
Pesantren selama ini dikenal sebagai ruang belajar yang tidak hanya lekat dengan kitab dan pengajian, tetapi juga dengan tradisi, kesederhanaan, dan kebersamaan. Namun, santri saat ini tumbuh dalam suasana yang berbeda. Di sela-sela aktivitas pesantren, ada dunia digital yang terus hadir melalui gawai dan media sosial.
Perubahan ini menarik untuk diperhatikan. Sebab, santri tidak lagi hanya berhadapan dengan buku dan kitab, tetapi juga dengan arus informasi yang begitu cepat melalui media sosial. Media sosial sendiri bukan sesuatu yang harus dipertentangkan dengan kehidupan pesantren, yang lebih penting adalah bagaimana santri menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Perkembangan teknologi tentu bukan sesuatu yang harus dijauhkan dari kehidupan santri. Justru, teknologi dapat menjadi ruang baru untuk belajar, berkarya, dan menyebarkan kebaikan. Perkembangan digital juga telah mulai dimanfaatkan dalam lingkungan pesantren, baik untuk pembelajaran maupun pengembangan keterampilan santri.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan. Banyaknya informasi tidak selalu berarti semakin mudah menemukan kebenaran. Ada informasi yang belum jelas sumbernya, ada pula konten yang dibuat hanya untuk menarik perhatian.
Ketika Tradisi Pesantren Bertemu Dunia Digital
Ruang digital memberikan kesempatan yang cukup besar bagi santri. Santri tidak hanya menjadi penonton dari konten yang beredar. Berbagai hal dari kehidupan pesantren yang dapat dibagikan kepada masyarakat, yaitu mulai dari kegiatan belajar, tradisi, karya santri, hingga aktivitas sosial.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka ruang bagi santri untuk mengembangkan kemampuan baru. Menulis, membuat video, mengelola media sosial, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan AI (Artificial Intelligence) dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Santri yang terbiasa dengan proses belajar di pesantren memiliki bekal untuk menyikapi arus informasi dengan lebih bijak. Dalam tradisi pesantren, pemahaman tidak diperoleh secara terburu-buru, tetapi melalui proses membaca, menyimak, bertanya, dan memahami penjelasan dari guru. Kebiasaan tersebut menjadi penting ketika santri berada di ruang digital, di mana berbagai informasi dapat diterima dengan sangat cepat. Sebelum mempercayai atau membagikan suatu informasi, ada baiknya dipahami dahulu, diperiksa sumbernya, dan dilihat konteksnya.
Menjaga Jati Diri
Perubahan zaman memang tidak bisa dihentikan, dan teknologi akan terus berkembang. Karena itu, tantangannya bukan bagaimana tetap memiliki pegangan ketika menggunakannya. Tradisi pesantren dapat menjadi salah satu pegangan tersebut. Nilai kesopanan, penghormatan kepada guru, ketekunan belajar, dan kehati-hatian dalam menerima informasi di tengah perkembangan teknologi.
Menjadi santri di era digital bukan hanya soal mampu menggunakan teknologi. Lebih dari itu, ada kesempatan untuk menunjukkan bahwa ilmu pesantren juga dapat hadir di ruang yang lebih luas. Sebab, teknologi boleh berkembang, tetapi nilai ilmu, adab, dan kemanfaatan tetap menjadi sesuatu yang penting untuk dibawa ke mana pun santri melangkah.
Penulis: Nadia Rohmah (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo).