NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Taujiah KH Sholehan Al-Hafidz: Menjaga Arah NU dan Kemurnian Ibadah dalam Halalbihalal PCNU Ponorogo

Taujiah KH Sholehan Al hafidz, menyoroti tentang kebangkitan Nahdlatul Ulama dalam aplikasi kepengurusan sehari hari PCNU

NU Online Ponorogo — 17 April 2026, Halalbihalal Nahdlatul Ulama Cabang Ponorogo tahun ini tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga momentum memperkuat kembali arah keagamaan warga nahdliyin. Dalam tauziahnya, KH Sholehan Al-Hafidz menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya ilmu sebagai fondasi utama dalam beribadah.

Ia menegaskan bahwa rasa takut kepada Allah hanya dimiliki oleh mereka yang berilmu. “Yang takut kepada Allah itu hanya para ulama. Kalau tidak alim, tidak tahu,” ujarnya. Ketidaktahuan, lanjutnya, bisa berujung fatal—maksiat disangka ibadah karena tidak memahami mana perintah dan mana larangan.

Pesan ini kemudian diperluas dalam konteks organisasi. KH Sholehan menekankan pentingnya kebangkitan ulama (nahdlatul ulama) dalam tubuh NU. Struktur kepengurusan, khususnya jajaran syuriah, harus diisi oleh orang-orang alim atau setidaknya memiliki kepatuhan kuat terhadap syariat. Dengan begitu, arah perjuangan NU tetap terjaga sesuai khittah dan tujuan awalnya.

Sorotan tajam juga diarahkan pada praktik penyelenggaraan ibadah umroh dan haji. Ia mengingatkan adanya kecenderungan sebagian biro perjalanan yang mengedepankan kemudahan tanpa memperhatikan ketentuan syariat. Praktik seperti mengikuti mazhab secara serampangan hingga pelaksanaan wudhu yang tidak memenuhi syarat—misalnya “wudhu semprot” di dalam bus—dinilai sebagai bentuk penggerusan akidah.

Suasana santai duduk lesehan dalam mengikuti tauziah

Dalam kesempatan yang sama, pesan serupa juga pernah diingatkan oleh Kiai Nawawi al-Bantani. Ia mengungkapkan keprihatinan bahwa banyak orang Indonesia menunaikan ibadah haji dan umroh, namun sepulangnya hanya menyisakan status dan kenangan semata—“pernah haji” atau “pernah umroh”—tanpa bekas perubahan spiritual yang mendalam.

Fenomena ini, menurut Kiai Nawawi, tidak lepas dari peran sebagian penyelenggara ibadah yang tidak memahami syariat secara utuh. Ada yang secara finansial mampu menjadi penyelenggara, namun minim pengetahuan agama. Akibatnya, ibadah yang seharusnya sakral dan penuh makna justru bergeser menjadi sekadar perjalanan fisik, bahkan cenderung seperti wisata religi biasa.

“Ibadah yang mahal biayanya dan besar kesempatannya, jangan sampai hanya menjadi jalan-jalan,” menjadi pesan moral yang kuat dari peringatan tersebut.

Khidmat mengikuti pengajian

KH Sholehan pun mengajak warga NU untuk lebih selektif dalam memilih biro perjalanan, khususnya yang berlandaskan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah ala NU. Hal ini penting agar setiap rangkaian ibadah tetap sah secara syariat dan bernilai secara spiritual.

Taujiah ini ditutup dengan penegasan tentang perbedaan mendasar antara ulama dan orang awam. Diamnya ulama bernilai ibadah karena dilandasi ilmu, sementara diamnya orang yang tidak berilmu bisa menjadi dosa karena mengabaikan kewajiban memahami agama.

Melalui momentum halalbihalal ini, tersirat pesan kuat bahwa menjaga kemurnian ibadah dan arah organisasi adalah tanggung jawab bersama. Dengan ulama sebagai penuntun, diharapkan NU tetap istiqamah dalam menjaga tradisi, akidah, dan amaliah di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *