<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kategori Khutbah Jumat - NU PONOROGO</title>
	<atom:link href="https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat/</link>
	<description>Official Website PCNU Ponorogo</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Aug 2026 02:22:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2020/09/cropped-favi-nu-ponorogo-32x32.png</url>
	<title>Kategori Khutbah Jumat - NU PONOROGO</title>
	<link>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kemerdekaan adalah Amanah: Mensyukuri Nikmat dengan Menjaga Tanggung Jawab*</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/kemerdekaan-adalah-amanah-mensyukuri-nikmat-dengan-menjaga-tanggung-jawab/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/kemerdekaan-adalah-amanah-mensyukuri-nikmat-dengan-menjaga-tanggung-jawab/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 02:04:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8892</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemerdekaan merupakan nikmat besar dari Allah yang tidak cukup... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/kemerdekaan-adalah-amanah-mensyukuri-nikmat-dengan-menjaga-tanggung-jawab/">Kemerdekaan adalah Amanah: Mensyukuri Nikmat dengan Menjaga Tanggung Jawab*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemerdekaan merupakan nikmat besar dari Allah yang tidak cukup disyukuri melalui perayaan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab. Syukur atas kemerdekaan tampak dalam kejujuran, kesungguhan bekerja, pendidikan keluarga, kepedulian sosial, serta penggunaan kebebasan secara bermartabat. Setiap orang memikul amanah sesuai kedudukannya, termasuk dalam menjaga lisan dan menyebarkan informasi di media sosial. Kemerdekaan akan tetap bermakna apabila diisi dengan keadilan, persaudaraan, dan pengabdian bagi kebaikan bersama.</p>
<h2>Khutbah Pertama</h2>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَ الْأَمَانَةَ مِنْ دَلَائِلِ صِدْقِ الْإِيْمَانِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p>Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,</p>
<p>Memasuki bulan Agustus, suasana kemerdekaan kembali terasa di sekitar kita. Bendera merah putih berkibar di depan rumah. Kampung-kampung dihias. Upacara, perlombaan, doa bersama, dan berbagai kegiatan sosial diselenggarakan. Semua itu merupakan cara yang baik untuk mengenang perjuangan para pendahulu dan menumbuhkan kecintaan kepada tanah air.</p>
<p>Namun, di tengah kemeriahan tersebut, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan: apakah kemerdekaan cukup disyukuri dengan perayaan, ataukah harus pula dibuktikan dengan tanggung jawab?</p>
<p>Merayakan kemerdekaan adalah sesuatu yang baik. Akan tetapi, menjaga nilai dan mengisi kemerdekaan jauh lebih penting. Kemerdekaan bukan hanya peristiwa sejarah yang dikenang setiap tahun. Kemerdekaan adalah ruang untuk beribadah, bekerja, mencari ilmu, membangun kehidupan, dan mewujudkan kebaikan bersama.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Kemerdekaan merupakan salah satu nikmat besar yang patut kita syukuri. Dengan kemerdekaan, kita dapat beribadah dengan tenang, mendidik keluarga, mengembangkan ilmu dan kebudayaan, serta hidup bersama di tengah masyarakat yang beragam.</p>
<p>Namun, kemerdekaan hanya akan menjadi nikmat yang sempurna apabila digunakan untuk membangun kemaslahatan. Sebaliknya, kemerdekaan dapat kehilangan makna apabila diisi dengan kezaliman, keserakahan, kebohongan, dan permusuhan.</p>
<p>Allah Swt. berfirman dalam Surah Ibrāhīm ayat 7:</p>
<p style="text-align: right">وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ</p>
<p>Artinya:</p>
<p><em>“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Akan tetapi, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’”</em></p>
<p>Ayat ini mengajarkan bahwa setiap nikmat menuntut syukur. Namun, syukur bukan sekadar mengucapkan <em>alhamdulillah</em>. Syukur berarti menyadari bahwa nikmat berasal dari Allah, lalu menggunakan nikmat itu untuk kebaikan.</p>
<p>Karena itu, mensyukuri kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera, mengikuti upacara, atau menyelenggarakan perayaan. Semua itu penting, tetapi harus dilanjutkan dengan syukur yang nyata.</p>
<p>Mensyukuri kemerdekaan berarti menggunakan kebebasan untuk beribadah dengan lebih baik, mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, mendidik keluarga dengan penuh tanggung jawab, menolong yang lemah, serta merawat persaudaraan.</p>
<p>Syukur yang berhenti pada ucapan akan mudah menguap. Adapun syukur yang berubah menjadi tindakan akan melahirkan kebaikan. Sebab, syukur yang sejati selalu melahirkan tanggung jawab.</p>
<p>Jamaah yang dirahmati Allah,</p>
<p>Setiap nikmat pada hakikatnya juga merupakan amanah. Harta adalah nikmat, tetapi sekaligus amanah. Ilmu adalah nikmat, tetapi sekaligus amanah. Jabatan adalah nikmat, tetapi sekaligus amanah. Demikian pula kemerdekaan. Ia adalah nikmat dan amanah yang harus kita jaga dan kita wariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.</p>
<p>Allah Swt. berfirman dalam Surah al-Anfāl ayat 27:</p>
<p style="text-align: right">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ</p>
<p>Artinya:</p>
<p><em>“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.”</em></p>
<p>Ayat ini menghubungkan keimanan dengan kesetiaan dalam menjaga amanah. Orang beriman tidak cukup hanya mengucapkan syahadat dan menjalankan ibadah ritual. Keimanan juga harus tampak dalam kejujuran, tanggung jawab, dan kesediaan menjaga hak orang lain.</p>
<p>Amanah mencakup segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia: keluarga, pekerjaan, ilmu, harta, waktu, pelayanan, jabatan, janji, dan hak sesama.</p>
<p>Karena itu, amanah tidak hanya menjadi urusan para pemimpin. Pemimpin memang memikul tanggung jawab yang besar, tetapi setiap orang mempunyai amanah sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya.</p>
<p>Para pendahulu telah berjuang agar bangsa ini terbebas dari penjajahan. Tugas kita sekarang adalah menjaga agar kemerdekaan tidak dirusak dari dalam oleh kebohongan, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengabaian terhadap hak sesama.</p>
<p>Sebuah bangsa tidak hanya dijaga oleh kekuatan negara, tetapi juga oleh kejujuran dan tanggung jawab warganya.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Pengkhianatan terhadap amanah tidak selalu dimulai dari perkara besar. Sering kali, ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dianggap biasa.</p>
<p>Seseorang menerima tugas, tetapi mengerjakannya dengan asal-asalan. Seseorang menerima upah, tetapi mengabaikan kewajibannya. Seorang pedagang mencari keuntungan dengan menyembunyikan kekurangan barang. Seseorang berjanji, tetapi dengan mudah mengingkarinya.</p>
<p>Dalam keluarga, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya. Mereka juga memikul amanah untuk menanamkan iman, akhlak, dan tanggung jawab. Orang yang diberi ilmu juga berkewajiban menjadikan ilmunya bermanfaat dan menghadirkan keteladanan dalam kehidupan.</p>
<p>Pada zaman media sosial, amanah juga berkaitan dengan kata-kata dan informasi.</p>
<p>Tidak semua yang kita terima harus kita sebarkan. Tidak semua yang kita pikirkan harus kita tuliskan. Kebebasan berbicara bukanlah kebebasan untuk memfitnah, menghina, atau merusak kehormatan orang lain.</p>
<p>Jari-jari yang menekan tombol kirim juga akan dimintai pertanggungjawaban. Sebuah kabar yang tidak benar dapat menimbulkan permusuhan. Sebuah tuduhan yang tidak berdasar dapat menghancurkan kehormatan seseorang.</p>
<p>Karena itu, kemerdekaan tidak berarti kita bebas berkata dan bertindak tanpa batas. Kemerdekaan harus selalu disertai tanggung jawab.</p>
<p>Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim:</p>
<p style="text-align: right">أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</p>
<p>Artinya:</p>
<p><em>“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemelihara dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipeliharanya.”</em></p>
<p>Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab manusia memang berbeda-beda, tetapi tidak seorang pun hidup tanpa amanah.</p>
<p>Pemimpin bertanggung jawab menghadirkan keadilan dan tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Orang berilmu bertanggung jawab atas ilmu dan keteladanannya. Pedagang dan pekerja bertanggung jawab atas kejujuran serta tugas yang dipercayakan kepadanya. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan iman dan akhlak keluarga. Generasi muda bertanggung jawab menggunakan kebebasan untuk belajar, berkarya, dan memberi manfaat.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Marilah pada hari yang mulia ini kita bermuhasabah. Tidak perlu terlebih dahulu melihat kesalahan orang lain. Marilah kita mulai dari diri sendiri. Apakah kita telah menjaga amanah di dalam keluarga? Apakah pekerjaan dan harta yang dipercayakan kepada kita telah kita jalankan dengan jujur? Apakah kebebasan berbicara kita gunakan untuk menyampaikan kebaikan, atau justru untuk menyebarkan kebencian?</p>
<p>Jangan sampai kita merayakan kemerdekaan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru mengkhianati kepercayaan, mengambil hak sesama, merusak persaudaraan, dan mengabaikan tanggung jawab.</p>
<p>Jangan sampai kita menginginkan bangsa yang bersih dan adil, tetapi masih membiasakan kebohongan dan ketidakadilan dalam urusan yang paling dekat dengan kehidupan kita.</p>
<p>Karena itu, marilah kita mensyukuri kemerdekaan melalui langkah-langkah yang nyata. Jagalah amanah dalam keluarga, pekerjaan, waktu, janji, ilmu, dan hak orang lain. Jagalah persaudaraan dengan menahan lisan, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, tidak mudah menghina, dan tidak memperuncing perbedaan.</p>
<p>Hadirkanlah manfaat melalui pekerjaan yang jujur, kepedulian kepada tetangga, dukungan terhadap pendidikan, penjagaan lingkungan, dan keterlibatan dalam kehidupan masyarakat.</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, kuat memegang amanah, adil dalam bertindak, tulus dalam mengabdi, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan seluruh umat manusia.</p>
<p style="text-align: right">بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p>
<hr />
<h2>Khutbah Kedua</h2>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ  اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا، وَلِمَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَلِعُلَمَائِنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا وَعَلَّمُوْنَا وَأَرْشَدُوْنَا إِلَى طَرِيْقِ الْخَيْرِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا وَأَعْمَالِنَا. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، رَخَاءً سَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَجَنِّبْنَا الْفِتَنَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ وَلِّ أُمُوْرَنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ أُمُوْرَنَا شِرَارَنَا. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ قَادَتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِلْعَدْلِ وَالْحِكْمَةِ وَالْأَمَانَةِ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِرَعِيَّتِهِمْ، وَأَعِنْهُمْ عَلَى مَا فِيْهِ صَلَاحُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ احْفَظْ عُلَمَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَبَارِكْ فِيْ عِلْمِهِمْ وَعَمَلِهِمْ، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْفِتَنَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْأَخْلَاقِ، وَالظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ وَالتَّفَرُّقَ وَالْخِصَامَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَارْحَمِ الْمَنْكُوْبِيْنَ وَالْمُهَجَّرِيْنَ وَالْمُبْتَلِيْنَ، وَارْفَعِ الظُّلْمَ وَالْحَرْبَ وَالْعُدْوَانَ عَنْ عِبَادِكَ أَجْمَعِيْنَ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.</p>
<p style="text-align: right">عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>*Dr. Abid Rohmanu, M.H.I., Wadek I Fakultas Syariah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.</em></p>
<p><!-- notionvc: d5a29bc1-444d-4e84-b27c-8ff7d71f4b07 --></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/kemerdekaan-adalah-amanah-mensyukuri-nikmat-dengan-menjaga-tanggung-jawab/">Kemerdekaan adalah Amanah: Mensyukuri Nikmat dengan Menjaga Tanggung Jawab*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/kemerdekaan-adalah-amanah-mensyukuri-nikmat-dengan-menjaga-tanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Khutbah Bahasa Jawa: Muharram lan Krisis Kamanungsan Global: Umat Islam Sampun Ngantos Kélangan Empati*</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/khutbah-bahasa-jawa-muharram-lan-krisis-kamanungsan-global-umat-islam-sampun-ngantos-kelangan-empati/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/khutbah-bahasa-jawa-muharram-lan-krisis-kamanungsan-global-umat-islam-sampun-ngantos-kelangan-empati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 02:34:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[global]]></category>
		<category><![CDATA[kamanungsan]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8832</guid>

					<description><![CDATA[<p>Khutbah berbahasa Jawa ini mengajak melakukan refleksi terhadap situasi... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/khutbah-bahasa-jawa-muharram-lan-krisis-kamanungsan-global-umat-islam-sampun-ngantos-kelangan-empati/">Khutbah Bahasa Jawa: Muharram lan Krisis Kamanungsan Global: Umat Islam Sampun Ngantos Kélangan Empati*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Khutbah berbahasa Jawa ini mengajak melakukan refleksi terhadap situasi kemanusiaan global dengan memanfaatkan momentum Muharram yang penuh dengan pelajaran dan hikmah.</p>
<h4>Khutbah Kapisan:</h4>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ مَدْرَسَةً لِلْإِيْمَانِ وَالصَّبْرِ وَالتَّقْوَى، وَجَعَلَ فِيْ قِصَّةِ إِبْرَاهِيْمَ وَأَهْلِهِ عِبْرَةً لِأُولِي الْأَلْبَابِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَشْكُرُهُ عَلَى جَمِيْعِ نِعَمِهِ، وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ</p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.</strong></p>
<p>Sumangga kula lan panjenengan sedaya tansah ningkataken takwa dhumateng Allah Subhanahu wa Ta’ala, kanthi nindakaken sedaya dhawuh-dhawuhipun, nebihi sedaya awisanipun, ngresiki manah saking raos angkuh, lan nguripaken raos welas asih dhateng sesami.</p>
<p>Takwa punika boten namung kawedal wonten ing lisan. Takwa kedah katingal wonten ing lampah. Takwa kedah katingal wonten ing ibadah, ing akhlak, ing cara kita ngendika, ing cara kita nyambut damel, lan ugi ing cara kita migatosaken kasangsaranipun tiyang sanes.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat ingkang dipunrahmati Allah.</strong></p>
<p>Samenika kita wonten ing wulan Muharram, salah satunggaling wulan ingkang dipunmulyaaken dening Allah. Muharram dados pangeling dhateng hijrah Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, hijrah saking Makkah dhateng Madinah, hijrah saking penindasan tumuju kamardikan, hijrah saking rasa ajrih tumuju pangajeng-ajeng, lan hijrah saking masyarakat ingkang kebak permusuhan tumuju masyarakat ingkang kebak paseduluran.</p>
<p>Empati punika raos saged melu ngraosaken sangsaranipun tiyang sanes. Nalika wonten tiyang keluwen, manah kita boten atos. Nalika wonten tiyang dados korban perang, manah kita boten meneng tanpa doa. Nalika wonten bocah-bocah dados pengungsi, tiyang sepuh kelangan griya, kulawarga pisah saking sedherekipun, umat Islam kedah gadhah raos welas asih.</p>
<p>Amargi Islam punika agama rahmat. Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ dipunutus boten kangge ndadosaken jagad tambah peteng, nanging kangge paring pepadhang. Allah Subhanahu wa Ta’ala ngendika:</p>
<p style="text-align: right"><strong>وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</strong></p>
<p>Tegesipun:</p>
<p>“Lan ora ngutus ingsun ing siro Muhammad, kejobo minangka rahmat kangge sedaya alam.” <strong>QS. Al-Anbiya’: 107.</strong></p>
<p>Ayat punika ngelingaken dhateng kita bilih umatipun Kanjeng Nabi ﷺ kedah dados umat ingkang nggawa rahmat. Sanes umat ingkang remen nyakiti. Sanes umat ingkang gampil sengit. Sanes umat ingkang atose manah nalika mireng kasangsaranipun tiyang sanes.</p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.</strong></p>
<p>Ing wekdal samenika, wonten kathah tiyang ing jagad ingkang nandhang ujian awrat. Wonten ingkang dados korban perang. Wonten ingkang kelangan griya. Wonten ingkang keluwen. Wonten ingkang kesah saking tanah kelairanipun amargi boten aman. Wonten bocah-bocah ingkang kedah gesang wonten ing papan pengungsian. Wonten ibu-ibu ingkang kedah nglindhungi putra-putrinipun wonten ing tengah kahanan ingkang angel.</p>
<p>Kita saged maos kabar punika saben dinten. Saged ningali gambaripun wonten ing media sosial. Nanging ing ngriki wonten bebaya ageng: amargi asring sanget ningali kasangsaran, manah kita saged dados biasa. Mripat ningali, nanging manah boten obah. Kuping mireng, nanging raos welas asih boten tangi. Driji nyekel gawai, nanging lisan boten nyuwunaken doa.</p>
<p>Puniki ingkang kedah dipunwaspadai. Umat Islam boten pareng kélangan empati. Umat Islam boten pareng dados tiyang ingkang manahipun atos. Amargi Kanjeng Nabi ﷺ paring piwulang bilih sinten kemawon ingkang boten welas dhateng sesami, piyambakipun boten pikantuk welas asih.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat ingkang minulya.</strong></p>
<p>Muharram ngelingaken kita dhateng hijrah. Nanging hijrah boten namung pindhah papan. Hijrah ugi kedah dados owahing manah. Ing tema dinten punika, paling boten wonten tigang bentuk hijrah ingkang kedah kita tindakaken.</p>
<p><strong>Sepisan, hijrah saking ati ingkang atos tumuju ati ingkang welas asih.</strong></p>
<p>Ati ingkang atos punika ati ingkang boten kroso nalika ningali tiyang sanes nandhang sangsara. Ati ingkang atos namung mikir awak piyambak, kulawarga piyambak, lan kepentingan piyambak. Nanging ati tiyang mukmin kedah langkung wiyar. Tiyang mukmin boten namung mikir wetengipun piyambak, nanging ugi mikir sedherekipun ingkang dereng saged nedha. Tiyang mukmin boten namung mikir griyanipun piyambak, nanging ugi eling dhateng sedherek ingkang boten kagungan papan pangayoman.</p>
<p>Empati punika wiwitanipun saking manah. Saking manah lajeng dados doa. Saking doa lajeng dados sedekah. Saking sedekah lajeng dados pitulungan. Saking pitulungan lajeng dados gerakan kabecikan.</p>
<p><strong>Kaping kalih, hijrah saking penonton tumuju pelaku kabecikan.</strong></p>
<p>Kadhangkala kita namung dados penonton. Ningali kabar sedih, lajeng ngendika: “Inggih, kasihan.” Nanging sampun cekap ing ngriku. Padahal iman ngajak kita supados tumindak. Menawi boten saged maringi kathah, maringi sakedhik. Menawi boten saged rawuh langsung, saged ndedonga. Menawi boten saged ngrampungaken masalah ageng, saged mbiyantu masalah cilik wonten sak kiwa tengen kita.</p>
<p>Sebab krisis kamanungsan boten namung wonten ing papan ingkang tebih. Wonten ing sak kiwa tengen kita ugi wonten tiyang ingkang mbetahaken. Wonten tanggi ingkang sakit. Wonten anak yatim ingkang kedah dipunopeni. Wonten fakir miskin ingkang kedah dipunrencangi. Wonten tiyang sepuh ingkang kesepian. Wonten sedherek ingkang angel ekonomi. Wonten keluarga ingkang kedah dipunparingi pangayoman.</p>
<p>Mila, empati global kedah dipunwiwiti saking kepedulian lokal. Kita ndedonga kangge sedherek ingkang nandhang krisis wonten ing jagad, nanging kita ugi kedah mbukak mripat dhateng sedherek ingkang wonten celak kaliyan kita.</p>
<p><strong>Kaping tiga, hijrah saking permusuhan tumuju paseduluran kamanungsan.</strong></p>
<p>Krisis kamanungsan kathah lahir saking perang, keserakahan, adu domba, lan ilangipun rasa ngajeni martabat manungsa. Mula umat Islam kedah dados tiyang ingkang njagi perdamaian. Wonten ing griya, umat Islam kedah njagi katentreman. Wonten ing masyarakat, umat Islam kedah ngrukunaken. Wonten ing media sosial, umat Islam kedah boten nyebar fitnah, boten nyebar ujaran sengit, lan boten nambah kobaring permusuhan.</p>
<p>Ukhuwah Islamiyah ngajari kita tresna dhateng sesama muslim. Ukhuwah wathaniyah ngajari kita njagi paseduluran minangka warga bangsa. Ukhuwah basyariyah ngajari kita ngajeni saben manungsa minangka titahipun Allah.</p>
<p>Menawi wonten tiyang ingkang nandhang sangsara, pitakenan ingkang kedah medal saking manah kita boten namung: “Piyambakipun kelompok pundi?” Nanging: “Menapa ingkang saged kula tindakaken minangka sesama titahipun Allah?”</p>
<p><strong>Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.</strong></p>
<p>Wulan Muharram ugi nggadhahi piwulang babagan nyantuni tiyang ingkang ringkih. Wonten tradisi ing tengah masyarakat kita kangge ngurmati lan nyantuni anak yatim wonten ing wulan Muharram. Tradisi punika sae, awit nguripaken welas asih, ngiyataken paseduluran, lan ngelingaken bilih iman kedah mbuahi amal sosial.</p>
<p>Nanging kedah kita emut, nyantuni anak yatim boten namung seremoni. Anak yatim boten namung dipunparingi amplop sepisan lajeng dipuntilar. Ingkang langkung ageng inggih punika ngopeni masa depanipun, ngreksa pendhidhikanipun, maringi pangayoman, lan ndadosaken piyambakipun boten ngraos piyambakan.</p>
<p>Makaten ugi tumrap fakir miskin, korban bencana, tiyang sakit, lan sedaya kelompok ingkang ringkih. Umat Islam kedah rawuh minangka pangayoman. Amargi agama punika boten namung bab hubungan kita kaliyan Allah, nanging ugi hubungan kita kaliyan sesami.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat ingkang dipunrahmati Allah.</strong></p>
<p>Sumangga ing wulan Muharram punika kita ndandosi manah. Sampun ngantos manah kita atos. Sampun ngantos kita biasa kaliyan kasangsaran. Sampun ngantos gawai kita kebak kabar sedih, nanging doa kita sepi. Sampun ngantos kita remen rembugan politik lan prakawis donya, nanging lali ndedonga kangge sedherek-sedherek ingkang nandhang krisis.</p>
<p>Sumangga kita dados umat ingkang rahmah. Menawi saged sedekah, sumangga sedekah. Menawi saged mbiyantu, sumangga mbiyantu. Menawi saged nyambung paseduluran, sumangga dipunsambung. Menawi boten saged sanesipun, sampun nilaraken doa.</p>
<p>Mugi-mugi Allah Subhanahu wa Ta’ala paring manah ingkang lembut dhateng kita sedaya. Mugi Allah ndadosaken kita umat ingkang boten kélangan empati. Mugi Allah paring pitulungan dhateng sedaya tiyang ingkang nandhang sangsara, maringi tentrem dhateng papan-papan ingkang kebak konflik, maringi pangayoman dhateng para pengungsi, maringi pangan dhateng ingkang keluwen, lan maringi kekiyatan dhateng sedaya tiyang ingkang dipunparingi ujian.</p>
<p style="text-align: right">بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّا كُمْ بِااْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ وَقُلْ رَبِّ اْغفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّحِمِيْنَ.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Khutbah Kapindo:</p>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.</p>
<p style="text-align: right">أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَكُمْ أَمْرًا عَمِيْمًا ،  فَقَالَ جَلَّ جَلاَلُهُ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ،  اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ ،  وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ،  وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .</p>
<p style="text-align: right">اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الرُّحَمَاءِ، الَّذِينَ يَرْحَمُونَ عِبَادَكَ، وَيُعِينُونَ الضُّعَفَاءَ وَالْمُحْتَاجِينَ. اَللَّهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ أَطْعِمْ جَائِعَهُمْ، وَاكْسُ عَارِيَهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ، وَاشْفِ مَرِيضَهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَفَرِّجْ هَمَّهُمْ، وَاكْشِفْ كَرْبَهُمْ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمَظْلُومِينَ، وَاحْفَظِ الْأَبْرِيَاءَ، وَاحْقِنِ الدِّمَاءَ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ الْبَيْنِ، وَانْشُرِ الْأَمْنَ وَالسَّلَامَ فِي بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ وَفِي الْعَالَمِينَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هٰذَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً لِعِبَادِكَ، وَسَبِيلًا لِإِقَامَةِ الْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ. اَللَّهُمَّ ارْحَمِ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِينَ، وَالْيَتَامَى وَالْأَرَامِلَ، وَالْمَرْضَى وَالْمُحْتَاجِينَ، وَاجْعَلْ لَنَا نَصِيبًا مِنْ خِدْمَتِهِمْ وَالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمْ. اَللَّهُمَّ ارْحَمْ آبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَمَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِينَا، وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا، وَمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَاقْضِ حَوَائِجَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاكْشِفْ كُرُوبَنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.</p>
<p style="text-align: right">عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.</p>
<p>*Dr. Ahmad Junaidi, M.H.I.: Dosen Fasya UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/khutbah-bahasa-jawa-muharram-lan-krisis-kamanungsan-global-umat-islam-sampun-ngantos-kelangan-empati/">Khutbah Bahasa Jawa: Muharram lan Krisis Kamanungsan Global: Umat Islam Sampun Ngantos Kélangan Empati*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/khutbah-bahasa-jawa-muharram-lan-krisis-kamanungsan-global-umat-islam-sampun-ngantos-kelangan-empati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Tahlil Menuju Kesadaran Hidup yang Fana</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/dari-tahlil-menuju-kesadaran-hidup-yang-fana/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/dari-tahlil-menuju-kesadaran-hidup-yang-fana/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 03:28:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran hidup]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[tahlil]]></category>
		<category><![CDATA[tahlilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8827</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahlil bukan sekadar tradisi, melainkan majelis dzikir yang menghidupkan... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/dari-tahlil-menuju-kesadaran-hidup-yang-fana/">Dari Tahlil Menuju Kesadaran Hidup yang Fana</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahlil bukan sekadar tradisi, melainkan majelis dzikir yang menghidupkan ingatan kepada Allah, doa untuk para pendahulu, serta kesadaran bahwa hidup manusia bersifat sementara. Dalam tradisi Aswaja an-Nahdliyah, tahlil juga menjadi ruang ukhuwah, adab, dan solidaritas sosial yang perlu dirawat dengan keikhlasan dan kesederhanaan.</p>
<p><strong>Khutbah Pertama</strong></p>
<h4 style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذِكْرِهِ، وَفَتَحَ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِهِ، وَجَعَلَ الدُّعَاءَ صِلَةً بَيْنَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا ۝ وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا</h4>
<p>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</p>
<p>Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah swt. Takwa yang tidak berhenti pada ucapan, tetapi tampak dalam akhlak. Takwa yang menjaga lisan dari menyakiti, hati dari kesombongan, tangan dari mengambil hak orang lain, dan hidup dari kelalaian kepada Allah.</p>
<p>Jamaah Jumat rahimakumullah,</p>
<p>Di tengah masyarakat kita, ada satu amaliyah yang sangat dekat dengan kehidupan umat Islam Nusantara, terutama warga Nahdliyin, yaitu tahlil atau tahlilan. Ketika ada saudara wafat, tetangga datang. Keluarga berkumpul. Ayat Al-Qur’an dibaca. Kalimat thayyibah dilantunkan. Shalawat dikumandangkan. Doa dipanjatkan. Keluarga yang berduka dikuatkan.</p>
<p>Tradisi tahlilan ini bahkan hadir, tidak hanya di rumah duka dan masjid, tetapi juga diselipkan dalam berbagai forum dan kegiatan sosial.</p>
<p>Namun karena terlalu sering dilakukan, tahlil kadang hanya dipahami sebagai kebiasaan sosial. Seolah-olah ia sekadar “acara kematian”. Seolah-olah ia hanya warisan orang tua dan kebiasaan. Bentuknya masih dijaga, tetapi ruhnya perlahan bisa terlupakan.</p>
<p>Karena itu, khutbah ini ingin menegaskan satu pesan utama: tahlil bukan sekadar tradisi, tetapi majelis dzikir, doa, solidaritas, dan pendidikan kefanaan hidup. Di dalam tahlil, kita belajar mengingat Allah, mendoakan sesama, menguatkan keluarga yang berduka, dan menyadari bahwa hidup kita pun suatu saat akan kembali kepada-Nya.</p>
<p>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p style="text-align: right">يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا ۝ وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا</p>
<p>Artinya: “<em>Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”</em> (Al-Ahzab: 41-42)</p>
<p>Ayat di atas memerintahkan orang beriman untuk banyak berdzikir kepada Allah. Dzikir bukan hanya gerak lisan, tetapi kesadaran hati bahwa hidup berada dalam genggaman Allah. Ketika kita membaca <em>lā ilāha illallāh</em>, kita sedang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada yang abadi selain Allah, dan tidak ada tempat bergantung yang sejati selain Allah.</p>
<p>Inilah inti tahlil. Ia adalah pengakuan tauhid. Ia adalah latihan merendahkan diri di hadapan Allah. Kalimat <em>lā ilāha illallāh</em> meruntuhkan kesombongan manusia. Pangkat, harta, gelar, jabatan, dan pujian menjadi kecil. Yang besar hanyalah Allah. Yang kekal hanyalah Allah. Yang menentukan akhir hidup kita hanyalah Allah.</p>
<p>Maka ketika tahlil dibaca, yang diingatkan adalah kita semua yang berzikir. Hari ini kita datang untuk mendoakan saudara kita. Esok atau lusa, kitalah yang akan didoakan. Hari ini kita duduk di rumah duka. Suatu saat orang lain akan duduk di rumah kita. Hari ini lisan kita membaca tahlil untuk orang lain. Semoga kelak ada anak, keluarga, tetangga, dan sahabat yang ikhlas mendoakan kita. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: right">كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ</p>
<p>Artinya: “<em>Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.</em>”</p>
<p>Ayat ini pendek, tetapi mengguncang kesadaran. Kematian bukan untuk menakut-nakuti manusia agar putus asa. Kematian mengingatkan manusia agar lebih serius menjalani hidup. Orang yang ingat mati seharusnya menjadi lebih rendah hati, lebih mudah memaafkan, lebih rajin beramal, lebih berhati-hati dalam mencari rezeki, dan lebih lembut kepada sesama.</p>
<p>Jamaah Jumat rahimakumullah,</p>
<p>Dalam tahlil, kita juga belajar tentang doa. Islam mengajarkan bahwa hubungan orang beriman tidak putus karena kematian. Kehidupan dunia memang selesai, tetapi kasih sayang, doa, dan kebaikan tetap dapat tersambung. Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p style="text-align: right">إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ</p>
<p>Artinya: “<em>Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.</em>”</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa doa orang yang hidup untuk orang yang wafat merupakan bagian dari kebaikan yang terus tersambung. Maka ketika kita hadir dalam majelis tahlil, jangan kita pahami sekadar memenuhi undangan. Kita sedang belajar menjadi anak yang saleh, saudara yang baik, tetangga yang peduli, dan masyarakat yang tidak mudah melupakan jasa orang yang telah mendahului kita.</p>
<p>Di sinilah keindahan akhlak Islam. Islam tidak mendidik kita menjadi manusia yang cepat lupa. Orang tua yang membesarkan kita, guru yang mengajari kita, ulama yang membimbing kita, tetangga yang pernah menolong kita, semuanya layak kita kenang dalam doa. Mendoakan mereka bukan berarti berlebihan. Justru doa adalah adab orang beriman: mengakui bahwa hidup kita ditopang oleh mata rantai kebaikan banyak orang.</p>
<p>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</p>
<p>Dalam tradisi Aswaja an-Nahdliyah, tahlil juga mengandung nilai sosial yang kuat. Ketika ada keluarga berduka, masyarakat datang bukan hanya membawa bacaan, tetapi juga membawa “kehadiran”. Orang yang sedang kehilangan sering kali tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia butuh ditemani dan butuh kehadiran orang lain. Ia butuh merasa bahwa ia tidak sendirian.</p>
<p>Di sinilah tahlil menjadi ruang ukhuwah. Persaudaraan tidak hanya diucapkan. Persaudaraan tampak ketika kita hadir di saat saudara kita susah. Persaudaraan tampak ketika kita membantu tanpa diminta. Persaudaraan tampak ketika kita mendoakan orang lain dengan tulus, bukan hanya ketika kita membutuhkan mereka.</p>
<p>Karena itu, tahlil perlu dirawat dengan adab dan kesederhanaan. Majelis dzikir hendaknya tetap menjadi ruang doa, ketenangan, dan penguatan batin, bukan berubah menjadi beban sosial bagi keluarga yang sedang berduka. Sebab ruh tahlil bukan terletak pada jamuan, ramainya acara, atau tampilan lahiriahnya, melainkan pada keikhlasan hati, kekhusyukan doa, dan kepedulian kita kepada sesama.</p>
<p>Jamaah Jumat rahimakumullah,</p>
<p>Para ulama mengajarkan bahwa amaliyah keagamaan tidak hanya dilihat dari bentuk luarnya, tetapi juga dari isi dan tujuannya. Dalam tahlil ada dzikir kepada Allah, bacaan Al-Qur’an, shalawat kepada Nabi, doa untuk kaum muslimin, silaturahim, sedekah, dan penguatan keluarga yang berduka. Semua itu adalah kebaikan yang patut dirawat.</p>
<p>Namun yang harus terus kita perbaiki adalah niat dan kualitas hati. Jangan sampai lisan membaca <em>lā ilāha illallāh</em>, tetapi hati masih dikuasai iri, dengki, dan kesombongan. Jangan sampai kita sering hadir dalam majelis doa, tetapi berat mendoakan kebaikan bagi orang yang berbeda dengan kita. Jangan sampai kita rajin membaca kalimat tauhid, tetapi hidup kita masih diperbudak harta, jabatan, dan pujian manusia.</p>
<p>Kalimat tahlil harus mengubah cara kita memandang dunia. Jika lā ilāha illallāh benar-benar masuk ke hati, kita tidak mudah sombong ketika berhasil. Tidak mudah putus asa ketika gagal. Tidak mudah merendahkan orang lain. Tidak mudah lupa bahwa semua yang kita miliki hanya titipan.</p>
<p>Tahlil adalah pendidikan kefanaan. Ia mengingatkan bahwa rumah yang ramai suatu saat akan sepi. Tubuh yang kuat suatu saat akan lemah. Nama yang dikenal suatu saat akan dilupakan. Tetapi amal yang ikhlas, ilmu yang bermanfaat, sedekah yang mengalir, anak yang saleh, dan doa orang-orang beriman akan tetap menjadi cahaya.</p>
<p>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</p>
<p>Marilah kita rawat tahlil dengan cara yang lebih bermakna. luruskan niat, hadirkan hati dalam bacaan. jadikan tahlil sebagai pengingat kita. Semoga Allah menjadikan lisan kita basah dengan dzikir, hati kita hidup dengan tauhid, keluarga kita dipenuhi doa, dan masyarakat kita dikuatkan dengan ukhuwah. Semoga Allah mengampuni orang tua kita, guru-guru kita, para ulama kita, dan saudara-saudara kita yang telah wafat. Semoga kelak kita dipanggil Allah dalam keadaan husnul khatimah.</p>
<p style="text-align: right">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p>
<p><strong>Khutbah Kedua</strong></p>
<h4 style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.</h4>
<h4 style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَلِمَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلِمَنْ سَبَقَنَا بِالْإِيْمَانِ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ، وَنَوِّرْ قُبُوْرَهُمْ، وَوَسِّعْ مَدَاخِلَهُمْ، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُمْ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ كَثِيْرًا، وَمِنَ الدَّاعِيْنَ لِإِخْوَانِهِمْ بِصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ.</h4>
<h4 style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَحْسِنْ أَخْلَاقَنَا، وَاجْمَعْ كَلِمَتَنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ رُعَاةً لِلْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْمَصْلَحَةِ.</h4>
<h4 style="text-align: right">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.</h4>
<h4 style="text-align: right">عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.</h4>
<p>&nbsp;</p>
<p>*Abid Rohmanu: Aswaja Center dan Ketua YPP Al-Jawahiriyyah Campurejo Sambit Ponorogo.</p>
<p><!-- notionvc: 4cb4b02f-429b-4684-b5b2-07562e214284 --></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/dari-tahlil-menuju-kesadaran-hidup-yang-fana/">Dari Tahlil Menuju Kesadaran Hidup yang Fana</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/dari-tahlil-menuju-kesadaran-hidup-yang-fana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Nabi Musa: Beriman di Tengah Jalan Buntu*</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2026 08:59:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[10 Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[aswaja]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[ikhtiar]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8778</guid>

					<description><![CDATA[<p>Momentum 10 Muharram mengingatkan kita pada kisah Nabi Musa... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/">Belajar dari Nabi Musa: Beriman di Tengah Jalan Buntu*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="qMYqUG_convSearchResultHighlightRoot">
<div class="" data-turn-id-container="request-6a3a62ea-f984-83ec-9123-c9d1f72725ff-2" data-is-intersecting="true">
<section class="text-token-text-primary w-full focus:outline-none has-data-writing-block:pointer-events-none [&amp;:has([data-writing-block])&gt;*]:pointer-events-auto R6Vx5W_threadScrollVars scroll-mb-[calc(var(--scroll-root-safe-area-inset-bottom,0px)+var(--thread-response-height))] scroll-mt-[calc(var(--header-height)+min(200px,max(70px,20svh)))]" dir="auto" data-turn-id="request-6a3a62ea-f984-83ec-9123-c9d1f72725ff-2" data-turn-id-container="request-6a3a62ea-f984-83ec-9123-c9d1f72725ff-2" data-testid="conversation-turn-14" data-turn="assistant">
<div class="text-base my-auto mx-auto pb-10 [--thread-content-margin:var(--thread-content-margin-xs,calc(var(--spacing)*4))] @w-sm/main:[--thread-content-margin:var(--thread-content-margin-sm,calc(var(--spacing)*6))] @w-lg/main:[--thread-content-margin:var(--thread-content-margin-lg,calc(var(--spacing)*16))] px-(--thread-content-margin)">
<div class="[--thread-content-max-width:40rem] @w-lg/main:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 group/turn-messages focus-visible:outline-hidden relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn" data-conversation-screenshot-content="">
<div class="flex max-w-full flex-col gap-4 grow">
<div class="min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal outline-none keyboard-focused:focus-ring [.text-message+&amp;]:mt-1" dir="auto" data-message-author-role="assistant" data-message-id="61fa5096-c4c9-5de2-87df-3b6be5bcc89b" data-turn-start-message="true">
<div class="flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden">
<div class="markdown prose dark:prose-invert wrap-break-word w-full dark markdown-new-styling">
<p class="PDq2pG_selectionAnchorContainer" data-start="0" data-end="363" data-is-last-node="" data-is-only-node="">Momentum 10 Muharram mengingatkan kita pada kisah Nabi Musa a.s. ketika berada di jalan buntu: di depan terbentang laut, di belakang dikejar bala tentara Fir‘aun. Dari peristiwa ini, khutbah mengajak jamaah meneguhkan iman, menjaga ikhtiar, dan tidak menyerah pada keputusasaan.</p>
<p class="PDq2pG_selectionAnchorContainer" data-start="0" data-end="363" data-is-last-node="" data-is-only-node=""><strong>Khutbah Pertama</strong></p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</section>
</div>
</div>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِيْ قَصَصِ الْأَنْبِيَاءِ عِبْرَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ۝ قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Pada momentum 10 Muharram, hari ‘Āsyūrā, kita mengingat satu peristiwa besar dalam sejarah, yakni diselamatkannya Nabi Musa a.s. dan kaumnya dari kejaran Fir‘aun. Sejarah ini dibadikan dalam Surat Al-Syu’ara: 61-62.</p>
<p style="text-align: right">فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ۝ قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ</p>
<p>Artinya: “<em>Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’</em>”</p>
<p>Kisah ini bukan sekadar cerita lama. Ia berbicara langsung kepada kehidupan kita hari ini: kepada keluarga yang sedang menanggung beban, kepada pekerja yang cemas dengan penghasilan, kepada orang tua yang memikirkan masa depan anak, kepada orang sakit yang menunggu kesembuhan, kepada siapa pun yang pernah merasa hidupnya berada dalam jalan buntu.</p>
<p>Jalan buntu itu nyata. Dalam hidup, ada saat ketika usaha terasa tidak cukup, doa terasa belum terjawab, dan nasihat orang lain tidak segera meringankan beban. Di depan seperti ada laut. Di belakang seperti ada kejaran masalah. Pada saat seperti inilah kisah Nabi Musa memberi pelajaran: iman tidak selalu membuat masalah langsung hilang, tetapi iman menjaga manusia agar tidak runtuh, tidak tumbang sebelum pertolongan Allah datang.</p>
<p>Inilah pesan utama khutbah kali ini untuk kita semua. Jalan buntu dalam pandangan manusia belum tentu menjadi akhir dalam ketetapan Allah. Orang beriman tidak menutup mata terhadap masalah, tetapi ia juga tidak menyerahkan hatinya kepada keputusasaan. Ia melihat kenyataan dengan jernih, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan tetap menggantungkan hasil kepada Allah.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Dalam hadits shahih Muslim yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra, disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Āsyūrā. Hadis menyebutkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right">قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللهُ فِيهِ مُوسَى، وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Rasulullah saw hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa di bulan ‘Asyura, kemudian mereka ditanya tentang puasanya tersebut, mereka menjawab: &#8220;Hari ini adalah hari di mana Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa as dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa.&#8221; Kemudian Nabi bersabda: &#8220;Kami lebih utama dengan Nabi Musa dibanding dengan kalian.&#8221; Lalu Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpuasa di hari Asyura</em>.&#8221; (HR. Muslim no. 1130).</p>
<p>Lalu Rasulullah saw. berpuasa pada hari itu dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa. Maka puasa ‘Āsyūrā bukan hanya ibadah pribadi untuk mencari pahala. Ia juga cara kita merawat ingatan iman, ia mengandung pembelajaran penting: bahwa Allah menolong hamba-Nya, bahwa kezaliman tidak kekal, dan bahwa manusia tidak boleh kehilangan harapan di hadapan kesulitan.</p>
<p>Ayat yang kita baca tadi menggambarkan keadaan yang sangat genting. Bani Israil melihat pasukan Fir‘aun mendekat. Mereka panik dan berkata: <strong>إِنَّا لَمُدْرَكُونَ</strong> — “<em>Kita pasti akan tersusul.</em>” Secara manusiawi, ucapan itu bisa dipahami. Mereka lelah, takut, dan tidak melihat jalan keluar. Tetapi Nabi Musa menjawab dengan kalimat yang pendek dan kuat: <strong>كَلَّا، إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ</strong> — “<em>Tidak. Tuhanku bersamaku.</em> Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”</p>
<p>Perbedaannya terletak pada cara melihat. Para pengikut Nabi Musa melihat ancaman yang semakin mendekat. Nabi Musa juga melihat ancaman itu, tetapi hatinya tidak berhenti di situ. Ia melihat Allah Yang Maha Menolong. Mereka berkata, “<em>Kita selesai.</em>” Sementara Nabi Musa berkata, “<em>Allah akan memberi petunjuk</em>.” Mereka melihat jalan tertutup. Nabi Musa yakin bahwa Allah mampu membuka jalan yang belum tampak oleh mata manusia.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Iman seperti inilah yang kita perlukan dalam kehidupan masyarakat hari ini. Banyak orang bukan tidak bekerja, tetapi hasilnya belum cukup. Banyak keluarga bukan tidak berusaha rukun, tetapi ujian datang bertubi-tubi. Banyak anak muda bukan tidak ingin maju, tetapi kesempatan terasa sempit. Banyak orang menanggung masalah dalam diam karena malu, takut disalahkan, atau tidak tahu harus bercerita kepada siapa.</p>
<p>Di tengah keadaan seperti itu, agama tidak boleh hadir hanya sebagai kata-kata yang jauh dari kenyataan. Agama harus menjadi kekuatan yang menenangkan hati, meluruskan ikhtiar, dan menggerakkan kepedulian. Masjid, majelis, keluarga, dan masyarakat harus menjadi ruang yang membuat orang merasa ditopang, bukan dihakimi; dikuatkan, bukan ditambah bebannya.</p>
<p>Namun keyakinan kepada pertolongan Allah tidak berarti kita boleh pasif. Nabi Musa tidak hanya berkata, <em>“Allah bersamaku</em>,” lalu berhenti. Ketika Allah memerintahkan agar tongkat dipukulkan ke laut, Nabi Musa melaksanakannya. Maka terbukalah jalan yang sebelumnya tidak terlihat.</p>
<p>Di sinilah makna tawakal yang benar. Tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan rendah hati, lalu menerima ketentuan Allah tanpa kehilangan adab. Doa tidak menggantikan usaha. Usaha juga tidak boleh membuat kita merasa tidak membutuhkan Allah. Keduanya harus berjalan bersama.</p>
<p>Inilah sikap beragama yang seimbang. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, kita diajarkan <em>tawāzun</em>: menjaga keseimbangan antara ikhtiar dan doa; <em>tawassuṭ</em>: tidak berlebihan dalam rasa takut atau rasa percaya diri; <em>i‘tidāl</em>: tetap tegak dalam kebenaran; dan tasāmuḥ: menjaga akhlak serta persaudaraan. Nilai-nilai ini penting, sebab orang yang sedang tertekan mudah sekali tergelincir: mudah marah, mudah menyalahkan, mudah mengambil jalan pintas, bahkan mudah menzalimi orang lain.</p>
<p>Karena itu, iman harus tampak dalam akhlak. Orang yang sedang sulit tetap harus jujur. Orang yang punya kuasa tetap harus adil. Orang yang kecewa tetap harus menjaga lisan. Orang yang merasa benar tetap harus rendah hati. Kesulitan hidup tidak boleh menjadi alasan untuk menipu, menyakiti keluarga, merampas hak orang lain, atau merusak persaudaraan.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Kisah Nabi Musa juga mengingatkan kita tentang bahaya watak Fir‘aun. Fir‘aun bukan hanya nama seorang penguasa zalim pada masa lalu. Fir‘aun adalah lambang kesombongan, penindasan, dan perasaan paling berhak mengatur hidup orang lain. Watak itu bisa muncul di mana saja: di rumah, di tempat kerja, di pasar, di lembaga, bahkan di dalam diri kita sendiri.</p>
<p>Watak Fir‘aun muncul ketika seseorang merasa boleh merendahkan orang lain karena punya jabatan. Ia muncul ketika hak pekerja diabaikan. Ia muncul ketika orang miskin dipersulit, sementara orang kuat dimudahkan. Ia muncul ketika orang tua keras tanpa kasih sayang, ketika pemimpin menutup telinga dari nasihat, ketika tetangga tidak peduli pada tetangga yang kelaparan, ketika lisan kita melukai tetapi kita merasa biasa saja.</p>
<p>Maka memperingati ‘Āsyūrā tidak cukup dengan mengingat bahwa Fir‘aun pernah tenggelam. Yang lebih penting adalah memastikan sifat Fir‘aun tidak hidup dalam diri kita. Jangan sampai kita mengutuk kezaliman dalam sejarah, tetapi membiarkan kezaliman kecil tumbuh dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan hati kita sendiri.</p>
<p>Sebaliknya, kita belajar dari Nabi Musa: berani menghadapi kezaliman, tetapi tetap bersandar kepada Allah; tegas memegang prinsip, tetapi tidak kehilangan akhlak; membela yang lemah, tetapi tidak menebar kebencian. Inilah agama yang membawa maslahat: menguatkan tauhid, membentuk budi pekerti, menjaga persaudaraan, dan membuat kehidupan bersama menjadi lebih adil.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Di sekitar kita, selalu ada orang yang sedang berada di tepi “laut” kehidupannya. Ada yang dikejar utang. Ada yang dikejar kecemasan. Ada yang dikejar konflik keluarga. Ada yang dikejar biaya pendidikan. Ada yang dikejar rasa sepi dan putus asa. Kita mungkin tidak mampu membelah laut seperti mukjizat Nabi Musa. Tetapi kita bisa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah bagi orang lain.</p>
<p>Pertolongan itu tidak selalu besar. Kadang berupa bantuan uang semampunya. Kadang berupa pekerjaan yang kita bukakan. Kadang berupa nasihat yang tidak menggurui. Kadang berupa telinga yang mau mendengar. Kadang berupa doa yang tulus. Kadang cukup dengan tidak menambah beban orang yang sudah berat hidupnya.</p>
<p>Karena itu, momentum 10 Muharram hendaknya melahirkan empat amal. Pertama, memperkuat hubungan dengan Allah melalui puasa, doa, istighfar, dan shalat yang lebih dijaga. Kedua, menghadapi masalah dengan ikhtiar yang halal, terukur, dan sabar. Ketiga, membersihkan diri dari sifat Fir‘aun: sombong, zalim, keras hati, dan meremehkan orang lemah. Keempat, menjadi penolong bagi orang lain yang sedang berada dalam kesempitan.</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang kuat imannya, jernih pikirannya, lembut hatinya, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah membukakan jalan keluar dari setiap kesempitan, memberi petunjuk dalam setiap kebingungan, dan menjaga kita dari putus asa serta kezaliman.</p>
<p style="text-align: right">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p>
<p><strong>Khutbah Kedua</strong></p>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ، وَمِنْ أَوْلِيَائِكَ الصَّالِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَارْزُقْنَا مِنْ حَيْثُ لَا نَحْتَسِبُ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ رُعَاةً لِلْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْمَصْلَحَةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا، لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.</p>
<p style="text-align: right">عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.</p>
<p><!-- notionvc: a140bd4e-5f62-4099-ad37-ea4cf33ef74a -->*Abid Rohmanu (Pengurus Aswaja Center dan Wakil Dekan I Fasya UIN Kiai Ageng Muhammad Besari)</p>
<p><!-- notionvc: b17b7c12-e503-416a-a0f8-aca5a284f02c --></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/">Belajar dari Nabi Musa: Beriman di Tengah Jalan Buntu*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 00:36:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keseimbangan]]></category>
		<category><![CDATA[modern]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8725</guid>

					<description><![CDATA[<p>Khutbah berjudul “Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern” mengajak jamaah... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/">Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Khutbah berjudul <strong data-start="17" data-end="68">“Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern”</strong> mengajak jamaah untuk menata hidup secara proporsional di tengah arus zaman yang serba cepat, kompetitif, dan penuh tuntutan. Islam mengajarkan bahwa kemajuan dunia tidak boleh mematikan kesadaran akhirat, sebagaimana ibadah tidak boleh membuat kita abai terhadap tanggung jawab sosial. Melalui nilai <em data-start="370" data-end="380">tawassuṭ</em>, <em data-start="382" data-end="391">tawāzun</em>, dan <em data-start="397" data-end="406">i‘tidāl</em>, khutbah ini menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara kerja dan ibadah, kebutuhan jasmani dan ruhani, kepentingan pribadi dan kemaslahatan bersama. Dengan keseimbangan itu, seorang Muslim dapat hadir sebagai pribadi yang produktif, rendah hati, berakhlak, dan tetap dekat kepada Allah di tengah kehidupan modern.</p>
<p>Khutbah I</p>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَحْشُرُنَا فِي الْمَحْشَرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْجَبَّارُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ</p>
<p>Ma’asyirol Muslimin rohimakumulloh.</p>
<p>Marilah kita sama-sama menyempurnakan ketakwaan kita kepada Allah Ta&#8217;ala dengan meningkatkan kesempurnaan ibadah dan ketaatan kita kepada semua perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Semoga kita dapat melaksanakan hal ini hingga akhir hayat kita, tetap teguh dalam iman dan Islam.</p>
<p>Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Neraca dan pertimbangan agama Islam yang mengajarkan untuk bersikap adil dalam memandang kepentingan dunia dan akhirat, telah diabaikan dan dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. Hal ini telah menyebabkan kepentingan dunia dan akhirat menjadi tidak seimbang dan tidak adil.</p>
<p>Propaganda materialisme telah muncul di depan kita dan mempengaruhi sebagian besar umat Islam. Hal ini telah mengacaukan neraca nilai-nilai mereka. Banyak dari mereka yang lebih mementingkan urusan duniawi dari pada kepentingan agama. Sayangnya, pola pikir dan usaha mereka telah dipengaruhi oleh hal-hal materialistis.</p>
<p>Padahal, urusan kepentingan agama hanya terlintas sekilas dalam pikiran mereka, dan berlalu begitu saja dengan cepat seperti kilat dan angin. Tidak ada perhatian yang serius, tidak ada tujuan hidup yang jelas lagi.</p>
<p>Dengan demikian, jelaslah bahwa usaha syetan telah berhasil mempengaruhi sebagian pemeluk agama sehingga mereka menjadi acuh tak acuh terhadap urusan agama, dan kemudian memalingkan perhatian mereka kepada urusan-urusan duniawi.</p>
<p>Bahaya seperti itu sangatlah dikhawatirkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya. Bahaya tersebut adalah pengaruh duniawi, karena dengan pengaruh itu, manusia menjadi rebutan dalam mencari duniawi, bahkan dengan cara yang dilarang oleh agama Islam. Akhirnya, semua kepentingan menjadi terabaikan dan disia-siakan.</p>
<p>Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Nabi bersabda:</p>
<p style="text-align: right">ابْشِرُوا وَامِلُوا مَا يَسْتُرُكُمْ فَوَاللَّهُ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا  ( رواه البخاري ومسلم) كَمَا تَنَا فَسُوهَا ، فَهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ</p>
<p>Artinya: <em>Berbahagialah kalian semua dan berharaplah apa yang membuat kalian senang. Demi Allah, aku tidak takut pada kemiskinan, aku takut jika dunia ini dihamparkan di depanku, seperti yang pernah dihamparkan kepada orang-orang sebelumku, maka mereka akan berebut-rebutan untuk mendapatkannya. Seperti mereka yang berebut-rebutan, maka dunia ini akan merusak mereka, seperti halnya dunia merusak mereka.</em></p>
<p>Dari hadits diatas peringatan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya tentang ujian di dunia.</p>
<p>Kemiskinan dan kemelaratan tidaklah menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hal merusak iman dan keyakinan umatnya. Namun, yang sangat dikhawatirkan oleh Beliau adalah jika umatnya telah terpengaruh oleh kesenangan duniawi, dengan kemewahan dan kekayaan yang melimpah, sehingga mereka saling berebut untuk memperolehnya, bahkan dengan melanggar hukum-hukum agama, dan dengan merugikan serta menyakiti sesama.</p>
<p>Bahkan ada yang rela menjatuhkan atau merugikan saudaranya sendiri, hanya karena pengaruh duniawi.</p>
<p>Demikianlah akhirnya tipuan duniawi jika telah mempengaruhi pemeluk agama. Mereka saling bermusuhan, saling iri dengki, dan tidak lagi peduli dengan batas-batas hukum Allah Ta&#8217;ala. Mereka tidak membedakan lagi antara yang halal dan yang haram, semuanya diinjak-injak, dianggap sama, asalkan mereka sendiri mendapatkan dunia dan kesenangan.</p>
<p>Nabi bersabda:</p>
<p>يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ فَإِذْ ذَاكَ لأَنجَابُ لَهُمْ دَعْوَةٌ . (رواه الناري والتعالى)</p>
<p>Artinya: <em>akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi membedakan antara yang halal dan yang haram, semua yang mereka dapatkan akan dianggap sama, baik itu hasil yang halal maupun yang haram. Pada saat itu, amal ibadah mereka tidak akan diterima (tidak akan dihargai).</em></p>
<p>Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Hadits tersebut merupakan berita tentang umatnya, bahwa pada suatu waktu nanti akan ada suatu masa di mana manusia sudah tidak lagi memperhatikan hukum-hukum agama, dan tidak lagi membedakan antara yang halal dan yang haram, karena mereka terlalu sibuk mencari kekayaan dan kesenangan duniawi.</p>
<p>Berita yang telah disampaikan tersebut telah terbukti dan nyata kebenarannya, dan sekarang sudah bisa dilihat bukti kenyataannya di zaman sekarang.</p>
<p>Dengan demikian, orang-orang yang tidak memperdulikan hukum-hukum agama dan tidak membedakan antara yang halal dan yang haram dalam mencari kekayaan, maka mereka akan kehilangan berkah dalam hidupnya. Bahkan doa mereka tidak akan dikabulkan oleh Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Kehilangan berkah dalam hidup ini dapat dilihat dari umur yang telah berlalu, bahkan puluhan tahun tidak memberikan manfaat bagi orang lain setelah mereka meninggal. Bahkan seekor gajah yang mati masih meninggalkan gading yang masih bermanfaat bagi manusia. Sapi dan kambing masih meninggalkan kulit dan tulang yang masih bisa digunakan manusia untuk kebutuhan hidupnya.</p>
<p>Bahkan burung Cenderawasih dan burung Merak masih bisa meninggalkan bulu-bulu mereka yang masih bisa dimanfaatkan oleh manusia, seperti dijadikan hiasan. Namun, manusia yang telah kehilangan berkah dalam hidupnya, meskipun telah hidup puluhan tahun, akan meninggalkan kehidupan ini tanpa meninggalkan bekas-bekas kesalehan atau manfaat bagi orang lain.</p>
<p>Demikian pula amal-amal mereka tidak akan mendapatkan berkah, karena sepanjang gerak-gerik, tutur kata, dan tindakan mereka selalu sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, yaitu perkara-perkara yang haram. Sehingga, amal-amal mereka dibenci oleh Allah Ta&#8217;ala dan akhirnya menjadi sia-sia tanpa ada kesalehan di dalamnya.</p>
<p>Harta benda yang banyak juga tidak akan mendapatkan berkah, karena digunakan untuk memuaskan kesenangan duniawi dan dihambur-hamburkan di tempat-tempat yang haram dan terlarang. Bahkan dapat menimbulkan rasa bangga dan sombong. Akan tetapi jika digunakan untuk mendukung amal saleh dan kemaslahatan umum, terutama untuk kepentingan agama, maka barulah seseorang itu menjadi orang yang beruntung dan berbahagia.</p>
<p>Jika sudah seperti itu, maka Allah Ta&#8217;ala pasti akan murka kepada orang yang memiliki harta seperti itu, dan akan mengancamnya dengan api neraka. Karena, orang yang mengutamakan kepentingan duniawi daripada kepentingan agama, maka akan kehilangan seluruh berkah dalam hidupnya.</p>
<p>Oleh karena itu, wahai saudara-saudara kaum Muslimin, Marilah kita semua bersama-sama berhati-hati dalam menghadapi kehidupan di zaman sekarang, terutama dalam menghadapi pengaruh dan ujian duniawi yang dapat merusak dan menyesatkan kita dari agama kita yang suci. Semoga kita semua sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa lebih mengutamakan kepentingan agama daripada kepentingan lainnya.</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala menyelamatkan kita semua dari fitnah dan ujian kebendaan, agar kita dapat hidup dengan mencari keridhaan-Nya. Amin Ya Robbal &#8216;Alamin.</p>
<p style="text-align: right">اعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يُغْرَتَكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ، (فاطر:٥)</p>
<p>Artinya: <em>Hai manusia! Janji Allah Ta&#8217;ala pasti benar, karena itu janganlah kamu semua terperdaya oleh tipu daya penghuni dunia dan janganlah kamu yang berakal dan bijak ditipu oleh orang-orang yang licik tentang kebenaran Allah Ta&#8217;ala.</em></p>
<p style="text-align: right">جَعَلْنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِينَ الْأَمِنِينَ . وَأَدْخَلْنَا وَإِيَّاكُم فى عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرُ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Khutbah II</p>
<p style="text-align: right">الْحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَسَاجِدَ لِلْمُسْلِمِينَ . بَمَثَابَةِ الْمَعَاهِدِ وَالْأَنْدِيَةِ والمُعَسْكَرَاتِ وَالْمَيَادِينِ ، وَجَعَلَ الجُمَعَ وَالْجَمَاعَاتِ مِنَ اعْظَمِ شَعَائِرِ الدِّينِ. نَحْمَدُهُ تَعَالَى وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . وَمَالِكُ يَوْمِ الدِّينِ . وَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ عَلَيْهِ نَعْتَمِدُ وَإِلَيْهِ نَسْتَنِدُهُ وَإِيَّاهُ نَعْبُدُ وَبِهِ تَعَالَى نَسْتَعِينَ . وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيْدَنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيْدُ المُرْسَلِينَ . وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ . وَقَائِدُ الغُر المُحَجَلِينَ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ . اللَّهُمَّ فَصَلَ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الهَادِي إِلى الصِّرَاطِ المستقيم. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمُ بِإِحْسَانٍ في جَمِيعِ التَّعَالِيهِ . صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ ، أَفْضَلُ صَلَاةٍ وَتَسْلِيمٍ</p>
<p style="text-align: right">امَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمُهُ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ . وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيهِ قَدِيمًا ، وَأَمَرَكُمْ بذلك إِرْشَادًا وَتَعْلِيمًا. فَقَالَ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا . إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا &#8230;</p>
<p style="text-align: right">اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ . وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراحمين</p>
<p style="text-align: right">اللَّهُمَّ اغْفِرُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ منهم والأمواتِ، وَضَعَفْ لَهُمُ الحَسَنَاتِ ، وَكَفِّرْ عَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَارْزُقُهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ . إِنَّكَ سَمِيع قريب مجيب الدَّعَوَاتِ . يَا قَاضِي الحَاجَاتِ . يا كَاشِفَ الْمُهُمَاتِ ، وَيَا دَافِعَ البَلِيَّاتِ اللَّهُمَّ أَعِنَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ. وَأَهْلِكِ الكَفَرَة وَالظَّالِمِينَ . اللَّهُمَّ انْصُرُ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسلِمِينَ . وَاغْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا اندو نَيْسِيَا بَلْدَةً أَمَنَةً مُطْمَئِنَّةً . تَجْرِى فِيهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُولِكَ. يا حي يا قيومُ يَا اللَّهُ كُلِّ شَيْءٍ . هُذَا حَالَنَا يَا اللَّهُ لَا يَخْفَى عَلَيْكَ.</p>
<p style="text-align: right">اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَا البَلَاء وَالغَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالحَنَ . مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هُنَا خَاتَمَةٌ، وَمِنْ بُلْدَانِ المُسلِمِينَ عَامَةُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَبِالْإِجَابَةِ جَدِينَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلَا يَجْعَلُ فِي قُلُوبِنَا عَلَا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .</p>
<p style="text-align: right">عِبَادَ اللَّهِ ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ، يَعِظُكُرُهُ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.</p>
<p style="text-align: right">اذْكُرُوا العَظِيمَ يُذكركُمْ ، وَاشْكُرُوا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْ كُرُهُ ، وَاسْأَلُوا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيكُمُهُ وَلَذِكْرُ اللَّهِ اكْبَرُ .</p>
<p>*<em>Asvin Abdur Rohman, Rektor Insuri Ponorogo.</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/">Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan*</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 May 2026 01:39:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[spirit aswaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8669</guid>

					<description><![CDATA[<p>Khutbah Jumat berjudul “Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan” ini... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/">Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-8670" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/05/ChatGPT-Image-May-29-2026-08_07_05-AM-1-1.png" alt="" width="300" height="169" /></p>
<p>Khutbah Jumat berjudul <strong>“Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan”</strong> ini mengajak jamaah meneladani keluarga Nabi Ibrahim. Di tengah tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dominasi gawai, dan renggangnya komunikasi keluarga, khutbah dengan spirit Aswaja an-Nahdliyah ini, mengajak jamaah menjadikan rumah sebagai madrasah iman dan akhlak melalui doa, komunikasi yang baik, keteladanan, penghormatan kepada orang tua dan ulama, serta kesediaan berkorban demi keutuhan keluarga.</p>
<p>Khutbah I</p>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ مَدْرَسَةً لِلْإِيْمَانِ وَالصَّبْرِ وَالتَّقْوَى، وَجَعَلَ فِيْ قِصَّةِ إِبْرَاهِيْمَ وَأَهْلِهِ عِبْرَةً لِأُولِي الْأَلْبَابِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَشْكُرُهُ عَلَى جَمِيْعِ نِعَمِهِ، وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ</p>
<p style="text-align: right">قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّيْ أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّيْ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ</p>
<p><strong>Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Pada hari-hari Dzulhijjah yang penuh keberkahan ini, kita kembali diingatkan kepada kisah agung keluarga Nabi Ibrahim a.s. Kisah itu bukan sekadar sejarah tentang ibadah kurban. Ia adalah pelajaran besar tentang keluarga, iman, keteladanan, dan pendidikan pengorbanan.</p>
<p>Tema khutbah kita hari ini adalah: <strong>“Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan.”</strong> Tema ini penting karena keluarga hari ini menghadapi tekanan yang tidak ringan. Ada tekanan ekonomi. Ada kesibukan kerja. Ada jarak komunikasi antara orang tua dan anak. Ada gawai yang mendekatkan yang jauh, tetapi kadang menjauhkan yang dekat. Ada rumah yang tampak lengkap secara materi, tetapi sepi dari percakapan, doa, dan keteladanan.</p>
<p>Banyak keluarga kuat bangunannya, tetapi rapuh suasana batinnya. Banyak anak tidak kekurangan fasilitas, tetapi kekurangan perhatian. Banyak orang tua bekerja keras untuk masa depan anak, tetapi tidak selalu punya waktu untuk mendidik hati dan akhlaknya.</p>
<p>Di tengah keadaan seperti ini, keluarga Nabi Ibrahim memberi teladan penting: keluarga yang kuat tidak cukup dibangun dengan nafkah lahir. Keluarga juga harus dibangun dengan iman, adab, kesabaran, dialog, dan kesediaan berkorban.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Ayat yang kita baca tadi memperlihatkan peristiwa yang sangat berat. Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Ismail bukan anak biasa. Ia adalah anak yang lama dinantikan, anak yang sangat dicintai, anak yang telah tumbuh menjadi penyejuk hati.</p>
<p>Namun, mari kita perhatikan cara Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah kepada anaknya. Beliau tidak berkata dengan keras. Beliau tidak memaksa dengan amarah. Beliau tidak menggunakan otoritas ayah secara sewenang-wenang. Beliau memanggil anaknya dengan panggilan kasih:</p>
<p style="text-align: right">يَا بُنَيَّ</p>
<p><em>“Wahai anakku tersayang.”</em></p>
<p>Panggilan ini pendek, tetapi maknanya sangat dalam. Di dalamnya ada cinta, kelembutan, penghormatan, dan kedekatan batin antara ayah dan anak. Setelah itu Nabi Ibrahim berkata:</p>
<p style="text-align: right">فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ</p>
<p><em>“Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”</em></p>
<p>Di sinilah kita belajar bahwa pendidikan keluarga dalam Islam bukan pendidikan yang kasar, bukan pula pendidikan yang membiarkan. Pendidikan keluarga adalah jalan tengah: tegas dalam nilai, lembut dalam cara; kuat dalam prinsip, bijak dalam komunikasi.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Jawaban Nabi Ismail juga sangat luar biasa. Ia berkata:</p>
<p style="text-align: right">يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ</p>
<p><em>“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”</em></p>
<p>Jawaban ini bukan jawaban anak yang takut kepada ayahnya. Ini adalah jawaban anak yang hatinya telah dididik mengenal Allah. Ismail tidak hanya menghormati ayahnya, tetapi juga tunduk kepada perintah Allah. Ia tidak hanya memiliki sopan santun, tetapi memiliki kedalaman iman.</p>
<p>Dari sini kita belajar bahwa keberhasilan pendidikan keluarga tidak hanya diukur dari prestasi duniawi anak. Prestasi itu penting. Sekolah penting. Ilmu penting. Keterampilan penting. Tetapi semua itu harus dipandu oleh iman dan akhlak.</p>
<p>Anak yang pintar tanpa adab bisa menjadi tajam dan melukai. Anak yang sukses tanpa iman bisa tinggi kedudukannya, tetapi kosong jiwanya. Anak yang memiliki banyak kemampuan, tetapi tidak mengenal tanggung jawab, bisa menjadi beban bagi dirinya dan lingkungannya.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align: right">خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ</p>
<p>Artinya: <em>“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”</em> (HR. At-Tirmidzi).</p>
<p>Hadis ini memberikan ukuran yang sangat jujur tentang kualitas kesalehan kita. Kesalehan tidak hanya tampak di masjid. Kesalehan juga tampak di rumah. Kesalehan tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di tengah masyarakat. Kesalehan juga terlihat ketika ia berhadapan dengan istri, suami, anak, orang tua, saudara, dan keluarganya.</p>
<p>Rumah adalah tempat paling nyata untuk menguji akhlak. Di rumahlah kesabaran diuji. Di rumahlah kelembutan diuji. Di rumahlah kejujuran, tanggung jawab, dan pengorbanan diuji. Maka, memperbaiki keluarga berarti memperbaiki pusat akhlak kita sendiri.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Pengorbanan dalam keluarga tidak selalu berbentuk peristiwa besar. Pengorbanan sering hadir dalam hal-hal sederhana. Ayah yang bekerja dengan halal dan sabar adalah bentuk pengorbanan. Ibu yang merawat dan mendoakan anak-anaknya adalah bentuk pengorbanan. Suami istri yang saling memahami adalah bentuk pengorbanan. Anak yang menghormati orang tua adalah bentuk pengorbanan.</p>
<p>Pengorbanan juga berarti menahan lisan agar tidak melukai. Menahan amarah agar rumah tidak dipenuhi ketegangan. Mengurangi ego agar tidak semua perbedaan berubah menjadi pertengkaran. Berani meminta maaf meskipun merasa benar. Berani memaafkan meskipun hati masih terluka. Berani meluangkan waktu untuk keluarga meskipun tubuh lelah setelah bekerja.</p>
<p>Inilah makna kurban yang perlu kita bawa pulang ke rumah. Kurban bukan hanya menyembelih hewan. Kurban juga menyembelih kesombongan, keakuan, kemarahan, dan kecintaan berlebihan kepada dunia.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Dalam pandangan kemaslahatan, keluarga bukan urusan pribadi semata. Keluarga adalah fondasi masyarakat. Bila keluarga rusak, masyarakat ikut lemah. Bila keluarga kuat, masyarakat ikut sehat. Rumah yang mendidik akhlak akan melahirkan warga yang jujur. Rumah yang membiasakan musyawarah akan melahirkan pribadi yang menghargai perbedaan. Rumah yang penuh doa akan melahirkan jiwa yang lebih tenang. Rumah yang menghormati ilmu dan ulama akan melahirkan generasi yang tidak tercerabut dari akar agamanya.</p>
<p>Karena itu, memperbaiki keluarga adalah bagian dari ibadah sosial. Ia bukan hanya untuk kebaikan rumah kita sendiri, tetapi juga untuk kemaslahatan umat, masyarakat, dan bangsa.</p>
<p><strong>Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Maka pada momentum Dzulhijjah ini, marilah kita pulang membawa semangat keluarga Ibrahim, dengan menghidupkan doa dalam rumah [tidak hanya gawai], memperbaiki komunikasi dengan anak, menjadikan rumah sebagai madrasah akhlak bagi anak-anak, dan meluangkan waktu untuk keluarga.</p>
<p>Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Semoga Allah menjadikan anak-anak kita generasi yang saleh dan salehah, berilmu, beradab, menghormati orang tua, mencintai ulama, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.</p>
<p style="text-align: right">بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.</p>
<p style="text-align: right">أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p>
<p style="text-align: right"><!-- notionvc: 2ed6a2cd-e080-455e-bf72-3a45af1c9000 -->.</p>
<h2>Khutbah II</h2>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتًا مُبَارَكَةً، مَمْلُوْءَةً بِالْإِيْمَانِ وَالسَّكِيْنَةِ وَالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ وَالصَّالِحَاتِ، الْبَارِّيْنَ بِوَالِدَيْهِمْ، النَّافِعِيْنَ لِلْأُمَّةِ وَالْبِلَادِ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِتَرْبِيَةِ أَوْلَادِنَا عَلَى الْإِيْمَانِ وَالْأَخْلَاقِ الْكَرِيْمَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحْفَظُوْنَ أَهْلِيْهِمْ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَوَدَّةِ وَحُسْنِ الْمُعَاشَرَةِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنَ الْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكَاتِ، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ وَرِعَايَةِ مَصَالِحِ الْعِبَادِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.</p>
<p style="text-align: right">عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.</p>
<p style="text-align: right">فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَر</p>
<p>*Abid Rohmanu, Aswaja Center.</p>
<p><!-- notionvc: c2c662e9-8a9c-4914-a857-a3e77696ee54 --></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/">Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Dalam Bertalfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2025 01:47:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7216</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Wr., Wb. Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Hati-Hati Dalam Bertalfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7217" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-355x199.jpg 355w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></p>
<p>Assalamualaikum, Wr., Wb.</p>
<p>Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut adalah teks khutbah Jumat Bahasa Jawa dengan judul ”Hati-hati dalam Bertalfiq”</p>
<p style="text-align: right;">اَلحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفُرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّآتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهْ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ واتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم: وَدَاودَوَسُلَيْمٰنَ اِذْيَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْنَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ ۚوَكُنَّالِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاودَالْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّافٰعِلِيْنَ</p>
<p><strong><em>Maasyiral Muslimin Rahimakumullah</em></strong></p>
<p>Pada hari yang mulia ini, marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan semaksimal mungkin, takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menjalankan segala apa yang menjadi perintah-Nya. Karena dengan ketakwaan, kita berharap semoga setiap persoalan hidup yang kita alami akan ada jalan keluarnya dan akan ada pula rezeki yang datang kepada kita tanpa disangka-sangka.</p>
<p><strong><em>Maasyiral Muslimin Rahimakumullah</em></strong></p>
<p>Perbedaan pendapat di antara madzhab fiqh memang banyak sekali terjadi dan menjadi kenyataan sejarah yang tidak dapat dipungkiri dan harus kita terima sebagaimana adanya. Meskipun begitu, perbedaan pendapat tersebut bila dengan seksama dan dengan bijak kita cermati, samasekali bukanlah menjadi sebuah aib atau penyebab malapetaka dalam Islam. Sebaliknya, perbedaan pendapat tersebut menjadi rahmat bagi kaum muslimin karena akan saling mengisi dan melengkapi antara satu madzhab dengan madzhab yang lainnya. Perbedaan pendapat antar umat Islam telah digariskan dalam al-Qur’an melalui kisah Nabi Daud dan Sulaiman. Hal ini tentu menjadi legitimasi atau atau penguat bahwasannya al-Qur’an mengakui adanya perbedaan pendapat. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anbiya 78-79:</p>
<p style="text-align: right;">وَدَاودَوَسُلَيْمٰنَ اِذْيَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْنَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ ۚوَكُنَّالِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاودَالْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّافٰعِلِيْنَ</p>
<p><em>“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu.</em><em>Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya”.</em></p>
<p><strong><em>Hadirin jamaah jumat rahimakumullah</em></strong></p>
<p>Dalam ayat di atas diterangkan, Allah memberi pujian kepada nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS, dan Allah memberi keduanya hikmah dan ilmu, padahal kebenaran dalam keputusan berada pada keputusan Nabi Sulaiman AS. Sementara Nabi Daud AS mengeluarkan keputusan yang sebaliknya. Tetapi karena keduanya mengeluarkan keputusan berdasarkan ijtihadnya masing-masing, Allah samasekali tidak mencela, bahkan memberi keduanya pujian dengan hikmah dan ilmu. Dari ayat tersebut, Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah berkesimpulan bahwasannya perbedaan pendapat di kalangan Mujtahid adalah hal yang biasa saja dan bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan perbedaan pendapat tersebut keberadaannya diakui oleh Al-Qur’an.</p>
<p><strong><em>Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT</em></strong></p>
<p>Meskipun terdapat perbedaan pendapat yang terjadi antar berbagai madzhab yang ada dalam Islam, namun para ulama telah memberikan kesempatan bagi kita untuk melakukan penggabungan dua pendapat beda madzhab ketika dalam kondisi <em>dharurat syar’I </em>dalam beberapa permasalahan yang memang tidak ditemukan jalan keluarnya dalam satu madzhab tertentu. Penggabungan tersebut dikenal dengan istilah <em>talfiq. </em></p>
<p>Talfiq adalah menggabungkan dua pendapat beda madzhab dalam suatu kerangka masalah (<em>qadhiyah</em>). Namun begitu, meskipun para ulama telah memberikan rambu-rambu mengenai dimungkinkannya melakukan <em>talfiq </em>atau penggabungan dua madzhab, akan tetapi hal tersebut harus dilakukan secara hati-hati dan memperhatikan hal-hal berikut. <em>Pertama, </em>melakukan <em>talfiq </em>atau penggabungan dua madzhab tidak semata-mata bertujuan untuk mencari praktek beribadah yang paling mudah, akan tetapi karena adanya keterbatasan atau keterdesakan atau <em>dhoruroh syar’iyyah</em>. <em>Kedua, talfiq </em>atau menggabungkan dua pendapat beda madzhab hanya bisa dilakukan dalam satu kerangka masalah ibadah. Misalnya dalam masalah wudhu, setelah berwudhu seseorang memegang kemaluannya tanpa syahwat dan menganggapnya tidak membatalkan wudhu karena menggunakan pendapat Imam Imam Malik, namun saat berwudhu tidak menggosok-gosok anggota wudhunya dengan air karena mengikuti Imam Syafi’i. Maka ketika sholat hukumnya tidak sah, karena menurut pendapat Imam Syafi’i Wudhunya batal karena memegang kemaluan, sedangkan menurut Imam Malik juga tidak sah karena tidak menggosok-gosok anggota wudhunya. Dengan demikian maka wudhunya batal menurut dua imam.</p>
<p><strong><em>Hadirin Jamaah Sholat Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT</em></strong></p>
<p>Dalam kitab <em>Fathul Mu’in </em>karangan Syaikh Zainuddin Al-Malibari <em>talfiq </em>bisa dilakukan di antara dua kerangka masalah (<em>Qadhiyah</em>), seperti wudhu dengan mengusap sebagian kepala karena mengikuti madzhab As-Syafi’i dan shalat menghadap ke arah kiblat (<em>Jihah/</em>tidak benar-benar tepat lurus ke Ka’bah) karena mengikuti Madzhab Abu Hanifah, maka shalatnya dianggap sah, sebab dalam kasus ini kedua imam tidak menyepaki ketidakabsahan wudhunya. Keterangan mengenai <em>talfiq </em>tersebut juga bisa ditemukan dalam kitab <em>‘ianah at-Thalibin </em>karangan Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi.</p>
<p>Semoga khutbah ini menambah pengetahuan kita bersama utamanya berkaitan dengan permasalahan <em>fiqh ibadah </em>yang memang menjadi kewajiban kita semua dalam rangka menjalankan agama Islam secara kaffah atau sempurna. Amin amin ya mujiib as-Sailin.</p>
<p style="text-align: right;">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقٌرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِاسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَالتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُم وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْم. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن.</p>
<p><strong>KHUTBAH </strong>II</p>
<p style="text-align: right;">الْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون</p>
<p style="text-align: right;">اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ</p>
<p style="text-align: right;">اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والحمد لله رب العالمين.</p>
<p style="text-align: right;">عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر</p>
<p><em>Khutbah Jumat ini ditulis oleh:</em></p>
<p><em>Dr. M. Muchlish Huda, M.Pd.I.</em></p>
<p><em>Sekretaris PC ISNU Ponorogo</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Hati-Hati Dalam Bertalfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngatos-Atos Lebeting Talfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2025 01:32:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Wr., Wb. Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/">Ngatos-Atos Lebeting Talfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7214" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-355x199.jpg 355w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></p>
<p>Assalamualaikum, Wr., Wb.</p>
<p>Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut adalah teks khutbah Jumat Bahasa Jawa dengan judul ”Ngatos-Atos Lebeting Talfiq.”</p>
<p>Khutbah I</p>
<p style="text-align: right;">اَلحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفُرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّآتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهْ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ واتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم: وَدَاودَوَسُلَيْمٰنَ اِذْيَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْنَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ ۚوَكُنَّالِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاودَالْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّافٰعِلِيْنَ</p>
<p><em>Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing dinten ingkang mulya puniko, monggo kito senantioso njagi lan ningkataken ketaqwaan kito wonten ing ngarsa dalem Allah Swt kanti semaksimal mungkin. Taqwa ingkang artosipiun nebihi sedoyo ingkang dados awosanipun lan nglampahi sedoyo ingkang dados perintah Allah Swt. Keranten kanthi ketaqwaan meniko, kulo panjenengan sami ngajeng-ngajeng mugi-mugi saben-saben permasalahan gesang ingkang kulo penjengan alami dipun paringi pitedah lan sageto pikantuk rezeki ingkang mboten kito nyono kiro.</p>
<p><em>Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,</em></p>
<p>Perbedaan pendapat wonten ing antarane madzhab fiqh meniko kathah sanget, lan sampun dados kasunyatan wonten ing sejarah ingkang mboten saget kito pungkiri. Senaoso mekaten, perbedaan kados mekaten kolo wau, menawi kito cermati boten dados aib utawi penyebab keburukan wonten ing Islam. Sakwalikipun, perbedaan pendapat meniko dados rahmat kagem umat Islam keranten saling mengisi lan melengkapi wonten antarane setunggal madzhab kaliyan madzhab lintune.</p>
<p>Perbedaan pendapat wonten antaranipun umat Islam sampun dipun garis kaliyan Al Quran melalui kisahipun Nabi Daud lan Sulaiman As. Kisah meniko sampun dados legitimasi utawi penguat, bilih Al Quran mengakui wontene perbedaan pendapat. Allah Swt berfirman wonten ing surat Al Anbiya ayat 78-79:</p>
<p style="text-align: right;">وَدَاودَوَسُلَيْمٰنَ اِذْيَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْنَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ ۚوَكُنَّالِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاودَالْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّافٰعِلِيْنَ</p>
<p>Artosipun:</p>
<p><em>Lan (ilingo cerito) Dawud lan Sulaiman, nalika deweke ngewehi keputusan ing dalem ladang. Nalika (ladang) iku wes dirusak marang mendo-mendone piro-piro kaum. Lan temen wes nyekseni keputusan keduwe piro-piro kaum. Lan wes den aweh pangerten sopo kito ing Sulaiman (tentang hukum kang luwih tepat); lan wus tumeko marang kaum opo iku hikmah lan ilmu, lan wus kito dadeaken tunduk opo gunung-gunung lan manuk, muji marang Allah sopo gunung lan manuk lan Dawud. Lan saktemene kito kang nindaake.</em></p>
<p><em>Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah</em></p>
<p>Wonten ing ayat meniko, sampun diterangaken bilih Allah paring pujian dateng Nabi Daud As lan Nabi Sulaiman As. Lan Allah nyaosi kekalihipun hikmah lan ilmu, senaoso kabeneran wonten ing keputusan wonten ing astane Nabi Sulaiman. Wondene Nabi Daud nyaosi keputusan ingkang sakwalikipun. Ananging keranten kekalihipun maringi keputusan kanthi dasar ijtihad, Gusti Allah mboten duko, lan Gusti Allah maringi pujian lan ilmu dumateng kekalihipun. Saking ayat puniko, poro ulama <em>ahlussunnah wal jamaah</em> berkesimpulan bilih perbedaan pendapat antaranipun poro mujtahid niku hal ingkang biasa, sanes sesuatu ingkang tercela.</p>
<p><em>Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah</em></p>
<p>Senaoso wonten perbedaan pendapat wonten ing madzhab-madzhab ing dalem Islam, poro ulama sampun maringi kesempatan kito kagem gabungaken kaleh pendapat ingkang beda madzhab nalika wonten kondisi darurat syar’i, khususipun wonten ing masalah ingkang mboten dipun panggihi solusinipun wonten ing setunggale madzhab. Penggabungan meniko dipun wastani kanthi istilah <em>talfiq.</em></p>
<p><em>Talfiq </em>inggih puniko gabungaken kaleh pendapat ingkang bedo madzhab wonten ing setunggal masalah <em>(qadhiyat). </em>Senaoso mekaten, poro alim ulama maringi rambu-rambu wonten ing nglampahi <em>talfiq.</em> Keranten keputusan puniko kedah dipun laksanakaken kanti ati-ati lan kedah mirsani pinten-pinten perkawis;</p>
<p><em>Sepindah, talfiq </em>mboten namung semata-mata bertujuan kagem pados ibadah ingkang paling enteng, ananging keranten keterbatasan utawi <em>dhoruroh syar’i. </em></p>
<p><em>Kaping kalih, talfiq</em> benten madzhab namung saget dilampahi wonten ing setunggal masalah ibadah. Misalipun wonten ing masalah wudlu nyepeng organ kemaluan tanpa didasari syahwat lan nganggep masalah puniko mboten batalaken wudlu keranten berdasarkan pendapat Imam Malik. Ananging naliko wudlu mboten  gosok-gosok anggota wudluipun damel tuyo keranten nderek madzhab Imam Syafii. Naliko sholat hukumipun mboten sah, keranten miturut pendapat Imam Syafii wudlunipun batal keranten nyepeng kemaluan, sementara miturut imam Malik nggih mboten sah keranten mboten gosok-gosok anggota wudlu. Pramilo, wudlunipun batal miturut kekalih imam.</p>
<p><em>Hadirin Jamaah Jumah Rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing kitab <em>Fathul Muin, </em>karangan Syaikh Zainuddin Al Malibari, <em>talfiq </em>saget dilampahi ing antara kaling masalah <em>(qadhiyah), </em>kados wudlu kanthi ngusap sebagian kepala keranten nderek amdzhab As Syafii lan sholat madep kiblat (<em>jihah/</em>mboten bener-bener tepat lurus ten kakbah) keranten derek madzhab Abu Hanifah, pramilo sholatipun sah, sebab wonten ing kasus meniko poro imam mboten menyepakati ketidaksahan wudhunipun. Keterangan meniko saget ditingali wonten kitab <em>i&#8217;anatut talibin</em> karangan Abu Bakr bin Muhammad Syata’ Ad Dimyathi.</p>
<p>Mugi-mugi khutbah meniko saget nambahi pangerten kito utaminipun wonten ing permasalahan fiqh ibadah, keranten paham masalah meniko dados kewajiban kito sedoto dalam rangkan nglampahi Islam secara <em>kaffah </em>utawi sampurno. <em>Amiin Amiin ya mujiib as Sailin</em>.</p>
<p style="text-align: right;">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقٌرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِاسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَالتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُم وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْم. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن.</p>
<p>Khutbah II</p>
<p style="text-align: right;">الْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون</p>
<p style="text-align: right;">اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ</p>
<p style="text-align: right;">اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والحمد لله رب العالمين.</p>
<p style="text-align: right;">عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر</p>
<p><em>Khutbah Jumat ini ditulis oleh:</em></p>
<p><em>Dr. M. Muchlish Huda, M.Pd.I.</em></p>
<p><em>Sekretaris PC ISNU Ponorogo</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/">Ngatos-Atos Lebeting Talfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 15:06:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7003</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Wr., Wb. Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Menjaga Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7004" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></p>
<p>Assalamualaikum, Wr., Wb.</p>
<p>Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut adalah teks khutbah Jumat Bahasa Indonesia dengan judul &#8221; Menjaga Semangat Ramadhan.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ<br />
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.<br />
أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الْإِخْوَانِ، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ</p>
<p style="text-align: right;">قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِين</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang jum’at rahimakumullah</em></p>
<p>Pada kesempatan yang sangat berharga ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan <em>imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi </em>(melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangannya). Ketahuilah&#8230;..tidak ada bekal yang paling bagus kita bawa dihadapan Allah SWT, kecuali takwa kita kepada Allah SWT.</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang Jum’at rahimakumullah</em></p>
<p>Kita masih berada pada bulan Romadhan, bulan penuh berkah dan ampunan dari Allah SWT. Orang-orang yang beriman akan mengalami dua hal. Jika pada awal Romadhan tiba, perasaan mereka bersuka cita, bergembira, namun saat ini, di akhir Romadhan ini, perasaan umat Islam yang beriman berapada dalam dua kondisi ini. Jika dua kondisi ini tidak dimiliki, kita patut mempertanyakan keimanan kita.</p>
<p>Pertama, perasaan sedih karena akan ditinggalkan oleh bulan mulia. Sudahkan kita beribadah dengan maksimal di bulan Romadhan ini. Sudahkan kita meminta ampun kepada Allah SWT atas apa yang pernah kita lakukan dan sudahkah kita berdoa, memohon kepada Allah SWT atas apa yang kita inginkan. Dengan perasaan ini, seseorang akan memanfaatkan sisa waktu ini dengan bersungguh-sungguh beribadah, meminta ampun dan berdoa. Pahala yang sangat besar dan hanya Allah SWT sendiri yang akan memberinya sungguh suatu iming-iming yang tiada tanding. Terlebih lagi, perasaan sedih, sudahkah kita maksimal dalam menggapai lailatul Qadar. Padahal Allah SWT telah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur&#8217;an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar&#8221;. (QS. Al Qadr: 1-5)</p>
<p>Kedua, diakhir Romadhan ini sudahkah kepekaan sosial kita meningkat atau tidak. Kepekaan sosial itu seperti sudahkah kita tambah merasa iba jika melihat anak yatim piatu yang tidak bisa sekolah, atau melihat orang miskin yang hidupnya serba pas-pasan. Jika belum, mari kita pupuk perasaan itu dengan menyadari bahwa manusia itu sebenarnya adalah makhluk lemah. Tidak makan satu hari, tidak minum satu hari saja lapar dan dahaga. Manusia awalnya tidak memiliki apa-apa, namun karena usaha, ia memiliki harta. Jika seseorang telah memiliki harta, ia harus ingat bahwa semua itu karena kehendak Allah SWT. Jangan mengaku bahwa itu adalah hanya semata-mata hasil jerih payahnya sendiri. Coba kita lihat, banyak orang yang bekerja, namun hidupnya pas-pasan, juga banyak orang memiliki harta, tetapi dengan sekejap dihilangkan oleh Allah SWT melalui berbagai cara seperti kebakaran, sakit yang memakan banyak biaya, gempa bumi, dicuri orang dan lain-lain. Begitu pentingnya ibadah sosial ini, sehingga Allah SWT menggabungkan puasa dengan kewajiban zakat sebagai gambaran dari ibadah sosial tersebut.</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang Jum’at rahimakumullah</em></p>
<p>Dua perasaan tersebut akan menghadirkan pribadi umat Islam yang bertakwa. Takwa itulah inti dari diperintahkannya puasa. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an dalam masalah puasa surah al-Baqarah ayat 183.</p>
<p style="text-align: right;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ</p>
<p>Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.</p>
<p>Apa balasan bagi orang yang bertakwa? Orang yang bertakwa pertama, akan diberi jalan keluar setiap masalah yang dimiliki serta akan diberi rizki oleh Allah SWT melalui jalan atau cara yang tidak pernah ia prediksi sebelumnya. Ia tidak akan mengalami kekurangan rizki. Allah SWT berfirman dalam surah al-Thalaq ayat 2-3</p>
<p style="text-align: right;">وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ</p>
<p> Artinya: <em>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya</em>.”</p>
<p>Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa…Amiin.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong> </strong><strong>اَلْخُطْبَةُ الُثَّانِيَةُ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>         اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>        اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ !</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِا لرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْتَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ </strong><strong>يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Menjaga Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jagi Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 15:02:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7000</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Wr., Wb. warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/">Jagi Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7001" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></p>
<p>Assalamualaikum, Wr., Wb.</p>
<p>warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut adalah teks khutbah Jumat Bahasa Jawa NU dengan judul &#8220;Jagi Semangat Ramadhan&#8221;.</p>
<p style="text-align: right;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ<br />
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.<br />
أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الْإِخْوَانِ، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ<br />
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِين</p>
<p><em>Kaum muslimin siding jumat rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing kesempatan ingkang sae punika, monggo kulo panjenengan sami ningkataken taqwa dumateng Allah SWT. Caranipun inggih punika kanti <em>imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi </em>(nglampahi sedoyo perintah-perintahipun Allah lan nebihi sedoyo awosanipun). Kedah dipun mangertosi bilih mboten wonten bekal inggal langkung sae kulo panjenengan sami beto wonten ngarsa dalem Allah kejobo taqwa kulo panjenengan sami dumateng Allah SWT.</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang jumat rahimakumullah,</em></p>
<p>Kulo panjenengan sami tasih wonteng ing dalem bulan Ramadhan, bulan ingkang kebak barokah lan ampunan saking Allah SWT. Tiyang-tiyang ingkang beriman bade ngalami kaleh perkawis. Menawi wonten awal Ramadhan, perasaan meniko remen sanget, suka cita, ananging wonten wekdal meniko, wonten ing akhir bulan Ramadhan, perasaan umat Islam ingkang beriman nglampahi ing dalem kaleh kondisi. Menawi kekalih kondisi meniko mboten dipun gadahi, kulo panjenengan sami patut nangletaken iman kito.</p>
<p><em>Sepindah</em>, perasaan sedih keranten bade dipun tilar kalian bulan kang Mulya. Nopo kulo panjenengan sami sampun ibadang kanti maksimal wonten ing bulan Ramadhan puniko? Nopo kulo panjenengan sami sampun nyuwun pangapuro dumateng Gusti Allah SWT kelawan nopo ingkang pernah kulo panjenengan lampahi, lan nopo kulo panjenengan sami sampun dedongak? Nyuwun kaliyan Allah SWT nopo ingkang kulo panjenengan sami kersaaken. Kanti perasaan puniko, kulo panjenengan sami bade memanfaatkan sisa wekdal punika kanti temen-temen anggenipun ngibadah, nyuwun ampunan saking Allah lan dedungo. Ganjaran ugi langkung ageng lan namung Allah SWT piyambak ingkang bade nyaosi dumateng umat manungso kang mboten wonten tandinganipun. Ugi, perasaan sedih, nopo kulo panjenengan sami sampun maksimal anggenipun ngupayaaken ngraih lailatul Qadar, padahal Allah SWT sampun dawuh:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>Artosipun: <em>saktemene Ingsun (kami) wus nurunake (Al Quran) ing dalem wengi kamulyan. Lan ngertio sopo siro apa iku malam kamulyan? Malam kamulyan iku luwih apik katimbang sewu wulan. Ing dalem wengi iku wes mudun piro-piro moloikat lan moloikat Jibdril kelawan izin Pengerane halih agawe ngatur piro-piro perkoro. Wengi iku (kebak) kesejahteraan sampai terbite fajar.” (QS. Al Qadr:1-5)</em></p>
<p><em>Kaping kalih</em>, wonten ing dalem akhir Ramadhan puniko, nopo kulo penjenengan sami sampun anggadahi kepekaan sosial kito kang meningkat nopo mboten? Kepekaan sosial inggih puniko kados dene kulo panjenengan sami dados anggadahi raos iba menawi mirsane lare-lare Yatim Piatu mboten saget sekolah, utawi mirsani tiyang miskin ingkang urip ipun serba pas-pasan. Menawi dereng, monggo kito pupuk perasaan puniko kanti menyadari bilih manungso niku saktemene makhluk kang lemah. Mboten dahar lan ngunjuk sedinten kemawon tansah ngraosaken luwe lan ngelak. Manungso awalipun mboten gadah nopo-nopo, anangi amargi usaha, piyambake gadah harta. Menawi manungsi sampun gadah harta piyambake kedah emut, bilih sedoyo puniko keranten kehendak Allah SWT. Sampun ngantos ngaku-aku harta puniko semata-mata hasil jerih payah piyambake.. Cobi kito pirsani, kathah tiyang-tiyang ingkang nyambut damel, ananging urip ipun pas-pasan, ugi katah ingkang gadah harta anangi kanti sekejap dipun ilangaken kaliyan gusti Allah SWT kelawan musibah, kados kebakaran, gerah ingkang katah nelasaken harta, gempa bumi, lan lintu-lintunipun. Keranten penting sanget ibadah sosial puniko, sahinggo Allah SWT gabungaken siyam kalian kewajiban zakat sebagai gambaran saking ibadah sosial meniko.</p>
<p><em>Kaum muslimin siding jumat rahimakumullah,</em></p>
<p>Kekalih perasaan puniko saget dadosaken pribadi umat Islam kang taqwa. Taqwa puniko inti saking perintah siyam. Allah sampun berfirman wonten Al Quran terkait masalah siyam puniko wonten ing surat Al Baqarah ayat 183.</p>
<p style="text-align: right;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ</p>
<p>Artosipun: <em>he wong-wong kang beriman, wus den wajibake ing ngatase siro kabeh poso koyo dene wus den wajibake ingatasi wong-wong kang luwih disik sak durunge siro supoyo taqwa siro kabeh (Q.S. Al Baqarah: 183).</em></p>
<p>Nopo walesane kangge tiyang kang bertaqwa? Tiyang ingkang bertaqwa sepindah bade dipun paring ijalan keluar saking piro-piro masalah ingkang diduweni, sarto dipun paring rezeki kaliyan Allah kelawan piro-piro dalan lan coro ingkang mboten nate diprediksi sakderengipun. Piyambake mboten nglami kekirangan rezeki. Allah SWT sampun dawuh wonten surat At Thalaq ayat 2-3</p>
<p style="text-align: right;">وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ</p>
<p>Artosipun: <em>sopo wonge taqwa marang Allah, mongko Allah bakal wujudake dalan. Lan bakal aweh sopo Allah ing wong kang taqwa yoiku rezeki saking dalan kang ora dikiro-kiro.” (Q.S. At Thalaq: 2-3).</em></p>
<p>Mugi-mugi kulo panjenengan sami kagolong tiyang ingkang bertaqwa. Aamiin.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong> </strong><strong>اَلْخُطْبَةُ الُثَّانِيَةُ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>         اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>        اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ !</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِا لرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْتَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.</strong></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/">Jagi Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
