NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Kepentingan

Ilustrasi: tarik-menarik suatu kepentingan

Pertentangan pendapat bahkan konflik sering kita lihat. Tidak saja dalam politik tetapi juga dalam organisasi keagamaan. Lihat saja, jika organisasi apa pun itu, sedang mengalami masa pergantian kepemimpinan, muncullah analisa yang beragam. Tuduhan-tuduhan adanya motif dari satu kelompok kepada kelompok lain berseliweran di media sosial. Para pembaca terkadang bingung, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang benar-benar tulus ingin memperbaiki organisasi dan mana yang sebenarnya ingin mencari keuntungan dari organisasi. Di sinilah letak kritis para pembaca.

Ya, pembaca kritis diperlukan agar pembaca tidak larut dalam perdebatan yang belum tentu benar. Terkadang pembaca terlalu “percaya” kepada gelar simbolik lalu menjadi pengikut buta. Pembaca seringkali menjadi tumpul analisanya karena terlalu sering orang membicarakan jasa-jasa seseorang. Pembaca harus sadar bahwa siapa pun dia, dia adalah manusia. Manusia adalah manusia. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon (makhluk politik).

Sebagai makhluk politik, manusia menjalankan politik sebagai the art of possible yaitu seni membuat sesuatu menjadi mungkin). Manusia menggunakan berbagai sumber daya dengan maksimal agar apa yang diinginkan terwujud, entah melalui kompromi, barter kepentingan maupun transaksi jabatan. Di sisi lain politik juga sebagai the art of influencing  yakni seni mempengaruhi. Itulah sebabnya ketika suatu organisasi, apa pun namanya, sedang menuju proses pergantian kepemimpinan, penggiringan opini, kampanye hitam dan data-data entah akurat atau tidak bermunculan.

Di sini, para pembaca atau pemerhati harus melihat siapa pun sebagai manusia yang memiliki kepentingan. Melihat orang lain, seolah bersih dari kepentingan lalu tidak bersifat kritis terhadapnya, tentu menyalahi banyak sisi. Kepentingan tidak selamanya harus dipahami sebagai “jelek”. Namun kepentingan bisa dipastikan ingin menjadi “penentu” dari arah roda organisasi tersebut. Masalahnya di sini. Untuk menjadi “penentu” terkadang menggunakan cara yang keluar dari norma agama dan etika kemanusiaan.

Seseorang tidak tahu, jika ia tidak benar-benar mencari tahu. Mencari tahu inilah awal mula kritis tersebut. Jadi pertama-tama seseorang harus sadar sebagai manusia dan yang dilihat dan didengar adalah manusia, baru kedua ia mencari tahu dari apa yang dibaca dan didengar. Tidak cepat mengafirmasi informasi dan tidak cepat menegasikannya dan menunda justifikasi adalah langkah bijak. Masalah menjadi runyam terjadi ketika “bijak” itu hilang dari siapa pun.

Organisasi terkadang hilang marwahnya bukan karena orang lain yang menyerangnya dengan keras, tetapi karena penghuninya telah kehilangan sikap “bijak” dalam menghadapi masalahnya sendiri. Penghuni rumah sedang ingin memperbaiki rumahnya sendiri, ini tentu patut diapresiasi, tetapi ia kurang bijak dalam “caranya” mengumbarnya kepada pemilik rumah orang lain. Orang lain akhirnya kurang simpati dan enggan untuk bertamu apalagi bermalam di rumah tersebut.  Rumah model begini tentu akan tertatih-tatih dalam bersaing dengan rumah yang mampu mengelola masalahnya dengan bijak.

Yang Tampak dan Yang Tidak Tampak

Agama sering menjelaskan yang tampak dan tidak tampak, yang terlihat dan yang tidak terlihat. Yang tampak adalah yang dapat disaksikan sementara yang tidak tampak adalah yang tersembunyi. Perbuatan memberi dan menolong orang lain adalah perbuatan yang tampak, tetapi niat dan motif dari memberi dan menolong adalah yang tidak tampak. Erving Goffman, sosiolog dari Kanada, melalui pendekatan dramaturgi menjelaskan tindakan manusia sebagai panggung sandiwara. Yang tampak terkadang hanyalah tipuan dari yang dalam. Seseorang bisa saja memberi bantuan sebagai misal, tetapi motifnya sebenarnya dalam hatinya adalah untuk menundukkan. Menundukkan agar yang diberi tidak protes dan menuruti kehendaknya.

Manusia memang tidak dituntut untuk melihat orang lain dari apa yang tidak tampak. Namun, manusia bisa melihat tanda-tanda yang tidak tampak dari apa yan tampak, namun tidak dari sekadar yang tampak. Yang tampak harus dilihat dari sisi koherensi dan korespondensi. Jika Anda selalu melihat ada konsistensi dari ucapan seseorang dari waktu ke waktu, tidak ada pertentangan di dalamnya atau tidak ada kontradiksi berarti Anda melihat koherensi di sana.

Jika Anda melihat kenyataan, data-data empiris yang tepat dan kesesuaian antara yang dikatakan dengan fakta berarti Anda melihat korespondensi pada diri seseorang. Namun, masalahnya adalah apakah Anda akan telaten meneliti koherensi dan korespondensi tersebut? Di sinilah naluri kritis Anda sedang ditanya. Apakah Anda sebagai pembaca, pendengar dan pemerhati yang kritis.

Akhirnya, kepentingan selalu ada dalam perjalanan hidup manusia. Kepentingan mengiringi peradaban sejak jaman dahulu. Kepentingan berhubungan dengan “penentu” dan juga “wewenang” untuk menentukan arah. namun manusia yang kritis tidak akan terjebak pada pusaran kepentingan yang salah. Semoga.

Penulis: Dr. Iswahyudi, M.Ag. (Wakil Ketua PCNU Ponorogo dan Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo)

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *