Tahlil bukan sekadar tradisi, melainkan majelis dzikir yang menghidupkan ingatan kepada Allah, doa untuk para pendahulu, serta kesadaran bahwa hidup manusia bersifat sementara. Dalam tradisi Aswaja an-Nahdliyah, tahlil juga menjadi ruang ukhuwah, adab, dan solidaritas sosial yang perlu dirawat dengan keikhlasan dan kesederhanaan.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذِكْرِهِ، وَفَتَحَ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِهِ، وَجَعَلَ الدُّعَاءَ صِلَةً بَيْنَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah swt. Takwa yang tidak berhenti pada ucapan, tetapi tampak dalam akhlak. Takwa yang menjaga lisan dari menyakiti, hati dari kesombongan, tangan dari mengambil hak orang lain, dan hidup dari kelalaian kepada Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di tengah masyarakat kita, ada satu amaliyah yang sangat dekat dengan kehidupan umat Islam Nusantara, terutama warga Nahdliyin, yaitu tahlil atau tahlilan. Ketika ada saudara wafat, tetangga datang. Keluarga berkumpul. Ayat Al-Qur’an dibaca. Kalimat thayyibah dilantunkan. Shalawat dikumandangkan. Doa dipanjatkan. Keluarga yang berduka dikuatkan.
Tradisi tahlilan ini bahkan hadir, tidak hanya di rumah duka dan masjid, tetapi juga diselipkan dalam berbagai forum dan kegiatan sosial.
Namun karena terlalu sering dilakukan, tahlil kadang hanya dipahami sebagai kebiasaan sosial. Seolah-olah ia sekadar “acara kematian”. Seolah-olah ia hanya warisan orang tua dan kebiasaan. Bentuknya masih dijaga, tetapi ruhnya perlahan bisa terlupakan.
Karena itu, khutbah ini ingin menegaskan satu pesan utama: tahlil bukan sekadar tradisi, tetapi majelis dzikir, doa, solidaritas, dan pendidikan kefanaan hidup. Di dalam tahlil, kita belajar mengingat Allah, mendoakan sesama, menguatkan keluarga yang berduka, dan menyadari bahwa hidup kita pun suatu saat akan kembali kepada-Nya.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41-42)
Ayat di atas memerintahkan orang beriman untuk banyak berdzikir kepada Allah. Dzikir bukan hanya gerak lisan, tetapi kesadaran hati bahwa hidup berada dalam genggaman Allah. Ketika kita membaca lā ilāha illallāh, kita sedang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada yang abadi selain Allah, dan tidak ada tempat bergantung yang sejati selain Allah.
Inilah inti tahlil. Ia adalah pengakuan tauhid. Ia adalah latihan merendahkan diri di hadapan Allah. Kalimat lā ilāha illallāh meruntuhkan kesombongan manusia. Pangkat, harta, gelar, jabatan, dan pujian menjadi kecil. Yang besar hanyalah Allah. Yang kekal hanyalah Allah. Yang menentukan akhir hidup kita hanyalah Allah.
Maka ketika tahlil dibaca, yang diingatkan adalah kita semua yang berzikir. Hari ini kita datang untuk mendoakan saudara kita. Esok atau lusa, kitalah yang akan didoakan. Hari ini kita duduk di rumah duka. Suatu saat orang lain akan duduk di rumah kita. Hari ini lisan kita membaca tahlil untuk orang lain. Semoga kelak ada anak, keluarga, tetangga, dan sahabat yang ikhlas mendoakan kita. Allah swt. berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
Ayat ini pendek, tetapi mengguncang kesadaran. Kematian bukan untuk menakut-nakuti manusia agar putus asa. Kematian mengingatkan manusia agar lebih serius menjalani hidup. Orang yang ingat mati seharusnya menjadi lebih rendah hati, lebih mudah memaafkan, lebih rajin beramal, lebih berhati-hati dalam mencari rezeki, dan lebih lembut kepada sesama.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam tahlil, kita juga belajar tentang doa. Islam mengajarkan bahwa hubungan orang beriman tidak putus karena kematian. Kehidupan dunia memang selesai, tetapi kasih sayang, doa, dan kebaikan tetap dapat tersambung. Rasulullah saw. bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ
Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa doa orang yang hidup untuk orang yang wafat merupakan bagian dari kebaikan yang terus tersambung. Maka ketika kita hadir dalam majelis tahlil, jangan kita pahami sekadar memenuhi undangan. Kita sedang belajar menjadi anak yang saleh, saudara yang baik, tetangga yang peduli, dan masyarakat yang tidak mudah melupakan jasa orang yang telah mendahului kita.
Di sinilah keindahan akhlak Islam. Islam tidak mendidik kita menjadi manusia yang cepat lupa. Orang tua yang membesarkan kita, guru yang mengajari kita, ulama yang membimbing kita, tetangga yang pernah menolong kita, semuanya layak kita kenang dalam doa. Mendoakan mereka bukan berarti berlebihan. Justru doa adalah adab orang beriman: mengakui bahwa hidup kita ditopang oleh mata rantai kebaikan banyak orang.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam tradisi Aswaja an-Nahdliyah, tahlil juga mengandung nilai sosial yang kuat. Ketika ada keluarga berduka, masyarakat datang bukan hanya membawa bacaan, tetapi juga membawa “kehadiran”. Orang yang sedang kehilangan sering kali tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia butuh ditemani dan butuh kehadiran orang lain. Ia butuh merasa bahwa ia tidak sendirian.
Di sinilah tahlil menjadi ruang ukhuwah. Persaudaraan tidak hanya diucapkan. Persaudaraan tampak ketika kita hadir di saat saudara kita susah. Persaudaraan tampak ketika kita membantu tanpa diminta. Persaudaraan tampak ketika kita mendoakan orang lain dengan tulus, bukan hanya ketika kita membutuhkan mereka.
Karena itu, tahlil perlu dirawat dengan adab dan kesederhanaan. Majelis dzikir hendaknya tetap menjadi ruang doa, ketenangan, dan penguatan batin, bukan berubah menjadi beban sosial bagi keluarga yang sedang berduka. Sebab ruh tahlil bukan terletak pada jamuan, ramainya acara, atau tampilan lahiriahnya, melainkan pada keikhlasan hati, kekhusyukan doa, dan kepedulian kita kepada sesama.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Para ulama mengajarkan bahwa amaliyah keagamaan tidak hanya dilihat dari bentuk luarnya, tetapi juga dari isi dan tujuannya. Dalam tahlil ada dzikir kepada Allah, bacaan Al-Qur’an, shalawat kepada Nabi, doa untuk kaum muslimin, silaturahim, sedekah, dan penguatan keluarga yang berduka. Semua itu adalah kebaikan yang patut dirawat.
Namun yang harus terus kita perbaiki adalah niat dan kualitas hati. Jangan sampai lisan membaca lā ilāha illallāh, tetapi hati masih dikuasai iri, dengki, dan kesombongan. Jangan sampai kita sering hadir dalam majelis doa, tetapi berat mendoakan kebaikan bagi orang yang berbeda dengan kita. Jangan sampai kita rajin membaca kalimat tauhid, tetapi hidup kita masih diperbudak harta, jabatan, dan pujian manusia.
Kalimat tahlil harus mengubah cara kita memandang dunia. Jika lā ilāha illallāh benar-benar masuk ke hati, kita tidak mudah sombong ketika berhasil. Tidak mudah putus asa ketika gagal. Tidak mudah merendahkan orang lain. Tidak mudah lupa bahwa semua yang kita miliki hanya titipan.
Tahlil adalah pendidikan kefanaan. Ia mengingatkan bahwa rumah yang ramai suatu saat akan sepi. Tubuh yang kuat suatu saat akan lemah. Nama yang dikenal suatu saat akan dilupakan. Tetapi amal yang ikhlas, ilmu yang bermanfaat, sedekah yang mengalir, anak yang saleh, dan doa orang-orang beriman akan tetap menjadi cahaya.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita rawat tahlil dengan cara yang lebih bermakna. luruskan niat, hadirkan hati dalam bacaan. jadikan tahlil sebagai pengingat kita. Semoga Allah menjadikan lisan kita basah dengan dzikir, hati kita hidup dengan tauhid, keluarga kita dipenuhi doa, dan masyarakat kita dikuatkan dengan ukhuwah. Semoga Allah mengampuni orang tua kita, guru-guru kita, para ulama kita, dan saudara-saudara kita yang telah wafat. Semoga kelak kita dipanggil Allah dalam keadaan husnul khatimah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَلِمَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلِمَنْ سَبَقَنَا بِالْإِيْمَانِ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَنَوِّرْ قُبُوْرَهُمْ، وَوَسِّعْ مَدَاخِلَهُمْ، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُمْ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ كَثِيْرًا، وَمِنَ الدَّاعِيْنَ لِإِخْوَانِهِمْ بِصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَحْسِنْ أَخْلَاقَنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ رُعَاةً لِلْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْمَصْلَحَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
*Abid Rohmanu: Aswaja Center dan Ketua YPP Al-Jawahiriyyah Campurejo Sambit Ponorogo.