
NU Online Ponorogo – Dua kader aktif Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Ponorogo yang menjabat sebagai kepala desa menunjukkan inovasi dalam bidang pertanian dan pengelolaan limbah. Inovasi tersebut menjadi bagian dari Penilaian Lapangan Ansor Jatim Agro Innovation Award 2026 yang digelar oleh Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur di Kabupaten Ponorogo, Senin (17/8/2026).
Penilaian lapangan dilaksanakan di dua lokasi, yakni Desa Krisik, Kecamatan Pudak, dan Desa Mrican, Kecamatan Jenangan. Program tersebut merupakan bentuk apresiasi PW GP Ansor Jawa Timur kepada kader-kader Ansor yang dipercaya menjadi kepala desa dan mampu menghadirkan inovasi serta solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan lingkungan.
Ketua Departemen Pertanian dan Perkebunan PW GP Ansor Jawa Timur, H. Deni Prasetya, turut hadir dalam penilaian tersebut. Ia memberikan apresiasi terhadap keterlibatan kader Ansor dalam mengembangkan inovasi pertanian sekaligus mengelola limbah agar memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
Ketua PC GP Ansor Ponorogo, Fakaruzzaman Hidayatulloh, menjelaskan bahwa terdapat dua kader Ansor aktif yang mengikuti penilaian lapangan tersebut. Keduanya adalah sahabat Adi Purnomo Sidiq, S.H., Kepala Desa Mrican, Kecamatan Jenangan, dan sahabat Erwan Santoso, Kepala Desa Krisik, Kecamatan Pudak.
“Ada dua kader Ansor aktif yang menjabat sebagai kepala desa yang memiliki inovasi dalam bidang pertanian dan pengelolaan limbah. Sahabat Adi Purnomo Sidiq dari Mrican, Anggota Satkoryon Banser Jenangan dan Sahabat Erwan Santoso dari Krisik yang kerap disapa Ndan Santoso, Kasatkoryon Banser Pudak,” terang Fakaruzzaman saat dikonfirmasi NU Online Ponorogo, Selasa (18/8/2026).
Menurut Fakaruzzaman, inovasi yang dikembangkan kedua kader tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dan limbah dapat diubah menjadi peluang yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, ia berharap langkah tersebut dapat menginspirasi kader-kader Ansor lainnya untuk lebih aktif memberikan alternatif solusi terhadap berbagai persoalan di lingkungan masing-masing.
“Kami mendorong kader-kader Ansor supaya terlibat aktif dalam memberikan alternatif solusi permasalahan di masyarakat. Dengan kreativitas, sesuatu yang mungkin dipandang kotor akan menjadi bermanfaat dan memiliki nilai tambah ekonomi,” tambahnya.

Dalam penilaian di Desa Mrican, tim PW GP Ansor Jawa Timur melakukan asesmen terhadap inovasi yang dikembangkan Purnomo Sidiq. Kepala Desa Mrican tersebut menginisiasi pemanfaatan air lindi atau air limbah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mrican untuk diolah menjadi bahan pupuk.
Selain memanfaatkan air lindi, inovasi tersebut juga dikembangkan melalui pengolahan limbah peternakan. Kotoran dan air seni kambing difermentasi untuk menghasilkan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan ekonomi sirkular, yakni mengolah bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi produk yang kembali memiliki manfaat. Dengan demikian, persoalan limbah tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga berpotensi memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Sementara itu, di Desa Krisik, Irwan Suwanto mengembangkan inovasi ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah dari peternakan sapi. Kotoran sapi yang sebelumnya menjadi salah satu persoalan eksternal dalam aktivitas peternakan diolah menjadi media untuk budidaya cacing.
Setelah melalui proses budidaya, kotoran sapi yang telah dikonsumsi nutrisinya oleh cacing kemudian diolah kembali menjadi pupuk. Proses tersebut dilakukan dengan menjaga kelembapan selama kurang lebih satu bulan sehingga mempercepat pembentukan pupuk organik.
Inovasi tersebut dikembangkan secara terintegrasi dalam satu kawasan. Selain terdapat peternakan sapi perah, kotoran sapi dimanfaatkan untuk media budidaya cacing, sementara air seni diolah menjadi pupuk cair. Cacing hasil budidaya juga memiliki nilai ekonomi, dengan produksi yang disebut dapat mencapai sekitar 20–30 kilogram per pekan dan memiliki nilai jual sekitar Rp10 ribu per kilogram.
Di sekitar lokasi pengelolaan peternakan juga ditanami labu siam yang turut mendukung ekosistem pengelolaan limbah dan aktivitas pertanian. Pola tersebut menunjukkan bahwa satu kawasan dapat dimanfaatkan untuk mengintegrasikan peternakan, pengelolaan limbah, budidaya cacing, produksi pupuk, hingga pertanian.

Pengembangan inovasi tersebut tidak berjalan sendiri. Pemenuhan berbagai kriteria penilaian dalam Ansor Jatim Agro Innovation Award 2026 juga didukung pendampingan Departemen Pemberdayaan Desa dan Masyarakat PC GP Ansor Ponorogo yang digawangi oleh Sahabat Eko Triono.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong kader Ansor yang berada di pemerintahan desa agar mampu mengembangkan potensi lokal sekaligus menghadirkan solusi inovatif bagi persoalan masyarakat.
Penilaian lapangan turut dihadiri Ketua PC GP Ansor Ponorogo Fakaruzzaman Hidayatulloh, Kasatkorcab Banser Ponorogo Yoyok Heri Saputro, serta jajaran Pengurus Harian PC GP Ansor Ponorogo. Melalui Ansor Jatim Agro Innovation Award 2026, PW GP Ansor Jawa Timur tidak hanya memberikan apresiasi kepada kader yang telah menghasilkan inovasi, tetapi juga mendorong lahirnya praktik-praktik pemberdayaan yang dapat direplikasi di daerah lain.
Bagi GP Ansor Ponorogo, keterlibatan dua kepala desa tersebut menjadi bukti bahwa kader Ansor dapat mengambil peran strategis dalam menjawab persoalan masyarakat. Pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah tidak hanya dipandang sebagai sektor teknis, tetapi dapat dikembangkan menjadi ruang inovasi yang memberikan manfaat sosial sekaligus nilai ekonomi. Dengan semangat tersebut, kader Ansor diharapkan terus menghadirkan gagasan kreatif yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. Dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, lahir inovasi; dari inovasi tersebut, terbuka peluang pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kontributor: Sahabat Media LTN