NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Meneladani Kepatuhan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il AS Kepada Allah SWT – Khutbah Idul Adha Bahasa Indonesia NU

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah Swt., sebentar lagi kita akan menyambut hari Raya Idul Adha 1447 H. Untuk itu, Tim redaksi NU Online Ponorogo telah menyiapkan teks khutbah Idul Adha berbahasa Indonesia. Khutbah Idul Adha kali ini berjudul “Meneladani Kepatuhan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il AS Kepada Allah SWT.”

Khutbah I

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَ كْبَرُ (×٣) اَللهُ أَ كْبَرُ (×٣) اَللهُ أَ كْبَرُ (×٣)
اَللهُ أَ كْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا, لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ , مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكاَفِرُوْنَ , لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ , صَدَقَ وَعْدَهُ , وَنَصَرَ عَبْدَهُ , وَأَعَزَّ جُنْدَهُ , وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ – لَاإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَ كْبَرُ – اَللهُ أَ كْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ … اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيْدًا وَمَوْسِمًا لِلْخَيْرَاتِ وَالطَّاعَاتِ ، وَتَكْفِيْرِ الذُّنُوْبِ وَالرَّفْعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ , شَهَادَةً نَرْجُوْ بِـهَا الْفَوْزَ يَوْمَ الْمَقَامَاتِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، خَاتَـمُ النَّبِـيِّـيْنَ وَإِمَامُ الْمُتَّـقِيْنَ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . أَمَّا بَعْدُ

إِخْوَانِيْ رَحِمَكُمُ اللهُ ، اِعْلَمُوْا أَنَّ هَذَا الْيَوْمَ الْأَزْهَرَ، هُوَ يَوْمُ الْعِيْدِ الْأَكْبَرُ ، فِيْهِ يُعْمَلُ أَكْثَرُ أَعْمَالِ الْحَجِّ ، وَهُوَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ الشَّهْرِ الْحُـرُامِ . اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ .
فَيَا عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ ،
قِيْلَ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَـحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓـــاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Ma’asyiral Muslimin jama’ah shalat ‘idul Adha rahimakumullah
Di awal khutbah hari raya ‘idul Adha ini, marilah kita tundukkan hati dan bersyukur kepada Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya, kita masih diberi umur panjang untuk bisa hadir kembali melaksanakan shalat sunah ‘idul Adha, berkumpul dengan rasa yang bahagia di tempat yang penuh barokah ini, dalam keadaan sihat wal ‘afiat.
Shalawat salam mari kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan semoga kita dikumpulkan bersamanya di akhirat, dalam limpahan rahmat dan nikmat dari Allah SWT. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah shalat ‘idul Adha rahimakumullah

اِعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ , هٰذَا يَوْمُ عِيْدِ الْأَضْحَى

Ketahuilah bahwa sesungguhnya hari ini merupakan hari raya bagi Anda semua. Inilah yang disebut hari raya ‘idul adha. Adapun hari raya ‘idul adha ini merupakan hari yang mulia. Hari ini, di Makkah al-Mukarramah, jutaan manusia dari berbagai negara, yang warna kulit badannya aneka rupa, yang adat budayanya berbeda, saat ini berkumpul menjadi satu, ziarah ke baitullah. Melaksanakan urut-urutan ibadah yang sama, tidak ada yang berbeda, tidak ada yang berdebat merasa paling benar cara ibadahnya, semua manusia di sana melaksanakan ketentuan yang sudah disyari’atkan, yaitu ibadah haji.

اَللهُ أَ كْبَرُ اَللهُ أَ كْبَرُ اَللهُ أَ كْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin jama’ah shalat ‘idul Adha rahimakumullah
Selanjutnya, di hari yang mulia ini, kami berwasiat kepada diri pribadi dan secara umum kepada jama’ah sekalian, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, dan nabi Isma’il AS. Beliau berdua memberikan contoh bagaimana menjadi manusia senantiasa siap mengorbankan apa saja miliknya, demi menjalankan perintah Allah SWT.

Hari raya ‘idul Adha tidak sekadar hari biasa. Selain mengandung banyak hikmah terkait pelaksanaan ibadah haji, maka hari raya ‘idul Adha juga merupakan peringatan tentang kesabaran serta kepatuhan paling tinggi, ketika perintah Allah mewajibkan Nabi Ibrahim AS harus rela mengorbankan hal yang paling berharga yaitu anak sendiri. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Isma’il. Disembelih oleh tangannya sendiri, disaksikan oleh matanya sendiri, dan dengan kesadaran penuh sebagai kepatuhan pada Allah.

Kisah ini diabadikan dalam al-Qur’an Surah As-shofat ayat 102

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَـحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓـــاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya, “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Isma’il) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Ma’asyiral Muslimin jama’ah shalat ‘idul Adha rahimakumullah
Dalam kisah tersebut, kita bisa mengambil hikmah dari dua insan luar biasa, yakni Nabi Ibrahim AS yang tidak hanya menunjukkan ketaatan sebagai seorang hamba, namun juga keberanian sebagai seorang ayah yang sanggup menundukkan rasa cintanya kepada sang anak demi patuh kepada Tuhannya. Begitu juga Nabi Isma’il AS, dengan keteguhan hatinya memperlihatkan bahwa jiwanya tidak goyah sekalipun diperintah untuk menyerahkan nyawanya. Pelajaran besarnya adalah tentang pengorbanan terhadap ego pribadi ketika kebenaran sudah nyata dan kesungguhan iman ketika perintah dari Allah datang dengan jelas.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah shalat ‘idul Adha rahimakumullah
Ketika Nabi Ibrahim AS telah membaringkan putranya, dan pisau telah siap di tangannya, serta Nabi Isma’il AS telah ridha dan pasrah pada perintah Allah. Pada saat itulah, datang seruan dari Allah SWT, bahwa semua itu hanyalah ujian keimanan, bahwa sesungguhnya Allah tidak benar-benar akan mengambil nyawa sang anak. Kemudian Allah SWT menggantikan Nabi Isma’il AS dengan seekor hewan sembelihan yang agung.

Dalam Al-Qur’an Surah As-shofat ayat 105 – 107 dijelaskan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَـجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ . اِنَّ هٰذَا لَـهُوَ الْبَلٰۤـؤُا الْمُبِيْنُ . وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

Artinya: “Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang agung.”

Inilah ruh atau inti dari ‘idul Adha, yaitu tunduk patuh dan menerima pada apa yang Allah tetapkan sebagaimana yang tercermin dalam diri Nabi Ibrahim AS, serta ikhlas dan sabar sebagaimana dalam diri Nabi Isma’il AS. Dalam konteks ini, Nabi Ibrahim tidak hanya semata menyembelih, melainkan juga melepas rasa kepemilikan yang berlebihan, membuang ego dan meniadakan rasa takut yang menghalanginya dari total patuh kepada Allah SWT.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah bagaimana selayaknya menerima terhadap semua takdir dan ketentuan Allah SWT secara ikhlas dan yaqin, tanpa mengeluh, tanpa marah, dan tanpa memberontak, bahwa semua itu benar-benar yang terbaik bagi kita. Dalam konsep ini, kita bisa mencermati dan meneladani bagaimana ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isma’il AS yang pasrah dan menerima semuanya, maka ternyata Allah tidak menjadikan Nabi Isma’il AS sebagai kurban sembelihan, melainkan memberikan ganti dari ujian tersebut berupa hewan surga.

Ma’asyiral Muslimin jama’ah shalat ‘idul Adha rahimakumullah
Dengan demikian, maka Nabi Ibrahim AS mengajarkan kepada kita, arti sejati dari cinta yang tidak melampaui cinta kepada Allah. Nabi Isma’il AS mengajarkan kepada kita, makna kesabaran, keikhlasan, dan ridha dalam menerima takdir. Inilah keteladanan yang kita cari dalam diri manusia, yaitu menjadi hamba yang patuh tanpa syarat, dan menjadi manusia yang teguh saat diuji dengan pengorbanan. Kita boleh mencintai dunia seisinya termasuk keluarga yang bersama kita, termasuk juga harta yang telah kita usahakan dengan kerja keras selama ini, termasuk juga kehormatan status sosial yang kita susun setahap demi setahap dengan susah payah, namun … semuanya tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah SWT.

Kita sudah mendapat perigatan melalui Al-Qur’an Surah AT-Taubah ayat 24

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ﻥ اِقْتَـرَفْتُمُوْهَا وَتِـجَارَةٌ تَـخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَـهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَـهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Artinya: “Katakanlah; “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai itu, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

اَللهُ أَ كْبَرُ اَللهُ أَ كْبَرُ اَللهُ أَ كْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin jama’ah shalat ‘idul Adha rahimakumullah
Dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isma’il AS, kita juga bisa mengambil hikmah tentang keikhlasan. Bagaimana seorang hamba yang ikhlas menghamba pada Allah maka akan mendapatkan pertolongan dan kemuliaan. Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja, dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain serta tidak riya’ dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. ikhlas juga berarti memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak. Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan senampan beras dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Hingga beras menjadi bersih untuk kemudian dimasak. Bayangkan kalau beras itu masih kotor, jika nekad dimasak menjadi nasi, maka ketika dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil.

Rasa ikhlas menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Rasa ikhlas juga akan menimbulkan rasa ridha dalam menerima takdir, yang kemudian akan muncul tawakkal, memasrahkan segala sesuatu hanya pada Allah. Dan dengan tawakkal, kita bisa semakin mendekatkan diri dengan Allah SWT. Jika kita bisa mendekatkan diri pada Allah, maka sesungguhnya Allah akan mengasihi kita dan mencukupi segala kebutuhan kita sebagaimana tersirat dalam al-Qur’an surat ath-Thalaq ayat ke 3:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
… وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Ma’asyiral Muslimin jama’ah shalat ‘idul Adha rahimakumullah
Mari kita pulang dari shalat ‘idul Adha ini dengan membawa semangat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isma’il AS ke dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita kendalikan rasa cinta dunia, kita sembelih dan kurbankan ego kita, dan kita gantikan dengan keikhlasan, tawakkal dan ketakwaan yang sejati. Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isma’il AS yang patuh dan mencintai Allah melebihi patuh dan cinta kepada apapun.
Kita wajib berpegang pada Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ ayat 125:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

Artinya: “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih(-Nya).”

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapat petunjuk serta senantiasa berserah diri kepada-Nya dalam segala keadaan, dan semoga ibadah kita diterima sebagaimana Allah menerima ibadah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Isma’il AS.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم ِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ . أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ ,
اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَللهُ أَ كْبَرُ (×٣) اَللهُ أَ كْبَرُ (×٣) اَللهُ أَ كْبَرُ
اَللهُ أَ كْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي شَرَعَ لِعِبَادِهِ ٱلْأُضْحِيَةَ تَذْكِرَةً بِفِدَاءِ خَلِيْـلِهِ ، وَجَعَلَ أَيَّامَ ٱلنَّحْرِ مَوَاسِمَ قُرُبَاتٍ وَرَفْعَاتٍ فِيْ سَبِـيْـلِهِ ، نَـحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِيْـنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . أَشْهَدُ أَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ ، وَدَعَا بِدَعْوَتِهِ ، وَتَأَسَّى بِسُنَّتِهِ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ , اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ . فَانْظُرُوْا أَنَّ أَعْظَمَ الْقُرْبَاتِ فِيْ هٰذِهِ الْأَيَّامِ مَا قُدِّمَ فِيْهَا مِنْ دَمٍ يُـــبْتَغَى بِهِ وَجْهُهُ ، وَمَا طَابَ فِيْهَا مِنْ نَفْسٍ تُرِيْدُ رِضَاهُ فَأَكْرِمُوْا هٰذِهِ الْمَوَاسِمَ ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ رَحْمَةٍ وَنَفَحَاتٍ وَتَـجَلِّـيَاتٍ مِنْ عِنْدِهِ . وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَٓائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَٓائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ , كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ , وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ , كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ , فِيْ الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ . اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَٓاءَ وَالْغَلَٓاءَ وَالْوَبَٓاءَ وَالْفَحْشَٓاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَن َ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَآصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً ، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَآءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ , يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sumber Materi Khutbah : KH Mahfuddin, Ketua LTM PCNU Ponorogo
Editor Penulisan Materi : Marsudi, Sekretaris LTM PCNU Ponorogo

Download file PDF Khutbah Idul Adha 1447 H

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *