NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Hari Santri: Saatnya Mengguncang Zaman

Santri dipersiapkan untuk merubah dunia

Setiap Hari Santri, kita bangga mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Namun, kebanggaan terhadap masa lalu perlu diikuti pertanyaan yang lebih menantang, jika dahulu santri ikut berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, maka apa yang mereka lakukan hari ini untuk membantu Indonesia keluar dari berbagai persoalannya?

Pertanyaan ini bukan untuk meragukan peran santri. Justru sebaliknya, kita perlu menempatkan santri sebagai kekuatan yang berpotensi ikut menjawab tantangan bangsa. Sebab, Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam pendidikan, kesempatan kerja, kemiskinan, integritas publik, dan kehidupan digital.

Pada laporan hasil PISA 2022 yang dirilis OECD menunjukkan bahwa hanya 25 persen siswa Indonesia berusia 15 tahun mencapai kemampuan minimum dalam membaca, sementara rata-rata negara OECD mencapai 74 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa pada 2025, sebanyak 19,44 persen penduduk usia 15–24 tahun tidak sedang bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan. Pada September 2025, jumlah penduduk miskin Indonesia masih mencapai 23,36 juta orang. Sementara itu, Indeks Persepsi Korupsi 2025 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100, dengan peringkat 109 dari 182 negara. Indeks terakhir ini mengukur persepsi korupsi sektor publik, bukan jumlah seluruh kasus korupsi.

Data tersebut bukan gambaran khusus tentang santri. Namun, angka-angka itu memperlihatkan persoalan nyata yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk pesantren dan para alumninya.

Pesantren membekali santri dengan pengetahuan agama, kedisiplinan, kebersamaan, dan tradisi pengabdian. Jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah juga dapat menjadi kekuatan untuk membangun pendidikan, usaha, dan pelayanan sosial. Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, nilai kesederhanaan, kepedulian, dan gotong royong merupakan bekal yang sangat berharga.

Namun, kita perlu jujur mengakui bahwa modal tersebut tidak otomatis berubah menjadi kemampuan profesional, inovasi, kemandirian ekonomi, atau pengaruh dalam kebijakan publik. Pengetahuan agama tidak dengan sendirinya membuat seseorang menguasai teknologi. Kedisiplinan tidak otomatis menjamin kesiapan memasuki dunia kerja. Jaringan alumni pun tidak banyak berarti apabila hanya berputar untuk kepentingan kelompok sendiri.

Di sinilah tantangan santri masa kini, bagaimana mengubah nilai menjadi tindakan, pengetahuan menjadi kemampuan, dan jaringan menjadi kesempatan bagi masyarakat luas?
Antropolog Ronald A. Lukens-Bull, melalui kajiannya tentang pesantren di Jawa, menunjukkan pentingnya memahami hubungan antara tradisi Islam dan modernitas. Tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menghadapi perubahan zaman. Sebaliknya, tradisi perlu menjadi pijakan untuk menjawab persoalan baru.

Pandangan ini relevan bagi santri Indonesia. Menjadi modern bukan berarti meninggalkan pesantren, sebagaimana menjaga tradisi bukan berarti menutup diri dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mempertemukan keduanya.

Sejarah memberikan pelajaran penting. Pada 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad yang berkaitan dengan seruan ulama Nahdlatul Ulama menjadi bagian penting dari konteks perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan perlawanan di Surabaya pada November 1945. Perjuangan itu melibatkan banyak kelompok, tetapi peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ulama dan santri turut mengambil peran ketika bangsa menghadapi keadaan genting.

Dahulu, tantangannya adalah mempertahankan kemerdekaan. Kini, perjuangannya berbeda, meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas kesempatan kerja, memperkuat integritas, mengurangi kemiskinan, dan menghadapi dampak negatif teknologi digital. Semangat pengabdian yang sama perlu diterjemahkan ke dalam bentuk perjuangan baru.

Sebab itu, setidaknya ada lima agenda yang perlu diperkuat.

Pertama, membangun budaya ilmu. Santri perlu didorong untuk membaca, menulis, meneliti, berdiskusi, dan berpikir kritis. Kemampuan memahami informasi dan membedakan fakta dari berita bohong semakin penting di tengah derasnya arus digital.

Kedua, memperluas keterampilan dan kemandirian ekonomi. Pesantren dapat mengembangkan pelatihan kewirausahaan, keterampilan digital, pengelolaan keuangan, dan kerja sama dengan dunia usaha agar santri memiliki lebih banyak pilihan setelah menyelesaikan pendidikan.

Ketiga, mengembangkan inovasi untuk masyarakat. Jaringan pesantren dan alumni dapat membantu UMKM, mendampingi petani, memperkuat pendidikan desa, serta mengembangkan usaha yang membuka lapangan kerja. Pengabdian tidak harus selalu berupa ceramah, tetapi menciptakan kesempatan ekonomi juga merupakan bentuk pelayanan kepada sesama.

Keempat, menjaga integritas. Santri yang memasuki dunia politik, birokrasi, pendidikan, dan bisnis perlu membawa nilai kejujuran serta tanggung jawab. Kesalehan seharusnya tidak berhenti pada simbol, tetapi terlihat dalam cara seseorang menggunakan jabatan, mengelola uang, dan memperlakukan orang lain.

Kelima, memperluas kerja sama. Persoalan pendidikan, kemiskinan, dan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu kelompok saja. Santri perlu membangun kemitraan dengan masyarakat lintas agama, budaya, dan latar belakang sosial.

Pada akhirnya, Hari Santri seharusnya bukan sekadar perayaan atas kebesaran sejarah. Namun peringatan ini menjadi kesempatan untuk menilai sejauh mana semangat pengabdian telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia memang membutuhkan generasi yang bangga pada identitasnya, tetapi disisi lain juga generasi yang mampu menghadirkan manfaat bagi sesama. Santri memiliki peluang besar untuk mengambil bagian dalam tugas tersebut, asalkan modal keilmuan dan moralnya terus dikembangkan menjadi kemampuan nyata.

Dahulu, santri ikut berjuang agar Indonesia merdeka. Kini, mereka dapat ikut memastikan bahwa kemerdekaan menghadirkan pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang lebih mandiri, dan kehidupan publik yang lebih berintegritas.

Dari pesantren, santri tidak cukup hanya membawa kebanggaan. Mereka perlu membawa gagasan, keterampilan, keberanian, dan karya nyata untuk mengubah masa depan Indonesia.

Penulis: Abu Muslim (Dosen FTIK UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo)

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *