Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

MENJADI MUSLIM MODERAT

SIAPAPUN merasa geram dengan kekerasan. Tidak ada sebuah ajaran agama apa pun yang melegalkan kekerasan. Namun, anehnya masih saja ada sebagian kelompok yang melegalkan kekerasan hanya karena perbedaan pemahaman tentang agama. Kekerasan dalam hal pemahaman agama dapat dipilah menjadi dua; yaitu kekerasan simbolik dan kekerasan fisik. Kekerasan simbolik adalah kekerasan wacana yang dipaksakan kepada orang lain sehingga orang lain merasa terancam dalam perspektif keagamaan. Kekerasan simbolik adalah seperti tuduhan kepada salah satu pendapat keagamaan sebagai pendapat yang keliru, bid’ah, musyrik, kafir dan lain-lain.

Para tertuduh merasa terancam karena dituduh masuk neraka dan terancam kehilangan pengikut. Sedangkan kekerasan fisik adalah kekerasan atas nama agama yang dilakukan kepada sekelompok orang yang tidak sependapat. Kekerasan fisik bisa berupa pembunuhan, penghancuran rumah ibadah, pengusiran dan lain-lain. Contoh kekerasan fisik adalah kekerasan yang terjadi kepada kelompok Syi’ah di Sampang. Ulfa melaporkan bahwa  335 orang menjadi korban dari kekerasan tersebut (107 anak-anak, 228 orang dewasa dan lansia dan sisannya para wanita).

Baik kekerasan simbolik maupun kekerasan fisik menimbulkan perlawanan dari pihak yang tidak terima. Akibat dari kekerasan simbolik misalnya penghentian pengajian, pelemparan batu, pengrusakan mobil dan lain-lain. Itulah sebabnya Rasulullah SAW. menentang terhadap kekerasan baik simbolik maupun fisik. Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah sebagai contoh.

Pertama, hadits yang disampaikan Imam Bukhari dalam masalah menghadap kiblat. “Siapa yang shalat sebagaimana shalat kita dan menghadap kiblat sebagaimana kiblat kita, dan makan sembelihan seperti (cara) menyembelih kita, maka dia adalah seorang muslim yang dilindungi Allah dan Rasul-Nya. Maka, janganlah kalian merusak perlindungan Allah”.

Kedua, hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam masalah perintah memerangi manusia hingga mengatakan La Ilaaha Illa Allah. Yaitu : “Siapa saja yang berkata La Ilaha Illa Allah dengan mengingkari ibadah selain Allah, maka haram harta dan darahnya. Adapun perhitungannya berada di sisi Allah”.

 

Ketiga, hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam bab yang sama “Usamah ibnu Zaid r.a. berkata: Rasulullah SAW, mengutus kami ke Huraqah pada suku Juhainah. Ketika kami sampai di sana, pagi-pagi sekali kami menyerbu. Pada saat itu aku dapati seorang dari mereka berkata La Ilaha Illa Allah. Tapi aku tetap saja menikamnya, sehingga mati olehku. Lalu kusampaikan hal itu kepada Nabi SAW. Lalu beliau bertanya, “apakah sesudah ia mengucapkan La ilaha Illa Allah masih juga engkau membunuhnya?” jawabku, “Ya Rasululullah, ia berkata begitu mungkin hanya karena takut dari senjataku.” Nabi bersabda, “Apakah sudah kau belah dadanya sehingga engkau ketahui dengan jelas, apakah ia berkata karena takut atau tidak?” Nabi SAW. Masih saja mengulang-ngulang kalimat itu kepadaku, sampai-sampai aku merasa, alangkah baiknya jika aku baru masuk Islam pada saat itu”.

Menjadi Muslim Moderat
Menjadi Muslim Moderat

Diceritakan bahwa Abu Bakar bertanya kepada ‘Aisyah setelah Rasulullah SAW wafat tentang kegiatan apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW yang Abu bakar belum melihatnya. Abu Bakar ingin meniru kegiatan tersebut. ‘Aisyah menjawab bahwa Rasulullah SAW setiap pagi pergi di pojok masjid karena di sana ada orang tua buta. Rasulullah SAW memberi makanan kepada orang tua tersebut. Mendengar cerita ‘Aisyah, Abu Bakar di pagi hari pergi ke masjid yang diceritakan. Abu Bakar memberi kurma kepada orang tua tersebut. Namun, orang tua tersebut kaget karena kurma yang dimakan tidak seperti biasanya. Kurma susah ditelan dan terasa keras. “Siapa kamu, kamu bukanlah orang yang biasa datang kepadaku. Orang yang datang kepadaku adalah orang yang memberi kurma lembut dan mudah bagiku memakannya.” Abu Bakar menjawab, “Ia adalah Muhammad. Ia telah meninggal. Aku adalah Abu Bakar, sahabatnya”. Orang tua tersebut langsung menangis dan berkata, “Aku baru tahu ternyata dia adalah Muhammad, padahal setiap kali dia datang kepadaku, aku selalu memberi nasehat kepadanya untuk menjauh dari Muhammad. Aku katakan kepadanya bahwa Muhammad adalah tukang sihir dan penipu. Ternyata orang yang aku nasehati adalah Muhammad sendiri. Sungguh mulia Muhammad, dia tidak marah sedikitpun padaku. Wahai Abu Bakar, saksikanlah bahwa aku beriman kepadanya. Aku masuk Islam”.

Cerita tentang Rasululullah SAW adalah cerita tentang akhlak panutan umat Islam yang toleran. Para generasi setelahnya, terutama masa kejayaan Islam dilandasi oleh toleransi yang tinggi pula. Diceritakan bahwa filsuf Muslim Al-Farabi belajar logika kepada orang Kristen seperti Yuhanna bin Haylan dan Bishr Matta bin Yunus. Al-Farabi juga memiliki murid seorang Kristen Jacobite, Yahya bin ’Adi. Yahya bin ’Adi kemudian memiliki murid pula yang beragama Islam, Abu Sulaiman al-Sijistani. Al-Sijistani ketika menjadi tokoh ternama telah menarik minat banyak orang. Berkumpul di majelis al-Sijistani orang-orang dari beragam agama seperti Yahudi, Kristen dan Zoroaster.

Bagamaimana sikap toleran umat beragama bisa terjadi? Pertama, toleransi beragama terjadi karena pemahaman agama yang tinggi dalam diri seseorang. Seseorang telah memiliki pengetahuan bahwa perbedaan pendapat di kalangan umat Islam hanyalah hasil ijtihad para ulama yang memiliki potensi benar dan salah. Pemahaman demikian terjadi karena seseorang banyak belajar tentang agama tidak saja dari satu perspektif tetapi dari perspektif-perspektif lain.

Keberagamaan mereka adalah keberagamaan epistemologis, yaitu keberagamaan yang dilandasi oleh pengetahuan tentang argumen-argumen yang melatari sebuah pendapat. Kedua, toleransi adalah hasil kesadaran tentang pluralitas sebagai hukum alam yang tidak bisa dihindari. Mengharapkan alam semesta dalam keserbatunggalan adalah mustahil. Allah SWT menyarankan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sebagai solusi menghadapi pluralitas tersebut. Ketiga, toleransi terjadi akibat melihat fakta kesejarahan panjang umat Islam.

Sejarah memberi pelajaran bahwa upaya pemaksaan atas mono perspektif menghasilkan konflik berkepanjangan tiada henti. Sejarah justru membuktikan bahwa peradaban umat Islam maju karena sikap toleransi yang tinggi, tidak saja antarsesama umat Islam tetapi juga sesama pemeluk agama lain. Jika sikap toleran merupakan akibat dari pemahaman agama yang tinggi dari seseorang, lalu, kenapa kita tidak toleran?

 

DR Iswahyudi M.Ag

(Ketua Aswaja Centre PCNU Ponorogo)

 

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *