
Di era digital, berita telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap hari, berbagai informasi hadir melalui media sosial, grup WhatsApp, portal berita, hingga percakapan sehari-hari. Kemudahan mengakses informasi tentu membawa banyak manfaat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan serius berupa penyebaran berita bohong, fitnah, provokasi, dan informasi yang belum jelas kebenarannya. Tidak sedikit masyarakat yang langsung mempercayai dan menyebarkan berita hanya karena judulnya menarik atau sesuai dengan pandangan pribadinya.
Islam memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana seseorang seharusnya menyikapi berita. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Ayat ini mengajarkan pentingnya tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum mengambil sikap. Dalam kehidupan digital, tabayyun dapat dilakukan dengan memeriksa sumber berita, membaca informasi secara utuh, membandingkan pemberitaan dari berbagai sumber terpercaya, serta tidak terburu-buru memberikan komentar.
Rasulullah saw. juga mengingatkan:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (HR. Muslim, dalam Mukadimah Shahih Muslim).
Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa tidak semua informasi yang kita dengar layak disampaikan kembali. Seseorang dapat ikut menyebarkan kebohongan meskipun pada awalnya tidak berniat berdusta. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam menyampaikan berita merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.
Selain memastikan kebenaran berita, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan tulisan. Allah Swt. berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf [50]: 18).
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perkataan memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban. Dalam konteks media sosial, pesan yang diketik, komentar yang ditulis, dan berita yang dibagikan juga perlu dijaga berdasarkan prinsip tanggung jawab tersebut.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan hadis ini sangat relevan dalam menghadapi derasnya informasi. Tidak semua berita harus dikomentari, tidak semua perdebatan harus diikuti, dan tidak semua informasi harus disebarluaskan. Terkadang, memilih diam justru merupakan sikap bijaksana untuk menghindari kesalahpahaman dan konflik.
Menyikapi berita juga membutuhkan kedewasaan berpikir. Kita perlu membedakan antara fakta, opini, dan dugaan. Berita yang benar sekalipun belum tentu bermanfaat apabila disampaikan dengan tujuan mempermalukan, memprovokasi, atau menimbulkan permusuhan. Karena itu, sebelum membagikan informasi, setiap orang sebaiknya mempertimbangkan tiga pertanyaan sederhana: apakah berita ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah perlu disebarkan?
Pada akhirnya, kemajuan teknologi informasi harus diimbangi dengan kematangan akhlak. Seorang Muslim tidak cukup hanya menjadi pengguna media yang aktif, tetapi juga harus menjadi pembaca yang kritis dan penyampai informasi yang bertanggung jawab. Dengan membiasakan tabayyun, menjaga perkataan, dan mengutamakan kemaslahatan, kita dapat menjadikan ruang digital sebagai sarana menyebarkan ilmu, kebaikan, dan persaudaraan, bukan sebagai tempat tumbuhnya fitnah dan permusuhan.
Penulis: Wahyu Septrianto, S.Ag., M.Ag. (Anggota LD PCNU Kab. Ponorogo)