NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Jejak Sunyi Mbah Fadil Gentan: Tapak Tarekat, Pesulukan, dan Santri-Santri yang Mewarisi

Masjid Genthan, Jejak-jejak Tarekat dan Suluk Naqsyabandiyah Kiai Fadil

NU Online Ponorogo, — Menjelang senja, gang kecil di Dukuh Gentan, Desa Ngrupit, Jenangan, Ponorogo, terasa akrab oleh langkah jamaah. Di belakang sebuah masjid tua—yang oleh orang-orang lama pernah disebut “masjid gentha” karena konon dulu ada bunyi lonceng di malam-malam tertentu—terbentang kompleks makam sederhana. Di sanalah Mbah Fadil (sering juga ditulis Fadhil/Fadilah/Fadhillah), kiai pendiam yang menanam bibit Tarekat Naqsyabandiyah di Ponorogo, diistirahatkan. Dari mushala kecil yang ia dirikan, lahir sebuah tradisi: mengaji, pesulukan, dan kebersahajaan murid-muridnya. Jejak itu kemudian merambat jauh ke Durisawo, ke rumah-rumah warga, ke hati para peziarah yang datang saban pekan.

Nama Mbah Fadil muncul berulang dalam ingatan lisan warga dan catatan akademik. Kajian-kajian tentang Naqsyabandiyah Ponorogo, misalnya, menempatkannya di pucuk silsilah: dari K.H. Fadhil Gentan Ngrupit, bersambung ke K.H. Romli, lalu ke K.H. Abu Dawud Durisawo—mursyid karismatik yang kelak memakmurkan suluk di Nologaten. Rangkaian itu tercatat dalam penelitian tentang khalwat (suluk) Naqsyabandiyah Ponorogo, memperlihatkan bagaimana satu nama sunyi di kampung Gentan berdiri sebagai pangkal sebuah arus tarekat di kota reyog.

Bagi warga setempat, Mbah Fadil bukan hanya “tokoh tarekat”. Ia kakek, guru kampung, sosok yang dari rumah kayunya menuntun orang-orang belajar tartil dan wirid, lalu membaiat yang siap menempuh jalan suluk. Di Gentan, lembaga diniyah yang lahir belakangan diabadikan dengan namanya: Madrasah Diniyah Al-Fadhiliyah—sebuah penanda bahwa pengaruhnya tak berhenti di serambi masjid dan malam-malam khalwat. Arsip kampus dan dokumen kedinasan menyebutkan keberadaan madrasah ini di Gentan, Ngrupit, Jenangan.

Jejak itu, pada gilirannya, mengalir deras ke Durisawo. Di sana, K.H. Abu Dawud—santri sekaligus penerus—merintis Pesantren Durisawo (kelak dikenal sebagai Asy-Syafi’iyah), yang sejak 1924 menjadi salah satu simpul suluk Naqsyabandiyah Kholidiyah. Dokumen Nahdlatul Ulama Ponorogo dan skripsi-arsip akademik mencatat: Abu Dawud diangkat sebagai badal mursyid oleh K.H. Romli dari Gentan, lalu menerima mandat kemursyidan penuh; di tangan beliau, suluk Rajab dan awal Ramadan di masjid Durisawo menjadi tradisi yang dirindukan jamaah. Setelah wafat, estafet keilmuan diteruskan putra-putranya, di antaranya K.H. Dimyati dan K.H. Chozin Dawudi, sementara keluarga besar dan santri menjaga budaya ziarah dan halaqah.

Orang-orang Gentan masih menyebut “Mbah Fadil” dengan kelembutan. Kisah-kisah setempat menuturkan beliau satu generasi—bahkan bersahabat—dengan Mbah Kaji Dullah (Kiai Dullah) dari Pilangrejo, Surodikraman, juga bertali dengan khazanah Tegalsari. Sebagian versi lisan menyebut masa muda belajar ke Tanah Suci dan pergaulan seperguruan dengan Kiai Dullah; catatan ini lebih banyak hadir dalam blog dan pelantar komunitas, bagian dari memori kolektif yang diwariskan dari mulut ke mulut. Sumber-sumber lisan ini menguatkan gambaran ekosistem keulamaan Ponorogo di awal abad ke-20: kiai-kiai kampung yang saling menyambung ilmu, jaringan pesantren kecil, dan tarekat yang pelan-pelan mengakar. (Catatan: aspek “seperguruan di Mekkah” dan persahabatan dengan Kiai Dullah terutama bersandar pada penuturan lokal/penyintas—bukan dokumen primer—karena itu perlu dibaca sebagai tradisi lisan).

Makam Kiai Fadil dan kerabat, di belakang masjid Genthan

Dalam naskah-naskah ringkas yang beredar di kalangan peneliti lokal, Mbah Fadil kerap disebut “Kiai Nur Fadhil”—varian penamaan yang lazim pada tradisi pesantren. Tulisan akademik tentang islamisasi Ponorogo bahkan menyebutnya sebagai mursyid yang “melahirkan” murid pendiri Pesantren Durisawo, yaitu Kiai Abu Dawud, sehingga jalur Gentan–Durisawo menjadi semacam sumbu sejarah untuk memahami bangkitnya tradisi pesulukan di Ponorogo modern.

Rangkaian nama itu bersilang dengan catatan keluarga ulama Ponorogo. Sebuah buku profil “muassis NU Ponorogo” menyebut Gentan Ngrupit—tepatnya Kiai Muhamad Nur Fadhil—sebagai bagian penting dari jejaring kekerabatan ulama daerah. Dari sinilah kita melihat bagaimana tarekat—yang kerap dipandang eksklusif—sebenarnya hidup lewat jejaring keluarga, mantu, dan santri; melalui resepsi sosial yang intim seperti sungkem, ziarah, dan persantunan.

Di Durisawo, hikmah-hikmah itu menjelma rutinitas: khalwat, pembacaan wirid, majelis dzikir, hingga layanan pendidikan formal dari PAUD sampai SMK yang lahir kemudian. Di hari-hari besar, keluarga besar “Bani K.H. Abu Dawud” berhimpun; peziarah menepi di kompleks makam, anak-anak berlarian di teras madrasah. Bagi mereka, Mbah Fadil di Gentan adalah awal yang sunyi sekaligus arah. Tanpa berpidato, ia menanam laku; tanpa prasasti marmer, ia merawat ekosistem ilmu yang kelak mengilhami tokoh-tokoh penting—dari ulama daerah, aktivis NU, hingga para pendidik.

Narasi ini, tentu, menyisakan ruang untuk kerja sejarah yang lebih teliti. Beberapa detail—terutama tahun-tahun awal, jaringan guru di Mekkah, dan relasi personal dengan Kiai Dullah Pilangrejo—masih lebih kuat dalam tradisi lisan dan tulisan komunitas ketimbang dokumen primer. Namun jejaring sumber yang ada sudah cukup mematri gambaran kunci: Gentan Ngrupit adalah salah satu asal aliran air, dan Durisawo adalah sungai yang menghimpunnya. Dari mushala kecil Mbah Fadil, mengalir tarekat, mengalir pendidikan, mengalir ingatan.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *