi. Jika seseorang belum berkesempatan mondok, ia masih dapat belajar di madrasah. Jika pendidikan formalnya telah usai, ia tetap dapat melanjutkan pengajian. Jika kesibukan membatasi waktu, ia masih dapat menyempatkan diri menghadiri majelis ilmu. Sebab, selama hayat masih dikandung badan, pintu belajar semestinya tidak pernah ditutup dan semangat menuntut ilmu tidak selayaknya surut.

Namun, ketika mondok ditinggalkan, madrasah diabaikan, pengajian dilupakan, dan majelis ilmu dijauhi, kita patut bertanya ke mana arah perjalanan kehidupan ini? Jika keempat jalan menuju ilmu tak lagi mendapat tempat, yang terancam bukan sekadar pengetahuan, melainkan kehidupan hati itu sendiri. Di sinilah makna kematian yang lebih dalam patut direnungkan. Tubuh mungkin masih bergerak, tetapi hati dapat kehilangan kepekaan lisan mungkin masih berbicara, tetapi nasihat tak lagi menyentuh jiwa. Seseorang bisa tetap hidup secara jasmani, tetapi perlahan kehilangan arah dalam menjalani kehidupan rohani.

Peringatan tersebut tergambar dalam sebuah mahfuzat yang masyhur dan sering dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi’i:

وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيمُ وَقْتَ شَبَابِهِ
فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

“Barang siapa kehilangan kesempatan belajar pada masa mudanya, bertakbirlah empat kali atas kematiannya.”

Ungkapan tersebut bukanlah ajakan untuk menghakimi mereka yang terlambat belajar, melainkan peringatan agar masa muda tidak berlalu tanpa ilmu. Masa muda adalah kesempatan untuk membangun fondasi kehidupan, memperkuat akhlak, dan menanam kebiasaan baik sebelum tanggung jawab semakin berat. Jika kesempatan itu dihabiskan hanya untuk kesenangan sesaat, yang hilang bukan sekadar waktu, melainkan peluang untuk membentuk diri menjadi pribadi yang lebih berilmu dan berarti.

Al-Qur’an pun mengingatkan manusia tentang bahaya kelalaian yang membuat kehidupan dipenuhi persaingan duniawi, tetapi kosong dari kesadaran akan tujuan hakiki. Allah SWT berfirman:

اَلۡهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُۙ‏ ١ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2).

Ayat ini mengingatkan bahwa kesibukan mengejar dunia dapat membuat manusia lupa terhadap batas kehidupannya. Harta, kedudukan, popularitas, dan hiburan bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan seluruhnya. Namun, semuanya dapat menjadi sumber kelalaian apabila menggeser kewajiban, menjauhkan diri dari ilmu, dan membuat hati lupa kepada Allah. Jangan sampai waktu yang seharusnya menjadi jalan menuju kematangan justru habis untuk kesenangan yang tidak meninggalkan manfaat.

Peringatan yang lebih tegas disampaikan Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 179:

لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).

Ayat tersebut mengajarkan bahwa kesempurnaan manusia tidak cukup diukur dari berfungsinya pancaindra atau tingginya kecerdasan. Hati harus digunakan untuk memahami kebenaran, mata untuk mengambil pelajaran, dan telinga untuk menerima nasihat. Tanpa kesediaan untuk belajar dan memperbaiki diri, pengetahuan dapat berhenti sebagai kumpulan informasi yang tidak membentuk kepribadian. Sebaliknya, ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh semestinya melahirkan kerendahan hati, kematangan berpikir, dan keteguhan dalam beramal.

Karena itulah, Allah SWT menegaskan pentingnya sekelompok orang yang mendalami agama agar dapat membimbing masyarakatnya. Dalam Surah At-Taubah ayat 122, Allah berfirman:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri.” (QS. At-Taubah: 122).

Ayat ini menegaskan bahwa menuntut ilmu agama bukan hanya urusan pribadi, melainkan juga tanggung jawab sosial. Ilmu yang dipelajari harus memberi manfaat bagi lingkungan. Mereka yang memperoleh pemahaman agama diharapkan mampu menyampaikan kebaikan, membimbing masyarakat, dan menjaga nilai-nilai agama agar tetap hidup dalam keseharian. Dengan demikian, majelis ilmu bukan sekadar tempat mendengar ceramah, melainkan ruang pembentukan pribadi sekaligus penguatan kehidupan umat.

Bagi masyarakat Ponorogo, pesan ini memiliki makna yang mendalam. Daerah yang dikenal dengan tradisi pesantren dan kehidupan santrinya ini memiliki tanggung jawab untuk terus merawat kesinambungan ilmu, adab, dan pengamalan agama. Santri masa kini hidup di tengah perkembangan teknologi yang menawarkan kemudahan sekaligus menghadirkan tantangan. Di satu sisi, mereka mempelajari kitab turats, menghafal nazam, menyimak penjelasan para kiai, dan membangun kedisiplinan. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan arus informasi yang bergerak cepat, hiburan tanpa batas, serta kebiasaan digital yang dapat menyita perhatian.

Gawai bukanlah musuh yang harus dijauhi sepenuhnya. Teknologi dapat menjadi sarana belajar, memperluas wawasan, dan menyebarkan dakwah. Persoalannya terletak pada cara manusia menggunakannya. Ketika waktu untuk menelaah kitab tergantikan oleh guliran layar yang tak berkesudahan, ketika hafalan dikalahkan oleh hiburan, dan ketika nasihat guru tak lagi mendapat perhatian, saat itulah teknologi mulai mengambil ruang yang semestinya ditempati oleh ilmu. Santri perlu belajar menguasai teknologi tanpa dikuasai olehnya, memanfaatkan kemajuan tanpa kehilangan pegangan, serta mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan adab dan ajaran.

Tantangan tersebut tidak berhenti ketika seorang santri menyelesaikan pendidikannya di pesantren. Para alumni yang telah memasuki dunia kerja, membangun keluarga, dan mengemban tanggung jawab sosial juga menghadapi ujian yang tidak ringan. Kesibukan mencari nafkah memang penting, begitu pula tanggung jawab terhadap keluarga. Namun, kesibukan itu semestinya tidak memutus hubungan dengan sumber ilmu. Sesekali kembali ke pesantren, menghadiri pengajian, menyimak nasihat para kiai, dan menjaga pergaulan dengan orang-orang saleh merupakan ikhtiar untuk merawat nilai yang dahulu ditanamkan. Sebab, kelulusan dari lembaga pendidikan bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan awal dari tanggung jawab untuk mengamalkannya.

Pada akhirnya, menjadi santri bukan semata-mata identitas yang melekat pada nama atau riwayat pendidikan. Menjadi santri berarti menjaga kesediaan untuk belajar, kerendahan hati untuk menerima nasihat, dan kesungguhan untuk mengamalkan ilmu sepanjang kehidupan. Jangan sampai tubuh tetap tegak, tetapi hati kehilangan arah; jangan sampai lisan fasih berbicara, tetapi perilaku jauh dari tuntunan; jangan sampai usia terus bertambah, tetapi ilmu dan adab justru kehilangan tempat.

Mari kita hidupkan kembali semangat mondok, madrasah, mengaji, dan menghadiri majelis ilmu. Luangkan waktu untuk belajar sebelum kesibukan menutup kesempatan, dekatkan diri kepada ulama sebelum hati semakin jauh dari nasihat, dan amalkan ilmu sebelum kehidupan sampai pada batas. Sebab, kematian hakiki bukanlah alasan untuk berputus asa, melainkan peringatan agar kita tidak membiarkan hati kehilangan cahaya. Selama napas masih berembus, kesempatan memperbaiki diri tetap terbuka; selama usia masih tersisa, jalan menuju ilmu masih terbentang; dan selama hati masih tergerak untuk belajar, harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik tidak pernah benar-benar sirna.

Penulis : Muhammad Hibatulloh ( Mahasiswa Kpi UIN Ponorgo )

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *