NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Kemerdekaan adalah Amanah: Mensyukuri Nikmat dengan Menjaga Tanggung Jawab*

Kemerdekaan merupakan nikmat besar dari Allah yang tidak cukup disyukuri melalui perayaan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab. Syukur atas kemerdekaan tampak dalam kejujuran, kesungguhan bekerja, pendidikan keluarga, kepedulian sosial, serta penggunaan kebebasan secara bermartabat. Setiap orang memikul amanah sesuai kedudukannya, termasuk dalam menjaga lisan dan menyebarkan informasi di media sosial. Kemerdekaan akan tetap bermakna apabila diisi dengan keadilan, persaudaraan, dan pengabdian bagi kebaikan bersama.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَ الْأَمَانَةَ مِنْ دَلَائِلِ صِدْقِ الْإِيْمَانِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Memasuki bulan Agustus, suasana kemerdekaan kembali terasa di sekitar kita. Bendera merah putih berkibar di depan rumah. Kampung-kampung dihias. Upacara, perlombaan, doa bersama, dan berbagai kegiatan sosial diselenggarakan. Semua itu merupakan cara yang baik untuk mengenang perjuangan para pendahulu dan menumbuhkan kecintaan kepada tanah air.

Namun, di tengah kemeriahan tersebut, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan: apakah kemerdekaan cukup disyukuri dengan perayaan, ataukah harus pula dibuktikan dengan tanggung jawab?

Merayakan kemerdekaan adalah sesuatu yang baik. Akan tetapi, menjaga nilai dan mengisi kemerdekaan jauh lebih penting. Kemerdekaan bukan hanya peristiwa sejarah yang dikenang setiap tahun. Kemerdekaan adalah ruang untuk beribadah, bekerja, mencari ilmu, membangun kehidupan, dan mewujudkan kebaikan bersama.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Kemerdekaan merupakan salah satu nikmat besar yang patut kita syukuri. Dengan kemerdekaan, kita dapat beribadah dengan tenang, mendidik keluarga, mengembangkan ilmu dan kebudayaan, serta hidup bersama di tengah masyarakat yang beragam.

Namun, kemerdekaan hanya akan menjadi nikmat yang sempurna apabila digunakan untuk membangun kemaslahatan. Sebaliknya, kemerdekaan dapat kehilangan makna apabila diisi dengan kezaliman, keserakahan, kebohongan, dan permusuhan.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ibrāhīm ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Akan tetapi, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’”

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap nikmat menuntut syukur. Namun, syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah. Syukur berarti menyadari bahwa nikmat berasal dari Allah, lalu menggunakan nikmat itu untuk kebaikan.

Karena itu, mensyukuri kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera, mengikuti upacara, atau menyelenggarakan perayaan. Semua itu penting, tetapi harus dilanjutkan dengan syukur yang nyata.

Mensyukuri kemerdekaan berarti menggunakan kebebasan untuk beribadah dengan lebih baik, mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, mendidik keluarga dengan penuh tanggung jawab, menolong yang lemah, serta merawat persaudaraan.

Syukur yang berhenti pada ucapan akan mudah menguap. Adapun syukur yang berubah menjadi tindakan akan melahirkan kebaikan. Sebab, syukur yang sejati selalu melahirkan tanggung jawab.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Setiap nikmat pada hakikatnya juga merupakan amanah. Harta adalah nikmat, tetapi sekaligus amanah. Ilmu adalah nikmat, tetapi sekaligus amanah. Jabatan adalah nikmat, tetapi sekaligus amanah. Demikian pula kemerdekaan. Ia adalah nikmat dan amanah yang harus kita jaga dan kita wariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.

Allah Swt. berfirman dalam Surah al-Anfāl ayat 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.”

Ayat ini menghubungkan keimanan dengan kesetiaan dalam menjaga amanah. Orang beriman tidak cukup hanya mengucapkan syahadat dan menjalankan ibadah ritual. Keimanan juga harus tampak dalam kejujuran, tanggung jawab, dan kesediaan menjaga hak orang lain.

Amanah mencakup segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia: keluarga, pekerjaan, ilmu, harta, waktu, pelayanan, jabatan, janji, dan hak sesama.

Karena itu, amanah tidak hanya menjadi urusan para pemimpin. Pemimpin memang memikul tanggung jawab yang besar, tetapi setiap orang mempunyai amanah sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya.

Para pendahulu telah berjuang agar bangsa ini terbebas dari penjajahan. Tugas kita sekarang adalah menjaga agar kemerdekaan tidak dirusak dari dalam oleh kebohongan, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengabaian terhadap hak sesama.

Sebuah bangsa tidak hanya dijaga oleh kekuatan negara, tetapi juga oleh kejujuran dan tanggung jawab warganya.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Pengkhianatan terhadap amanah tidak selalu dimulai dari perkara besar. Sering kali, ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dianggap biasa.

Seseorang menerima tugas, tetapi mengerjakannya dengan asal-asalan. Seseorang menerima upah, tetapi mengabaikan kewajibannya. Seorang pedagang mencari keuntungan dengan menyembunyikan kekurangan barang. Seseorang berjanji, tetapi dengan mudah mengingkarinya.

Dalam keluarga, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya. Mereka juga memikul amanah untuk menanamkan iman, akhlak, dan tanggung jawab. Orang yang diberi ilmu juga berkewajiban menjadikan ilmunya bermanfaat dan menghadirkan keteladanan dalam kehidupan.

Pada zaman media sosial, amanah juga berkaitan dengan kata-kata dan informasi.

Tidak semua yang kita terima harus kita sebarkan. Tidak semua yang kita pikirkan harus kita tuliskan. Kebebasan berbicara bukanlah kebebasan untuk memfitnah, menghina, atau merusak kehormatan orang lain.

Jari-jari yang menekan tombol kirim juga akan dimintai pertanggungjawaban. Sebuah kabar yang tidak benar dapat menimbulkan permusuhan. Sebuah tuduhan yang tidak berdasar dapat menghancurkan kehormatan seseorang.

Karena itu, kemerdekaan tidak berarti kita bebas berkata dan bertindak tanpa batas. Kemerdekaan harus selalu disertai tanggung jawab.

Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya:

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemelihara dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipeliharanya.”

Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab manusia memang berbeda-beda, tetapi tidak seorang pun hidup tanpa amanah.

Pemimpin bertanggung jawab menghadirkan keadilan dan tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Orang berilmu bertanggung jawab atas ilmu dan keteladanannya. Pedagang dan pekerja bertanggung jawab atas kejujuran serta tugas yang dipercayakan kepadanya. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan iman dan akhlak keluarga. Generasi muda bertanggung jawab menggunakan kebebasan untuk belajar, berkarya, dan memberi manfaat.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah pada hari yang mulia ini kita bermuhasabah. Tidak perlu terlebih dahulu melihat kesalahan orang lain. Marilah kita mulai dari diri sendiri. Apakah kita telah menjaga amanah di dalam keluarga? Apakah pekerjaan dan harta yang dipercayakan kepada kita telah kita jalankan dengan jujur? Apakah kebebasan berbicara kita gunakan untuk menyampaikan kebaikan, atau justru untuk menyebarkan kebencian?

Jangan sampai kita merayakan kemerdekaan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru mengkhianati kepercayaan, mengambil hak sesama, merusak persaudaraan, dan mengabaikan tanggung jawab.

Jangan sampai kita menginginkan bangsa yang bersih dan adil, tetapi masih membiasakan kebohongan dan ketidakadilan dalam urusan yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Karena itu, marilah kita mensyukuri kemerdekaan melalui langkah-langkah yang nyata. Jagalah amanah dalam keluarga, pekerjaan, waktu, janji, ilmu, dan hak orang lain. Jagalah persaudaraan dengan menahan lisan, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, tidak mudah menghina, dan tidak memperuncing perbedaan.

Hadirkanlah manfaat melalui pekerjaan yang jujur, kepedulian kepada tetangga, dukungan terhadap pendidikan, penjagaan lingkungan, dan keterlibatan dalam kehidupan masyarakat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, kuat memegang amanah, adil dalam bertindak, tulus dalam mengabdi, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan seluruh umat manusia.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ  اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَلِعُلَمَائِنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا وَعَلَّمُوْنَا وَأَرْشَدُوْنَا إِلَى طَرِيْقِ الْخَيْرِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا وَأَعْمَالِنَا. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، رَخَاءً سَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَجَنِّبْنَا الْفِتَنَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ وَلِّ أُمُوْرَنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ أُمُوْرَنَا شِرَارَنَا. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ قَادَتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِلْعَدْلِ وَالْحِكْمَةِ وَالْأَمَانَةِ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِرَعِيَّتِهِمْ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى مَا فِيْهِ صَلَاحُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ عُلَمَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَبَارِكْ فِيْ عِلْمِهِمْ وَعَمَلِهِمْ، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْفِتَنَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْأَخْلَاقِ، وَالظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ وَالتَّفَرُّقَ وَالْخِصَامَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَارْحَمِ الْمَنْكُوْبِيْنَ وَالْمُهَجَّرِيْنَ وَالْمُبْتَلِيْنَ، وَارْفَعِ الظُّلْمَ وَالْحَرْبَ وَالْعُدْوَانَ عَنْ عِبَادِكَ أَجْمَعِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

 

*Dr. Abid Rohmanu, M.H.I., Wadek I Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *