
Peringatan Hari Santri setiap tahun selalu menghadirkan semangat dan kebanggaan tersendiri bagi warga Nahdlatul Ulama (NU). Berbagai kegiatan digelar, mulai dari upacara, kirab santri, pengajian, istighatsah, perlombaan, hingga pagelaran seni dan budaya. Semuanya merupakan ekspresi kecintaan terhadap pesantren dan penghormatan atas perjuangan santri dalam sejarah bangsa yang tetap dapat dilaksanakan.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada satu hal yang perlu menjadi bahan renungan: apakah peringatan Hari Santri kita benar-benar mengalami perkembangan dalam pendekatan dan substansinya, atau justru mulai terjebak dalam rutinitas tahunan?
Kegelisahan ini bukan tanpa alasan. Kita sering menyampaikan harapan agar generasi Z (Gen Z) semakin tertarik mengenal NU, bergabung dalam organisasi, dan melanjutkan perjuangan para pendahulu. Akan tetapi, harapan tersebut perlu diimbangi dengan evaluasi terhadap cara organisasi menyapa generasi muda. Jangan-jangan, kita masih menggunakan pendekatan lama untuk menjangkau generasi yang hidup dalam ekosistem sosial, budaya, dan komunikasi yang sudah sangat berbeda.
Anak muda tidak cukup hanya diundang menghadiri kegiatan. Mereka membutuhkan ruang aktualisasi, kesempatan berkreasi, kepercayaan, dan keterlibatan nyata dalam organisasi. Regenerasi bukan sekadar menghadirkan wajah-wajah muda dalam kepanitiaan, tetapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk melahirkan gagasan dan memimpin perubahan.
Persoalan serupa juga terlihat dalam pendekatan dakwah. Tidak sedikit kegiatan dakwah yang masih terpola dalam format yang relatif sama. Ceramah, pengajian, dan kegiatan keagamaan formal tetap penting, tetapi efektivitasnya perlu terus dievaluasi. Sebab, masyarakat awam tidak selalu membutuhkan dakwah dalam bentuk forum formal. Mereka juga membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kebudayaan, kehidupan sosial, hiburan, dan persoalan sehari-hari.
Menariknya, dalam rangkaian peringatan Hari Santri tahun ini, saya berkesempatan menghadiri pagelaran ketoprak yang diselenggarakan MWC NU Pulung sebagai penutup kegiatan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat antusias menghadiri pertunjukan tersebut. Penontonnya membludak, bahkan datang dari kalangan masyarakat umum yang mungkin tidak selalu hadir dalam kegiatan pengajian atau forum organisasi.
Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan sederhana: mungkinkah nilai-nilai agama tetap dapat disampaikan melalui kesenian dan kebudayaan lokal?
Saya kira, justru di sinilah salah satu kekuatan dakwah kultural NU. Ketoprak, misalnya, bukan sekadar pertunjukan hiburan. Melalui cerita, dialog, karakter, dan konflik kehidupan, kesenian ini dapat memuat pesan tentang kejujuran, tanggung jawab, kepemimpinan, keadilan, persaudaraan, dan nilai-nilai moral lainnya. Jika dikelola dengan baik, kesenian dapat menjadi media pendidikan masyarakat sekaligus ruang dakwah yang menyenangkan.
Sejarah dakwah Wali Songo memberikan pelajaran penting bahwa Islam dapat tumbuh dan diterima melalui pendekatan kebudayaan. Tradisi lokal tidak serta-merta diputus, tetapi didekati, diarahkan, dan diberi muatan nilai keislaman.
Sebaliknya, kita juga perlu prihatin terhadap perkembangan sebagian kesenian lokal. Gajah-gajahan, misalnya, yang semestinya dapat menjadi ruang ekspresi budaya dan kebersamaan masyarakat, dalam sejumlah pertunjukan justru mengalami pergeseran sehingga kurang memberikan keteladanan dan nilai edukatif. Ini menjadi tantangan bagi NU untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan budaya, tetapi hadir memberikan arah.
Tentu saja, bukan berarti seluruh kegiatan Hari Santri harus dikemas dalam pertunjukan seni. Pengajian, istighatsah, dan tradisi keagamaan tetap menjadi identitas penting. Namun, kita perlu memperluas cara pandang bahwa dakwah tidak selalu harus berlangsung di atas mimbar. Dakwah juga dapat hadir di panggung kesenian, lapangan olahraga, komunitas kreatif, ruang digital, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat.
Di sinilah Hari Santri harus menjadi momentum bagi NU untuk melakukan pembaruan pendekatan tanpa kehilangan jati dirinya.
Tantangan tersebut setidaknya berlangsung dalam dua ranah.
*Pertama, tantangan kultural.* NU harus mampu merawat tradisi sekaligus mengembangkan kreativitas kebudayaan. Kesenian lokal, tradisi masyarakat, dan berbagai ekspresi budaya perlu dikelola menjadi media pendidikan, dakwah, dan penguatan karakter. Jangan sampai kebudayaan lokal kehilangan nilai-nilai luhurnya karena tidak ada pendampingan dari organisasi yang memiliki akar kuat di tengah masyarakat.
*Kedua, tantangan struktural.* NU perlu mengevaluasi pola kaderisasi, komunikasi, dan program organisasi dari tingkat cabang hingga ranting. MWC NU dan ranting tidak cukup hanya menjadi pelaksana kegiatan rutin. Keduanya harus menjadi pusat kreativitas dan gerakan sosial yang mampu membaca kebutuhan masyarakat. Lembaga dan badan otonom juga perlu membuka ruang kolaborasi lintas generasi, sehingga anak muda tidak hanya menjadi objek kaderisasi, tetapi subjek perubahan.
Pada akhirnya, peringatan Hari Santri bukan sekadar tentang seberapa banyak kegiatan yang berhasil diselenggarakan, seberapa meriah panggung yang dibangun, atau seberapa banyak peserta yang hadir. Lebih dari itu, kita perlu mengukur sejauh mana kegiatan tersebut meninggalkan pengaruh dalam kehidupan masyarakat.
Pengalaman pagelaran ketoprak di Pulung memberikan salah satu inspirasi bahwa masyarakat masih memiliki antusiasme terhadap kegiatan yang dekat dengan identitas budayanya. Tinggal bagaimana NU menangkap peluang tersebut dan mengembangkannya menjadi pendekatan dakwah yang lebih bermakna.
Jangan sampai kita terlalu sibuk merayakan sejarah, tetapi kurang berani menyiapkan masa depan. Jangan pula kita terus berharap generasi muda mencintai organisasi, sementara kita belum cukup memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh di dalamnya.
Hari Santri harus menjadi momentum untuk keluar dari stagnasi. Tradisi harus tetap dirawat, tetapi pendekatan perlu diperbarui. Identitas ke-NU-an harus dipertahankan, tetapi kreativitas dakwah tidak boleh dibatasi oleh kebiasaan masa lalu.
Sebab, NU tidak cukup hanya besar karena sejarahnya. NU harus terus hidup karena kemampuannya menjawab kebutuhan umat, merawat kebudayaan, dan menyiapkan generasi penerus perjuangan.
Penulis : Dr. Idam Mustofa, M.Pd (Ketua PCNU Ponorogo)