
Pada suatu malam di Surabaya, sekitar tahun 1914, sekelompok anak muda bersarung berkumpul di sebuah ruang yang jauh dari kesan mewah. Mereka tidak sedang menyusun anggaran dasar organisasi. Mereka juga belum membicarakan kepengurusan. Yang diperdebatkan justru gagasan: bagaimana umat Islam harus membaca perubahan zaman, bagaimana pendidikan harus diperbarui, dan bagaimana tradisi dapat tetap hidup tanpa kehilangan kemampuannya menjawab kenyataan.
Forum kecil itu kemudian dikenal sebagai Tashwirul Afkar. Di sana, KH. Abdul Wahab Chasbullah mempertemukan para santri, ulama muda, dan kaum terpelajar untuk berdiskusi tentang apa saja: fikih, politik kolonial, pendidikan, nasionalisme, hingga perkembangan dunia Islam. Perdebatan berlangsung terbuka, kadang keras, tetapi selalu berangkat dari keyakinan yang sama: perubahan zaman harus dijawab dengan keluasan ilmu, bukan dengan kepanikan.
Menariknya, forum intelektual itu lahir jauh sebelum Nahdlatul Ulama berdiri. Setelah Tashwirul Afkar, menyusul Nahdlatul Wathan yang bergerak di bidang pendidikan, kemudian Nahdlatut Tujjar yang menguatkan kemandirian ekonomi. Baru beberapa tahun kemudian, tepat pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama didirikan sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah.
Urutan sejarah ini menyimpan pelajaran yang sering luput dari ingatan kita. Para muassis ternyata tidak memulai perjuangan dengan membangun organisasi. Mereka lebih dahulu membangun ruang berpikir, ruang belajar, dan ruang kemandirian. Organisasi lahir belakangan sebagai rumah untuk merawat seluruh ikhtiar itu.
Mungkin di sinilah letak kejeniusan para pendiri NU. Mereka memahami bahwa organisasi hanyalah instrumen, sedangkan tujuan akhirnya adalah membangun kehidupan. Sebuah organisasi dapat dibentuk melalui keputusan, tetapi sebuah peradaban hanya dapat dibangun melalui proses panjang yang menumbuhkan ilmu, membentuk karakter, menggerakkan ekonomi, dan melahirkan kebudayaan. Karena itu, sejak awal NU tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi perkumpulan ulama, melainkan ekosistem yang menghubungkan agama, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial dalam satu tarikan napas.
Seratus tahun telah berlalu. Ikhtiar yang dahulu dimulai dari ruang-ruang diskusi kecil itu kini menjelma menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ribuan pesantren berdiri dari ujung Aceh hingga Papua. Ratusan perguruan tinggi berkembang di bawah naungan NU. Lembaga filantropi, rumah sakit, badan otonom, organisasi profesi, hingga jaringan internasional tumbuh mengikuti denyut masyarakat. Sulit mencari organisasi masyarakat yang memiliki akar sosial sedalam Nahdlatul Ulama.Namun sejarah selalu memiliki cara yang halus untuk menguji kebesaran. Ketika sebuah organisasi telah mapan, tantangan terbesarnya bukan lagi bagaimana bertahan, melainkan bagaimana menghindari rasa cukup. Tidak sedikit organisasi besar yang akhirnya sibuk merawat dirinya sendiri. Energinya habis untuk mengelola struktur, menyempurnakan tata kelola, memperluas jaringan, dan mengurus pergantian kepemimpinan. Semua itu penting, tetapi sering kali tanpa disadari perlahan menggeser perhatian dari tujuan awal organisasi itu didirikan.
Kegelisahan semacam inilah yang semestinya menyertai Muktamar. Muktamar bukan hanya ruang memilih Rais Aam dan Ketua Umum, melainkan kesempatan untuk menengok kembali jejak para pendiri. Jika KH. Wahab Chasbullah memulai perjalanan NU dari ruang diskusi, lalu pertanyaan yang layak diajukan hari ini bukan sekadar siapa yang akan memimpin NU lima tahun ke depan, melainkan apakah NU masih menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan besar sebagaimana dicita-citakan para muassisnya.
Pertanyaan itu terasa semakin penting karena dunia yang dihadapi NU telah berubah secara mendasar. Kolonialisme telah berganti menjadi globalisasi. Percetakan kitab berganti menjadi algoritma digital. Otoritas keagamaan tidak lagi hanya dibentuk di langgar, masjid, dan pesantren, tetapi juga di layar telepon genggam yang setiap hari membentuk cara masyarakat memahami agama. Dalam dunia seperti ini, organisasi yang hanya mengandalkan kebesaran massa perlahan akan kehilangan daya pengaruh. Sebaliknya, organisasi yang mampu terus memproduksi pengetahuan akan tetap memimpin arah perubahan.
Barangkali, di situlah makna terdalam memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama. Yang sedang diuji bukan lagi ketangguhan organisasi ini untuk bertahan—sejarah telah menjawabnya. Yang sedang diuji adalah kesanggupannya menghidupkan kembali semangat Tashwirul Afkar: menjadikan ilmu sebagai titik berangkat, menjadikan tradisi sebagai sumber kreativitas, dan menjadikan organisasi sebagai jalan menuju peradaban.
Penulis: Moh. Alwy Amru Ghozali (Ketua Ranting NU Pengkol Ponorogo, Dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo)