Khutbah ini mengajak jamaah belajar ikhlas di tengah kehidupan yang semakin mudah dipertontonkan melalui media sosial. Ikhlas bukan berarti semua kebaikan harus disembunyikan, tetapi menjaga agar amal tidak bergantung pada pujian manusia dan tetap berorientasi pada ridha Allah. Dengan muhasabah dan muraqabah, seorang Muslim belajar tetap berbuat baik meski tidak dilihat, tidak disebut, dan tidak dipuji.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Bukan hanya dengan memperbanyak amal, tetapi juga dengan memperbaiki hati yang berada di balik amal itu. Sebab tidak semua yang tampak baik di hadapan manusia otomatis bernilai besar di hadapan Allah. Allah mengetahui bukan hanya apa yang kita kerjakan, tetapi juga untuk siapa kita mengerjakannya.
Kita semua senang dihargai. Kita senang jika pekerjaan kita diketahui, bantuan kita diingat, pendapat kita didengar, dan kebaikan kita mendapat ucapan terima kasih. Perasaan seperti itu manusiawi. Tetapi di sinilah hati perlu dijaga.
Apalagi sekarang kita hidup pada zaman ketika hampir semua kegiatan mudah diketahui orang lain. Dengan telepon genggam, sebuah kegiatan dapat difoto, direkam, lalu dibagikan melalui WhatsApp, Facebook, TikTok, atau media sosial lainnya. Sedekah dapat diketahui orang. Kegiatan keagamaan dapat dilihat banyak orang. Bahkan pengalaman ibadah pun dapat dibagikan kepada masyarakat luas.
Media sosial tentu tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi sarana silaturahim, dakwah, dan mengajak orang kepada kebaikan. Tetapi hati kita perlu tetap waspada. Jangan sampai amal yang awalnya dilakukan karena Allah, perlahan-lahan berubah menjadi amal yang dilakukan karena ingin dilihat manusia.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah suatu kebaikan diunggah atau tidak diunggah. Persoalan yang lebih dalam adalah: kepada siapa hati kita menghadap ketika melakukan kebaikan itu?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama dengan lurus, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah: 5)
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ayat dan Hadits ini mengingatkan bahwa nilai amal tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak dari luar. Di balik setiap amal ada sesuatu yang lebih dalam, yaitu ikhlas dan niat.
Ikhlas bukan berarti semua kebaikan harus disembunyikan. Ada amal yang memang dilakukan di tengah masyarakat. Mengurus masjid terlihat orang. Mengajar terlihat orang. Membantu tetangga terlihat orang. Menjadi panitia kegiatan juga terlihat orang.
Karena itu, yang menjadi persoalan bukan apakah amal kita terlihat atau tidak, tetapi apakah hati kita menggantungkan amal itu kepada penilaian manusia.
Kita boleh berbuat baik di hadapan manusia, tetapi hati tetap mencari ridha Allah. Kita boleh mendapat pujian, tetapi jangan menjadikan pujian sebagai makanan hati. Kita boleh tidak mendapat ucapan terima kasih, tetapi jangan kemudian berhenti berbuat baik.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Para ulama tasawuf mengingatkan bahwa penyakit hati sering kali bekerja dengan sangat halus. Keinginan dipuji tidak selalu tampak dalam ucapan. Kadang ia tersembunyi jauh di dalam hati.
Kita merasa sudah ikhlas. Tetapi ketika nama kita tidak disebut, hati merasa kecewa. Kita merasa telah membantu. Tetapi ketika tidak mendapat ucapan terima kasih, kita mulai menghitung-hitung kebaikan kita. Kita merasa senang melihat keberhasilan orang lain. Tetapi ketika orang lain lebih dipuji, hati mulai merasa tidak nyaman.
Di sinilah kita memerlukan muhasabah, melihat kembali keadaan diri sendiri. Ikhlas memang bukan pekerjaan sekali jadi. Ikhlas adalah pelajaran sepanjang hidup. Niat yang baik pada awal amal bisa berubah di tengah jalan. Karena itu niat perlu terus diperbarui. Dalam tradisi tasawuf, kita mengenal sikap muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui keadaan kita.
Orang yang memiliki muraqabah belajar menenangkan hatinya: Tidak mengapa manusia tidak mengetahui, Allah mengetahui. Tidak mengapa manusia tidak memuji, Allah melihat. Tidak mengapa nama kita tidak disebut, asalkan amal kita diterima oleh Allah. Inilah salah satu bentuk kebebasan batin. Kita tidak terlalu sibuk dengan penilaian manusia karena kita sadar ada penilaian yang jauh lebih penting, yaitu penilaian Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Tasawuf tidak mengajarkan kita lari dari kehidupan masyarakat. Justru hati yang dekat kepada Allah seharusnya membuat seseorang semakin ringan membantu orang lain. Kita tetap bergotong royong. Tetap membantu tetangga. Tetap mengurus masjid. Tetap bekerja mencari nafkah. Tetap aktif dalam kehidupan masyarakat.
Tasawuf bukan meninggalkan dunia. Tasawuf adalah membersihkan hati ketika kita hidup di tengah dunia. Karena itu, jangan berhenti berbuat baik hanya karena manusia tidak melihat. Dan jangan merasa diri telah menjadi orang baik hanya karena manusia memuji.
Banyak amal yang mungkin kecil menurut manusia, tetapi besar di hadapan Allah: memberi tanpa menyebut-nyebut pemberian, menolong tanpa berharap balasan, menahan amarah, memaafkan orang lain, mendoakan seseorang secara diam-diam, atau melakukan kebaikan ketika tidak seorang pun mengetahuinya.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita belajar ikhlas melalui hal-hal sederhana. Sebelum melakukan sesuatu, luruskan niat: Ya Allah, semoga ini menjadi amal yang Engkau ridai. Ketika mendapat pujian, jangan terlalu membesarkan diri. Ketika tidak dihargai, jangan cepat kecewa. Dan sesekali milikilah amal yang hanya kita dan Allah yang mengetahuinya.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya’, kesombongan, iri hati, dan keinginan berlebihan terhadap pujian manusia. Semoga Allah menjadikan kita mampu berbuat baik, baik ketika dilihat manusia maupun ketika hanya Allah yang mengetahuinya.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِمُعَلِّمِيْنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَهْلِيْنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَرْزَاقِنَا. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ وَخِدْمَةِ الشَّعْبِ. اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
*Abid Rohmanu, Ketua YPP Al-Jawahiriyyah Campurejo dan Dosen UIN Ponorogo