NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Liwetan, Kesederhanaan yang Mengikat Ingatan dan Nilai di Halal Bihalal PCNU Ponorogo

Nasi Liwetan ala pesantren, menu halal bihalal PCNU Ponorogo

NU Online Ponorogo, 17 April 2026 – Di tengah ragam sajian modern yang kerap menghiasi acara resmi, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ponorogo justru memilih kembali pada kesederhanaan yang sarat makna. Dalam momentum halal bihalal yang digelar di Graha PCNU Ponorogo, para kiai, pengurus, dan undangan disuguhi menu liwetan ala pondok pesantren—sebuah pilihan yang bukan sekadar kuliner, melainkan simbol nilai dan ingatan kolektif.

Nasi liwet yang disajikan di atas hamparan daun pisang, lengkap dengan lauk sederhana seperti kelapa parut berbumbu dan ikan teri, menghadirkan suasana yang akrab dan membumi. Tidak ada sekat, tidak ada kemewahan berlebihan. Para tamu duduk bersama, menikmati hidangan dengan tangan, sebagaimana tradisi yang telah lama hidup di lingkungan pesantren.

Menu ini seolah menjadi jembatan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Bagi para kiai dan pengurus, liwetan bukan sekadar makanan, melainkan pengingat akan masa-masa nyantri—saat hidup dalam keterbatasan, namun penuh keberkahan. Beras seadanya, lauk sederhana, bahkan hanya garam dan ikan asin, pernah menjadi bagian dari keseharian yang membentuk ketahanan, keikhlasan, dan kebersamaan.

KH Ahmad Subeki, membagikan lauk sekaligus memasak menu untuk acara halal bihalal PCNU Ponorogo ini

Kenangan itu pula yang disampaikan dengan penuh suka cita oleh KH Ahmad Subeki. Ia mengisahkan masa-masa mondok di Pondok Pesantren Manba’ul ‘Adhim, sebuah pesantren yang didirikan oleh KH Imam Muhadi. Dan kesempatan kali ini menu Nasi Liwetan ini dimasak dan disediakan oleh Kiai yang akrab dipanggil Kiai Khalibek.

Dalam ceritanya, KH Ahmad Subeki mengenang bagaimana kebersamaan para santri terjalin justru dalam kesederhanaan. Makan liwetan dengan lauk seadanya menjadi momen yang dinanti. Tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga menguatkan rasa persaudaraan. “Kadang hanya dengan nasi, garam, dan ikan asin, tapi terasa nikmat karena dimakan bersama,” kira-kira begitulah suasana yang ia gambarkan—penuh kehangatan dan kebahagiaan sederhana.

Mengulang kenangan, dan mengulang kebersamaan

Cerita itu menambah kedalaman makna dari hidangan yang disajikan dalam halal bihalal tersebut. Liwetan bukan hanya menu, melainkan representasi perjalanan panjang para ulama dan santri dalam menapaki kehidupan—dari keterbatasan menuju keberkahan.

Para undangan pun tampak menikmati hidangan tersebut. Bukan hanya karena cita rasanya yang khas, tetapi juga karena suasana kebersamaan yang tercipta. Tawa ringan, obrolan hangat, dan kenangan yang kembali terulang menjadi bagian tak terpisahkan dari santapan itu.

Dalam kesederhanaan itu pula, nilai-nilai perjuangan ulama terasa kembali dihidupkan. Bahwa pengabdian tidak selalu harus dibarengi dengan kemewahan, melainkan dengan ketulusan dan kerendahan hati. Tradisi makan bersama dalam satu hamparan daun pisang mengajarkan kesetaraan—tidak ada yang lebih tinggi, semua duduk sejajar sebagai santri yang terus belajar.

Kesederhanaan dan kebersamaan dalam khittah

Pilihan menu liwetan dalam halal bihalal PCNU Ponorogo ini menjadi pesan yang kuat: bahwa di tengah perubahan zaman, identitas kesantrian tetap dijaga. Menjadi santri bukan hanya fase kehidupan, tetapi jati diri yang terus melekat—dalam sikap rendah hati, dalam ketaatan kepada kiai dan ulama, serta dalam kesediaan untuk terus mengabdi.

Dengan liwetan sederhana, PCNU Ponorogo mengingatkan bahwa kebersamaan dan nilai-nilai dasar pesantren adalah fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Sebab dari kesederhanaan itulah lahir kekuatan yang menjaga tradisi, merawat persaudaraan, dan meneguhkan langkah dalam menjalankan tugas-tugas keagamaan.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *