
NU online Ponorogo — Sore hari, sinar matahari menembus di sela dedaunan sawo kecik yang menaungi Alun-Alun. Di sisi barat, Masjid Agung berdiri dengan keanggunan yang tak lekang oleh zaman. Menyandang nama Raden Mas Adipati Aryo Tjokronegoro, masjid ini bukan sekadar bangunan suci. Ia adalah penanda jejak seorang pemimpin yang mampu menjembatani dua dunia: dunia kekuasaan dan dunia keulamaan.
Di belakang masjid, melewati gerbang sederhana, sebuah komplek makam teduh menyimpan cerita. Di salah satu cungkup, kain putih tipis membalut pagar, payung tua keemasan tergantung—saksi bisu kejayaan masa lalu. Nisan di sana mencatat nama panjangnya, lengkap dengan gelar kehormatan dari negeri jauh: Ridderorden van de Nederlandsche Leeuw.
Tjokronegoro memimpin Ponorogo sejak 1856 hingga 1882 masehi, masa panjang yang diwarnai pembangunan dan stabilitas. Ia adalah keturunan langsung ulama besar Pesantren Tegalsari, Kiai Kasan Besari, sekaligus bangsawan dari garis Surakarta. Pernikahan politiknya dengan putri Tumenggung Jogokaryo II, Bupati Pacitan, menempatkannya di persimpangan kekuatan budaya, agama, dan politik Jawa.

“Beliau itu umaro yang ulama, ulama yang umaro,” ujar Didik Santoso, remaja masjid, sambil menunjuk makamnya. “Tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun harmoni,” tambahnya.
Pembangunan Masjid Agung Ponorogo pada 1858 masehi menjadi penanda kuat kiprahnya. Di tengah guncangan politik dan ekonomi Hindia-Belanda, Tjokronegoro memastikan infrastruktur publik tetap berjalan. Ia juga berhasil meredam ketegangan sosial—sesuatu yang tidak selalu mampu dilakukan para pendahulunya.
Ketegasan dan keberaniannya terlihat saat memimpin operasi penangkapan 22 pemberontak di Patik, Pulung. Peristiwa ini tercatat dalam Babad Ponorogo dan buku Madiun dalam Kemelut Sejarah karya Ong Hok Ham. Dengan bantuan desa perdikan Tegalsari dan Karanggebang, Tjokronegoro menyergap mereka di Makam Dowo. Saat itu, ia sudah pensiun. Namun kharisma dan wibawanya tetap menjadi sandaran masyarakat.
Penghargaan dari pemerintah kolonial datang dalam bentuk Bintang Orde Singa Belanda dan Gouvernement Goud Ster Orde Van Orange-Nassau. Bagi sebagian pemimpin, itu bisa menjadi puncak kebanggaan. Namun bagi Tjokronegoro, pengabdian kepada masyarakat dan warisan yang tertinggal jauh lebih berharga.
Dari garis keturunannya lahir tokoh-tokoh besar: H.O.S. Tjokroaminoto, guru para pendiri bangsa, dan intelektual Soedjatmoko. Semua ini menunjukkan bahwa darah ulama Tegalsari dan darah bangsawan Surakarta yang mengalir dalam dirinya tidak berhenti di satu generasi.

Kini, di setiap adzan yang bergema dari Masjid Agung, seolah ada bisik sejarah yang ikut berkumandang. Tentang seorang pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan bukan sekadar untuk memerintah, melainkan untuk mengabdi. Tentang seorang ulama yang tak meninggalkan dunia, melainkan memanfaatkannya demi kemaslahatan.
Di cungkup sederhana itu, Tjokronegoro beristirahat. Sunyi, namun abadi. Namanya terpatri di masjid yang ia bangun, dan kisahnya menyelinap dalam denyut nadi kota Ponorogo hingga hari ini.
Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo