NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Reyog NU “Ki Ageng Mirah” Diluncurkan, Lesbumi PCNU Ponorogo Perkuat Dakwah Kultural

Launching Reyog Ki Ageng Mirah Lesbumi PCNU Ponorogo di Graha PCNU Ponorogo

NU Online Ponorogo — Semangat pelestarian budaya sekaligus dakwah kultural mengemuka dalam peluncuran Reyog NU “Ki Ageng Mirah” yang digagas Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Ponorogo. Kegiatan ini menjadi penanda kebangkitan kesenian reyog berbasis komunitas Nahdlatul Ulama yang terorganisasi hingga tingkat ranting.

Ketua kelompok Reyog NU “Ki Ageng Mirah”, Mbah Jenggo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam beberapa waktu terakhir telah tumbuh kelompok-kelompok reyog di bawah naungan Lesbumi PCNU Ponorogo. Tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, Lesbumi juga menjalankan program “pesantren budaya” sebagai upaya kaderisasi dan penguatan nilai-nilai ke-NU-an melalui kesenian.

Salah satu capaian yang disorot adalah meningkatnya minat generasi muda, khususnya penari jathil perempuan. Jika sebelumnya sulit menemukan penari jathil perempuan, kini tercatat sebanyak 42 gadis NU telah bergabung sebagai penari jathilan. “Ini perkembangan yang luar biasa. Dulu mencari jathil perempuan sangat sulit, sekarang justru mulai tumbuh,” ujar Mbah Jenggo.

Tercatat 42 gadis penari Jathilan di Reyog Lesbumi Ponorogo

Ia juga mengajak masyarakat yang ingin bergabung untuk masuk melalui struktur MBC atau badan otonom (banom) NU agar koordinasi lebih terarah. Menurutnya, seluruh kesenian di Ponorogo pada prinsipnya dapat terhimpun dalam Lesbumi, yang berfungsi sebagai wadah bagi para seniman NU sekaligus ruang pengkaderan.

Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idham Mustofa, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya peluncuran tersebut, termasuk Pagar Nusa sebagai salah satu unsur pendukung. Ia mengaku bangga atas lahirnya Reyog NU sebagai bagian dari penguatan identitas budaya sekaligus syiar keagamaan.

“Dengan segala keterbatasan, terutama dari sisi pendanaan, kita tetap bisa tampil dan bahkan meraih predikat Lestari Budaya dari pemerintah daerah pada festival tahun lalu,” ujarnya. Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi untuk tampil lebih baik di masa mendatang.

Prolog dari Mbah Jenggo mengawali rangkaian acara launching Reyog Ki Ageng Mirah Lesbumi PCNU Ponorogo

Peluncuran Reyog NU “Ki Ageng Mirah” secara resmi ditandai dengan ucapan basmalah oleh Ketua PCNU, yang kemudian disambut tabuhan gamelan reyog sebagai simbol dimulainya kiprah kelompok tersebut.

Acara tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga, Wakhid Purwanto, S.Sos., sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan seni budaya lokal.

Sementara itu, Kiai Nartib menekankan pentingnya memiliki target yang jelas dalam setiap kegiatan. Ia mendorong agar Reyog NU memiliki sasaran realistis, seperti menembus 10 besar dalam festival reyog tahun ini. “Tidak perlu muluk-muluk, yang penting terukur dan bisa dicapai,” katanya.

Apresiasi setinggi-tingginya dari ketua PCNU Ponorogo Dr Idham Mustofa, Mpd

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas seni dan kewajiban ibadah. “Boleh berseni, tapi jangan meninggalkan shalat. Saat tampil pun harus tetap memperhitungkan waktu ibadah agar keduanya bisa berjalan seiring,” pesannya. Selain itu, ia mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah dan publikasi kegiatan Lesbumi.

Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kiai Subeki (Kiai Khalibek), memohon kemudahan, perlindungan, serta keberkahan agar aktivitas seni yang dilakukan menjadi bagian dari pengabdian dan syiar agama.

Peluncuran ini menjadi momentum penting bagi Lesbumi PCNU Ponorogo dalam mengonsolidasikan kekuatan seni budaya berbasis komunitas, sekaligus menegaskan bahwa kesenian tradisional seperti reyog tetap relevan sebagai media dakwah di tengah masyarakat modern.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *