NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Apakah Panitia Kurban boleh Mengambil Daging Kurban untuk Dimasak dan Dikonsumsi Panitia? Ini Penjelasannya

NU Online Ponorogo – Kaum Muslimin yang dirahmati Allah, saat ini kita telah sampai pada salah satu bulan mulia dalam Islam, yakni bulan Dzulhijjah. Sebentar lagi kita akan menyambut hari Raya Idul Adha.

Tentunya pada hari itu, umat Islam akan melakukan salah satu syariat Islam, yakni berkurban. Sering kali di masyarakat kita terdapat beragam pertanyaan-pertanyaan seputar kurban. Salah satu pertanyaan tersebut adalah kebolehan panitia kurban mengambil daging kurban untuk dimasak atau dikonsumsi oleh panitia.

Dalam hal ini, tentunya Islam telah mengatur aturan-aturannya sebagaimana berikut ini:

  1. Sudah ada sebagian daging yang di shodaqohkan dalam keadaan mentah (qurban sunah)
  2. Ada izin dari mudlohi (orang yang kurban) baik secara lisan, tulisan, atau berdasarkan tradisi yang sudah berlaku
  3. Tidak diatasnamakan sebagai upah
Adapun kadar yang boleh diambil (jika memenuhi syarat diatas) adalah sewajarnya kecuali sudah ditentukan oleh mudlohi, misalnya 1 kg maka tidak boleh mengambil lebih dari itu.
Referensi:

المهذب الجزء الأول صحـ ٣٥٠ ط. طه فوترا

(فصل) وَلَا يَمْلِكُ الْوَكِيلُ مِنَ التَّصَرُّفَ إِلَّا مَا يَقْتَضِيْهِ إِذْنُ الْمُوَكَّلَ جِهَةِ النُّطْقِ أَوْ مِنْ جِهَةِ الْعُرْفِ فِي لأَنَّ تَصَرُّفَهُ بِالْإِذْنِ فَلَا يَمْلِكُ إِلَّا مَا يَقْتَضِيهِ الْإِذْنُ وَالْإِذْنُ يُعْرَفُ بِالنُّطْقِ وَبِالْعُرْفِ
توشيح على ابن قاسم صحـ ٢٧٣
وَلَا يَجُوْزُ لَهُ أَخَذُ شَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا إِنْ عَيَّنَ لَهُ الْمُوَكَّلُ قَدْرًا مِنْهَا لَكِنْ قَالَ بَعْضُهُمْ يَجُوزُ لِوَكِيْلِ تَفْرِقَةِ لَحْمِ الْعَقِيقَةِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهُ قَدْرَ كِفَايَةِ يَوْمٍ فقط لِلْغِدَاءِ وَالْعِشَاءِ لِأَنَّ الْعَادَةَ تَتَسَامَحُ بِذَلِكَ
حاشية الشرقاوي الجزء الثاني صحـ ١٠٨
وَلَا يَجُوْزُ لِلْوَكِيْلِ الْأُخُذُ مِنْهَا لَاتِّحَادِ الْقَابِضِ وَالْمُقْبِضِ نَعَمْ إِنْ عَيْنَ لَهُ قَدْرًا جَازَ لَأَنَّ الْمُقْبِضَ حِينَئِذٍ هُوَ الْمَالِكُ
فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب صحـ ٣١٤
يَحْرُمُ عَلَى الْمُصْحَى بَيْعُ شَيْء مِنَ الأَضْحِيَةِ) أى مِنْ لَحْمِهَا أَوْ شَعْرِهَا أَوْجِلْدِهَا وَيَحْرُمُ أَيْضًا جَعْلُهُ أَجْرَةً لِلْجَزَارِ وَلَوْ كَانَتِ الْأَضْحِيَةُ تَطَوُّعًا
Penulis: Muhammad Muzakka/ Sekretaris LBMNU Ponorogo
Editor: Azmi Mustaqim
tulisan ini telah dimuat pada akun facebook penulis: Muhammad Muzakka 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *