NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Ngaji Ahad Pon di Masjid NU Ponorogo: Merawat Keluasan Islam, Menjaga Umat dari Konflik

Dr. Kiai Iswahyudi M.Ag., Wakil ketua PCNU Ponorogo mengisi pengajian Ahad Pon yang digelar di masjid NU Ponorogo

NU Online Ponorogo, – Pagi itu, Ahad Pon, halaman Masjid NU Ponorogo tak lagi cukup menampung jamaah. Sejak selepas subuh, arus manusia berdatangan, memenuhi serambi, halaman, hingga meluber ke badan jalan Jalan Sultan Agung Ponorogo. Kursi-kursi yang disediakan panitia cepat terisi. Selebihnya, jamaah duduk bersila di tikar, bahkan di aspal yang pagi itu harus rela ditutup separuh, memberi ruang bagi gelombang kehadiran yang tak terbendung.

Lantunan shalawat dari grup hadrah Asyifa Nada Siman mengalun, menyatukan ritme hati para hadirin. Suasana khidmat terasa, namun tidak kaku. Ada kehangatan khas pengajian kampung, di mana ilmu bertemu tradisi, dan agama hadir tanpa jarak.

Pengajian rutin yang diselenggarakan oleh LDNU PCNU Ponorogo itu menghadirkan Dr. Kiai Iswahyudi, M.Ag., Wakil Ketua PCNU Ponorogo—sebagai narasumber. Dengan gaya tutur yang cair, sesekali diselingi guyonan khas pesantren, ia mengajak jamaah menyusuri satu tema penting yang kerap luput: bagaimana memahami perbedaan dalam beragama.

Sejak awal, ia tidak memulai dengan teori yang berat. Ia memilih contoh sederhana: gerakan dalam shalat. Tentang angkat tangan, misalnya, yang dalam beberapa riwayat dilakukan pada empat posisi. Bagi sebagian orang, ini tampak sepele. Namun bagi yang memahami, di situlah letak pentingnya ilmu.

Sing apal ya diamalke, sing durung apal ya ditambahi,” ujarnya ringan, tetapi mengena. Ibadah, menurutnya, bukan sekadar rutinitas gerakan, melainkan buah dari pemahaman.

Dari situ, ia membawa jamaah pada kenyataan yang sering dilupakan: perbedaan itu sudah ada sejak generasi terbaik umat ini. Para sahabat Nabi—seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib—memiliki cara pandang yang tidak selalu sama dalam memahami teks. Kata al-ḥīn, misalnya, bisa dimaknai berbeda-beda. Namun perbedaan itu tidak melahirkan saling menyalahkan.

Bedo iku wis ono sejak sahabat,” tuturnya, menegaskan bahwa keragaman bukanlah penyimpangan, melainkan keluasan.

Dari sana, Kiai Iswahyudi masuk pada salah satu akar persoalan keagamaan hari ini: kecenderungan mudah menyalahkan, bahkan membid’ahkan. Ia meluruskan cara berpikir yang kerap simplistik—bahwa semua yang tidak dilakukan Nabi pasti salah.

Serambi, halaman masjid NU Ponorogo dipenuhi jamaah, sampai meluber di jalan raya dan jalan ditutup separuh

Padahal, menurutnya, ada banyak alasan mengapa Nabi Muhammad tidak melakukan suatu hal. Bisa jadi karena belum menjadi kebutuhan saat itu, bisa karena tidak ingin memberatkan umat, atau sekadar karena bukan kebiasaan yang relevan pada masanya.

Ia lalu mencontohkan penulisan Al-Qur’an. Pada masa Nabi, mushaf belum memiliki titik dan harakat. Baru kemudian, para ulama seperti Abu al-Aswad al-Du’ali hingga Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi menyempurnakannya. Bukan untuk mengubah, tetapi untuk memudahkan.

Dudu nambah agama, nanging nggampangke wong ngaji,” katanya, disambut anggukan jamaah.

Kisah lain yang ia sampaikan menyentuh keseharian: cara membaca Al-Qur’an. Ada yang lirih seperti Abu Bakar, ada yang lantang seperti Umar bin Khattab, bahkan ada yang selang-seling seperti Ammar bin Yasir. Ketika perbedaan itu sampai kepada Nabi, tidak ada vonis benar-salah yang kaku. Semuanya diterima, selama tetap dalam koridor yang benar.

Dititik inilah pesan pengajian itu menemukan nadinya. Bahwa agama tidak diturunkan untuk mempersempit, melainkan meluaskan. Tidak untuk memecah, tetapi merawat kebersamaan.

Dalam konteks kekinian, ia menyinggung tradisi-tradisi yang hidup di tengah masyarakat—tahlilan, maulidan, ziarah bersama—yang kerap dipersoalkan. Menurutnya, selama memiliki dasar dalam syariat, meski bentuknya berkembang, hal itu merupakan bagian dari ijtihad ulama, bukan penyimpangan.

Pengajian pun berakhir sebagaimana ia dimulai: sederhana, tetapi membekas. Jalan yang sempat ditutup separuh itu perlahan kembali terbuka, seiring jamaah yang beranjak pulang. Namun pesan yang ditinggalkan pagi itu tidak ikut bubar.

Di tengah dunia yang semakin mudah tersulut perbedaan, suara dari Ponorogo itu terasa jernih: jangan mudah konflik, jangan ringan menyalahkan. Sebab, dalam keluasanlah agama ini menemukan keindahannya.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *