<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kategori Sejarah - NU PONOROGO</title>
	<atom:link href="https://nuponorogo.or.id/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuponorogo.or.id/sejarah/</link>
	<description>Official Website PCNU Ponorogo</description>
	<lastBuildDate>Sun, 31 Aug 2025 08:34:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2020/09/cropped-favi-nu-ponorogo-32x32.png</url>
	<title>Kategori Sejarah - NU PONOROGO</title>
	<link>https://nuponorogo.or.id/sejarah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jejak Sunyi Mbah Fadil Gentan: Tapak Tarekat, Pesulukan, dan Santri-Santri yang Mewarisi</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/jejak-sunyi-mbah-fadil-gentan-tapak-tarekat-pesulukan-dan-santri-santri-yang-mewarisi/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/jejak-sunyi-mbah-fadil-gentan-tapak-tarekat-pesulukan-dan-santri-santri-yang-mewarisi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2025 08:34:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7404</guid>

					<description><![CDATA[<p>NU Online Ponorogo, &#8212; Menjelang senja, gang kecil di... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jejak-sunyi-mbah-fadil-gentan-tapak-tarekat-pesulukan-dan-santri-santri-yang-mewarisi/">Jejak Sunyi Mbah Fadil Gentan: Tapak Tarekat, Pesulukan, dan Santri-Santri yang Mewarisi</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_7405" aria-describedby="caption-attachment-7405" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-7405" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-12.59.40_72dadb5e.jpg" alt="" width="1280" height="959" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-12.59.40_72dadb5e.jpg 1280w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-12.59.40_72dadb5e-300x225.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-12.59.40_72dadb5e-1024x767.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-12.59.40_72dadb5e-768x575.jpg 768w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-7405" class="wp-caption-text">Masjid Genthan, Jejak-jejak Tarekat dan Suluk Naqsyabandiyah Kiai Fadil</figcaption></figure>
<p>NU Online Ponorogo, &#8212; Menjelang senja, gang kecil di Dukuh Gentan, Desa Ngrupit, Jenangan, Ponorogo, terasa akrab oleh langkah jamaah. Di belakang sebuah masjid tua—yang oleh orang-orang lama pernah disebut “masjid gentha” karena konon dulu ada bunyi lonceng di malam-malam tertentu—terbentang kompleks makam sederhana. Di sanalah Mbah Fadil (sering juga ditulis Fadhil/Fadilah/Fadhillah), kiai pendiam yang menanam bibit Tarekat Naqsyabandiyah di Ponorogo, diistirahatkan. Dari mushala kecil yang ia dirikan, lahir sebuah tradisi: mengaji, pesulukan, dan kebersahajaan murid-muridnya. Jejak itu kemudian merambat jauh ke Durisawo, ke rumah-rumah warga, ke hati para peziarah yang datang saban pekan.</p>
<p>Nama Mbah Fadil muncul berulang dalam ingatan lisan warga dan catatan akademik. Kajian-kajian tentang Naqsyabandiyah Ponorogo, misalnya, menempatkannya di pucuk silsilah: dari K.H. Fadhil Gentan Ngrupit, bersambung ke K.H. Romli, lalu ke K.H. Abu Dawud Durisawo—mursyid karismatik yang kelak memakmurkan suluk di Nologaten. Rangkaian itu tercatat dalam penelitian tentang khalwat (suluk) Naqsyabandiyah Ponorogo, memperlihatkan bagaimana satu nama sunyi di kampung Gentan berdiri sebagai pangkal sebuah arus tarekat di kota reyog.</p>
<p>Bagi warga setempat, Mbah Fadil bukan hanya “tokoh tarekat”. Ia kakek, guru kampung, sosok yang dari rumah kayunya menuntun orang-orang belajar tartil dan wirid, lalu membaiat yang siap menempuh jalan suluk. Di Gentan, lembaga diniyah yang lahir belakangan diabadikan dengan namanya: Madrasah Diniyah Al-Fadhiliyah—sebuah penanda bahwa pengaruhnya tak berhenti di serambi masjid dan malam-malam khalwat. Arsip kampus dan dokumen kedinasan menyebutkan keberadaan madrasah ini di Gentan, Ngrupit, Jenangan.</p>
<p>Jejak itu, pada gilirannya, mengalir deras ke Durisawo. Di sana, K.H. Abu Dawud—santri sekaligus penerus—merintis Pesantren Durisawo (kelak dikenal sebagai Asy-Syafi’iyah), yang sejak 1924 menjadi salah satu simpul suluk Naqsyabandiyah Kholidiyah. Dokumen Nahdlatul Ulama Ponorogo dan skripsi-arsip akademik mencatat: Abu Dawud diangkat sebagai badal mursyid oleh K.H. Romli dari Gentan, lalu menerima mandat kemursyidan penuh; di tangan beliau, suluk Rajab dan awal Ramadan di masjid Durisawo menjadi tradisi yang dirindukan jamaah. Setelah wafat, estafet keilmuan diteruskan putra-putranya, di antaranya K.H. Dimyati dan K.H. Chozin Dawudi, sementara keluarga besar dan santri menjaga budaya ziarah dan halaqah.</p>
<p>Orang-orang Gentan masih menyebut “Mbah Fadil” dengan kelembutan. Kisah-kisah setempat menuturkan beliau satu generasi—bahkan bersahabat—dengan Mbah Kaji Dullah (Kiai Dullah) dari Pilangrejo, Surodikraman, juga bertali dengan khazanah Tegalsari. Sebagian versi lisan menyebut masa muda belajar ke Tanah Suci dan pergaulan seperguruan dengan Kiai Dullah; catatan ini lebih banyak hadir dalam blog dan pelantar komunitas, bagian dari memori kolektif yang diwariskan dari mulut ke mulut. Sumber-sumber lisan ini menguatkan gambaran ekosistem keulamaan Ponorogo di awal abad ke-20: kiai-kiai kampung yang saling menyambung ilmu, jaringan pesantren kecil, dan tarekat yang pelan-pelan mengakar. (Catatan: aspek “seperguruan di Mekkah” dan persahabatan dengan Kiai Dullah terutama bersandar pada penuturan lokal/penyintas—bukan dokumen primer—karena itu perlu dibaca sebagai tradisi lisan).</p>
<figure id="attachment_7406" aria-describedby="caption-attachment-7406" style="width: 960px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-full wp-image-7406" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-13.00.34_ff53a5ce.jpg" alt="" width="960" height="1280" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-13.00.34_ff53a5ce.jpg 960w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-13.00.34_ff53a5ce-225x300.jpg 225w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-27-at-13.00.34_ff53a5ce-768x1024.jpg 768w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption id="caption-attachment-7406" class="wp-caption-text">Makam Kiai Fadil dan kerabat, di belakang masjid Genthan</figcaption></figure>
<p>Dalam naskah-naskah ringkas yang beredar di kalangan peneliti lokal, Mbah Fadil kerap disebut “Kiai Nur Fadhil”—varian penamaan yang lazim pada tradisi pesantren. Tulisan akademik tentang islamisasi Ponorogo bahkan menyebutnya sebagai mursyid yang “melahirkan” murid pendiri Pesantren Durisawo, yaitu Kiai Abu Dawud, sehingga jalur Gentan–Durisawo menjadi semacam sumbu sejarah untuk memahami bangkitnya tradisi pesulukan di Ponorogo modern.</p>
<p>Rangkaian nama itu bersilang dengan catatan keluarga ulama Ponorogo. Sebuah buku profil “muassis NU Ponorogo” menyebut Gentan Ngrupit—tepatnya Kiai Muhamad Nur Fadhil—sebagai bagian penting dari jejaring kekerabatan ulama daerah. Dari sinilah kita melihat bagaimana tarekat—yang kerap dipandang eksklusif—sebenarnya hidup lewat jejaring keluarga, mantu, dan santri; melalui resepsi sosial yang intim seperti sungkem, ziarah, dan persantunan.</p>
<p>Di Durisawo, hikmah-hikmah itu menjelma rutinitas: khalwat, pembacaan wirid, majelis dzikir, hingga layanan pendidikan formal dari PAUD sampai SMK yang lahir kemudian. Di hari-hari besar, keluarga besar “Bani K.H. Abu Dawud” berhimpun; peziarah menepi di kompleks makam, anak-anak berlarian di teras madrasah. Bagi mereka, Mbah Fadil di Gentan adalah awal yang sunyi sekaligus arah. Tanpa berpidato, ia menanam laku; tanpa prasasti marmer, ia merawat ekosistem ilmu yang kelak mengilhami tokoh-tokoh penting—dari ulama daerah, aktivis NU, hingga para pendidik.</p>
<p>Narasi ini, tentu, menyisakan ruang untuk kerja sejarah yang lebih teliti. Beberapa detail—terutama tahun-tahun awal, jaringan guru di Mekkah, dan relasi personal dengan Kiai Dullah Pilangrejo—masih lebih kuat dalam tradisi lisan dan tulisan komunitas ketimbang dokumen primer. Namun jejaring sumber yang ada sudah cukup mematri gambaran kunci: Gentan Ngrupit adalah salah satu asal aliran air, dan Durisawo adalah sungai yang menghimpunnya. Dari mushala kecil Mbah Fadil, mengalir tarekat, mengalir pendidikan, mengalir ingatan.</p>
<p>Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jejak-sunyi-mbah-fadil-gentan-tapak-tarekat-pesulukan-dan-santri-santri-yang-mewarisi/">Jejak Sunyi Mbah Fadil Gentan: Tapak Tarekat, Pesulukan, dan Santri-Santri yang Mewarisi</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/jejak-sunyi-mbah-fadil-gentan-tapak-tarekat-pesulukan-dan-santri-santri-yang-mewarisi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jejak Abadi di Bedi: Kisah KH. Ibrahim al-Ghozali dan Mushaf yang Menyatu dengan Waktu</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/jejak-abadi-di-bedi-kisah-kh-ibrahim-al-ghozali-dan-mushaf-yang-menyatu-dengan-waktu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/jejak-abadi-di-bedi-kisah-kh-ibrahim-al-ghozali-dan-mushaf-yang-menyatu-dengan-waktu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2025 08:13:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[nu ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[polorejo]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah nu ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah makam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7396</guid>

					<description><![CDATA[<p>NU Online Ponorogo, &#8212; Di Bedi, Polorejo, Babadan, matahari... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jejak-abadi-di-bedi-kisah-kh-ibrahim-al-ghozali-dan-mushaf-yang-menyatu-dengan-waktu/">Jejak Abadi di Bedi: Kisah KH. Ibrahim al-Ghozali dan Mushaf yang Menyatu dengan Waktu</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_7397" aria-describedby="caption-attachment-7397" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-full wp-image-7397" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.47.22_9a505c85.jpg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.47.22_9a505c85.jpg 1280w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.47.22_9a505c85-300x225.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.47.22_9a505c85-1024x768.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.47.22_9a505c85-768x576.jpg 768w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-7397" class="wp-caption-text">Masjid Bedi Polorejo, peninggalan Kiai Ibrahim al-Gozali yang lestari</figcaption></figure>
<p>NU Online Ponorogo, &#8212; Di Bedi, Polorejo, Babadan, matahari pagi jatuh miring di jalan setapak yang membelah hamparan sawah. Embun mulai menguap, meninggalkan bau tanah basah yang khas. Di ujung jalan itu, berdiri Masjid Ibrahim al-Ghozali, bangunan sederhana bercat putih, seolah berdiri sebagai penjaga waktu. Tepat di belakang masjid, di bawah naungan pohon kamboja dan rindang pepohonan pisang, terletak pusara seorang alim desa yang namanya tak pernah benar-benar pudar: KH. Ibrahim al-Ghozali.</p>
<p>Pusara itu dikelilingi pagar besi hitam dengan hiasan berwarna emas, kontras dengan tembok pembatas berwarna pucat yang membentang di belakangnya. Di dalam pagar, tanah pusara tampak terawat rapi. Nisannya terbuat dari batu tua, permukaannya sedikit berlumut, menandakan usia panjang yang telah dilewatinya. Tidak berlebihan, tidak pula megah; hanya batu yang berdiri sebagai penanda kesunyian, sementara penanda modern berwarna emas di atasnya memuat nama dan tahun wafat: 1 Desember 1917.</p>
<p>Suasana di sekitar makam begitu hening. Angin yang berembus dari rumpun bambu di sisi selatan membawa desiran yang samar, seolah mengaji pelan bersama doa-doa yang tak pernah berhenti dibisikkan di tempat ini. Setiap langkah yang mendekati pusara melambat, suara percakapan menurun menjadi bisikan. Tempat ini bukan sekadar kuburan; ia adalah ruang perenungan, tempat waktu seakan berhenti, menyisakan keheningan yang dalam.</p>
<p>Riwayat keluarga dan catatan lisan warga menuturkan bahwa di halaman masjid yang menghadap pusara inilah, Kiai Ibrahim menghabiskan malam-malam panjangnya. Dengan penerangan lampu minyak, ia menyalin mushaf Al-Qur’an dengan pena lidi aren dan tinta racikan sendiri, menuliskan ayat demi ayat dengan ketelitian yang nyaris tak tersaingi. Di tepi halaman mushaf, ia menambahkan catatan qira’at, membuka wawasan santri-santrinya tentang ragam bacaan yang hidup di dunia Islam.</p>
<p>Salah satu kisah yang tetap hidup dalam ingatan warga adalah tentang mushaf yang ditukar dengan dua ekor sapi. Konon, seorang keluarga santri yang merasa berhutang budi atas mushaf indah salinan tangan Kiai Ibrahim, menghadiahi beliau dua ekor sapi sebagai ungkapan terima kasih. “Bukan karena beliau meminta,” demikian tutur cerita yang diwariskan turun-temurun, “tetapi karena di masa itu mushaf bukan hanya kitab, melainkan kemewahan.” Hadiah itu diterima dengan rendah hati, lalu sapi-sapi itu dipelihara untuk kebutuhan bersama di lingkungan masjid dan pesantren.</p>
<p>Kini, mushaf-mushaf itu masih tersimpan di rumah keturunan beliau, rapi dalam kotak kayu tua yang mulai lapuk dimakan usia. Sejumlah peneliti yang menelusuri manuskrip kuno Nusantara menempatkannya sebagai salah satu artefak penting. Tulisan naskah yang bersih, ornamen floral Jawa yang halus, dan catatan pinggir tentang qira’at menjadikannya bukti ketekunan seorang ulama desa yang menulis dengan sepenuh jiwa.</p>
<p>Awal abad ke-20, masjid dan pesantren di Bedi bukan hanya tempat mengaji, melainkan pusat kehidupan desa. Santri dari Yogyakarta, Jombang, hingga Banyuwangi menetap di rumah-rumah warga, membantu mengolah sawah pada siang hari, lalu mengaji saat malam. Suasana malam itu masih dikenang: denting kentongan memanggil waktu belajar, cahaya lampu minyak menerangi papan tulis, dan suara tilawah merambat pelan ke jalan-jalan kecil di sekitarnya.</p>
<figure id="attachment_7398" aria-describedby="caption-attachment-7398" style="width: 960px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7398" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.10.17_7ca4af75.jpg" alt="" width="960" height="1280" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.10.17_7ca4af75.jpg 960w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.10.17_7ca4af75-225x300.jpg 225w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-23-at-11.10.17_7ca4af75-768x1024.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption id="caption-attachment-7398" class="wp-caption-text">Makam Kiai Ibrahim al-Gozali, di Belakang Masjid Bedi Polorejo Babadan Ponorogo</figcaption></figure>
<p>Kiai Ibrahim al-Ghozali lahir dari garis keturunan panjang ulama pesisir dan pedalaman Jawa. Catatan nasab keluarga menyebut ia adalah putra Kiai Imam Ghozali Cokromenggalan, seorang alim yang membangun pengajian di kawasan Gabah Sinawur, Ponorogo, pada awal abad ke-19. Garis nasabnya bersambung ke Kiai Nawawi Majasem, kemudian ke Kiai Nuruddin, hingga ke Khatib Anom Karangbret di Tulungagung, dan Kiai Anom Besari di Caruban, Madiun. Dari situ, silsilahnya mengalir hingga ke Panembahan Giri, Prabu Satmata atau Sasmito, figur sentral penyebaran Islam di tanah Jawa.</p>
<p>Kini, lebih dari seratus tahun kemudian, suasana Bedi tetap terasa seperti masa lalu, meski dunia di sekitarnya berubah. Masjid Ibrahim al-Ghozali tetap sederhana, serambi kayunya masih menjadi tempat anak-anak mengaji setiap sore. Di halaman belakang, pusara berpagar besi itu berdiri sebagai saksi bahwa kesalehan bisa bertahan tanpa sorotan kemewahan.</p>
<p>Menjelang Ramadan, halaman kecil ini selalu ramai. Warga dan keturunan Bani Ghozali datang dari berbagai kota: Surabaya, Malang, Jakarta, bahkan luar Jawa. Mereka membawa bunga, membaca doa, membersihkan pusara, lalu duduk melingkar di teras masjid sambil mengulang cerita lama. Ziarah itu bukan hanya ritual, tetapi ruang untuk mengikat kembali kenangan tentang seorang ulama desa yang mengajarkan bahwa dakwah sejati tumbuh pelan—seperti tinta yang mengalir, baris demi baris, membentuk mushaf yang abadi.</p>
<p>Dari pusara dengan nisan batu tua ini, ketenangan Bedi seolah memanggil siapa saja yang datang untuk berhenti sejenak, mendengar pesan sederhana: bahwa pengabdian yang lahir dari kesabaran dan ketulusan akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup, melintasi ruang dan waktu.</p>
<p>Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jejak-abadi-di-bedi-kisah-kh-ibrahim-al-ghozali-dan-mushaf-yang-menyatu-dengan-waktu/">Jejak Abadi di Bedi: Kisah KH. Ibrahim al-Ghozali dan Mushaf yang Menyatu dengan Waktu</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/jejak-abadi-di-bedi-kisah-kh-ibrahim-al-ghozali-dan-mushaf-yang-menyatu-dengan-waktu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warok Suromenggolo: Penjaga Moral dan Simbol Magis di Tanah Reyog</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/warok-suromenggolo-penjaga-moral-dan-simbol-magis-di-tanah-reyog/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/warok-suromenggolo-penjaga-moral-dan-simbol-magis-di-tanah-reyog/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2025 00:58:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[nu ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[reyog ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[warok]]></category>
		<category><![CDATA[warok ponorogo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7385</guid>

					<description><![CDATA[<p>NU Online Ponorogo &#8211; Di tanah Ponorogo, sejarah dan... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/warok-suromenggolo-penjaga-moral-dan-simbol-magis-di-tanah-reyog/">Warok Suromenggolo: Penjaga Moral dan Simbol Magis di Tanah Reyog</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_7386" aria-describedby="caption-attachment-7386" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7386" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.30.02_89826ae8.jpg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.30.02_89826ae8.jpg 1280w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.30.02_89826ae8-300x225.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.30.02_89826ae8-1024x768.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.30.02_89826ae8-768x576.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-7386" class="wp-caption-text">Makam Warok Suromenggolo, yang di kompleks Makam Gedong Kertosari</figcaption></figure>
<p>NU Online Ponorogo &#8211; Di tanah Ponorogo, sejarah dan legenda kerap menyatu, menorehkan kisah yang hidup dari mulut ke mulut, dari babad ke panggung kesenian rakyat. Di antara tokoh-tokoh yang membentuk wajah awal Kadipaten Ponorogo, nama Warok Suromenggolo berdiri sebagai figur penuh warna—seorang sakti mandraguna, alim, sekaligus penjaga moralitas di tengah pusaran politik dan intrik keluarga bangsawan.</p>
<p>Suromenggolo, atau yang dalam babad disebut sebagai Suryolono, adalah putra Ki Ageng Kutu, penguasa Wengker yang pernah berhadapan langsung dengan Bathoro Katong. Ironisnya, sejarah justru membawanya ke pangkuan lawan sang ayah. Sang adik, Surohandoko, diangkat menjadi Demang di Surukubeng, menggantikan posisi ayahnya. Sementara kakaknya, Niken Gandini, dipersunting Bathoro Katong sebagai istri. Dari jalur perkawinan politik inilah Suryolono, yang kelak lebih dikenal sebagai Warok Suromenggolo, masuk ke lingkaran dalam kekuasaan Ponorogo.</p>
<p>Meski berangkat dari garis keluarga yang berseberangan, Bathoro Katong justru mempercayakan Suromenggolo posisi penting: pengawal pribadi sekaligus Demang di Kertosari. Kepercayaan ini bukan tanpa alasan. Suromenggolo dikenal bukan hanya kuat dalam olah kanuragan, tetapi juga taat dalam laku spiritual. Dalam banyak tutur, ia disebut sebagai warok yang menjaga keseimbangan antara kekuatan jasmani dan keteguhan batin.</p>
<figure id="attachment_7387" aria-describedby="caption-attachment-7387" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7387" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.32.09_bf32bde9.jpg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.32.09_bf32bde9.jpg 1280w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.32.09_bf32bde9-300x225.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.32.09_bf32bde9-1024x768.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.32.09_bf32bde9-768x576.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-7387" class="wp-caption-text">Makam Warok Suromenggolo bersebalahan dengan makam Putri Sri Kuning, dan Putri Kumbini yang sedang direhab diberi cungkup.</figcaption></figure>
<p>Kesetiaan Suromenggolo diuji ketika Bathoro Katong wafat. Kadipaten Ponorogo diguncang fitnah dan intrik, salah satunya menyangkut Putri Sri Kuning, istri Bathoro Katong yang masih muda. Suromenggolo kerap menjadi tempat curahan hati sang putri. Ia menempatkan diri bukan sekadar sebagai abdi, melainkan sebagai penjaga warisan moral Bathoro Katong. Di tengah isu asmara yang beredar antara Putri Kuning dengan keluarga dalam istana, Suromenggolo tampil sebagai saksi sekaligus penegak kebenaran. Keberaniannya mengungkap fakta—lengkap dengan bukti cincin dan upah rahasia—menjadikannya sosok yang disegani, bahkan setelah sang adipati tiada.</p>
<p>Namun Suromenggolo tidak hanya hidup di lingkaran politik. Kisah-kisah rakyat menggambarkannya sebagai tokoh yang penuh daya mistik. Kesaktiannya sering dikaitkan dengan “kolor sakti”, pusaka yang membuatnya hampir tak terkalahkan dalam pertarungan. Cerita tentang perseteruannya dengan Surohandoko, adiknya sendiri, juga menjadi bagian dari kisah turun-temurun yang masih diceritakan dalam teater rakyat dan kidung babad.</p>
<p>Seperti banyak tokoh besar yang dilingkupi aura legenda, keberadaan makam Suromenggolo pun masih menjadi perdebatan. Ada yang meyakini jasadnya bersemayam di Gedong Kertosari, bersebelahan dengan makam Putri Sri Kuning, Siti Kumbini, dan Mbah Ponorogo. Ada pula yang menunjuk Astana Srandil, di sisi kiri kompleks makam utama, meski hanya berupa bongkahan bata tua yang dibiarkan sunyi. Sebagian lagi menunjuk Ampel Balong atau sebuah bukit di dekat kantor kecamatan Sooko, bahkan hingga kawasan Trenggalek. Bagi masyarakat Ponorogo, perbedaan lokasi ini justru menambah aura mistis sang warok: seolah-olah ia memang tidak pernah benar-benar pergi.</p>
<figure id="attachment_7388" aria-describedby="caption-attachment-7388" style="width: 1199px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7388" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.33.45_83e48cc8.jpg" alt="" width="1199" height="1600" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.33.45_83e48cc8.jpg 1199w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.33.45_83e48cc8-225x300.jpg 225w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.33.45_83e48cc8-767x1024.jpg 767w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.33.45_83e48cc8-768x1025.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-17-at-16.33.45_83e48cc8-1151x1536.jpg 1151w" sizes="auto, (max-width: 1199px) 100vw, 1199px" /><figcaption id="caption-attachment-7388" class="wp-caption-text">Namanya diabadikan menjadi sebuah jalan, Jl. Suromenggolo menuju Stadion Bathoro Katong Ponorogo</figcaption></figure>
<p>Kini, nama Suromenggolo tetap hidup di Ponorogo. Sebuah jalan di selatan Stadion Bathoro Katong diabadikan dengan namanya, menjadi penanda betapa besar jasa dan pengaruhnya bagi tanah kelahiran reyog. Lebih dari sekadar tokoh legenda, Suromenggolo adalah simbol: seorang warok yang tidak hanya sakti, tetapi juga setia dan teguh menjaga laku hidup.</p>
<p>Di sela riuh gamelan dan hentakan dadak merak dalam setiap pementasan reyog, bayang-bayang Suromenggolo seperti hadir kembali. Ia bukan sekadar sosok masa lalu, melainkan semangat abadi tentang kesetiaan, keberanian, dan kebijaksanaan yang tetap relevan di tanah Ponorogo hari ini.</p>
<p>Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/warok-suromenggolo-penjaga-moral-dan-simbol-magis-di-tanah-reyog/">Warok Suromenggolo: Penjaga Moral dan Simbol Magis di Tanah Reyog</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/warok-suromenggolo-penjaga-moral-dan-simbol-magis-di-tanah-reyog/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bupati KRMAA Tjokronegoro Umaro yang Ulama, Ulama yang Umaro</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/bupati-krmaa-tjokronegoro-umaro-yang-ulama-ulama-yang-umaro/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/bupati-krmaa-tjokronegoro-umaro-yang-ulama-ulama-yang-umaro/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2025 11:43:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[alun-alun ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[babad ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[bupati ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[makam]]></category>
		<category><![CDATA[masjid agung ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[nu ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[ponorogo]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah ponorogo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7380</guid>

					<description><![CDATA[<p>NU online Ponorogo &#8212; Sore hari, sinar matahari menembus... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/bupati-krmaa-tjokronegoro-umaro-yang-ulama-ulama-yang-umaro/">Bupati KRMAA Tjokronegoro Umaro yang Ulama, Ulama yang Umaro</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_7381" aria-describedby="caption-attachment-7381" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7381" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.12.34_6a9211b6.jpg" alt="" width="1280" height="719" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.12.34_6a9211b6.jpg 1280w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.12.34_6a9211b6-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.12.34_6a9211b6-1024x575.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.12.34_6a9211b6-768x431.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.12.34_6a9211b6-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-7381" class="wp-caption-text">Nisan makam Bupati KRMAA Tjokronegoro, di belakang masjid Ponorogo</figcaption></figure>
<p>NU online Ponorogo &#8212; Sore hari, sinar matahari menembus di sela dedaunan sawo kecik yang menaungi Alun-Alun. Di sisi barat, Masjid Agung berdiri dengan keanggunan yang tak lekang oleh zaman. Menyandang nama Raden Mas Adipati Aryo Tjokronegoro, masjid ini bukan sekadar bangunan suci. Ia adalah penanda jejak seorang pemimpin yang mampu menjembatani dua dunia: dunia kekuasaan dan dunia keulamaan.</p>
<p>Di belakang masjid, melewati gerbang sederhana, sebuah komplek makam teduh menyimpan cerita. Di salah satu cungkup, kain putih tipis membalut pagar, payung tua keemasan tergantung—saksi bisu kejayaan masa lalu. Nisan di sana mencatat nama panjangnya, lengkap dengan gelar kehormatan dari negeri jauh: <em>Ridderorden van de Nederlandsche Leeuw</em>.</p>
<p>Tjokronegoro memimpin Ponorogo sejak 1856 hingga 1882 masehi, masa panjang yang diwarnai pembangunan dan stabilitas. Ia adalah keturunan langsung ulama besar Pesantren Tegalsari, Kiai Kasan Besari, sekaligus bangsawan dari garis Surakarta. Pernikahan politiknya dengan putri Tumenggung Jogokaryo II, Bupati Pacitan, menempatkannya di persimpangan kekuatan budaya, agama, dan politik Jawa.</p>
<figure id="attachment_7383" aria-describedby="caption-attachment-7383" style="width: 960px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7383" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.15.01_f8215fa2.jpg" alt="" width="960" height="1280" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.15.01_f8215fa2.jpg 960w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.15.01_f8215fa2-225x300.jpg 225w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.15.01_f8215fa2-768x1024.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption id="caption-attachment-7383" class="wp-caption-text">Gerbang makam, di jalan setapak selatan masjid agung</figcaption></figure>
<p>“Beliau itu umaro yang ulama, ulama yang umaro,” ujar Didik Santoso, remaja masjid, sambil menunjuk makamnya. “Tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun harmoni,” tambahnya.</p>
<p>Pembangunan Masjid Agung Ponorogo pada 1858 masehi menjadi penanda kuat kiprahnya. Di tengah guncangan politik dan ekonomi Hindia-Belanda, Tjokronegoro memastikan infrastruktur publik tetap berjalan. Ia juga berhasil meredam ketegangan sosial—sesuatu yang tidak selalu mampu dilakukan para pendahulunya.</p>
<p>Ketegasan dan keberaniannya terlihat saat memimpin operasi penangkapan 22 pemberontak di Patik, Pulung. Peristiwa ini tercatat dalam <em>Babad Ponorogo</em> dan buku <em>Madiun dalam Kemelut Sejarah</em> karya Ong Hok Ham. Dengan bantuan desa perdikan Tegalsari dan Karanggebang, Tjokronegoro menyergap mereka di Makam Dowo. Saat itu, ia sudah pensiun. Namun kharisma dan wibawanya tetap menjadi sandaran masyarakat.</p>
<p>Penghargaan dari pemerintah kolonial datang dalam bentuk Bintang Orde Singa Belanda dan <em>Gouvernement Goud Ster Orde Van Orange-Nassau</em>. Bagi sebagian pemimpin, itu bisa menjadi puncak kebanggaan. Namun bagi Tjokronegoro, pengabdian kepada masyarakat dan warisan yang tertinggal jauh lebih berharga.</p>
<p>Dari garis keturunannya lahir tokoh-tokoh besar: H.O.S. Tjokroaminoto, guru para pendiri bangsa, dan intelektual Soedjatmoko. Semua ini menunjukkan bahwa darah ulama Tegalsari dan darah bangsawan Surakarta yang mengalir dalam dirinya tidak berhenti di satu generasi.</p>
<figure id="attachment_7382" aria-describedby="caption-attachment-7382" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7382" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.14.07_c41d680a.jpg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.14.07_c41d680a.jpg 1280w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.14.07_c41d680a-300x225.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.14.07_c41d680a-1024x768.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/08/WhatsApp-Image-2025-08-15-at-18.14.07_c41d680a-768x576.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-7382" class="wp-caption-text">Masjid agung KRMAA Tjokronegoro, nama yang disematkan untuk penghormatan untuk beliau</figcaption></figure>
<p>Kini, di setiap adzan yang bergema dari Masjid Agung, seolah ada bisik sejarah yang ikut berkumandang. Tentang seorang pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan bukan sekadar untuk memerintah, melainkan untuk mengabdi. Tentang seorang ulama yang tak meninggalkan dunia, melainkan memanfaatkannya demi kemaslahatan.</p>
<p>Di cungkup sederhana itu, Tjokronegoro beristirahat. Sunyi, namun abadi. Namanya terpatri di masjid yang ia bangun, dan kisahnya menyelinap dalam denyut nadi kota Ponorogo hingga hari ini.</p>
<p>Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/bupati-krmaa-tjokronegoro-umaro-yang-ulama-ulama-yang-umaro/">Bupati KRMAA Tjokronegoro Umaro yang Ulama, Ulama yang Umaro</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/bupati-krmaa-tjokronegoro-umaro-yang-ulama-ulama-yang-umaro/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenang KRMA Mertonegoro, Sang Arsitek Tata Kota Ponorogo: Memimpin di Tengah Badai Politik</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/mengenang-krma-mertonegoro-sang-arsitek-tata-kota-ponorogo-memimpin-di-tengah-badai-politik/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/mengenang-krma-mertonegoro-sang-arsitek-tata-kota-ponorogo-memimpin-di-tengah-badai-politik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Feb 2025 09:58:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6613</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ponorogo Jawa Timur, menyimpan cerita panjang tentang perjuangan dan... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/mengenang-krma-mertonegoro-sang-arsitek-tata-kota-ponorogo-memimpin-di-tengah-badai-politik/">Mengenang KRMA Mertonegoro, Sang Arsitek Tata Kota Ponorogo: Memimpin di Tengah Badai Politik</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6614" aria-describedby="caption-attachment-6614" style="width: 1048px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6614" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_d7064b29.jpg" alt="" width="1048" height="786" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_d7064b29.jpg 1048w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_d7064b29-300x225.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_d7064b29-1024x768.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_d7064b29-768x576.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1048px) 100vw, 1048px" /><figcaption id="caption-attachment-6614" class="wp-caption-text">Gapura makam Giri Merto Tajug, makam KRMA Mertonegoro</figcaption></figure>
<p>Ponorogo Jawa Timur, menyimpan cerita panjang tentang perjuangan dan kepemimpinan seorang bupati legendaris, KRMA Mertonegoro. Ia adalah sosok pemimpin Ponorogo di masa-masa sulit. Yaitu ketika konflik internal dan intervensi kolonial Belanda mengancam stabilitas wilayah ini.</p>
<p>Setelah kemenangan Belanda dalam Perang Diponegoro, maka seluruh tanah Jawa di luar keraton Kasunanan, Kesultanan, Mangkunegaran, dan Pakualaman berada di bawah kekuasaan penjajah Belanda. Oleh sebab itu, semua kabupaten yang tunduk pada Belanda disebut tanah Gopermen.</p>
<p>Pada tahun 1837, setelah Surodiningrat II wafat, Kabupaten Ponorogo belum mempunyai bupati. Akhirnya, para pejabat Belanda dan pemimpin di wilayah Ponorogo memutuskan untuk mengangkat Raden Adipati Mertohadinegoro sebagai bupati Ponorogo. Mertonegoro adalah salah satu dari 13 keturunan Surodiningrat II dan memiliki trah yang kuat dari pihak ayah sebagai keturunan Pakubuwono I dari Surakarta, serta dari pihak ibu sebagai trah Raden Katong, pendiri Ponorogo.</p>
<p>Sebelum memimpin Ponorogo, Mertonegoro menjabat sebagai bupati di Caruban. Namun, situasi genting di Ponorogo memaksanya dipindahkan ke wilayah ini. Belanda memilih Mertonegoro karena ia dianggap memiliki kemampuan dan pengalaman yang cukup untuk memimpin Ponorogo di tengah situasi yang tidak stabil, dan memiliki legitimasi paling kuat dari sisi keturunannya.</p>
<p>Salah satu keputusan besar yang diambil Mertonegoro adalah memindahkan pusat pemerintahan dari Kuto Wetan (kota lama) ke Kuto Tengah, yang kini menjadi jantung Kabupaten Ponorogo. Pemindahan ini dilakukan pada tahun 1837, setelah tiga tahun ia memimpin dari Kuto Wetan. Awalnya, Mertonegoro mengusulkan lokasi baru di sekitar Tajug, dekat makamnya sekarang. Namun, Belanda menolak usulan tersebut dan memilih lokasi yang strategis, yaitu di jalur antara Madiun dan Pacitan.</p>
<p>Di Kuto Tengah, Mertonegoro memulai pembangunan pendopo, alun-alun, dan Masjid Agung, yang menjadi simbol pemerintahan baru. Proses pemindahan pusat pemerintahan, atau yang dikenal sebagai &#8220;boyongan,&#8221; dilakukan dengan rute yang melintasi Pasar Pon ke selatan, Jeruk Sing ke barat, Tonatan, dan akhirnya menuju alun-alun baru.</p>
<figure id="attachment_6615" aria-describedby="caption-attachment-6615" style="width: 1080px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6615" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_abbb5e74.jpg" alt="" width="1080" height="809" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_abbb5e74.jpg 1080w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_abbb5e74-300x225.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_abbb5e74-1024x767.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/WhatsApp-Image-2025-02-07-at-17.33.14_abbb5e74-768x575.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /><figcaption id="caption-attachment-6615" class="wp-caption-text">Suasana ziarah di dalam geding dalam makam KRMA Mertonegoro</figcaption></figure>
<p>Mertonegoro juga melakukan banyak pembangunan dalam bidang perekonomian, keamanan, kesehatan, dan lingkungan. Ia membangun jalan mengelilingi kota, menyediakan pasar pada setiap jarak tujuh kilometer, dan membangun pos penjagaan yang besar di empat penjuru. Ia juga membangun fasilitas pengobatan berupa rumah sakit dan melakukan penghijauan dengan menanam banyak pohon asam di sepanjang jalan raya.</p>
<p>Pembangun Masjid Agung Kauman pada tahun 1843, dikerjakan tukang kayu bernama Sutowijoyo dari Surakarta yang didampingi oleh Kyai Abdurrahman dari Kauman Kota, Kyai Zainal Mustofa dari Kauman Kota Timur, Kanjeng Kyai Kasan Besari dari Tegalsari, dan para kyai lainnya dari berbagai pesantren yang ada di Ponorogo.</p>
<p>KRMA Mertonegoro meninggal dunia pada tahun 1854, setelah memimpin Ponorogo selama dua dekade. Ia dimakamkan di Desa Tajug, dalam cungkup yang sama dengan istrinya, Retnaningrum, dan putra ketiganya. Warisannya tidak hanya terlihat dalam bangunan-bangunan bersejarah, tetapi juga dalam tata kota yang teratur dan identitas budaya yang kental.</p>
<p>Hari ini, Ponorogo adalah kabupaten yang berkembang dengan identitas budaya yang kuat. KRMA Mertonegoro adalah contoh pemimpin yang visioner. Di tengah politik yang tidak stabil, ia berhasil membangun fondasi yang kokoh bagi Ponorogo. Kepemimpinannya mengajarkan kita tentang pentingnya keteguhan, diplomasi, dan visi jangka panjang dalam membangun sebuah wilayah.</p>
<p>Penulis: Nanang Diyanto</p>
<p><em>Jama’ah Thoriqoh Qodriyah wa Naqsyabandiyah an Nadliyah Sanad Kyai Imam Muhadi, LKNU, Perawat Kamar Operasi di RSUD dr Harjono Ponorogo.</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/mengenang-krma-mertonegoro-sang-arsitek-tata-kota-ponorogo-memimpin-di-tengah-badai-politik/">Mengenang KRMA Mertonegoro, Sang Arsitek Tata Kota Ponorogo: Memimpin di Tengah Badai Politik</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/mengenang-krma-mertonegoro-sang-arsitek-tata-kota-ponorogo-memimpin-di-tengah-badai-politik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tumenggung Jayengrono, Sang Bhayangkara yang Menyatu dengan Bumi</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/tumenggung-jayengrono-sang-bhayangkara-yang-menyatu-dengan-bumi/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/tumenggung-jayengrono-sang-bhayangkara-yang-menyatu-dengan-bumi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2025 00:10:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6443</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jayengrono, meski darah bangsawan mengalir dalam dirinya, ia memilih... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/tumenggung-jayengrono-sang-bhayangkara-yang-menyatu-dengan-bumi/">Tumenggung Jayengrono, Sang Bhayangkara yang Menyatu dengan Bumi</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6448" aria-describedby="caption-attachment-6448" style="width: 984px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6448" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG_20250125_071845.jpg" alt="" width="984" height="436" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG_20250125_071845.jpg 984w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG_20250125_071845-300x133.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG_20250125_071845-768x340.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 984px) 100vw, 984px" /><figcaption id="caption-attachment-6448" class="wp-caption-text">Gapura utama makam Tumenggung Jayengrono</figcaption></figure>
<p>Jayengrono, meski darah bangsawan mengalir dalam dirinya, ia memilih menyamar sebagai rakyat biasa di desa Kranggan, Sukorejo. Di sana, ia bukan sekadar menyatu dengan alam, namun juga dengan hati rakyat. Setiap malam, ia menjelajahi desa, menjadi penjaga yang setia, melindungi mereka dari ancaman yang mengintai.</p>
<p>Ketika badai politik mengguncang Kasunanan Surakarta, menjadi awal pertemuan Jayengrono dengan Sunan Pakubuwono II. Keduanya bertemu di desa Kranggan Sukorejo. Kebaikan budipekertinya menarik perhatian Sinuwun. Jayengrono diminta untuk nderekne (mengawal) selama bertirakat dalam pelarian di daerah Pulung, Sawoo, Bayangkaki, Tegalsari, Menang, sampai kondur merebut tahtanya kembali.</p>
<p>Dari perjalanan tersebut terkuak asal usul Jayengrono yang masih keponakannya. Jayengrono adalah putera Raden Mas Sasangka atau Adipati Harya Metaun adipati di Jipang (Bojonegoro). Beliau masih trah dari Sunan Pakubuwono dari garwo selir.</p>
<p>Sebagai hadiah tahun 1745 Jayengrono diberi jabatan bupati dan mendapat gelar tumenggung. Bupati Ponorogo Raden Surobroto lalu mempersilahkan Tumenggung Jayengrono memilih sendiri tempat yang akan menjadi wilayahnya untuk membuka lahan. Daerah tersebut sekarang menjadi daerah Siman, Mlarak, dan Pulung. Kala itu bernama kabupaten Pedanten yang berpusat di daerah Patihan Kidul Siman. Di tanah inilah, Jayengrono menorehkan jejak keemasan. Ia bukan hanya seorang pemimpin yang tegas, tetapi juga seorang sufi yang mendalami ilmu agama.</p>
<p>Setiap malam, ia berkeliling wilayahnya, menyapa rakyatnya, dan membimbing mereka menuju jalan yang benar. Rakyat pun menjulukinya Kyai Sambang Dalan, sang guru yang selalu hadir di tengah-tengah mereka.</p>
<figure id="attachment_6445" aria-describedby="caption-attachment-6445" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6445" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250113-WA0074-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1152" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250113-WA0074-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250113-WA0074-300x135.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250113-WA0074-1024x461.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250113-WA0074-768x346.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250113-WA0074-1536x691.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250113-WA0074-2048x921.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6445" class="wp-caption-text">Komplek makam Tumenggung Jayengrono di desa Pulung Merdiko, sisi dalam.</figcaption></figure>
<p>Menjelang masa tuanya beliau memilih menghabiskan masa tuanya di daerah Pulung sambil mengajarkan agama Islam di derah ini sampai meninggal tahun 1780. Daerah Pulung tempat beliau dimakamkan oleh Sunan Pakubuwono ke III diberikan kebebasan pajak menjadi desa perdikan. Hal inilah awal nama desa Pulung Merdiko. Anak keturunanya menjadi bupati Ponorogo dan Caruban turun temurun, mungkin hal ini yang membuat alasan para peziarah menjelang pilkada ataupun pilihan kepala desa, sendang derajat.</p>
<p>Makamnya menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang, tidak hanya dari kalangan kerabat dan keluarga, tetapi juga dari masyarakat luas. Mereka datang untuk menghormati jasa-jasanya, meminta berkah, dan memohon perlindungan kepada Allah di tempat yang diyakini mustajab.</p>
<p>Mitos yang berkembang di makam beliau, siapa saja yang yang dimakamkan di komplek makam dalam, kalau bukan keturunan Tumenggung Jayengrono malam harinya akan muncul macan yang akan menggali dan mengeluarkan jasad orang yang baru dikubur tersebut. Sehingga sampai sekarang kalau bukan nasabnya tidak berani dikubur di komplek dalam.</p>
<p>Kisah hidup Jayengrono adalah cerminan dari nilai-nilai luhur bangsa. Ia mengajarkan kita tentang pentingnya kesederhanaan, kejujuran, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia juga mengingatkan kita akan sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan dan membangun peradaban.</p>
<p>Penulis: Nanang Diyanto,</p>
<p><em>Jama’ah TQN-A Sanad Kyai Imam Muhadi, Perawat Kamar Operasi RSUD Harjono Ponorogo.</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/tumenggung-jayengrono-sang-bhayangkara-yang-menyatu-dengan-bumi/">Tumenggung Jayengrono, Sang Bhayangkara yang Menyatu dengan Bumi</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/tumenggung-jayengrono-sang-bhayangkara-yang-menyatu-dengan-bumi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ndoro Mantri “Raden Martopuro”, Pahlawan yang Terlupakan</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/ndoro-mantri-raden-martopuro-pahlawan-yang-terlupakan/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/ndoro-mantri-raden-martopuro-pahlawan-yang-terlupakan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jan 2025 03:12:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6225</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dibalik sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan, tersimpan... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/ndoro-mantri-raden-martopuro-pahlawan-yang-terlupakan/">Ndoro Mantri “Raden Martopuro”, Pahlawan yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6226" aria-describedby="caption-attachment-6226" style="width: 1152px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6226" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0009-scaled.jpg" alt="" width="1152" height="2560" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0009-scaled.jpg 1152w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0009-135x300.jpg 135w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0009-461x1024.jpg 461w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0009-768x1707.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0009-691x1536.jpg 691w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0009-922x2048.jpg 922w" sizes="auto, (max-width: 1152px) 100vw, 1152px" /><figcaption id="caption-attachment-6226" class="wp-caption-text">Makam Raden Martopuro di Pelem Gurih, orang sekitar menyebutnya Mbah Mantri</figcaption></figure>
<p>Dibalik sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan, tersimpan kisah heroik yang seringkali terlupakan. Salah satunya adalah kisah Raden Martopuro, seorang bangsawan dari Ponorogo yang berani melawan penindasan Belanda.</p>
<p>Raden Martopuro, keturunan Bupati Ponorogo pertama, Raden Katong, sejak muda telah menanamkan semangat juang. Bersama sahabat karibnya, Nurkandam, mereka berguru pada Kanjeng Jimad Bupati Pacitan dan bersumpah setia satu sama lain dalam suka dan duka.</p>
<p>“<em>Ngisor galeng nduwur galeng, mbeguru bareng mati yo bareng</em>” janji mereka semasa muda.</p>
<p>Ketika Perang Diponegoro berkecamuk, atas perintah Kanjeng Jimad keduanya bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro yang sedang mengungsi sambil perang gerilya di daerah Nglorok Pacitan dan Baosan (pegunungan perbatasan Ponorogo-Pacitan). Sementara Ponorogo dikuasai oleh pemerintahan Belanda yang dipimpin oleh seorang asisten Residen.</p>
<p>Menjelang berakhirnya perang Diponegoro mereka diberi pilihan oleh Pangeran Diponegoro ketika mencapai perbatasan Gupernemen (batas wilayah pemeritahan Kasunanan dengan wilayah yang dikuasai pemerintah Belanda). Mereka boleh terus ikut ke Jawa Tengah atau kembali ke daerahnya masing-masing. Raden Martopuro memilih pulang ke Bungkal kerumah orangtuanya, sementara Nurkhandam kembali ke desanya di Bandar Alim.</p>
<p>Sepulangnya di kampung Raden Martopuro menjabat sebagai Mantri Gudang Kopi di Bungkal, menggantikan ayahnya yang sudah meninggal dunia.</p>
<figure id="attachment_6227" aria-describedby="caption-attachment-6227" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6227" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0007-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1152" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0007-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0007-300x135.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0007-1024x461.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0007-768x345.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0007-1536x691.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0007-2048x921.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6227" class="wp-caption-text">Taman Makam Pahlawan Ponorogo, Cikal bakalnya tempat pembuangan mayat dua sahabat Martopuro dan Nurkandam</figcaption></figure>
<p>Perlawanan Melalui Cara Cerdik</p>
<p>Di bawah pemerintahan kolonial Belanda, rakyat dipaksa menanam kopi dengan harga beli yang sangat rendah. Banyak rakyat yang menderita akibat kebijakan ini. Melihat penderitaan rakyatnya, istri Raden Martopuro, seorang wanita cerdas, punya ide untuk menyelundupkan kopi. Ia mengajari para perempuan untuk menyembunyikan kopi di dalam perut mereka, seolah-olah sedang hamil.</p>
<p>Aksi penyelundupan ini berhasil mengelabui Belanda selama beberapa waktu. Kisah ini terkenal dengan “<em>Meteng Pitung Beruk</em>”.</p>
<p>Namun, akhirnya ketahuan juga. Istri Raden Martopuro ditangkap dan dihukum. Marah dan sedih melihat istrinya diperlakukan sedemikian rupa, Raden Martopuro bertekad membalas dendam.</p>
<p>Menjelang peringatan pergantian tahun (peringatan malam tahun baru) 31 Desember 1882 tuan asisten Residen Antonny Willem Viensem mengadakan peta pergantian tahun baru di pendopo, semua pegawai mulai berpangkat rendah sampai tinggi wajib menghadiri dengan berbaju Jawa beskap. Raden Martopuro-pun juga hadir.</p>
<p>Ketika pesta berakhir Raden Martopuro merayu kepada pegawai asisten untuk bisa menghadap tuan Asisten Residen, pesannya ia akan meminta maaf atas kejadian di gudang kopi Bungkal.</p>
<p>Ketika itu tuan Asisten Residen sudah berganti pakaian tidur namun begitu ia mau bertemu dengan Raden Martopuro di Pendopo (ruang pertemuan depan). Tuan asisten Residen kurang waspada ketika mengulurkan tangan akan bersalaman dengan cepat Raden Martopuro menghunuskan kerisnya ke perut tuan asisten Residen. Sehabis membunuh tuan asisten residen, Raden Martopuro masih membunuh pengawal dan pegawai asisten lalu melarikan diri.</p>
<p>Malam itu juga Ponorogo geger, pegawai Belanda setingkat wakil gubernur dibunuh pribumi, tentara Belanda dari Madiun dikerahkan untuk menangkap Raden Martopuro. Karena tidak berhasil menagkapnya, maka anak, istri, serta ibu Raden Martopura ditangkap dan dijebloskan ke penjara.</p>
<p>Pemerintahan Belanda mengadakan sanyembara barang siapa yang bisa menagkap Raden Martopuro hidup atau mati akan diberi imbalan.</p>
<figure id="attachment_6228" aria-describedby="caption-attachment-6228" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6228" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0011-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1152" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0011-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0011-300x135.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0011-1024x461.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0011-768x346.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0011-1536x691.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250111-WA0011-2048x922.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6228" class="wp-caption-text">Bon Rojo. Kebon Rojo cikal bakal TMP Ponorogo</figcaption></figure>
<p>Bupati Ponorogo kala itu juga bingung dan kena getahnya karena warganya ada yang berani membunuh pejabat tingi Belanda. Bupati Ponorogo kalau itu Raden Martonegoro mencari wangsit di makam Raden Katong dan mendapatkan petunjuk bahwa hanya saudara seperguruannya yang tahu tempat dan kelemahan Raden Martopuro yang tak lain Nurkandam.</p>
<p>Seperti buah simala kama bagi Nurkandam, namun demi meyelamatkan anak, istri, dan ibu Martopuro ia merayu Raden Martopuro untuk menyerah. Akhirnya Raden Martopuro menyerah dan dijatuhi hukuman mati. Malam menjelang hukuman mati Nurkandam menemui Raden Martopuro di penjara, dan pada waktu pertemuan tersebut Raden Martopuro mencabut keris Nurkandam dan menghujamkan ke perutnya (bunuh diri) sehinga bersimbah darah, akhirnya Nurhandam ditangkap dianggap yang membunuh Raden Martopuro. Mayat Raden Martopuro dibuang di pembuangan sampah belakang Kantor Asisten Residen (Sekitar SMPN 6 Ponorogo).</p>
<p>Nurkandam paginya dihukum mati oleh Belanda di depan masyarakat dan mayatnya dikubur di belakang kantor asisten residen. Rupanya Raden Martopuro hanya pingsan dan malam itu juga ia bisa berjalan merangkak sampai perbatasan Kertosari – Mangunsuman yang disebut daerah Pelem Gurih. Di sana Raden Martopuro sempat menceritakan peristiwa yang sebenarnya pada warga yang ditemuinya. Setelah selesai bercerita Raden Martopuro menghembuskan nafas yang terakhir kali dan dikuburkan oleh warga sekitar kuburan Pelem Gurih.</p>
<p>Kejadian kematian tuan Asisten Residen Belanda, Raden Martopuro dan Nurkandam di atas merupakan aib bagi Ponorogo. Siapa saja dilarang menceritakan. Belanda malu, begitupun pemerintahan Ponorogo, siapa saja yang kedapatan mempergunjingkan mendapat hukuman.</p>
<p>Begitu juga kuburan Nurkandam yang dibelakang kantor asisten residen tidak boleh dikunjungi siapa saja, dan dipagari menggunakan nanas hutan agar tidak bisa dimasuki, pencari rumputpun dihukum bila merumput di daerah tersebut. Banyak orang yang masih mengira kuburan raden Martopuro di dekat kuburan Nurkandam saudara seperguruannya.</p>
<p>Oleh tuan Asisten Residen yang baru lokasi tersebut diberi kawat berduri dan di atas kuburan Nurkandam ditanami pohon sono. Dan dipagari mirip gapura cina yang hanya bisa dilewati dari kantor asisten residen. Taman tersebut dinamakan taman Adiwarno, namun masyarakat lebih sering menyebutnya Kebon Rojo sampai sekarang.</p>
<p>Banyak orang yang mengira kalau Nurkandam berkhianat pada Raden Martopuro dengan mengharap hadiah dari Belanda.</p>
<p>Setelah Indonesia merdeka, kantor asisten residen dijadikan markas tentara. Atas gagasan kepala penerangan kabupaten Ponorogo Rasad Siswosanyoto tempat digunakan untuk mengubur prajurit atau tentara yang gugur pada jaman agresi dan peristiwa kurban PKI tahun 1948. Kini tempat tersebut menjadi Teman Makam Pahlawan Ponorogo.</p>
<p>Di daerah kuburan Pelem Gurih (Mangunsuman) belakang bak sampah, banyak yang tidak mengenal kuburan Raden Martopuro. Warga sekitar lebih mengenal kuburan Mbah Mantri. Sementara orang Bungkal sekitar gudang kopi juga menyebut Raden Martapuro dengan sebutan “Ndoro Mantri”.</p>
<p>Pedagang di pasar sepeda (pasar loak) menyebut “Raden Martopuro” adalah pahlawan yang pertama darahnya tertumpah di makam pahlawan Bon Rojo ini meski jasadnya tidak dikebumikan di taman makam pahlawan. Menurut cerita para pedagang sepeda pada waktu pemugaran pagar, hanya ditemukan satu kerangka di bawah pohon sono, dan mereka menyakini hanya Nurkandam yang jasadnya dikubur di bawah pohon ini, sehingga mereka yakin yang dikubur di Pelem Gurih adalah jasad Raden Martopuro.</p>
<p>Semoga tulisan ini bisa disempurnakan oleh pembaca lainnya, sehingga didapatkan cerita yang sebenarnya. Semoga pemerintah kabupaten Ponorogo mendapatkan masukan tentang hal ini, dan mohon maaf bila ada yang tidak pas dalam cerita ini. Tapi begitulah sejarah tergantung pada rezim di mana rezim tersebut berkuasa.</p>
<p>Penulis: Nanang Diyanto</p>
<p><em>Jama’ah Thoriqoh Qodriyah wa Naqsyabandiyah an Nadliyah Sanad Kyai Imam Muhadi, LKNU, Perawat Kamar Operasi di RSUD dr Harjono Ponorogo.</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/ndoro-mantri-raden-martopuro-pahlawan-yang-terlupakan/">Ndoro Mantri “Raden Martopuro”, Pahlawan yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/ndoro-mantri-raden-martopuro-pahlawan-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah An-Nadliyah di Ponorogo</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/perkembangan-tarekat-qadiriyah-wa-naqsabandiyah-an-nadliyah-di-ponorogo/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/perkembangan-tarekat-qadiriyah-wa-naqsabandiyah-an-nadliyah-di-ponorogo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jan 2025 15:37:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6163</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, salah satu tarekat tertua dan... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/perkembangan-tarekat-qadiriyah-wa-naqsabandiyah-an-nadliyah-di-ponorogo/">Perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah An-Nadliyah di Ponorogo</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6164" aria-describedby="caption-attachment-6164" style="width: 894px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6164" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0008.jpg" alt="" width="894" height="1174" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0008.jpg 894w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0008-228x300.jpg 228w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0008-780x1024.jpg 780w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0008-768x1009.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 894px) 100vw, 894px" /><figcaption id="caption-attachment-6164" class="wp-caption-text">KH. Imam Muhadi, Mursyid Tarekat Qodriyah wa Naqsyabandiyah an Nadliyah serta pendiri Pondok Pesantren Mamba&#8217;ul Adiem Bagbogo Tanjunganom Nganjuk.</figcaption></figure>
<p>Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, salah satu tarekat tertua dan terbesar di Indonesia, memiliki sejarah panjang dan mendalam di Jawa Timur. Tarekat ini telah membentuk lanskap sosial, budaya, dan keagamaan di wilayah ini selama berabad-abad.</p>
<p>Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah merupakan gabungan dari dua tarekat besar, Tarekat Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Tarekat Naqsabandiyah dari Syekh Bahauddin Naqshbandi. Tarekat ini menekankan pentingnya dzikir, tasawuf, pengabdian kepada Allah SWT dan kepedulian sosial.</p>
<p>Syekh Ahmad Khatib Sambas memperkenalkan tarekat ini ke Indonesia melalui murid-muridnya, seperti Syekh Abdul Karim Banten dan Ahmad Hasbullah. Ahmad Hasbullah dikenal sebagai sosok yang kharismatik dan memiliki pengaruh yang luas. Melalui beliau, tarekat ini semakin mengakar di tanah Jawa.</p>
<p>Kyai Khalil dari Bangkalan membawa tarekat ini ke Jawa Timur dan menikah dengan putri Kyai Tamim, pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Kyai Romli Tamim dan putranya, Kyai Mustain Romli, melanjutkan tradisi tarekat ini. Di bawah kepemimpinan mereka, Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso menjadi pusat penyebaran tarekat di Jawa Timur.</p>
<p>Kyai Imam Muhadi adalah khalifah Kyai Mustain Romli di daerah Nganjuk, Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan. Beliau diangkat menjadi mursyid untuk wilayah barat Sungai Brantas. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Kyai Mustain Romli memerintahkan Kyai Imam Muhadi melengkapi kemursyidan An-Nadliyah ke Kyai Muslih Mraggen. Sanadnya naik ke Kyai Ibrahim Muslih, Syekh Abdul Karim Banten, dan akhirnya bertemu lagi di Syekh Kotib Sambas.</p>
<p>Kyai Imam Muhadi dan diteruskan oleh Kyai Ali Barqul Abid melanjutkan estafet kepemimpinan Tarekat Qodriyah wa Naqsabandiyah An-Nadliyah di Jawa Timur wilayah barat. Keduanya berhasil mempertahankan dan mengembangkan tarekat ini. Pondok Pesantren Manbaul Adhiem di Nganjuk menjadi pusat dakwah dan pengembangan tarekat.</p>
<p>Tidak hanya di Jawa Timur, lewat santri-santri mondok di Pondok Pesantren Mamba’ul Adiem Nganjuk, tarekat berkembang di daerah asal santri seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, pulau Sumatera.</p>
<p>Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah An-Nadliyah berdampak positif terhadap masyarakat: meningkatkan kesadaran spiritual, membentuk karakter generasi muda, mengembangkan kepedulian sosial dan menjaga keharmonisan beragama.</p>
<figure id="attachment_6165" aria-describedby="caption-attachment-6165" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6165" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1437" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-300x168.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-1024x575.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-768x431.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-1536x862.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-2048x1150.jpg 2048w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-740x414.jpg 740w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0010-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6165" class="wp-caption-text">Kyai Ali Barqul Abid, Baiatan dan Pengajian di masjid Jami Tegalsari setiap Ahad malam Senen Kliwon.</figcaption></figure>
<p>Meningkatnya minat anak muda terhadap tarekat ini disebabkan oleh pendekatan dari Kyai Imam Muhadi yang lebih luwes, serta dijaman Kyai Ali Barqul Abid kesempatan bertemu guru lebih mudah seiring majunya media sosial, rekomendasi teman sebaya dan pencarian makna hidup anak-anak muda.</p>
<figure id="attachment_6167" aria-describedby="caption-attachment-6167" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6167" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0014-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0014-scaled.jpg 2560w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0014-300x200.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0014-1024x683.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0014-768x512.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0014-1536x1024.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250107-WA0014-2048x1365.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-6167" class="wp-caption-text">Baiatan dan Pengajian di Masjid At Taqwa Ngunut Babadan, di dominasi anak muda anak band.</figcaption></figure>
<p>Fenomena ini membawa dampak positif, peremajaan regenerasi tarekat dan masuknya anak muda membawa energi baru.</p>
<p>Tarekat ini menghadapi tantangan, menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, mencegah pergeseran nilai dan membina konsistensi generasi muda.</p>
<p>Kegiatan baiatan dan pengajian setiap selapan (35 hati) di hampir 25 tempat di Ponorogo, seperti halnya di masjid Tegalsari setiap Ahad malem Senen Kliwon bakda jamaah sholat isya.</p>
<p>Penulis : Nanang Diyanto</p>
<p><em> Jamaah Thoriqoh Qodriyah wa Naqsyabandiyah an Nadliyah, LKNU, Perawat Kamar Operasi di RSUD dr Harjono Ponorogo, Penulis di Kompasiana.</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/perkembangan-tarekat-qadiriyah-wa-naqsabandiyah-an-nadliyah-di-ponorogo/">Perkembangan Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah An-Nadliyah di Ponorogo</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/perkembangan-tarekat-qadiriyah-wa-naqsabandiyah-an-nadliyah-di-ponorogo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ronggowarsito: Transformasi Sang Pujangga</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/ronggowarsito-transformasi-sang-pujangga/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/ronggowarsito-transformasi-sang-pujangga/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jan 2025 06:31:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6154</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagus Burham, yang kelak dikenal sebagai Ronggowarsito, adalah sosok... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/ronggowarsito-transformasi-sang-pujangga/">Ronggowarsito: Transformasi Sang Pujangga</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-6155" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20241231-WA0021.jpg" alt="" width="1200" height="1600" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20241231-WA0021.jpg 1200w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20241231-WA0021-225x300.jpg 225w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20241231-WA0021-768x1024.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20241231-WA0021-1152x1536.jpg 1152w" sizes="auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /></p>
<p>Bagus Burham, yang kelak dikenal sebagai Ronggowarsito, adalah sosok yang penuh kontras. Lahir dari keluarga bangsawan, ia dikirim ke Pesantren Tegalsari untuk menimba ilmu agama. Namun, jauh dari sosok santri yang khusyuk, Bagus Burham justru dikenal sebagai pemuda yang nakal. Ia lebih tertarik pada kesenangan duniawi daripada menuntut ilmu agama.</p>
<p>Kisah kenakalan Bagus Burham di pesantren seringkali menjadi bahan cerita turun-temurun. Konon, ia seringkali melalaikan kewajibannya sebagai santri, lebih memilih berjudi dan bergaul dengan teman-teman yang tidak sejalan dengan nilai-nilai pesantren. Bahkan, ada cerita bahwa ia pernah melakukan tindakan yang tidak pantas di hadapan gurunya.</p>
<p>Perilaku Bagus Burham tentu saja membuat Kyai Ageng Besari, gurunya, merasa kecewa. Namun, sang kyai tidak menyerah begitu saja. Dengan kesabaran yang luar biasa, Kyai Ageng Besari terus membimbing dan memberikan nasihat kepada Bagus Burham.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan yang signifikan dalam diri Bagus Burham. Ia mulai menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya di masa lalu. Bagus Burham kemudian tekun mempelajari ilmu agama dan sastra. Bakat menulis yang dimilikinya pun semakin terasah.</p>
<p>Setelah menyelesaikan mondoknya di Pesantren Tegalsari, Bagus Burham kembali ke Surakarta dan mengabdi di keraton. Di sana, ia menghasilkan karya-karya sastra yang sangat bernilai, seperti Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan Serat Kalatidha. Karya-karyanya tidak hanya memiliki nilai sastra yang tinggi, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang relevan hingga saat ini.</p>
<p>Transformasi dari seorang pemuda nakal menjadi pujangga ulung yang dialami Ronggowarsito adalah sebuah kisah inspiratif. Kisahnya mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berubah menjadi lebih baik. Meskipun pernah melakukan kesalahan di masa lalu, seseorang masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.</p>
<p>Terlepas cerita tutur diatas, pada tahun 2000-an penulis bersama Kyai Suyadi Ali (guru penulis) berziarah ke makam Ronggo Warsito di Klaten. Disana juru kunci makam menuturkan, cerita tutur yang berkembang tentang Ronggo Warsito ada yang benar dan ada yang perlu dikoreksi.</p>
<p>Menurutnya bulying sudah ada sejak jaman duku, Bagus Burham anak bangsawan kena buly oleh teman sesama mondoknya. Sering menyendiri dipinggir sungai Keyang, dan tempat menyendiri tersebut sampai kini sering dipakai orang bermunajat. Sampai ketika pergi dari pesantren menuju Madiun. Karena kasih sayang Kyai Ageng Besari dan kerabatnya yang ada di Madiun akhirnya balik ke Pondok Pesantren lagi.</p>
<p>Penulis: Nanang Diyanto</p>
<p><em>Jama’ah Thoriqoh Qodriyah wa Naqsyabandiyah an Nadliyah Sanad Kyai Imam Muhadi, LKNU, Perawat Kamar Operasi RSUD dr Harjono Ponorogo Penulis di Kompasiana.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/ronggowarsito-transformasi-sang-pujangga/">Ronggowarsito: Transformasi Sang Pujangga</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/ronggowarsito-transformasi-sang-pujangga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Raden Bagus Harun dan Misi Mengantar Kondur Sinuwun Pakubuwono II ke Keraton</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/raden-bagus-harun-dan-misi-mengantar-kondur-sinuwun-pakubuwono-ii-ke-keraton/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/raden-bagus-harun-dan-misi-mengantar-kondur-sinuwun-pakubuwono-ii-ke-keraton/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Dec 2024 03:33:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Raden Bagus Harun, seorang santri dari Kyai Ageng Besari,... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/raden-bagus-harun-dan-misi-mengantar-kondur-sinuwun-pakubuwono-ii-ke-keraton/">Raden Bagus Harun dan Misi Mengantar Kondur Sinuwun Pakubuwono II ke Keraton</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6003" aria-describedby="caption-attachment-6003" style="width: 708px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6003" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0009.jpg" alt="" width="708" height="415" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0009.jpg 708w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0009-300x176.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 708px) 100vw, 708px" /><figcaption id="caption-attachment-6003" class="wp-caption-text">Gapura masjid Sewulan</figcaption></figure>
<p>Raden Bagus Harun, seorang santri dari Kyai Ageng Besari, memiliki peran penting dalam sejarah.</p>
<p>Nama beliau sangat erat kaitannya dengan Masjid Sewulan di daerah Dagangan Madiun yang kini menjadi cagar budaya. Kata &#8220;Sewulan&#8221; sendiri berasal dari kata &#8220;sesasi&#8221; atau &#8220;sewulan&#8221; yang berarti satu bulan. Waktu ini merujuk pada masa ketika Bagus Harun muda diutus oleh gurunya untuk berdakwah setelah menempuh perjalanan satu bulan dari Tegalsari, Ponorogo.</p>
<figure id="attachment_6004" aria-describedby="caption-attachment-6004" style="width: 325px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6004" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0008.jpg" alt="" width="325" height="216" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0008.jpg 325w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0008-300x199.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 325px) 100vw, 325px" /><figcaption id="caption-attachment-6004" class="wp-caption-text">tampak dari depan, masjid Sewulan</figcaption></figure>
<p>Pada suatu peristiwa penting, Bagus Harun dipercaya oleh gurunya untuk mengawal Kanjeng Paku Buwono II kembali ke Surakarta setelah keraton diserang pasukan Kuning. Sebagai tanda terima kasih, Bagus Harun diberi hadiah pusaka Payung Tunggul Naga dari Sinuwun. Namun, dengan kerendahan hati, beliau menyerahkan hadiah tersebut kepada gurunya. Kyai Ageng Besari pun menyarankan Bagus Harun untuk mengembalikan pusaka itu kepada Sinuwun.</p>
<p>Dalam perjalanan kembali ke Surakarta, terjadi kesalahpahaman dengan prajurit penjaga sehingga Bagus Harun dihujani anak panah. Ajaibnya, payung pusaka itu mampu melindungi dirinya dari serangan.</p>
<figure id="attachment_6005" aria-describedby="caption-attachment-6005" style="width: 1080px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-6005 size-full" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0010.jpg" alt="" width="1080" height="1080" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0010.jpg 1080w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0010-300x300.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0010-1024x1024.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0010-150x150.jpg 150w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0010-768x768.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0010-250x250.jpg 250w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0010-80x80.jpg 80w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /><figcaption id="caption-attachment-6005" class="wp-caption-text">imaman dan mimbar masjid sewulan</figcaption></figure>
<p>Mendengar keributan tersebut Sinuwun segera melerai. Payung Tunggul Nogo diaturkan kembali kepada Sinuwun, tapi ditolaknya. Tak elok bila menolak pemberian raja, akhirnya pusaka dibawanya kembali oleh Bagus Harun.</p>
<p>Setelah merenung panjang, Bagus Harun menyadari bahwa pusaka tersebut dapat membahayakan aqidahnya jika terus disimpan. Ia khawatir akan menjadi sombong dan lupa akan Allah. Oleh karena itu, dengan berat hati, beliau membuang pusaka tersebut ke Sungai Sekayu. Yang ditakutkan lagi kalau kelak anak cucu keturunannya berebut ataupun ngendelne pusaka tersebut bisa membahayakan, bisa adigang, adingung, dan adiguna.</p>
<p style="padding-left: 80px;">
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-6006" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0011.jpg" alt="" width="325" height="216" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0011.jpg 325w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2024/12/IMG-20241229-WA0011-300x199.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 325px) 100vw, 325px" /></p>
<p>Banyak kepercayaan pusaka tersebut berhenti di Bang Pluang, kedungan sungai sekitar Lengkong Sukorejo. Hingga sekarang banyak orang yang bermunajat dengan berbagai niat di tepian sungai Sekayu sekitar Bang Pluang tersebut.</p>
<p>Kisah Raden Bagus Harun mengajarkan kita tentang pentingnya ketaatan pada guru, kerendahan hati, dan keimanan yang kuat. Meskipun berasal dari kalangan bangsawan, beliau memilih untuk mengutamakan perintah gurunya dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dakwah menyebarkan agama Islam di daerah Sewulan. Yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan Kyai Basyariah, dan merupakan leluhur Gus Dur, dan juga Kyai Umar Shodiq Babadan.</p>
<p>Penulis: Nanang Diyanto</p>
<p><em>Jama’ah Thoriqoh Qodriyah wa Naqsyabandiyah an Nadliyah Sanad Kyai Imam Muhadi, LKNU, Perawat Kamar Operasi RSUD dr Harjono Ponorogo, Penulis di Kompasiana</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/raden-bagus-harun-dan-misi-mengantar-kondur-sinuwun-pakubuwono-ii-ke-keraton/">Raden Bagus Harun dan Misi Mengantar Kondur Sinuwun Pakubuwono II ke Keraton</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/raden-bagus-harun-dan-misi-mengantar-kondur-sinuwun-pakubuwono-ii-ke-keraton/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
