NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Warok Suromenggolo: Penjaga Moral dan Simbol Magis di Tanah Reyog

Makam Warok Suromenggolo, yang di kompleks Makam Gedong Kertosari

NU Online Ponorogo – Di tanah Ponorogo, sejarah dan legenda kerap menyatu, menorehkan kisah yang hidup dari mulut ke mulut, dari babad ke panggung kesenian rakyat. Di antara tokoh-tokoh yang membentuk wajah awal Kadipaten Ponorogo, nama Warok Suromenggolo berdiri sebagai figur penuh warna—seorang sakti mandraguna, alim, sekaligus penjaga moralitas di tengah pusaran politik dan intrik keluarga bangsawan.

Suromenggolo, atau yang dalam babad disebut sebagai Suryolono, adalah putra Ki Ageng Kutu, penguasa Wengker yang pernah berhadapan langsung dengan Bathoro Katong. Ironisnya, sejarah justru membawanya ke pangkuan lawan sang ayah. Sang adik, Surohandoko, diangkat menjadi Demang di Surukubeng, menggantikan posisi ayahnya. Sementara kakaknya, Niken Gandini, dipersunting Bathoro Katong sebagai istri. Dari jalur perkawinan politik inilah Suryolono, yang kelak lebih dikenal sebagai Warok Suromenggolo, masuk ke lingkaran dalam kekuasaan Ponorogo.

Meski berangkat dari garis keluarga yang berseberangan, Bathoro Katong justru mempercayakan Suromenggolo posisi penting: pengawal pribadi sekaligus Demang di Kertosari. Kepercayaan ini bukan tanpa alasan. Suromenggolo dikenal bukan hanya kuat dalam olah kanuragan, tetapi juga taat dalam laku spiritual. Dalam banyak tutur, ia disebut sebagai warok yang menjaga keseimbangan antara kekuatan jasmani dan keteguhan batin.

Makam Warok Suromenggolo bersebalahan dengan makam Putri Sri Kuning, dan Putri Kumbini yang sedang direhab diberi cungkup.

Kesetiaan Suromenggolo diuji ketika Bathoro Katong wafat. Kadipaten Ponorogo diguncang fitnah dan intrik, salah satunya menyangkut Putri Sri Kuning, istri Bathoro Katong yang masih muda. Suromenggolo kerap menjadi tempat curahan hati sang putri. Ia menempatkan diri bukan sekadar sebagai abdi, melainkan sebagai penjaga warisan moral Bathoro Katong. Di tengah isu asmara yang beredar antara Putri Kuning dengan keluarga dalam istana, Suromenggolo tampil sebagai saksi sekaligus penegak kebenaran. Keberaniannya mengungkap fakta—lengkap dengan bukti cincin dan upah rahasia—menjadikannya sosok yang disegani, bahkan setelah sang adipati tiada.

Namun Suromenggolo tidak hanya hidup di lingkaran politik. Kisah-kisah rakyat menggambarkannya sebagai tokoh yang penuh daya mistik. Kesaktiannya sering dikaitkan dengan “kolor sakti”, pusaka yang membuatnya hampir tak terkalahkan dalam pertarungan. Cerita tentang perseteruannya dengan Surohandoko, adiknya sendiri, juga menjadi bagian dari kisah turun-temurun yang masih diceritakan dalam teater rakyat dan kidung babad.

Seperti banyak tokoh besar yang dilingkupi aura legenda, keberadaan makam Suromenggolo pun masih menjadi perdebatan. Ada yang meyakini jasadnya bersemayam di Gedong Kertosari, bersebelahan dengan makam Putri Sri Kuning, Siti Kumbini, dan Mbah Ponorogo. Ada pula yang menunjuk Astana Srandil, di sisi kiri kompleks makam utama, meski hanya berupa bongkahan bata tua yang dibiarkan sunyi. Sebagian lagi menunjuk Ampel Balong atau sebuah bukit di dekat kantor kecamatan Sooko, bahkan hingga kawasan Trenggalek. Bagi masyarakat Ponorogo, perbedaan lokasi ini justru menambah aura mistis sang warok: seolah-olah ia memang tidak pernah benar-benar pergi.

Namanya diabadikan menjadi sebuah jalan, Jl. Suromenggolo menuju Stadion Bathoro Katong Ponorogo

Kini, nama Suromenggolo tetap hidup di Ponorogo. Sebuah jalan di selatan Stadion Bathoro Katong diabadikan dengan namanya, menjadi penanda betapa besar jasa dan pengaruhnya bagi tanah kelahiran reyog. Lebih dari sekadar tokoh legenda, Suromenggolo adalah simbol: seorang warok yang tidak hanya sakti, tetapi juga setia dan teguh menjaga laku hidup.

Di sela riuh gamelan dan hentakan dadak merak dalam setiap pementasan reyog, bayang-bayang Suromenggolo seperti hadir kembali. Ia bukan sekadar sosok masa lalu, melainkan semangat abadi tentang kesetiaan, keberanian, dan kebijaksanaan yang tetap relevan di tanah Ponorogo hari ini.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *