
NU Online Ponorogo – Sebuah bedug bersiap ditabuh. Para kiai, pengurus Nahdlatul Ulama, dan perwakilan badan otonom berkumpul di halaman Masjid NU Kabupaten Ponorogo, Minggu (18/10). Tabuhan bedug dan pelepasan balon menandai dimulainya rangkaian peringatan Hari Santri 2026 yang digelar PCNU Ponorogo bersama lembaga, badan otonom, dan struktur NU hingga tingkat akar rumput.

Bagi Ketua PCNU Kabupaten Ponorogo, Dr. Idham Musthofa, M.Pd., kick off tersebut bukan sekadar seremoni. Momentum ini menjadi penanda dimulainya ikhtiar bersama untuk merawat tradisi pesantren sekaligus meneguhkan kembali kontribusi santri dan ulama bagi bangsa.

Hingga hari pelaksanaan, panitia telah mencatat sedikitnya 25 kegiatan yang akan mewarnai peringatan Hari Santri di Ponorogo. Jumlah itu masih berpotensi bertambah hingga pertengahan November, seiring agenda yang diselenggarakan berbagai lembaga, badan otonom, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), hingga anak ranting.
Kegiatan tersebut meliputi ziarah kepada para muasis atau pendiri NU, istighasah, apel Hari Santri, aktivitas kepemudaan, konsolidasi organisasi perempuan, hingga program pemberdayaan masyarakat. PCNU Ponorogo juga menyiapkan bazar dengan stan gratis bagi warga yang ingin berpartisipasi. Apel Hari Santri tingkat cabang dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026 di halaman Masjid NU, dengan pelaksanaan yang dikoordinasikan LP Ma’arif.
Di balik beragam agenda itu, tersimpan satu pesan utama: Hari Santri bukan semata-mata perayaan identitas, melainkan kesempatan meneruskan nilai perjuangan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Idham mengingatkan bahwa kontribusi Nahdlatul Ulama tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah Indonesia. NU dan kalangan pesantren turut mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan, menjadikan agama bukan hanya pedoman spiritual, tetapi juga sumber pengabdian kepada tanah air.
Jejak itu antara lain terhubung dengan Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menjadi bagian penting dari mobilisasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang berkaitan erat dengan peristiwa 10 November di Surabaya.
Sejarah tersebut menegaskan bahwa pesantren bukan ruang yang terpisah dari kehidupan bangsa. Ketika kemerdekaan membutuhkan pembelaan, ulama dan santri turut bergerak. Kini, semangat yang sama perlu diteruskan dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman: memperkuat pendidikan, merawat kerukunan, menjalankan dakwah yang menyejukkan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Dalam pandangan Idham, NU merupakan salah satu kekuatan penting dalam pendirian dan perjuangan bangsa. Karena itu, Indonesia adalah rumah bersama yang menjadi tanggung jawab seluruh warga, tanpa dibatasi latar belakang maupun golongan.
Semangat tersebut diterjemahkan PCNU Ponorogo melalui kegiatan yang menjangkau berbagai lapisan organisasi. MWCNU di seluruh kabupaten turut menghidupkan tradisi Hari Santri di wilayah masing-masing, sementara lembaga dan badan otonom menjalankan program sesuai bidang pengabdiannya. Keterlibatan hingga tingkat anak ranting menjadi penting karena di sanalah organisasi berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Puncak peringatan juga direncanakan menghadirkan KH Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri. Pada saat sambutan disampaikan, tanggal pelaksanaan masih menunggu penyesuaian dengan jadwal beliau.

Menjelang prosesi pemukulan bedug dan pelepasan balon, suasana di halaman Masjid NU menjadi gambaran kebersamaan lintas unsur dalam keluarga besar NU. Para kiai, pengurus, dan perwakilan badan otonom hadir dalam satu momentum yang menghubungkan tradisi keagamaan dengan semangat kebangsaan.
Dari Ponorogo, tabuhan bedug Hari Santri 2026 membawa pesan sederhana sekaligus mendasar: perjuangan para pendahulu tidak cukup dikenang melalui seremoni. Warisan mereka harus diteruskan melalui pendidikan, persaudaraan, dan pengabdian nyata. Dengan demikian, Hari Santri bukan hanya peringatan tentang masa lalu, tetapi juga komitmen untuk menjaga masa depan Indonesia.
Kontributor: Nanang Diyanto / LKNU Ponorogo