Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Media Sosial sebagai Kendaraan Dakwah Santri Era Digital

Tim Redaksi menampilkan secara berkala tulisan dari pemenang Lomba Penulisan Artikel Populer bertema Santri dan Moderasi Keagamaan yang diselenggarakan PC ISNU Ponorogo dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2020. Berikut ini adalah artikel pemenang Juara II Kategori Umum :

===========================================================================

Media Sosial sebagai Kendaraan Dakwah Santri Era Digital

Bagaimana ajaran Islam bisa menyebar dan menjadi salah satu agama terbesar di dunia? Jawabannya tidak lain adalah dengan dakwah. Para Nabi dan Rasul menggunakan cara ini sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam. Melihat sejarah dakwah yang dilakukan Rasulullah, beliau melakukan dakwah dengan cara hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain dan menyampaikan apa yang diwahyukan Allah SWT.

Pada perkembangannya, Islam melakukan sejumlah invasi lalu mendakwahkan ajaran Islam di daerah yang ditakukkan. Dakwah Islam juga dilakukan melalui media tulisan yang dibuktikan dengan banyaknya ulama dan cendekiawan Islam yang memberikan sumbangan pemikiran dan penemuan-penemuan baru dalam segala bidang ilmu. Mereka menghasilkan sejumlah kitab dan buku yang berhasil memengaruhi pemikiran-pemikiran di dunia.

Di Indonesia sendiri, dakwah Islam dilakukan melalui beberapa cara seperti pernikahan, perdagangan, serta kesenian dan kebudayaan seperti yang dilakukan oleh Wali Songo. Penggunaan media kesenian ini dirasa sangat efisien dalam menyiarkan ajaran Islam karena budaya masyarakat Jawa saat itu sangatlah kental dan tidak memungkinkan untuk dihilangkan dan mengubahnya dengan ajaran Islam. Maka dari itu, para Wali Songo melakukan asimilasi antara budaya Jawa dan Islam, dimana ajaran Islam disisipkan dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Media dakwah Wali Songo yang paling popular yaitu wayang kulit, gamelan Jawa, tembang-tembang Jawa, dan sebagainya. Selain melalui kesenian, dakwah juga dilakukan melalui sistem pendidikan Islam seperti pondok pesantren.

Seiring berjalannya waktu, media dakwah berkembang bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan khususnya teknologi informasi. Penemuan-penemuan bangsa Barat dalam perkembangan teknologi informasi berpengaruh cukup besar untuk kemudahan akses informasi ke seluruh dunia, terutama pada abad 20 yang disebut juga sebagai era digital. Era digital adalah era dimana peran media sosial menjadi sangat vital.

 

Realitas Media Sosial

Media sosial telah menjadi konsumsi wajib bagi setiap orang di seluruh dunia dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap individu di dunia memiliki gadget dan memiliki minimal satu akun media sosial. Kehadiran media sosial menjadikan akses komunikasi menjadi sangat mudah dan efisien. Teknologi membuat seseorang terkoneksi satu sama lain, hanya dengan menatap layar gadget pengguna bisa mengakses informasi apapun dari berbagai penjuru dunia.

Media sosial menyajikan beragam informasi dari segala bidang yang bisa dirasakan manfaatnya bagi kehidupan. Melalui media sosial, informasi apapun bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Kemudahan akses ini bisa dimanfaatkan khususnya santri dalam proses dakwah Islam era digital. Hal ini sangat penting karena sebuah keniscayaan bahwa di era digital ini kita tidak bisa menolak adanya perkembangan teknologi.

Di samping itu, media sosial saat ini sudah banyak disalahgunakan dengan menyajikan hal-hal yang seharusnya tidak dijadikan konsumsi publik serta banyak tersebarnya berita hoax yang menjadi salah satu pemecah belah antar umat agama dan bangsa. Berita hoax yang tersebar pun tidak hanya seputar isu politik dan sosial budaya namun juga terkait nilai-nilai agama. Bisa dibayangkan jika generasi muda banyak memperoleh informasi hoax sebagai sumber dakwah maka banyak generasi muda yang akan tersesat dan memungkinkan timbulnya perpecahan.

 

Dakwah via Media Sosial

Ilmu agama yang diperoleh santri jangan hanya dipendam untuk diri sendiri tapi juga harus disebarkan kepada publik agar bisa menjadi pembanding dengan paham-paham agama yang tidak benar. Ada portal-portal pembanding dalam pemahaman keagamaan dan sudah saatnya santri menjadikan media sosial dan portal sebagai sarana media dakwah. Sehingga santri dapat membantu meredam informasi hoax dan berbagai paham radikalisme yang menghiasi berbagai media sosial.

Dakwah dengan media sosial menjadi sangat strategis, media ini sesuai dengan generasi milenial yang hidup di era digital ini. Sistem dakwah yang seperti ini akan lebih efektif dan fleksibel sehingga masyarakat bisa menyimak dakwah kapan saja dan dimana saja. Di sinilah letak pentingnya media sosial sebagai kendaraan dakwah santri era digital.

Jika kita menilik media sosial saat ini, ada beberapa pendakwah yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana berdakwah. Sebut saja Gus Baha, beliau adalah seorang kyai yang cukup populer tahun ini di Youtube, Instagram, dan media sosial lainnya. Gus Baha berdakwah dengan tampilan khas orang pesantren yang mengenakan peci dan bersarung serta membahas masalah-masalah agama dengan dasar kitab kuning yang disampaikan dengan ringan dan mudah dimengerti. Berkaca dari Gus Baha, sebagai santri kita juga harus mampu menjadi pendakwah yang bisa masuk lintas budaya dan background sosial (utamanya budaya milenial) tanpa meninggalkan karakter dan jati diri seorang santri. Dakwah santri tidak terkungkung sebatas di lingkungan pesantren.  Ini hanya bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial.

Dakwah via media sosial tentu bisa dilakukan dengan beragam cara dan format. Videografi maupun fotografi menjadi format penting dalam dakwah digital. Syaratnya ia harus dikemas secara semenarik, tanpa menafikan konten-konten yang berbobot. Peradaban digital telah menimbulkan persoalan yang kompleks. Inovasi dakwah menjadi bagian dari solusi terhadap hal tersebut.

Era digital juga meniscayakan kemampuan public speaking santri. Tujuannya agar santri mampu mengartikulasikan dan mengintonasikan dakwahnya dengan baik sehingga bisa diterima khalayak. Kegiatan muhadharah – yang sudah mentradisi di Pesantren – sangat potensial untuk melatih kemampuan public speaking. Dalam hal ini, kreatifitas santri juga menjadi tuntutan untuk menampilkan konten yang menarik secara visual.

Implikasinya, keahlian khusus dalam bidang editing menjadi sebuah tuntutan. Pelatihan kemampuan digital untuk santri oleh Pesantren tak terelakkan. Ini belum berbicara tentang blog dan website yang juga menjadi media penting yang haus digunakan dalam praktik dakwah milenial. Website dan blog bisa memuat tulisan-tulisan mengenai pembahasan masalah-masalah agama maupun cerita-cerita bernuansa Islami yang banyak diminati generasi milenial.

Di era digital ini, pesantren harus open mind terhadap perkembangan teknologi yang lajunya tidak bisa dicegah oleh siapapun. Maka dari itu, perlu adanya kompromi antara pesantren dan kemajuan teknologi untuk membantu memberdayakan santri dalam menghadapi era digital ini. Santri tidak hanya dibekali kemampuan dalam dakwah saja namun harus dibekali kemampuan literasi media yakni kecerdasan dan kemampuan dalam mengakses, menganalisis, dan menggunakan teknologi informasi secara efektif dalam berbagai media dan format. Hal ini bertujuan untuk meraih kesadaran kritis bermedia sehingga santri mampu memilih dan menyeleksi serta memanfaatkan informasi yang ada di media sosial.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi telah membawa dampak dalam seluruh lini kehidupan manusia. Laju perkembangannya telah menjadi sebuah peradaban baru yang harus diikuti perkembangannya oleh setiap orang. Makna Islam yang rahmatan lil ‘alamin bisa diterapkan melalui dakwah berbasis media sosial sehingga ajaran Islam bisa dijangkau setiap orang kapan saja dan dimana saja. Adalah keniscayaan di era digital ini bahwa barangsiapa yang menguasai informasi dia lah yang menguasai dunia. Tertinggal informasi satu detik saja, maka tertinggal pula kita dari peradaban dunia.

 

MUTI’ATUN

(Penulis adalah Santriwati Pondolk Pesantren Mamba’ul Hikmah Pasar Pon, Ponorogo).

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *