NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Merawat Welas Asih, Menjaga Fitrah: Dari Sholat Idul Fitri 1447 H di Masjid NU Ponorogo

Suasana sholat Idul Fitri di masjid NU Ponorogo, 1447 H

NU Online Ponorogo, — Pagi Idul Fitri itu, gema takbir mengalun syahdu di langit Ponorogo. Sejak sebelum matahari sepenuhnya terbit, arus manusia telah mengalir menuju Masjid NU Ponorogo. Jalan Jalan Sultan Agung yang biasanya dipadati kendaraan, pagi itu berubah menjadi lautan sajadah. Untuk sementara waktu, ruas jalan ditutup, memberi ruang bagi ribuan jamaah menunaikan sholat Idul Fitri 1447 Hijriah.

Sholat Idul Fitri yang diselenggarakan oleh takmir masjid bersama LDNU PCNU Kabupaten Ponorogo berlangsung khidmat sekaligus semarak. Tahun ini terasa lebih ramai dari biasanya. Jamaah perempuan membludak, memenuhi serambi, halaman masjid, hingga meluber ke jalan raya. Sementara jamaah laki-laki menempati lantai dua, ruang utama lantai satu, sebagian serambi kanan, hingga sisi utara Jalan Sultan Agung.

Bertindak sebagai khatib dan imam adalah Dr. H. Shofwan Al Jauhari, dengan bilal An’im Mujibul ‘Asyiqin, S.Th.I. Dalam khutbahnya, ia tidak hanya mengajak jamaah merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga merenungkan makna kemanusiaan yang sering kali terlupa di balik gegap gempita hari raya.

Salah satu kisah yang disampaikan menggetarkan suasana. Tentang seorang anak yatim piatu di masa Nabi Muhammad. Di hari Idul Fitri, ketika anak-anak lain bergembira dengan pakaian baru dan keluarga yang lengkap, anak itu justru duduk sendiri, menangis dalam kesunyian. Ayahnya telah gugur dalam peperangan, ibunya pun telah tiada.

Dr. H. Shofwan Al Jauhari, M.H.I., M.Pd.I, selaku kotib sholat Idul Fitri

Rasulullah menghampirinya dengan penuh kasih. Anak itu tidak tahu bahwa yang berbicara dengannya adalah Nabi. Dengan lembut, Rasulullah menawarkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: “Maukah engkau jika aku menjadi ayahmu? Dan Aisyah menjadi ibumu? Ali bin Abi Thalib menjadi pamanmu, serta Hasan dan Husain menjadi saudaramu?”

Tangis anak itu pun reda. Kesedihan berganti kehangatan. Ia tidak lagi merasa sendiri.

Kisah ini menjadi penegas bahwa ajaran Islam tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam kepedulian sosial. Bahwa di tengah kebahagiaan Idul Fitri, selalu ada mereka yang membutuhkan uluran tangan. Dan di situlah teladan Nabi menemukan relevansinya: menghadirkan kebahagiaan bagi sesama, terutama mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Ramadan yang baru saja berlalu telah melatih umat Islam untuk berbagi. Takjil dibagikan, sedekah mengalir, dan kepedulian sosial tumbuh subur. Namun, pertanyaan yang patut diajukan adalah: apakah semangat itu ikut berlalu bersama Ramadan?

Sedekah memang memiliki keutamaan berlipat di bulan suci. Tetapi nilai welas asih tidak pernah mengenal batas waktu. Memberi makan orang yang berbuka mungkin terasa ringan saat Ramadan, namun semestinya tidak menjadi berat setelahnya. Sifat loman—ringan tangan, murah hati—adalah akhlak yang harus terus dipelihara, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.

Idul Fitri juga identik dengan silaturahmi. Tradisi saling berkunjung, berjabat tangan, dan memohon maaf menjadi penanda kembalinya manusia pada fitrah. Namun, silaturahmi tidak seharusnya berhenti pada momentum tahunan. Ia adalah jembatan sosial yang harus terus dirawat, dijaga, dan diperkuat dalam keseharian.

Lebih ramai sholat Idul Fitri tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya

Demikian pula dengan ibadah. Ramadan membentuk ritme spiritual yang intens: sholat berjamaah, membaca Al-Qur’an, serta pengendalian diri. Idul Fitri bukanlah garis akhir, melainkan titik keberlanjutan. Konsistensi dalam beribadah setelah Ramadan justru menjadi ukuran keberhasilan sejati.

Pagi itu, di tengah lautan manusia dan lantunan doa, Idul Fitri di Ponorogo menghadirkan lebih dari sekadar perayaan. Ia menjadi ruang refleksi—bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang kembali suci, tetapi juga tentang menjaga kesucian itu tetap hidup dalam tindakan nyata.

Seperti anak yatim dalam kisah Nabi, dunia ini masih menyimpan banyak kesedihan yang membutuhkan sentuhan kasih. Dan dari ribuan tangan yang terangkat dalam doa Idul Fitri, semoga lahir tangan-tangan yang terus terulur—tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang waktu.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *