NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern*

Khutbah berjudul “Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern” mengajak jamaah untuk menata hidup secara proporsional di tengah arus zaman yang serba cepat, kompetitif, dan penuh tuntutan. Islam mengajarkan bahwa kemajuan dunia tidak boleh mematikan kesadaran akhirat, sebagaimana ibadah tidak boleh membuat kita abai terhadap tanggung jawab sosial. Melalui nilai tawassuṭ, tawāzun, dan i‘tidāl, khutbah ini menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara kerja dan ibadah, kebutuhan jasmani dan ruhani, kepentingan pribadi dan kemaslahatan bersama. Dengan keseimbangan itu, seorang Muslim dapat hadir sebagai pribadi yang produktif, rendah hati, berakhlak, dan tetap dekat kepada Allah di tengah kehidupan modern.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَحْشُرُنَا فِي الْمَحْشَرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْجَبَّارُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Ma’asyirol Muslimin rohimakumulloh.

Marilah kita sama-sama menyempurnakan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan meningkatkan kesempurnaan ibadah dan ketaatan kita kepada semua perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Semoga kita dapat melaksanakan hal ini hingga akhir hayat kita, tetap teguh dalam iman dan Islam.

Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.

Neraca dan pertimbangan agama Islam yang mengajarkan untuk bersikap adil dalam memandang kepentingan dunia dan akhirat, telah diabaikan dan dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. Hal ini telah menyebabkan kepentingan dunia dan akhirat menjadi tidak seimbang dan tidak adil.

Propaganda materialisme telah muncul di depan kita dan mempengaruhi sebagian besar umat Islam. Hal ini telah mengacaukan neraca nilai-nilai mereka. Banyak dari mereka yang lebih mementingkan urusan duniawi dari pada kepentingan agama. Sayangnya, pola pikir dan usaha mereka telah dipengaruhi oleh hal-hal materialistis.

Padahal, urusan kepentingan agama hanya terlintas sekilas dalam pikiran mereka, dan berlalu begitu saja dengan cepat seperti kilat dan angin. Tidak ada perhatian yang serius, tidak ada tujuan hidup yang jelas lagi.

Dengan demikian, jelaslah bahwa usaha syetan telah berhasil mempengaruhi sebagian pemeluk agama sehingga mereka menjadi acuh tak acuh terhadap urusan agama, dan kemudian memalingkan perhatian mereka kepada urusan-urusan duniawi.

Bahaya seperti itu sangatlah dikhawatirkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya. Bahaya tersebut adalah pengaruh duniawi, karena dengan pengaruh itu, manusia menjadi rebutan dalam mencari duniawi, bahkan dengan cara yang dilarang oleh agama Islam. Akhirnya, semua kepentingan menjadi terabaikan dan disia-siakan.

Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.

Nabi bersabda:

ابْشِرُوا وَامِلُوا مَا يَسْتُرُكُمْ فَوَاللَّهُ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا  ( رواه البخاري ومسلم) كَمَا تَنَا فَسُوهَا ، فَهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Artinya: Berbahagialah kalian semua dan berharaplah apa yang membuat kalian senang. Demi Allah, aku tidak takut pada kemiskinan, aku takut jika dunia ini dihamparkan di depanku, seperti yang pernah dihamparkan kepada orang-orang sebelumku, maka mereka akan berebut-rebutan untuk mendapatkannya. Seperti mereka yang berebut-rebutan, maka dunia ini akan merusak mereka, seperti halnya dunia merusak mereka.

Dari hadits diatas peringatan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya tentang ujian di dunia.

Kemiskinan dan kemelaratan tidaklah menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hal merusak iman dan keyakinan umatnya. Namun, yang sangat dikhawatirkan oleh Beliau adalah jika umatnya telah terpengaruh oleh kesenangan duniawi, dengan kemewahan dan kekayaan yang melimpah, sehingga mereka saling berebut untuk memperolehnya, bahkan dengan melanggar hukum-hukum agama, dan dengan merugikan serta menyakiti sesama.

Bahkan ada yang rela menjatuhkan atau merugikan saudaranya sendiri, hanya karena pengaruh duniawi.

Demikianlah akhirnya tipuan duniawi jika telah mempengaruhi pemeluk agama. Mereka saling bermusuhan, saling iri dengki, dan tidak lagi peduli dengan batas-batas hukum Allah Ta’ala. Mereka tidak membedakan lagi antara yang halal dan yang haram, semuanya diinjak-injak, dianggap sama, asalkan mereka sendiri mendapatkan dunia dan kesenangan.

Nabi bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ فَإِذْ ذَاكَ لأَنجَابُ لَهُمْ دَعْوَةٌ . (رواه الناري والتعالى)

Artinya: akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi membedakan antara yang halal dan yang haram, semua yang mereka dapatkan akan dianggap sama, baik itu hasil yang halal maupun yang haram. Pada saat itu, amal ibadah mereka tidak akan diterima (tidak akan dihargai).

Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.

Hadits tersebut merupakan berita tentang umatnya, bahwa pada suatu waktu nanti akan ada suatu masa di mana manusia sudah tidak lagi memperhatikan hukum-hukum agama, dan tidak lagi membedakan antara yang halal dan yang haram, karena mereka terlalu sibuk mencari kekayaan dan kesenangan duniawi.

Berita yang telah disampaikan tersebut telah terbukti dan nyata kebenarannya, dan sekarang sudah bisa dilihat bukti kenyataannya di zaman sekarang.

Dengan demikian, orang-orang yang tidak memperdulikan hukum-hukum agama dan tidak membedakan antara yang halal dan yang haram dalam mencari kekayaan, maka mereka akan kehilangan berkah dalam hidupnya. Bahkan doa mereka tidak akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Kehilangan berkah dalam hidup ini dapat dilihat dari umur yang telah berlalu, bahkan puluhan tahun tidak memberikan manfaat bagi orang lain setelah mereka meninggal. Bahkan seekor gajah yang mati masih meninggalkan gading yang masih bermanfaat bagi manusia. Sapi dan kambing masih meninggalkan kulit dan tulang yang masih bisa digunakan manusia untuk kebutuhan hidupnya.

Bahkan burung Cenderawasih dan burung Merak masih bisa meninggalkan bulu-bulu mereka yang masih bisa dimanfaatkan oleh manusia, seperti dijadikan hiasan. Namun, manusia yang telah kehilangan berkah dalam hidupnya, meskipun telah hidup puluhan tahun, akan meninggalkan kehidupan ini tanpa meninggalkan bekas-bekas kesalehan atau manfaat bagi orang lain.

Demikian pula amal-amal mereka tidak akan mendapatkan berkah, karena sepanjang gerak-gerik, tutur kata, dan tindakan mereka selalu sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, yaitu perkara-perkara yang haram. Sehingga, amal-amal mereka dibenci oleh Allah Ta’ala dan akhirnya menjadi sia-sia tanpa ada kesalehan di dalamnya.

Harta benda yang banyak juga tidak akan mendapatkan berkah, karena digunakan untuk memuaskan kesenangan duniawi dan dihambur-hamburkan di tempat-tempat yang haram dan terlarang. Bahkan dapat menimbulkan rasa bangga dan sombong. Akan tetapi jika digunakan untuk mendukung amal saleh dan kemaslahatan umum, terutama untuk kepentingan agama, maka barulah seseorang itu menjadi orang yang beruntung dan berbahagia.

Jika sudah seperti itu, maka Allah Ta’ala pasti akan murka kepada orang yang memiliki harta seperti itu, dan akan mengancamnya dengan api neraka. Karena, orang yang mengutamakan kepentingan duniawi daripada kepentingan agama, maka akan kehilangan seluruh berkah dalam hidupnya.

Oleh karena itu, wahai saudara-saudara kaum Muslimin, Marilah kita semua bersama-sama berhati-hati dalam menghadapi kehidupan di zaman sekarang, terutama dalam menghadapi pengaruh dan ujian duniawi yang dapat merusak dan menyesatkan kita dari agama kita yang suci. Semoga kita semua sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa lebih mengutamakan kepentingan agama daripada kepentingan lainnya.

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita semua dari fitnah dan ujian kebendaan, agar kita dapat hidup dengan mencari keridhaan-Nya. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

اعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يُغْرَتَكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ، (فاطر:٥)

Artinya: Hai manusia! Janji Allah Ta’ala pasti benar, karena itu janganlah kamu semua terperdaya oleh tipu daya penghuni dunia dan janganlah kamu yang berakal dan bijak ditipu oleh orang-orang yang licik tentang kebenaran Allah Ta’ala.

جَعَلْنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِينَ الْأَمِنِينَ . وَأَدْخَلْنَا وَإِيَّاكُم فى عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرُ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

 

Khutbah II

الْحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَسَاجِدَ لِلْمُسْلِمِينَ . بَمَثَابَةِ الْمَعَاهِدِ وَالْأَنْدِيَةِ والمُعَسْكَرَاتِ وَالْمَيَادِينِ ، وَجَعَلَ الجُمَعَ وَالْجَمَاعَاتِ مِنَ اعْظَمِ شَعَائِرِ الدِّينِ. نَحْمَدُهُ تَعَالَى وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . وَمَالِكُ يَوْمِ الدِّينِ . وَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ عَلَيْهِ نَعْتَمِدُ وَإِلَيْهِ نَسْتَنِدُهُ وَإِيَّاهُ نَعْبُدُ وَبِهِ تَعَالَى نَسْتَعِينَ . وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيْدَنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيْدُ المُرْسَلِينَ . وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ . وَقَائِدُ الغُر المُحَجَلِينَ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ . اللَّهُمَّ فَصَلَ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الهَادِي إِلى الصِّرَاطِ المستقيم. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمُ بِإِحْسَانٍ في جَمِيعِ التَّعَالِيهِ . صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ ، أَفْضَلُ صَلَاةٍ وَتَسْلِيمٍ

امَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمُهُ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ . وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيهِ قَدِيمًا ، وَأَمَرَكُمْ بذلك إِرْشَادًا وَتَعْلِيمًا. فَقَالَ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا . إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا …

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ . وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراحمين

اللَّهُمَّ اغْفِرُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ منهم والأمواتِ، وَضَعَفْ لَهُمُ الحَسَنَاتِ ، وَكَفِّرْ عَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَارْزُقُهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ . إِنَّكَ سَمِيع قريب مجيب الدَّعَوَاتِ . يَا قَاضِي الحَاجَاتِ . يا كَاشِفَ الْمُهُمَاتِ ، وَيَا دَافِعَ البَلِيَّاتِ اللَّهُمَّ أَعِنَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ. وَأَهْلِكِ الكَفَرَة وَالظَّالِمِينَ . اللَّهُمَّ انْصُرُ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسلِمِينَ . وَاغْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا اندو نَيْسِيَا بَلْدَةً أَمَنَةً مُطْمَئِنَّةً . تَجْرِى فِيهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُولِكَ. يا حي يا قيومُ يَا اللَّهُ كُلِّ شَيْءٍ . هُذَا حَالَنَا يَا اللَّهُ لَا يَخْفَى عَلَيْكَ.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَا البَلَاء وَالغَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالحَنَ . مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هُنَا خَاتَمَةٌ، وَمِنْ بُلْدَانِ المُسلِمِينَ عَامَةُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَبِالْإِجَابَةِ جَدِينَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلَا يَجْعَلُ فِي قُلُوبِنَا عَلَا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .

عِبَادَ اللَّهِ ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ، يَعِظُكُرُهُ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

اذْكُرُوا العَظِيمَ يُذكركُمْ ، وَاشْكُرُوا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْ كُرُهُ ، وَاسْأَلُوا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيكُمُهُ وَلَذِكْرُ اللَّهِ اكْبَرُ .

*Asvin Abdur Rohman, Rektor Insuri Ponorogo.

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *