NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Jejak Abadi di Bedi: Kisah KH. Ibrahim al-Ghozali dan Mushaf yang Menyatu dengan Waktu

Masjid Bedi Polorejo, peninggalan Kiai Ibrahim al-Gozali yang lestari

NU Online Ponorogo, — Di Bedi, Polorejo, Babadan, matahari pagi jatuh miring di jalan setapak yang membelah hamparan sawah. Embun mulai menguap, meninggalkan bau tanah basah yang khas. Di ujung jalan itu, berdiri Masjid Ibrahim al-Ghozali, bangunan sederhana bercat putih, seolah berdiri sebagai penjaga waktu. Tepat di belakang masjid, di bawah naungan pohon kamboja dan rindang pepohonan pisang, terletak pusara seorang alim desa yang namanya tak pernah benar-benar pudar: KH. Ibrahim al-Ghozali.

Pusara itu dikelilingi pagar besi hitam dengan hiasan berwarna emas, kontras dengan tembok pembatas berwarna pucat yang membentang di belakangnya. Di dalam pagar, tanah pusara tampak terawat rapi. Nisannya terbuat dari batu tua, permukaannya sedikit berlumut, menandakan usia panjang yang telah dilewatinya. Tidak berlebihan, tidak pula megah; hanya batu yang berdiri sebagai penanda kesunyian, sementara penanda modern berwarna emas di atasnya memuat nama dan tahun wafat: 1 Desember 1917.

Suasana di sekitar makam begitu hening. Angin yang berembus dari rumpun bambu di sisi selatan membawa desiran yang samar, seolah mengaji pelan bersama doa-doa yang tak pernah berhenti dibisikkan di tempat ini. Setiap langkah yang mendekati pusara melambat, suara percakapan menurun menjadi bisikan. Tempat ini bukan sekadar kuburan; ia adalah ruang perenungan, tempat waktu seakan berhenti, menyisakan keheningan yang dalam.

Riwayat keluarga dan catatan lisan warga menuturkan bahwa di halaman masjid yang menghadap pusara inilah, Kiai Ibrahim menghabiskan malam-malam panjangnya. Dengan penerangan lampu minyak, ia menyalin mushaf Al-Qur’an dengan pena lidi aren dan tinta racikan sendiri, menuliskan ayat demi ayat dengan ketelitian yang nyaris tak tersaingi. Di tepi halaman mushaf, ia menambahkan catatan qira’at, membuka wawasan santri-santrinya tentang ragam bacaan yang hidup di dunia Islam.

Salah satu kisah yang tetap hidup dalam ingatan warga adalah tentang mushaf yang ditukar dengan dua ekor sapi. Konon, seorang keluarga santri yang merasa berhutang budi atas mushaf indah salinan tangan Kiai Ibrahim, menghadiahi beliau dua ekor sapi sebagai ungkapan terima kasih. “Bukan karena beliau meminta,” demikian tutur cerita yang diwariskan turun-temurun, “tetapi karena di masa itu mushaf bukan hanya kitab, melainkan kemewahan.” Hadiah itu diterima dengan rendah hati, lalu sapi-sapi itu dipelihara untuk kebutuhan bersama di lingkungan masjid dan pesantren.

Kini, mushaf-mushaf itu masih tersimpan di rumah keturunan beliau, rapi dalam kotak kayu tua yang mulai lapuk dimakan usia. Sejumlah peneliti yang menelusuri manuskrip kuno Nusantara menempatkannya sebagai salah satu artefak penting. Tulisan naskah yang bersih, ornamen floral Jawa yang halus, dan catatan pinggir tentang qira’at menjadikannya bukti ketekunan seorang ulama desa yang menulis dengan sepenuh jiwa.

Awal abad ke-20, masjid dan pesantren di Bedi bukan hanya tempat mengaji, melainkan pusat kehidupan desa. Santri dari Yogyakarta, Jombang, hingga Banyuwangi menetap di rumah-rumah warga, membantu mengolah sawah pada siang hari, lalu mengaji saat malam. Suasana malam itu masih dikenang: denting kentongan memanggil waktu belajar, cahaya lampu minyak menerangi papan tulis, dan suara tilawah merambat pelan ke jalan-jalan kecil di sekitarnya.

Makam Kiai Ibrahim al-Gozali, di Belakang Masjid Bedi Polorejo Babadan Ponorogo

Kiai Ibrahim al-Ghozali lahir dari garis keturunan panjang ulama pesisir dan pedalaman Jawa. Catatan nasab keluarga menyebut ia adalah putra Kiai Imam Ghozali Cokromenggalan, seorang alim yang membangun pengajian di kawasan Gabah Sinawur, Ponorogo, pada awal abad ke-19. Garis nasabnya bersambung ke Kiai Nawawi Majasem, kemudian ke Kiai Nuruddin, hingga ke Khatib Anom Karangbret di Tulungagung, dan Kiai Anom Besari di Caruban, Madiun. Dari situ, silsilahnya mengalir hingga ke Panembahan Giri, Prabu Satmata atau Sasmito, figur sentral penyebaran Islam di tanah Jawa.

Kini, lebih dari seratus tahun kemudian, suasana Bedi tetap terasa seperti masa lalu, meski dunia di sekitarnya berubah. Masjid Ibrahim al-Ghozali tetap sederhana, serambi kayunya masih menjadi tempat anak-anak mengaji setiap sore. Di halaman belakang, pusara berpagar besi itu berdiri sebagai saksi bahwa kesalehan bisa bertahan tanpa sorotan kemewahan.

Menjelang Ramadan, halaman kecil ini selalu ramai. Warga dan keturunan Bani Ghozali datang dari berbagai kota: Surabaya, Malang, Jakarta, bahkan luar Jawa. Mereka membawa bunga, membaca doa, membersihkan pusara, lalu duduk melingkar di teras masjid sambil mengulang cerita lama. Ziarah itu bukan hanya ritual, tetapi ruang untuk mengikat kembali kenangan tentang seorang ulama desa yang mengajarkan bahwa dakwah sejati tumbuh pelan—seperti tinta yang mengalir, baris demi baris, membentuk mushaf yang abadi.

Dari pusara dengan nisan batu tua ini, ketenangan Bedi seolah memanggil siapa saja yang datang untuk berhenti sejenak, mendengar pesan sederhana: bahwa pengabdian yang lahir dari kesabaran dan ketulusan akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup, melintasi ruang dan waktu.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *