NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Dari Mengaku Mantri Hingga Dipanggil Kiai: Catatan Kronologis dari Kasus Jayadi

Ilustrasi dokter

NU Online Ponorogo – Kisah Jayadi tampaknya tidak lahir dari ruang akademik yang panjang, melainkan dari kemampuan membaca peluang sosial di tengah masyarakat yang mudah percaya pada simbol.

Konon, semuanya bermula pada era 1990-an ketika ia mengikuti pendidikan keterampilan kesehatan sederhana semacam sekolah menengah praktik kesehatan. Sekolah itu masuk sore hari dengan menumpang gedung sekolah dasar di kawasan Purbosuman. Materinya bukan pendidikan dokter atau perawat profesional, melainkan keterampilan dasar: pertolongan pertama, mengukur tekanan darah, mengenali obat sederhana, hingga praktik lapangan di rumah sakit daerah.

Bekal itu sebenarnya sangat terbatas. Namun bagi masyarakat desa saat itu, sedikit pengetahuan medis sudah cukup terlihat istimewa.

Selepas pendidikan tersebut, Jayadi disebut bekerja membantu seorang dokter spesialis ortopedi di wilayah Solo Raya. Dari sana ia mengenal dunia praktik kesehatan lebih jauh: membersihkan luka, memberi obat, memahami cara dokter melayani pasien, dan mempelajari bahasa medis sehari-hari.

Pulang ke kampung halaman, ia mulai membuka praktik pengobatan sendiri di wilayah Jambon. Awalnya masyarakat mengenalnya sebagai “mantri”. Dari mulut ke mulut namanya menyebar. Pasien berdatangan karena akses kesehatan desa terbatas dan biaya pengobatan murah.

Namun perlahan praktiknya melampaui kapasitas awal yang ia miliki. Tindakan medis yang dilakukan semakin luas, tidak lagi sekadar pengobatan ringan. Keluhan mulai muncul. Beberapa kali praktiknya dipersoalkan karena dianggap tidak sesuai kompetensi maupun kewenangan medis. Bahkan kabarnya pernah ada laporan dan teguran dari otoritas kesehatan setempat.

Tetapi praktik itu justru terus membesar.

Di titik inilah tampaknya Jayadi memahami satu hal penting: di masyarakat, legitimasi bukan hanya soal kemampuan, tetapi soal citra.

Ia mulai membangun identitas lebih besar dari sekadar “mantri”. Papan nama praktik berubah lebih berani. Gelar-gelar akademik mulai disematkan di belakang namanya. Dokter. Profesor. M.Kes. Entah bagaimana proses akademiknya, masyarakat perlahan mulai menerima begitu saja.

Tetapi rupanya legitimasi medis saja belum cukup.

Jayadi kemudian bergerak mendekati lingkungan keagamaan. Ia aktif hadir di pengajian, membangun kedekatan dengan para kiai, ikut dalam kegiatan pesantren, dan tampil sebagai sosok religius.

Dalam kultur masyarakat pedesaan, kedekatan dengan ulama sering kali dianggap sebagai tanda kesalehan dan kedalaman ilmu agama. Masyarakat kita mudah memantulkan kewibawaan seorang tokoh kepada orang yang berada di dekatnya.

Dekat dokter dianggap dokter. Dekat kiai dianggap alim.

Dari situ proses transformasi sosial itu berjalan perlahan.

Orang mulai memanggilnya “kiai”. Ia lalu mendirikan pondok pesantren sendiri. Dengan adanya pesantren, legitimasi moralnya semakin kuat. Ia bukan lagi sekadar praktisi kesehatan, tetapi tokoh agama yang memiliki santri dan pengikut.

Padahal dalam tradisi pesantren yang sesungguhnya, seorang kiai lahir dari proses panjang: mondok bertahun-tahun, belajar kitab dari banyak guru, mengabdi, lalu memperoleh pengakuan keilmuan dari komunitas pesantren. Tetapi dalam masyarakat yang semakin simbolik, proses panjang itu sering kalah oleh pencitraan.

Cukup dekat dengan kiai, lalu dianggap kiai. Dekat pesantren, lalu membuat pesantren.

Dari sinilah otoritas sosial Jayadi terbentuk: gabungan antara citra medis, gelar akademik, dan simbol agama.

Masalahnya, ketika seseorang memperoleh kekuasaan sosial besar tanpa pengawasan yang memadai, penyimpangan sering tinggal menunggu waktu.

Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang kini menyeret namanya memperlihatkan sisi paling berbahaya dari otoritas semu itu. Korban diduga bukan sekadar berhadapan dengan individu biasa, tetapi dengan figur yang telah dipercaya sebagai tokoh agama dan pengasuh.

Dalam posisi seperti itu, relasi menjadi timpang. Anak-anak dan keluarga cenderung percaya, patuh, bahkan takut mempertanyakan. Simbol agama menciptakan ruang aman bagi pelaku untuk memperoleh kuasa moral di hadapan korban.

Ironinya, pola hidup Jayadi tampak selalu sama: mendekati sesuatu untuk menjadi sesuatu. Dekat mantri agar dianggap mantri. Dekat dokter agar menjadi dokter. Dekat profesor agar tampak profesor. Dekat kiai agar dipanggil kiai. Dekat pesantren lalu mendirikan pesantren.

Dan kini, ketika ia berurusan dengan polisi, jaksa, dan pengadilan, masyarakat pun mulai menyindir dengan nada getir: jangan-jangan kelak ia juga akan mengaku polisi, jaksa, atau hakim. Sebab selama ini hampir semua identitas sosial tampaknya dibangun bukan melalui pendidikan dan proses panjang, melainkan melalui kedekatan, simbol, dan keberanian memainkan peran.

Kisah ini akhirnya bukan hanya tentang satu orang bernama Jayadi. Ia adalah potret masyarakat yang terlalu mudah percaya pada simbol dan terlalu jarang memeriksa proses di balik simbol itu sendiri.

Sebab ketika gelar bisa dibangun lewat pencitraan, dan kewibawaan bisa diperoleh hanya dengan kedekatan sosial, maka masyarakat perlahan kehilangan kemampuan membedakan mana otoritas sejati dan mana sekadar topeng.

Oleh: Nanang Diyanto/LKNU Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *