<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kategori Khutbah Jumat - NU PONOROGO</title>
	<atom:link href="https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat/</link>
	<description>Official Website PCNU Ponorogo</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Jun 2026 09:08:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2020/09/cropped-favi-nu-ponorogo-32x32.png</url>
	<title>Kategori Khutbah Jumat - NU PONOROGO</title>
	<link>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Belajar dari Nabi Musa: Beriman di Tengah Jalan Buntu*</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2026 08:59:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[10 Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[aswaja]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[ikhtiar]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8778</guid>

					<description><![CDATA[<p>Momentum 10 Muharram mengingatkan kita pada kisah Nabi Musa... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/">Belajar dari Nabi Musa: Beriman di Tengah Jalan Buntu*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="qMYqUG_convSearchResultHighlightRoot">
<div class="" data-turn-id-container="request-6a3a62ea-f984-83ec-9123-c9d1f72725ff-2" data-is-intersecting="true">
<section class="text-token-text-primary w-full focus:outline-none has-data-writing-block:pointer-events-none [&amp;:has([data-writing-block])&gt;*]:pointer-events-auto R6Vx5W_threadScrollVars scroll-mb-[calc(var(--scroll-root-safe-area-inset-bottom,0px)+var(--thread-response-height))] scroll-mt-[calc(var(--header-height)+min(200px,max(70px,20svh)))]" dir="auto" data-turn-id="request-6a3a62ea-f984-83ec-9123-c9d1f72725ff-2" data-turn-id-container="request-6a3a62ea-f984-83ec-9123-c9d1f72725ff-2" data-testid="conversation-turn-14" data-turn="assistant">
<div class="text-base my-auto mx-auto pb-10 [--thread-content-margin:var(--thread-content-margin-xs,calc(var(--spacing)*4))] @w-sm/main:[--thread-content-margin:var(--thread-content-margin-sm,calc(var(--spacing)*6))] @w-lg/main:[--thread-content-margin:var(--thread-content-margin-lg,calc(var(--spacing)*16))] px-(--thread-content-margin)">
<div class="[--thread-content-max-width:40rem] @w-lg/main:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 group/turn-messages focus-visible:outline-hidden relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn" data-conversation-screenshot-content="">
<div class="flex max-w-full flex-col gap-4 grow">
<div class="min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal outline-none keyboard-focused:focus-ring [.text-message+&amp;]:mt-1" dir="auto" data-message-author-role="assistant" data-message-id="61fa5096-c4c9-5de2-87df-3b6be5bcc89b" data-turn-start-message="true">
<div class="flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden">
<div class="markdown prose dark:prose-invert wrap-break-word w-full dark markdown-new-styling">
<p class="PDq2pG_selectionAnchorContainer" data-start="0" data-end="363" data-is-last-node="" data-is-only-node="">Momentum 10 Muharram mengingatkan kita pada kisah Nabi Musa a.s. ketika berada di jalan buntu: di depan terbentang laut, di belakang dikejar bala tentara Fir‘aun. Dari peristiwa ini, khutbah mengajak jamaah meneguhkan iman, menjaga ikhtiar, dan tidak menyerah pada keputusasaan.</p>
<p class="PDq2pG_selectionAnchorContainer" data-start="0" data-end="363" data-is-last-node="" data-is-only-node=""><strong>Khutbah Pertama</strong></p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</section>
</div>
</div>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِيْ قَصَصِ الْأَنْبِيَاءِ عِبْرَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ۝ قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Pada momentum 10 Muharram, hari ‘Āsyūrā, kita mengingat satu peristiwa besar dalam sejarah, yakni diselamatkannya Nabi Musa a.s. dan kaumnya dari kejaran Fir‘aun. Sejarah ini dibadikan dalam Surat Al-Syu’ara: 61-62.</p>
<p style="text-align: right">فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ۝ قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ</p>
<p>Artinya: “<em>Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’</em>”</p>
<p>Kisah ini bukan sekadar cerita lama. Ia berbicara langsung kepada kehidupan kita hari ini: kepada keluarga yang sedang menanggung beban, kepada pekerja yang cemas dengan penghasilan, kepada orang tua yang memikirkan masa depan anak, kepada orang sakit yang menunggu kesembuhan, kepada siapa pun yang pernah merasa hidupnya berada dalam jalan buntu.</p>
<p>Jalan buntu itu nyata. Dalam hidup, ada saat ketika usaha terasa tidak cukup, doa terasa belum terjawab, dan nasihat orang lain tidak segera meringankan beban. Di depan seperti ada laut. Di belakang seperti ada kejaran masalah. Pada saat seperti inilah kisah Nabi Musa memberi pelajaran: iman tidak selalu membuat masalah langsung hilang, tetapi iman menjaga manusia agar tidak runtuh, tidak tumbang sebelum pertolongan Allah datang.</p>
<p>Inilah pesan utama khutbah kali ini untuk kita semua. Jalan buntu dalam pandangan manusia belum tentu menjadi akhir dalam ketetapan Allah. Orang beriman tidak menutup mata terhadap masalah, tetapi ia juga tidak menyerahkan hatinya kepada keputusasaan. Ia melihat kenyataan dengan jernih, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan tetap menggantungkan hasil kepada Allah.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Dalam hadits shahih Muslim yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra, disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Āsyūrā. Hadis menyebutkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right">قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللهُ فِيهِ مُوسَى، وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ</p>
<p>Artinya: &#8220;<em>Rasulullah saw hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa di bulan ‘Asyura, kemudian mereka ditanya tentang puasanya tersebut, mereka menjawab: &#8220;Hari ini adalah hari di mana Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa as dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa.&#8221; Kemudian Nabi bersabda: &#8220;Kami lebih utama dengan Nabi Musa dibanding dengan kalian.&#8221; Lalu Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpuasa di hari Asyura</em>.&#8221; (HR. Muslim no. 1130).</p>
<p>Lalu Rasulullah saw. berpuasa pada hari itu dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa. Maka puasa ‘Āsyūrā bukan hanya ibadah pribadi untuk mencari pahala. Ia juga cara kita merawat ingatan iman, ia mengandung pembelajaran penting: bahwa Allah menolong hamba-Nya, bahwa kezaliman tidak kekal, dan bahwa manusia tidak boleh kehilangan harapan di hadapan kesulitan.</p>
<p>Ayat yang kita baca tadi menggambarkan keadaan yang sangat genting. Bani Israil melihat pasukan Fir‘aun mendekat. Mereka panik dan berkata: <strong>إِنَّا لَمُدْرَكُونَ</strong> — “<em>Kita pasti akan tersusul.</em>” Secara manusiawi, ucapan itu bisa dipahami. Mereka lelah, takut, dan tidak melihat jalan keluar. Tetapi Nabi Musa menjawab dengan kalimat yang pendek dan kuat: <strong>كَلَّا، إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ</strong> — “<em>Tidak. Tuhanku bersamaku.</em> Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”</p>
<p>Perbedaannya terletak pada cara melihat. Para pengikut Nabi Musa melihat ancaman yang semakin mendekat. Nabi Musa juga melihat ancaman itu, tetapi hatinya tidak berhenti di situ. Ia melihat Allah Yang Maha Menolong. Mereka berkata, “<em>Kita selesai.</em>” Sementara Nabi Musa berkata, “<em>Allah akan memberi petunjuk</em>.” Mereka melihat jalan tertutup. Nabi Musa yakin bahwa Allah mampu membuka jalan yang belum tampak oleh mata manusia.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Iman seperti inilah yang kita perlukan dalam kehidupan masyarakat hari ini. Banyak orang bukan tidak bekerja, tetapi hasilnya belum cukup. Banyak keluarga bukan tidak berusaha rukun, tetapi ujian datang bertubi-tubi. Banyak anak muda bukan tidak ingin maju, tetapi kesempatan terasa sempit. Banyak orang menanggung masalah dalam diam karena malu, takut disalahkan, atau tidak tahu harus bercerita kepada siapa.</p>
<p>Di tengah keadaan seperti itu, agama tidak boleh hadir hanya sebagai kata-kata yang jauh dari kenyataan. Agama harus menjadi kekuatan yang menenangkan hati, meluruskan ikhtiar, dan menggerakkan kepedulian. Masjid, majelis, keluarga, dan masyarakat harus menjadi ruang yang membuat orang merasa ditopang, bukan dihakimi; dikuatkan, bukan ditambah bebannya.</p>
<p>Namun keyakinan kepada pertolongan Allah tidak berarti kita boleh pasif. Nabi Musa tidak hanya berkata, <em>“Allah bersamaku</em>,” lalu berhenti. Ketika Allah memerintahkan agar tongkat dipukulkan ke laut, Nabi Musa melaksanakannya. Maka terbukalah jalan yang sebelumnya tidak terlihat.</p>
<p>Di sinilah makna tawakal yang benar. Tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan rendah hati, lalu menerima ketentuan Allah tanpa kehilangan adab. Doa tidak menggantikan usaha. Usaha juga tidak boleh membuat kita merasa tidak membutuhkan Allah. Keduanya harus berjalan bersama.</p>
<p>Inilah sikap beragama yang seimbang. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, kita diajarkan <em>tawāzun</em>: menjaga keseimbangan antara ikhtiar dan doa; <em>tawassuṭ</em>: tidak berlebihan dalam rasa takut atau rasa percaya diri; <em>i‘tidāl</em>: tetap tegak dalam kebenaran; dan tasāmuḥ: menjaga akhlak serta persaudaraan. Nilai-nilai ini penting, sebab orang yang sedang tertekan mudah sekali tergelincir: mudah marah, mudah menyalahkan, mudah mengambil jalan pintas, bahkan mudah menzalimi orang lain.</p>
<p>Karena itu, iman harus tampak dalam akhlak. Orang yang sedang sulit tetap harus jujur. Orang yang punya kuasa tetap harus adil. Orang yang kecewa tetap harus menjaga lisan. Orang yang merasa benar tetap harus rendah hati. Kesulitan hidup tidak boleh menjadi alasan untuk menipu, menyakiti keluarga, merampas hak orang lain, atau merusak persaudaraan.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Kisah Nabi Musa juga mengingatkan kita tentang bahaya watak Fir‘aun. Fir‘aun bukan hanya nama seorang penguasa zalim pada masa lalu. Fir‘aun adalah lambang kesombongan, penindasan, dan perasaan paling berhak mengatur hidup orang lain. Watak itu bisa muncul di mana saja: di rumah, di tempat kerja, di pasar, di lembaga, bahkan di dalam diri kita sendiri.</p>
<p>Watak Fir‘aun muncul ketika seseorang merasa boleh merendahkan orang lain karena punya jabatan. Ia muncul ketika hak pekerja diabaikan. Ia muncul ketika orang miskin dipersulit, sementara orang kuat dimudahkan. Ia muncul ketika orang tua keras tanpa kasih sayang, ketika pemimpin menutup telinga dari nasihat, ketika tetangga tidak peduli pada tetangga yang kelaparan, ketika lisan kita melukai tetapi kita merasa biasa saja.</p>
<p>Maka memperingati ‘Āsyūrā tidak cukup dengan mengingat bahwa Fir‘aun pernah tenggelam. Yang lebih penting adalah memastikan sifat Fir‘aun tidak hidup dalam diri kita. Jangan sampai kita mengutuk kezaliman dalam sejarah, tetapi membiarkan kezaliman kecil tumbuh dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan hati kita sendiri.</p>
<p>Sebaliknya, kita belajar dari Nabi Musa: berani menghadapi kezaliman, tetapi tetap bersandar kepada Allah; tegas memegang prinsip, tetapi tidak kehilangan akhlak; membela yang lemah, tetapi tidak menebar kebencian. Inilah agama yang membawa maslahat: menguatkan tauhid, membentuk budi pekerti, menjaga persaudaraan, dan membuat kehidupan bersama menjadi lebih adil.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Di sekitar kita, selalu ada orang yang sedang berada di tepi “laut” kehidupannya. Ada yang dikejar utang. Ada yang dikejar kecemasan. Ada yang dikejar konflik keluarga. Ada yang dikejar biaya pendidikan. Ada yang dikejar rasa sepi dan putus asa. Kita mungkin tidak mampu membelah laut seperti mukjizat Nabi Musa. Tetapi kita bisa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah bagi orang lain.</p>
<p>Pertolongan itu tidak selalu besar. Kadang berupa bantuan uang semampunya. Kadang berupa pekerjaan yang kita bukakan. Kadang berupa nasihat yang tidak menggurui. Kadang berupa telinga yang mau mendengar. Kadang berupa doa yang tulus. Kadang cukup dengan tidak menambah beban orang yang sudah berat hidupnya.</p>
<p>Karena itu, momentum 10 Muharram hendaknya melahirkan empat amal. Pertama, memperkuat hubungan dengan Allah melalui puasa, doa, istighfar, dan shalat yang lebih dijaga. Kedua, menghadapi masalah dengan ikhtiar yang halal, terukur, dan sabar. Ketiga, membersihkan diri dari sifat Fir‘aun: sombong, zalim, keras hati, dan meremehkan orang lemah. Keempat, menjadi penolong bagi orang lain yang sedang berada dalam kesempitan.</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang kuat imannya, jernih pikirannya, lembut hatinya, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah membukakan jalan keluar dari setiap kesempitan, memberi petunjuk dalam setiap kebingungan, dan menjaga kita dari putus asa serta kezaliman.</p>
<p style="text-align: right">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p>
<p><strong>Khutbah Kedua</strong></p>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ، وَمِنْ أَوْلِيَائِكَ الصَّالِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَارْزُقْنَا مِنْ حَيْثُ لَا نَحْتَسِبُ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ رُعَاةً لِلْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْمَصْلَحَةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا، لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.</p>
<p style="text-align: right">عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.</p>
<p><!-- notionvc: a140bd4e-5f62-4099-ad37-ea4cf33ef74a -->*Abid Rohmanu (Pengurus Aswaja Center dan Wakil Dekan I Fasya UIN Kiai Ageng Muhammad Besari)</p>
<p><!-- notionvc: b17b7c12-e503-416a-a0f8-aca5a284f02c --></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/">Belajar dari Nabi Musa: Beriman di Tengah Jalan Buntu*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/belajar-dari-nabi-musa-beriman-di-tengah-jalan-buntu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 00:36:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keseimbangan]]></category>
		<category><![CDATA[modern]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8725</guid>

					<description><![CDATA[<p>Khutbah berjudul “Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern” mengajak jamaah... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/">Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Khutbah berjudul <strong data-start="17" data-end="68">“Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern”</strong> mengajak jamaah untuk menata hidup secara proporsional di tengah arus zaman yang serba cepat, kompetitif, dan penuh tuntutan. Islam mengajarkan bahwa kemajuan dunia tidak boleh mematikan kesadaran akhirat, sebagaimana ibadah tidak boleh membuat kita abai terhadap tanggung jawab sosial. Melalui nilai <em data-start="370" data-end="380">tawassuṭ</em>, <em data-start="382" data-end="391">tawāzun</em>, dan <em data-start="397" data-end="406">i‘tidāl</em>, khutbah ini menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara kerja dan ibadah, kebutuhan jasmani dan ruhani, kepentingan pribadi dan kemaslahatan bersama. Dengan keseimbangan itu, seorang Muslim dapat hadir sebagai pribadi yang produktif, rendah hati, berakhlak, dan tetap dekat kepada Allah di tengah kehidupan modern.</p>
<p>Khutbah I</p>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَحْشُرُنَا فِي الْمَحْشَرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْجَبَّارُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ</p>
<p>Ma’asyirol Muslimin rohimakumulloh.</p>
<p>Marilah kita sama-sama menyempurnakan ketakwaan kita kepada Allah Ta&#8217;ala dengan meningkatkan kesempurnaan ibadah dan ketaatan kita kepada semua perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Semoga kita dapat melaksanakan hal ini hingga akhir hayat kita, tetap teguh dalam iman dan Islam.</p>
<p>Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Neraca dan pertimbangan agama Islam yang mengajarkan untuk bersikap adil dalam memandang kepentingan dunia dan akhirat, telah diabaikan dan dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. Hal ini telah menyebabkan kepentingan dunia dan akhirat menjadi tidak seimbang dan tidak adil.</p>
<p>Propaganda materialisme telah muncul di depan kita dan mempengaruhi sebagian besar umat Islam. Hal ini telah mengacaukan neraca nilai-nilai mereka. Banyak dari mereka yang lebih mementingkan urusan duniawi dari pada kepentingan agama. Sayangnya, pola pikir dan usaha mereka telah dipengaruhi oleh hal-hal materialistis.</p>
<p>Padahal, urusan kepentingan agama hanya terlintas sekilas dalam pikiran mereka, dan berlalu begitu saja dengan cepat seperti kilat dan angin. Tidak ada perhatian yang serius, tidak ada tujuan hidup yang jelas lagi.</p>
<p>Dengan demikian, jelaslah bahwa usaha syetan telah berhasil mempengaruhi sebagian pemeluk agama sehingga mereka menjadi acuh tak acuh terhadap urusan agama, dan kemudian memalingkan perhatian mereka kepada urusan-urusan duniawi.</p>
<p>Bahaya seperti itu sangatlah dikhawatirkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya. Bahaya tersebut adalah pengaruh duniawi, karena dengan pengaruh itu, manusia menjadi rebutan dalam mencari duniawi, bahkan dengan cara yang dilarang oleh agama Islam. Akhirnya, semua kepentingan menjadi terabaikan dan disia-siakan.</p>
<p>Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Nabi bersabda:</p>
<p style="text-align: right">ابْشِرُوا وَامِلُوا مَا يَسْتُرُكُمْ فَوَاللَّهُ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا  ( رواه البخاري ومسلم) كَمَا تَنَا فَسُوهَا ، فَهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ</p>
<p>Artinya: <em>Berbahagialah kalian semua dan berharaplah apa yang membuat kalian senang. Demi Allah, aku tidak takut pada kemiskinan, aku takut jika dunia ini dihamparkan di depanku, seperti yang pernah dihamparkan kepada orang-orang sebelumku, maka mereka akan berebut-rebutan untuk mendapatkannya. Seperti mereka yang berebut-rebutan, maka dunia ini akan merusak mereka, seperti halnya dunia merusak mereka.</em></p>
<p>Dari hadits diatas peringatan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya tentang ujian di dunia.</p>
<p>Kemiskinan dan kemelaratan tidaklah menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hal merusak iman dan keyakinan umatnya. Namun, yang sangat dikhawatirkan oleh Beliau adalah jika umatnya telah terpengaruh oleh kesenangan duniawi, dengan kemewahan dan kekayaan yang melimpah, sehingga mereka saling berebut untuk memperolehnya, bahkan dengan melanggar hukum-hukum agama, dan dengan merugikan serta menyakiti sesama.</p>
<p>Bahkan ada yang rela menjatuhkan atau merugikan saudaranya sendiri, hanya karena pengaruh duniawi.</p>
<p>Demikianlah akhirnya tipuan duniawi jika telah mempengaruhi pemeluk agama. Mereka saling bermusuhan, saling iri dengki, dan tidak lagi peduli dengan batas-batas hukum Allah Ta&#8217;ala. Mereka tidak membedakan lagi antara yang halal dan yang haram, semuanya diinjak-injak, dianggap sama, asalkan mereka sendiri mendapatkan dunia dan kesenangan.</p>
<p>Nabi bersabda:</p>
<p>يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الحَرَامِ فَإِذْ ذَاكَ لأَنجَابُ لَهُمْ دَعْوَةٌ . (رواه الناري والتعالى)</p>
<p>Artinya: <em>akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi membedakan antara yang halal dan yang haram, semua yang mereka dapatkan akan dianggap sama, baik itu hasil yang halal maupun yang haram. Pada saat itu, amal ibadah mereka tidak akan diterima (tidak akan dihargai).</em></p>
<p>Wahai kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Hadits tersebut merupakan berita tentang umatnya, bahwa pada suatu waktu nanti akan ada suatu masa di mana manusia sudah tidak lagi memperhatikan hukum-hukum agama, dan tidak lagi membedakan antara yang halal dan yang haram, karena mereka terlalu sibuk mencari kekayaan dan kesenangan duniawi.</p>
<p>Berita yang telah disampaikan tersebut telah terbukti dan nyata kebenarannya, dan sekarang sudah bisa dilihat bukti kenyataannya di zaman sekarang.</p>
<p>Dengan demikian, orang-orang yang tidak memperdulikan hukum-hukum agama dan tidak membedakan antara yang halal dan yang haram dalam mencari kekayaan, maka mereka akan kehilangan berkah dalam hidupnya. Bahkan doa mereka tidak akan dikabulkan oleh Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Kehilangan berkah dalam hidup ini dapat dilihat dari umur yang telah berlalu, bahkan puluhan tahun tidak memberikan manfaat bagi orang lain setelah mereka meninggal. Bahkan seekor gajah yang mati masih meninggalkan gading yang masih bermanfaat bagi manusia. Sapi dan kambing masih meninggalkan kulit dan tulang yang masih bisa digunakan manusia untuk kebutuhan hidupnya.</p>
<p>Bahkan burung Cenderawasih dan burung Merak masih bisa meninggalkan bulu-bulu mereka yang masih bisa dimanfaatkan oleh manusia, seperti dijadikan hiasan. Namun, manusia yang telah kehilangan berkah dalam hidupnya, meskipun telah hidup puluhan tahun, akan meninggalkan kehidupan ini tanpa meninggalkan bekas-bekas kesalehan atau manfaat bagi orang lain.</p>
<p>Demikian pula amal-amal mereka tidak akan mendapatkan berkah, karena sepanjang gerak-gerik, tutur kata, dan tindakan mereka selalu sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, yaitu perkara-perkara yang haram. Sehingga, amal-amal mereka dibenci oleh Allah Ta&#8217;ala dan akhirnya menjadi sia-sia tanpa ada kesalehan di dalamnya.</p>
<p>Harta benda yang banyak juga tidak akan mendapatkan berkah, karena digunakan untuk memuaskan kesenangan duniawi dan dihambur-hamburkan di tempat-tempat yang haram dan terlarang. Bahkan dapat menimbulkan rasa bangga dan sombong. Akan tetapi jika digunakan untuk mendukung amal saleh dan kemaslahatan umum, terutama untuk kepentingan agama, maka barulah seseorang itu menjadi orang yang beruntung dan berbahagia.</p>
<p>Jika sudah seperti itu, maka Allah Ta&#8217;ala pasti akan murka kepada orang yang memiliki harta seperti itu, dan akan mengancamnya dengan api neraka. Karena, orang yang mengutamakan kepentingan duniawi daripada kepentingan agama, maka akan kehilangan seluruh berkah dalam hidupnya.</p>
<p>Oleh karena itu, wahai saudara-saudara kaum Muslimin, Marilah kita semua bersama-sama berhati-hati dalam menghadapi kehidupan di zaman sekarang, terutama dalam menghadapi pengaruh dan ujian duniawi yang dapat merusak dan menyesatkan kita dari agama kita yang suci. Semoga kita semua sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa lebih mengutamakan kepentingan agama daripada kepentingan lainnya.</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala menyelamatkan kita semua dari fitnah dan ujian kebendaan, agar kita dapat hidup dengan mencari keridhaan-Nya. Amin Ya Robbal &#8216;Alamin.</p>
<p style="text-align: right">اعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يُغْرَتَكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ، (فاطر:٥)</p>
<p>Artinya: <em>Hai manusia! Janji Allah Ta&#8217;ala pasti benar, karena itu janganlah kamu semua terperdaya oleh tipu daya penghuni dunia dan janganlah kamu yang berakal dan bijak ditipu oleh orang-orang yang licik tentang kebenaran Allah Ta&#8217;ala.</em></p>
<p style="text-align: right">جَعَلْنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِينَ الْأَمِنِينَ . وَأَدْخَلْنَا وَإِيَّاكُم فى عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرُ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Khutbah II</p>
<p style="text-align: right">الْحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَسَاجِدَ لِلْمُسْلِمِينَ . بَمَثَابَةِ الْمَعَاهِدِ وَالْأَنْدِيَةِ والمُعَسْكَرَاتِ وَالْمَيَادِينِ ، وَجَعَلَ الجُمَعَ وَالْجَمَاعَاتِ مِنَ اعْظَمِ شَعَائِرِ الدِّينِ. نَحْمَدُهُ تَعَالَى وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ . وَمَالِكُ يَوْمِ الدِّينِ . وَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ عَلَيْهِ نَعْتَمِدُ وَإِلَيْهِ نَسْتَنِدُهُ وَإِيَّاهُ نَعْبُدُ وَبِهِ تَعَالَى نَسْتَعِينَ . وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيْدَنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيْدُ المُرْسَلِينَ . وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ . وَقَائِدُ الغُر المُحَجَلِينَ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ . اللَّهُمَّ فَصَلَ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الهَادِي إِلى الصِّرَاطِ المستقيم. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمُ بِإِحْسَانٍ في جَمِيعِ التَّعَالِيهِ . صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ ، أَفْضَلُ صَلَاةٍ وَتَسْلِيمٍ</p>
<p style="text-align: right">امَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمُهُ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ . وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيهِ قَدِيمًا ، وَأَمَرَكُمْ بذلك إِرْشَادًا وَتَعْلِيمًا. فَقَالَ تَعَالَى لَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا . إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا &#8230;</p>
<p style="text-align: right">اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ . وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراحمين</p>
<p style="text-align: right">اللَّهُمَّ اغْفِرُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ منهم والأمواتِ، وَضَعَفْ لَهُمُ الحَسَنَاتِ ، وَكَفِّرْ عَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَارْزُقُهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ . إِنَّكَ سَمِيع قريب مجيب الدَّعَوَاتِ . يَا قَاضِي الحَاجَاتِ . يا كَاشِفَ الْمُهُمَاتِ ، وَيَا دَافِعَ البَلِيَّاتِ اللَّهُمَّ أَعِنَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ. وَأَهْلِكِ الكَفَرَة وَالظَّالِمِينَ . اللَّهُمَّ انْصُرُ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسلِمِينَ . وَاغْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا اندو نَيْسِيَا بَلْدَةً أَمَنَةً مُطْمَئِنَّةً . تَجْرِى فِيهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُولِكَ. يا حي يا قيومُ يَا اللَّهُ كُلِّ شَيْءٍ . هُذَا حَالَنَا يَا اللَّهُ لَا يَخْفَى عَلَيْكَ.</p>
<p style="text-align: right">اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَا البَلَاء وَالغَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالحَنَ . مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هُنَا خَاتَمَةٌ، وَمِنْ بُلْدَانِ المُسلِمِينَ عَامَةُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَبِالْإِجَابَةِ جَدِينَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلَا يَجْعَلُ فِي قُلُوبِنَا عَلَا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ .</p>
<p style="text-align: right">عِبَادَ اللَّهِ ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ، يَعِظُكُرُهُ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.</p>
<p style="text-align: right">اذْكُرُوا العَظِيمَ يُذكركُمْ ، وَاشْكُرُوا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْ كُرُهُ ، وَاسْأَلُوا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيكُمُهُ وَلَذِكْرُ اللَّهِ اكْبَرُ .</p>
<p>*<em>Asvin Abdur Rohman, Rektor Insuri Ponorogo.</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/">Keseimbangan dalam Menjalani Kehidupan Modern &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/keseimbangan-dalam-menjalani-kehidupan-modern/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan*</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi NUPonorogo]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 May 2026 01:39:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[spirit aswaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=8669</guid>

					<description><![CDATA[<p>Khutbah Jumat berjudul “Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan” ini... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/">Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-8670" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2026/05/ChatGPT-Image-May-29-2026-08_07_05-AM-1-1.png" alt="" width="300" height="169" /></p>
<p>Khutbah Jumat berjudul <strong>“Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan”</strong> ini mengajak jamaah meneladani keluarga Nabi Ibrahim. Di tengah tekanan ekonomi, kesibukan kerja, dominasi gawai, dan renggangnya komunikasi keluarga, khutbah dengan spirit Aswaja an-Nahdliyah ini, mengajak jamaah menjadikan rumah sebagai madrasah iman dan akhlak melalui doa, komunikasi yang baik, keteladanan, penghormatan kepada orang tua dan ulama, serta kesediaan berkorban demi keutuhan keluarga.</p>
<p>Khutbah I</p>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأُسْرَةَ مَدْرَسَةً لِلْإِيْمَانِ وَالصَّبْرِ وَالتَّقْوَى، وَجَعَلَ فِيْ قِصَّةِ إِبْرَاهِيْمَ وَأَهْلِهِ عِبْرَةً لِأُولِي الْأَلْبَابِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَشْكُرُهُ عَلَى جَمِيْعِ نِعَمِهِ، وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ</p>
<p style="text-align: right">قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّيْ أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّيْ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ</p>
<p><strong>Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Pada hari-hari Dzulhijjah yang penuh keberkahan ini, kita kembali diingatkan kepada kisah agung keluarga Nabi Ibrahim a.s. Kisah itu bukan sekadar sejarah tentang ibadah kurban. Ia adalah pelajaran besar tentang keluarga, iman, keteladanan, dan pendidikan pengorbanan.</p>
<p>Tema khutbah kita hari ini adalah: <strong>“Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan.”</strong> Tema ini penting karena keluarga hari ini menghadapi tekanan yang tidak ringan. Ada tekanan ekonomi. Ada kesibukan kerja. Ada jarak komunikasi antara orang tua dan anak. Ada gawai yang mendekatkan yang jauh, tetapi kadang menjauhkan yang dekat. Ada rumah yang tampak lengkap secara materi, tetapi sepi dari percakapan, doa, dan keteladanan.</p>
<p>Banyak keluarga kuat bangunannya, tetapi rapuh suasana batinnya. Banyak anak tidak kekurangan fasilitas, tetapi kekurangan perhatian. Banyak orang tua bekerja keras untuk masa depan anak, tetapi tidak selalu punya waktu untuk mendidik hati dan akhlaknya.</p>
<p>Di tengah keadaan seperti ini, keluarga Nabi Ibrahim memberi teladan penting: keluarga yang kuat tidak cukup dibangun dengan nafkah lahir. Keluarga juga harus dibangun dengan iman, adab, kesabaran, dialog, dan kesediaan berkorban.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Ayat yang kita baca tadi memperlihatkan peristiwa yang sangat berat. Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Ismail bukan anak biasa. Ia adalah anak yang lama dinantikan, anak yang sangat dicintai, anak yang telah tumbuh menjadi penyejuk hati.</p>
<p>Namun, mari kita perhatikan cara Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah kepada anaknya. Beliau tidak berkata dengan keras. Beliau tidak memaksa dengan amarah. Beliau tidak menggunakan otoritas ayah secara sewenang-wenang. Beliau memanggil anaknya dengan panggilan kasih:</p>
<p style="text-align: right">يَا بُنَيَّ</p>
<p><em>“Wahai anakku tersayang.”</em></p>
<p>Panggilan ini pendek, tetapi maknanya sangat dalam. Di dalamnya ada cinta, kelembutan, penghormatan, dan kedekatan batin antara ayah dan anak. Setelah itu Nabi Ibrahim berkata:</p>
<p style="text-align: right">فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ</p>
<p><em>“Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”</em></p>
<p>Di sinilah kita belajar bahwa pendidikan keluarga dalam Islam bukan pendidikan yang kasar, bukan pula pendidikan yang membiarkan. Pendidikan keluarga adalah jalan tengah: tegas dalam nilai, lembut dalam cara; kuat dalam prinsip, bijak dalam komunikasi.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Jawaban Nabi Ismail juga sangat luar biasa. Ia berkata:</p>
<p style="text-align: right">يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ</p>
<p><em>“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”</em></p>
<p>Jawaban ini bukan jawaban anak yang takut kepada ayahnya. Ini adalah jawaban anak yang hatinya telah dididik mengenal Allah. Ismail tidak hanya menghormati ayahnya, tetapi juga tunduk kepada perintah Allah. Ia tidak hanya memiliki sopan santun, tetapi memiliki kedalaman iman.</p>
<p>Dari sini kita belajar bahwa keberhasilan pendidikan keluarga tidak hanya diukur dari prestasi duniawi anak. Prestasi itu penting. Sekolah penting. Ilmu penting. Keterampilan penting. Tetapi semua itu harus dipandu oleh iman dan akhlak.</p>
<p>Anak yang pintar tanpa adab bisa menjadi tajam dan melukai. Anak yang sukses tanpa iman bisa tinggi kedudukannya, tetapi kosong jiwanya. Anak yang memiliki banyak kemampuan, tetapi tidak mengenal tanggung jawab, bisa menjadi beban bagi dirinya dan lingkungannya.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p style="text-align: right">خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ</p>
<p>Artinya: <em>“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”</em> (HR. At-Tirmidzi).</p>
<p>Hadis ini memberikan ukuran yang sangat jujur tentang kualitas kesalehan kita. Kesalehan tidak hanya tampak di masjid. Kesalehan juga tampak di rumah. Kesalehan tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di tengah masyarakat. Kesalehan juga terlihat ketika ia berhadapan dengan istri, suami, anak, orang tua, saudara, dan keluarganya.</p>
<p>Rumah adalah tempat paling nyata untuk menguji akhlak. Di rumahlah kesabaran diuji. Di rumahlah kelembutan diuji. Di rumahlah kejujuran, tanggung jawab, dan pengorbanan diuji. Maka, memperbaiki keluarga berarti memperbaiki pusat akhlak kita sendiri.</p>
<p><strong>Jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Pengorbanan dalam keluarga tidak selalu berbentuk peristiwa besar. Pengorbanan sering hadir dalam hal-hal sederhana. Ayah yang bekerja dengan halal dan sabar adalah bentuk pengorbanan. Ibu yang merawat dan mendoakan anak-anaknya adalah bentuk pengorbanan. Suami istri yang saling memahami adalah bentuk pengorbanan. Anak yang menghormati orang tua adalah bentuk pengorbanan.</p>
<p>Pengorbanan juga berarti menahan lisan agar tidak melukai. Menahan amarah agar rumah tidak dipenuhi ketegangan. Mengurangi ego agar tidak semua perbedaan berubah menjadi pertengkaran. Berani meminta maaf meskipun merasa benar. Berani memaafkan meskipun hati masih terluka. Berani meluangkan waktu untuk keluarga meskipun tubuh lelah setelah bekerja.</p>
<p>Inilah makna kurban yang perlu kita bawa pulang ke rumah. Kurban bukan hanya menyembelih hewan. Kurban juga menyembelih kesombongan, keakuan, kemarahan, dan kecintaan berlebihan kepada dunia.</p>
<p><strong>Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,</strong></p>
<p>Dalam pandangan kemaslahatan, keluarga bukan urusan pribadi semata. Keluarga adalah fondasi masyarakat. Bila keluarga rusak, masyarakat ikut lemah. Bila keluarga kuat, masyarakat ikut sehat. Rumah yang mendidik akhlak akan melahirkan warga yang jujur. Rumah yang membiasakan musyawarah akan melahirkan pribadi yang menghargai perbedaan. Rumah yang penuh doa akan melahirkan jiwa yang lebih tenang. Rumah yang menghormati ilmu dan ulama akan melahirkan generasi yang tidak tercerabut dari akar agamanya.</p>
<p>Karena itu, memperbaiki keluarga adalah bagian dari ibadah sosial. Ia bukan hanya untuk kebaikan rumah kita sendiri, tetapi juga untuk kemaslahatan umat, masyarakat, dan bangsa.</p>
<p><strong>Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,</strong></p>
<p>Maka pada momentum Dzulhijjah ini, marilah kita pulang membawa semangat keluarga Ibrahim, dengan menghidupkan doa dalam rumah [tidak hanya gawai], memperbaiki komunikasi dengan anak, menjadikan rumah sebagai madrasah akhlak bagi anak-anak, dan meluangkan waktu untuk keluarga.</p>
<p>Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Semoga Allah menjadikan anak-anak kita generasi yang saleh dan salehah, berilmu, beradab, menghormati orang tua, mencintai ulama, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.</p>
<p style="text-align: right">بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.</p>
<p style="text-align: right">أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</p>
<p style="text-align: right"><!-- notionvc: 2ed6a2cd-e080-455e-bf72-3a45af1c9000 -->.</p>
<h2>Khutbah II</h2>
<p style="text-align: right">اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا بُيُوْتًا مُبَارَكَةً، مَمْلُوْءَةً بِالْإِيْمَانِ وَالسَّكِيْنَةِ وَالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ وَالصَّالِحَاتِ، الْبَارِّيْنَ بِوَالِدَيْهِمْ، النَّافِعِيْنَ لِلْأُمَّةِ وَالْبِلَادِ.</p>
<p style="text-align: right">اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِتَرْبِيَةِ أَوْلَادِنَا عَلَى الْإِيْمَانِ وَالْأَخْلَاقِ الْكَرِيْمَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحْفَظُوْنَ أَهْلِيْهِمْ بِالرَّحْمَةِ وَالْمَوَدَّةِ وَحُسْنِ الْمُعَاشَرَةِ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنَ الْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكَاتِ، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ وَرِعَايَةِ مَصَالِحِ الْعِبَادِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.</p>
<p style="text-align: right">عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.</p>
<p style="text-align: right">فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَر</p>
<p>*Abid Rohmanu, Aswaja Center.</p>
<p><!-- notionvc: c2c662e9-8a9c-4914-a857-a3e77696ee54 --></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/">Keluarga Ibrahim dan Pendidikan Pengorbanan*</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/keluarga-ibrahim-dan-pendidikan-pengorbanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Dalam Bertalfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2025 01:47:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7216</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Wr., Wb. Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Hati-Hati Dalam Bertalfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7217" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/Khutbah-Jumat-Hati-hati-dalam-bertalfiq-355x199.jpg 355w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></p>
<p>Assalamualaikum, Wr., Wb.</p>
<p>Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut adalah teks khutbah Jumat Bahasa Jawa dengan judul ”Hati-hati dalam Bertalfiq”</p>
<p style="text-align: right;">اَلحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفُرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّآتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهْ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ واتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم: وَدَاودَوَسُلَيْمٰنَ اِذْيَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْنَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ ۚوَكُنَّالِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاودَالْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّافٰعِلِيْنَ</p>
<p><strong><em>Maasyiral Muslimin Rahimakumullah</em></strong></p>
<p>Pada hari yang mulia ini, marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan semaksimal mungkin, takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menjalankan segala apa yang menjadi perintah-Nya. Karena dengan ketakwaan, kita berharap semoga setiap persoalan hidup yang kita alami akan ada jalan keluarnya dan akan ada pula rezeki yang datang kepada kita tanpa disangka-sangka.</p>
<p><strong><em>Maasyiral Muslimin Rahimakumullah</em></strong></p>
<p>Perbedaan pendapat di antara madzhab fiqh memang banyak sekali terjadi dan menjadi kenyataan sejarah yang tidak dapat dipungkiri dan harus kita terima sebagaimana adanya. Meskipun begitu, perbedaan pendapat tersebut bila dengan seksama dan dengan bijak kita cermati, samasekali bukanlah menjadi sebuah aib atau penyebab malapetaka dalam Islam. Sebaliknya, perbedaan pendapat tersebut menjadi rahmat bagi kaum muslimin karena akan saling mengisi dan melengkapi antara satu madzhab dengan madzhab yang lainnya. Perbedaan pendapat antar umat Islam telah digariskan dalam al-Qur’an melalui kisah Nabi Daud dan Sulaiman. Hal ini tentu menjadi legitimasi atau atau penguat bahwasannya al-Qur’an mengakui adanya perbedaan pendapat. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anbiya 78-79:</p>
<p style="text-align: right;">وَدَاودَوَسُلَيْمٰنَ اِذْيَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْنَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ ۚوَكُنَّالِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاودَالْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّافٰعِلِيْنَ</p>
<p><em>“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu.</em><em>Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya”.</em></p>
<p><strong><em>Hadirin jamaah jumat rahimakumullah</em></strong></p>
<p>Dalam ayat di atas diterangkan, Allah memberi pujian kepada nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS, dan Allah memberi keduanya hikmah dan ilmu, padahal kebenaran dalam keputusan berada pada keputusan Nabi Sulaiman AS. Sementara Nabi Daud AS mengeluarkan keputusan yang sebaliknya. Tetapi karena keduanya mengeluarkan keputusan berdasarkan ijtihadnya masing-masing, Allah samasekali tidak mencela, bahkan memberi keduanya pujian dengan hikmah dan ilmu. Dari ayat tersebut, Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah berkesimpulan bahwasannya perbedaan pendapat di kalangan Mujtahid adalah hal yang biasa saja dan bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan perbedaan pendapat tersebut keberadaannya diakui oleh Al-Qur’an.</p>
<p><strong><em>Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT</em></strong></p>
<p>Meskipun terdapat perbedaan pendapat yang terjadi antar berbagai madzhab yang ada dalam Islam, namun para ulama telah memberikan kesempatan bagi kita untuk melakukan penggabungan dua pendapat beda madzhab ketika dalam kondisi <em>dharurat syar’I </em>dalam beberapa permasalahan yang memang tidak ditemukan jalan keluarnya dalam satu madzhab tertentu. Penggabungan tersebut dikenal dengan istilah <em>talfiq. </em></p>
<p>Talfiq adalah menggabungkan dua pendapat beda madzhab dalam suatu kerangka masalah (<em>qadhiyah</em>). Namun begitu, meskipun para ulama telah memberikan rambu-rambu mengenai dimungkinkannya melakukan <em>talfiq </em>atau penggabungan dua madzhab, akan tetapi hal tersebut harus dilakukan secara hati-hati dan memperhatikan hal-hal berikut. <em>Pertama, </em>melakukan <em>talfiq </em>atau penggabungan dua madzhab tidak semata-mata bertujuan untuk mencari praktek beribadah yang paling mudah, akan tetapi karena adanya keterbatasan atau keterdesakan atau <em>dhoruroh syar’iyyah</em>. <em>Kedua, talfiq </em>atau menggabungkan dua pendapat beda madzhab hanya bisa dilakukan dalam satu kerangka masalah ibadah. Misalnya dalam masalah wudhu, setelah berwudhu seseorang memegang kemaluannya tanpa syahwat dan menganggapnya tidak membatalkan wudhu karena menggunakan pendapat Imam Imam Malik, namun saat berwudhu tidak menggosok-gosok anggota wudhunya dengan air karena mengikuti Imam Syafi’i. Maka ketika sholat hukumnya tidak sah, karena menurut pendapat Imam Syafi’i Wudhunya batal karena memegang kemaluan, sedangkan menurut Imam Malik juga tidak sah karena tidak menggosok-gosok anggota wudhunya. Dengan demikian maka wudhunya batal menurut dua imam.</p>
<p><strong><em>Hadirin Jamaah Sholat Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT</em></strong></p>
<p>Dalam kitab <em>Fathul Mu’in </em>karangan Syaikh Zainuddin Al-Malibari <em>talfiq </em>bisa dilakukan di antara dua kerangka masalah (<em>Qadhiyah</em>), seperti wudhu dengan mengusap sebagian kepala karena mengikuti madzhab As-Syafi’i dan shalat menghadap ke arah kiblat (<em>Jihah/</em>tidak benar-benar tepat lurus ke Ka’bah) karena mengikuti Madzhab Abu Hanifah, maka shalatnya dianggap sah, sebab dalam kasus ini kedua imam tidak menyepaki ketidakabsahan wudhunya. Keterangan mengenai <em>talfiq </em>tersebut juga bisa ditemukan dalam kitab <em>‘ianah at-Thalibin </em>karangan Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi.</p>
<p>Semoga khutbah ini menambah pengetahuan kita bersama utamanya berkaitan dengan permasalahan <em>fiqh ibadah </em>yang memang menjadi kewajiban kita semua dalam rangka menjalankan agama Islam secara kaffah atau sempurna. Amin amin ya mujiib as-Sailin.</p>
<p style="text-align: right;">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقٌرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِاسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَالتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُم وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْم. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن.</p>
<p><strong>KHUTBAH </strong>II</p>
<p style="text-align: right;">الْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون</p>
<p style="text-align: right;">اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ</p>
<p style="text-align: right;">اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والحمد لله رب العالمين.</p>
<p style="text-align: right;">عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر</p>
<p><em>Khutbah Jumat ini ditulis oleh:</em></p>
<p><em>Dr. M. Muchlish Huda, M.Pd.I.</em></p>
<p><em>Sekretaris PC ISNU Ponorogo</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Hati-Hati Dalam Bertalfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/hati-hati-dalam-bertalfiq-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngatos-Atos Lebeting Talfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2025 01:32:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7213</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Wr., Wb. Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/">Ngatos-Atos Lebeting Talfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7214" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/05/KHUTBAH-JUMAT_Ngatos-atos-Lebeting-Talfiq-355x199.jpg 355w" sizes="(max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></p>
<p>Assalamualaikum, Wr., Wb.</p>
<p>Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut adalah teks khutbah Jumat Bahasa Jawa dengan judul ”Ngatos-Atos Lebeting Talfiq.”</p>
<p>Khutbah I</p>
<p style="text-align: right;">اَلحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفُرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّآتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهْ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ واتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم: وَدَاودَوَسُلَيْمٰنَ اِذْيَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْنَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ ۚوَكُنَّالِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاودَالْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّافٰعِلِيْنَ</p>
<p><em>Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing dinten ingkang mulya puniko, monggo kito senantioso njagi lan ningkataken ketaqwaan kito wonten ing ngarsa dalem Allah Swt kanti semaksimal mungkin. Taqwa ingkang artosipiun nebihi sedoyo ingkang dados awosanipun lan nglampahi sedoyo ingkang dados perintah Allah Swt. Keranten kanthi ketaqwaan meniko, kulo panjenengan sami ngajeng-ngajeng mugi-mugi saben-saben permasalahan gesang ingkang kulo penjengan alami dipun paringi pitedah lan sageto pikantuk rezeki ingkang mboten kito nyono kiro.</p>
<p><em>Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,</em></p>
<p>Perbedaan pendapat wonten ing antarane madzhab fiqh meniko kathah sanget, lan sampun dados kasunyatan wonten ing sejarah ingkang mboten saget kito pungkiri. Senaoso mekaten, perbedaan kados mekaten kolo wau, menawi kito cermati boten dados aib utawi penyebab keburukan wonten ing Islam. Sakwalikipun, perbedaan pendapat meniko dados rahmat kagem umat Islam keranten saling mengisi lan melengkapi wonten antarane setunggal madzhab kaliyan madzhab lintune.</p>
<p>Perbedaan pendapat wonten antaranipun umat Islam sampun dipun garis kaliyan Al Quran melalui kisahipun Nabi Daud lan Sulaiman As. Kisah meniko sampun dados legitimasi utawi penguat, bilih Al Quran mengakui wontene perbedaan pendapat. Allah Swt berfirman wonten ing surat Al Anbiya ayat 78-79:</p>
<p style="text-align: right;">وَدَاودَوَسُلَيْمٰنَ اِذْيَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْنَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِ ۚوَكُنَّالِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ. فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاودَالْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّافٰعِلِيْنَ</p>
<p>Artosipun:</p>
<p><em>Lan (ilingo cerito) Dawud lan Sulaiman, nalika deweke ngewehi keputusan ing dalem ladang. Nalika (ladang) iku wes dirusak marang mendo-mendone piro-piro kaum. Lan temen wes nyekseni keputusan keduwe piro-piro kaum. Lan wes den aweh pangerten sopo kito ing Sulaiman (tentang hukum kang luwih tepat); lan wus tumeko marang kaum opo iku hikmah lan ilmu, lan wus kito dadeaken tunduk opo gunung-gunung lan manuk, muji marang Allah sopo gunung lan manuk lan Dawud. Lan saktemene kito kang nindaake.</em></p>
<p><em>Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah</em></p>
<p>Wonten ing ayat meniko, sampun diterangaken bilih Allah paring pujian dateng Nabi Daud As lan Nabi Sulaiman As. Lan Allah nyaosi kekalihipun hikmah lan ilmu, senaoso kabeneran wonten ing keputusan wonten ing astane Nabi Sulaiman. Wondene Nabi Daud nyaosi keputusan ingkang sakwalikipun. Ananging keranten kekalihipun maringi keputusan kanthi dasar ijtihad, Gusti Allah mboten duko, lan Gusti Allah maringi pujian lan ilmu dumateng kekalihipun. Saking ayat puniko, poro ulama <em>ahlussunnah wal jamaah</em> berkesimpulan bilih perbedaan pendapat antaranipun poro mujtahid niku hal ingkang biasa, sanes sesuatu ingkang tercela.</p>
<p><em>Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah</em></p>
<p>Senaoso wonten perbedaan pendapat wonten ing madzhab-madzhab ing dalem Islam, poro ulama sampun maringi kesempatan kito kagem gabungaken kaleh pendapat ingkang beda madzhab nalika wonten kondisi darurat syar’i, khususipun wonten ing masalah ingkang mboten dipun panggihi solusinipun wonten ing setunggale madzhab. Penggabungan meniko dipun wastani kanthi istilah <em>talfiq.</em></p>
<p><em>Talfiq </em>inggih puniko gabungaken kaleh pendapat ingkang bedo madzhab wonten ing setunggal masalah <em>(qadhiyat). </em>Senaoso mekaten, poro alim ulama maringi rambu-rambu wonten ing nglampahi <em>talfiq.</em> Keranten keputusan puniko kedah dipun laksanakaken kanti ati-ati lan kedah mirsani pinten-pinten perkawis;</p>
<p><em>Sepindah, talfiq </em>mboten namung semata-mata bertujuan kagem pados ibadah ingkang paling enteng, ananging keranten keterbatasan utawi <em>dhoruroh syar’i. </em></p>
<p><em>Kaping kalih, talfiq</em> benten madzhab namung saget dilampahi wonten ing setunggal masalah ibadah. Misalipun wonten ing masalah wudlu nyepeng organ kemaluan tanpa didasari syahwat lan nganggep masalah puniko mboten batalaken wudlu keranten berdasarkan pendapat Imam Malik. Ananging naliko wudlu mboten  gosok-gosok anggota wudluipun damel tuyo keranten nderek madzhab Imam Syafii. Naliko sholat hukumipun mboten sah, keranten miturut pendapat Imam Syafii wudlunipun batal keranten nyepeng kemaluan, sementara miturut imam Malik nggih mboten sah keranten mboten gosok-gosok anggota wudlu. Pramilo, wudlunipun batal miturut kekalih imam.</p>
<p><em>Hadirin Jamaah Jumah Rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing kitab <em>Fathul Muin, </em>karangan Syaikh Zainuddin Al Malibari, <em>talfiq </em>saget dilampahi ing antara kaling masalah <em>(qadhiyah), </em>kados wudlu kanthi ngusap sebagian kepala keranten nderek amdzhab As Syafii lan sholat madep kiblat (<em>jihah/</em>mboten bener-bener tepat lurus ten kakbah) keranten derek madzhab Abu Hanifah, pramilo sholatipun sah, sebab wonten ing kasus meniko poro imam mboten menyepakati ketidaksahan wudhunipun. Keterangan meniko saget ditingali wonten kitab <em>i&#8217;anatut talibin</em> karangan Abu Bakr bin Muhammad Syata’ Ad Dimyathi.</p>
<p>Mugi-mugi khutbah meniko saget nambahi pangerten kito utaminipun wonten ing permasalahan fiqh ibadah, keranten paham masalah meniko dados kewajiban kito sedoto dalam rangkan nglampahi Islam secara <em>kaffah </em>utawi sampurno. <em>Amiin Amiin ya mujiib as Sailin</em>.</p>
<p style="text-align: right;">بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقٌرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِاسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَالتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُم وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْم. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْن.</p>
<p>Khutbah II</p>
<p style="text-align: right;">الْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُون</p>
<p style="text-align: right;">اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ</p>
<p style="text-align: right;">اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والحمد لله رب العالمين.</p>
<p style="text-align: right;">عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر</p>
<p><em>Khutbah Jumat ini ditulis oleh:</em></p>
<p><em>Dr. M. Muchlish Huda, M.Pd.I.</em></p>
<p><em>Sekretaris PC ISNU Ponorogo</em></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/">Ngatos-Atos Lebeting Talfiq &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu-talfiq/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 15:06:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7003</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Wr., Wb. Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Menjaga Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7004" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_Menjaga-Semangat-Ramadhan.jpg.crdownload-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></p>
<p>Assalamualaikum, Wr., Wb.</p>
<p>Warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut adalah teks khutbah Jumat Bahasa Indonesia dengan judul &#8221; Menjaga Semangat Ramadhan.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ<br />
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.<br />
أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الْإِخْوَانِ، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ</p>
<p style="text-align: right;">قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِين</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang jum’at rahimakumullah</em></p>
<p>Pada kesempatan yang sangat berharga ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan <em>imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi </em>(melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangannya). Ketahuilah&#8230;..tidak ada bekal yang paling bagus kita bawa dihadapan Allah SWT, kecuali takwa kita kepada Allah SWT.</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang Jum’at rahimakumullah</em></p>
<p>Kita masih berada pada bulan Romadhan, bulan penuh berkah dan ampunan dari Allah SWT. Orang-orang yang beriman akan mengalami dua hal. Jika pada awal Romadhan tiba, perasaan mereka bersuka cita, bergembira, namun saat ini, di akhir Romadhan ini, perasaan umat Islam yang beriman berapada dalam dua kondisi ini. Jika dua kondisi ini tidak dimiliki, kita patut mempertanyakan keimanan kita.</p>
<p>Pertama, perasaan sedih karena akan ditinggalkan oleh bulan mulia. Sudahkan kita beribadah dengan maksimal di bulan Romadhan ini. Sudahkan kita meminta ampun kepada Allah SWT atas apa yang pernah kita lakukan dan sudahkah kita berdoa, memohon kepada Allah SWT atas apa yang kita inginkan. Dengan perasaan ini, seseorang akan memanfaatkan sisa waktu ini dengan bersungguh-sungguh beribadah, meminta ampun dan berdoa. Pahala yang sangat besar dan hanya Allah SWT sendiri yang akan memberinya sungguh suatu iming-iming yang tiada tanding. Terlebih lagi, perasaan sedih, sudahkah kita maksimal dalam menggapai lailatul Qadar. Padahal Allah SWT telah berfirman:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur&#8217;an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar&#8221;. (QS. Al Qadr: 1-5)</p>
<p>Kedua, diakhir Romadhan ini sudahkah kepekaan sosial kita meningkat atau tidak. Kepekaan sosial itu seperti sudahkah kita tambah merasa iba jika melihat anak yatim piatu yang tidak bisa sekolah, atau melihat orang miskin yang hidupnya serba pas-pasan. Jika belum, mari kita pupuk perasaan itu dengan menyadari bahwa manusia itu sebenarnya adalah makhluk lemah. Tidak makan satu hari, tidak minum satu hari saja lapar dan dahaga. Manusia awalnya tidak memiliki apa-apa, namun karena usaha, ia memiliki harta. Jika seseorang telah memiliki harta, ia harus ingat bahwa semua itu karena kehendak Allah SWT. Jangan mengaku bahwa itu adalah hanya semata-mata hasil jerih payahnya sendiri. Coba kita lihat, banyak orang yang bekerja, namun hidupnya pas-pasan, juga banyak orang memiliki harta, tetapi dengan sekejap dihilangkan oleh Allah SWT melalui berbagai cara seperti kebakaran, sakit yang memakan banyak biaya, gempa bumi, dicuri orang dan lain-lain. Begitu pentingnya ibadah sosial ini, sehingga Allah SWT menggabungkan puasa dengan kewajiban zakat sebagai gambaran dari ibadah sosial tersebut.</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang Jum’at rahimakumullah</em></p>
<p>Dua perasaan tersebut akan menghadirkan pribadi umat Islam yang bertakwa. Takwa itulah inti dari diperintahkannya puasa. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an dalam masalah puasa surah al-Baqarah ayat 183.</p>
<p style="text-align: right;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ</p>
<p>Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.</p>
<p>Apa balasan bagi orang yang bertakwa? Orang yang bertakwa pertama, akan diberi jalan keluar setiap masalah yang dimiliki serta akan diberi rizki oleh Allah SWT melalui jalan atau cara yang tidak pernah ia prediksi sebelumnya. Ia tidak akan mengalami kekurangan rizki. Allah SWT berfirman dalam surah al-Thalaq ayat 2-3</p>
<p style="text-align: right;">وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ</p>
<p> Artinya: <em>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya</em>.”</p>
<p>Semoga kita termasuk orang-orang yang bertakwa…Amiin.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong> </strong><strong>اَلْخُطْبَةُ الُثَّانِيَةُ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>         اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>        اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ !</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِا لرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْتَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ </strong><strong>يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Menjaga Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/menjaga-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jagi Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 15:02:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=7000</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Wr., Wb. warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/">Jagi Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7001" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_JAGI-SEANGAT-RAMADHAN-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /></p>
<p>Assalamualaikum, Wr., Wb.</p>
<p>warga Nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut adalah teks khutbah Jumat Bahasa Jawa NU dengan judul &#8220;Jagi Semangat Ramadhan&#8221;.</p>
<p style="text-align: right;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ<br />
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.<br />
أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الْإِخْوَانِ، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ<br />
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِين</p>
<p><em>Kaum muslimin siding jumat rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing kesempatan ingkang sae punika, monggo kulo panjenengan sami ningkataken taqwa dumateng Allah SWT. Caranipun inggih punika kanti <em>imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi </em>(nglampahi sedoyo perintah-perintahipun Allah lan nebihi sedoyo awosanipun). Kedah dipun mangertosi bilih mboten wonten bekal inggal langkung sae kulo panjenengan sami beto wonten ngarsa dalem Allah kejobo taqwa kulo panjenengan sami dumateng Allah SWT.</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang jumat rahimakumullah,</em></p>
<p>Kulo panjenengan sami tasih wonteng ing dalem bulan Ramadhan, bulan ingkang kebak barokah lan ampunan saking Allah SWT. Tiyang-tiyang ingkang beriman bade ngalami kaleh perkawis. Menawi wonten awal Ramadhan, perasaan meniko remen sanget, suka cita, ananging wonten wekdal meniko, wonten ing akhir bulan Ramadhan, perasaan umat Islam ingkang beriman nglampahi ing dalem kaleh kondisi. Menawi kekalih kondisi meniko mboten dipun gadahi, kulo panjenengan sami patut nangletaken iman kito.</p>
<p><em>Sepindah</em>, perasaan sedih keranten bade dipun tilar kalian bulan kang Mulya. Nopo kulo panjenengan sami sampun ibadang kanti maksimal wonten ing bulan Ramadhan puniko? Nopo kulo panjenengan sami sampun nyuwun pangapuro dumateng Gusti Allah SWT kelawan nopo ingkang pernah kulo panjenengan lampahi, lan nopo kulo panjenengan sami sampun dedongak? Nyuwun kaliyan Allah SWT nopo ingkang kulo panjenengan sami kersaaken. Kanti perasaan puniko, kulo panjenengan sami bade memanfaatkan sisa wekdal punika kanti temen-temen anggenipun ngibadah, nyuwun ampunan saking Allah lan dedungo. Ganjaran ugi langkung ageng lan namung Allah SWT piyambak ingkang bade nyaosi dumateng umat manungso kang mboten wonten tandinganipun. Ugi, perasaan sedih, nopo kulo panjenengan sami sampun maksimal anggenipun ngupayaaken ngraih lailatul Qadar, padahal Allah SWT sampun dawuh:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>Artosipun: <em>saktemene Ingsun (kami) wus nurunake (Al Quran) ing dalem wengi kamulyan. Lan ngertio sopo siro apa iku malam kamulyan? Malam kamulyan iku luwih apik katimbang sewu wulan. Ing dalem wengi iku wes mudun piro-piro moloikat lan moloikat Jibdril kelawan izin Pengerane halih agawe ngatur piro-piro perkoro. Wengi iku (kebak) kesejahteraan sampai terbite fajar.” (QS. Al Qadr:1-5)</em></p>
<p><em>Kaping kalih</em>, wonten ing dalem akhir Ramadhan puniko, nopo kulo penjenengan sami sampun anggadahi kepekaan sosial kito kang meningkat nopo mboten? Kepekaan sosial inggih puniko kados dene kulo panjenengan sami dados anggadahi raos iba menawi mirsane lare-lare Yatim Piatu mboten saget sekolah, utawi mirsani tiyang miskin ingkang urip ipun serba pas-pasan. Menawi dereng, monggo kito pupuk perasaan puniko kanti menyadari bilih manungso niku saktemene makhluk kang lemah. Mboten dahar lan ngunjuk sedinten kemawon tansah ngraosaken luwe lan ngelak. Manungso awalipun mboten gadah nopo-nopo, anangi amargi usaha, piyambake gadah harta. Menawi manungsi sampun gadah harta piyambake kedah emut, bilih sedoyo puniko keranten kehendak Allah SWT. Sampun ngantos ngaku-aku harta puniko semata-mata hasil jerih payah piyambake.. Cobi kito pirsani, kathah tiyang-tiyang ingkang nyambut damel, ananging urip ipun pas-pasan, ugi katah ingkang gadah harta anangi kanti sekejap dipun ilangaken kaliyan gusti Allah SWT kelawan musibah, kados kebakaran, gerah ingkang katah nelasaken harta, gempa bumi, lan lintu-lintunipun. Keranten penting sanget ibadah sosial puniko, sahinggo Allah SWT gabungaken siyam kalian kewajiban zakat sebagai gambaran saking ibadah sosial meniko.</p>
<p><em>Kaum muslimin siding jumat rahimakumullah,</em></p>
<p>Kekalih perasaan puniko saget dadosaken pribadi umat Islam kang taqwa. Taqwa puniko inti saking perintah siyam. Allah sampun berfirman wonten Al Quran terkait masalah siyam puniko wonten ing surat Al Baqarah ayat 183.</p>
<p style="text-align: right;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ</p>
<p>Artosipun: <em>he wong-wong kang beriman, wus den wajibake ing ngatase siro kabeh poso koyo dene wus den wajibake ingatasi wong-wong kang luwih disik sak durunge siro supoyo taqwa siro kabeh (Q.S. Al Baqarah: 183).</em></p>
<p>Nopo walesane kangge tiyang kang bertaqwa? Tiyang ingkang bertaqwa sepindah bade dipun paring ijalan keluar saking piro-piro masalah ingkang diduweni, sarto dipun paring rezeki kaliyan Allah kelawan piro-piro dalan lan coro ingkang mboten nate diprediksi sakderengipun. Piyambake mboten nglami kekirangan rezeki. Allah SWT sampun dawuh wonten surat At Thalaq ayat 2-3</p>
<p style="text-align: right;">وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ</p>
<p>Artosipun: <em>sopo wonge taqwa marang Allah, mongko Allah bakal wujudake dalan. Lan bakal aweh sopo Allah ing wong kang taqwa yoiku rezeki saking dalan kang ora dikiro-kiro.” (Q.S. At Thalaq: 2-3).</em></p>
<p>Mugi-mugi kulo panjenengan sami kagolong tiyang ingkang bertaqwa. Aamiin.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong> </strong><strong>اَلْخُطْبَةُ الُثَّانِيَةُ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>         اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>        اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ !</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِا لرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْتَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.</strong></p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/">Jagi Semangat Ramadhan &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/jagi-semangat-ramadhan-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyambut Lailatu Qadar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatu-qadar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatu-qadar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2025 02:40:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6952</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Warga nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatu-qadar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Menyambut Lailatu Qadar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6950" aria-describedby="caption-attachment-6950" style="width: 1600px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6950" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption id="caption-attachment-6950" class="wp-caption-text">Khutbah Jumat Menyambut Lailatul Qadar</figcaption></figure>
<p><em>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,</em></p>
<p>Warga nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut teks Khutbah Jumat bahasa Jawa dengan judul Menyambut Lailatul Qadar.</p>
<p style="text-align: right;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد<br />
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>Kaum muslimin sidang Jum’ah <em>Rahimakumullah</em></p>
<p>Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala laragannya, karena tidak ada bekal yang paling baik kita bawa ke hadapan Allah SWT, kecuali takwa kita kepada-Nya.</p>
<p>Kaum muslimin sidang Jum’ah <em>rahimakumullah</em></p>
<p>Pada bulan Romadhan ini kita akan mendapati suatu malam yang sangat mulia. Malam itu adalah malam yang disebut dengan <em>lailatul qodar. </em>Allah menjelaskan bahwa malam itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan atau jika dihitung dalam hitungan tahun lebih dari ibadah 80 tahun. Allah SWT berfirman.</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p>Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur&#8217;an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar&#8221;. (QS. Al Qadr: 1-5)</p>
<p>Dalam menghadapi lailatul Qadar ada beberapa prinsip yang harus kita pegangi.</p>
<p><em>Pertama</em>, Lailatul Qadar adalah malam yang dirahasikan oleh Allah SWT. Tujuan dari rahasia ini adalah agar umat Islam selalu berusaha untuk mencarinya. Selalu menanti dan selalu ingin agar tidak terlewatkan. Jika perasaan ini yang terjadi, maka seorang muslim akan terus menerus istiqomah beribadah dengan menghidupkan malam Ramadhan dengan semangat dan mencari Ridha Allah SWT.</p>
<p><em>Kedua, </em>seorang muslim tidak usah sibuk dengan mencari tanda-tanda lailatul Qodar yang diceritakan oleh para ulama seperti angin sepoy-sepoy di malam hari, suasana senyap, pagi hari matahari bersinar putih dan lain-lain. Yakinlah bahwa barangsiapa yang beribadah sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa serta beribadah dengan istiqomah Allah SWT akan memberinya kenikmatan malam seribu bulan tersebut walaupun tidak melihat tanda-tandanya. Umat Islam tidak boleh bersifat oportunis. Apa itu? Yaitu beribadah hanya pada malam-malam ganjil pada sepuluh akhir Romadhan saja. Artinya, umat islam harus selalu bersungguh-sungguh menjalankan ibadah satu bulan Romadhan bukan hanya malam-malam tertentu saja.</p>
<p><em>Ketiga, </em>umat Islam boleh juga mengikuti rumus-rumus Ulama seperti Imam al-Ghazali yang menjelaskan bahwa jika awal bulan Romadhan adalah hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 23 (sebagaimana penjelasan kitab ‘Ianatu al-Tholibin juz 2). Apa yang dikatakan oleh al-Ghazali sama dengan apa yang dikatakan oleh Abu al-Hasan al-Shazili bahwa jika awal Romadhan adalah hari Sabtu, maka Lailatul Qadar terjadi pada malam ke 23 (seperti terdapat dalam kitab Hasyiyah al-Shawi). hal ini berbeda dengan pendapat yang diutarakan dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri yang menyebut lailatul Qadar terjadi malam ke 21 jika awal Romadhan pada hari Sabtu. Yang harus kita pahami adalah ini adalah rumus-rumus para ulama yang bisa saja benar-bisa saja salah. Namun, jika kita mengikuti rumus tersebut diperbolehkan dengan syarat tetap menjaga konsistensi atau keistiqomahan pada malam-malam selainnya. Jangan menjadi muslim oportunis di atas.</p>
<p>Kaum muslimin <em>Rahimakumullah</em>,</p>
<p>Di bulan puasa ini yang paling penting adalah semangat kita untuk menjalankan puasa dengan rasa iman dan mengharap ridho Allah SWT. Atau berpuasa dengan diringi instropeksi diri. Jika ini yang dilakukan insyaallah kita akan mendapatkan lailatul Qadar. Rasulullah SAW bersabda.</p>
<p style="text-align: right;">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>Artinya: <em>Barangsiapa yang berpuasa dilandasi oleh iman dan instropeksi diri, maka dosanya yang telah berlalu akan diampuni oleh Allah SWT </em>(HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760</p>
<p><em>Pertama, </em>Iman. Iman adalah sebuah refleksi suatu kesadaran yang tergabung dalam tiga ranah yaitu akal, hati dan tindakan. Ini artinya bahwa puasa yang dilakukan atas dasar iman adalah puasa yang disadari, dipahami dan diyakini, bukan paksaan, bukan pura-pura dan bukan karena motif-motif lain seperti ingin disanjung, ingin dihargai atau yang lain. itulah sebabnya, puasa adalah urusan Allah SWT. Allah SWT sendiri yang akan membalasnya. Allah SWT akan menilai apakah puasa kita sudah dilandasi iman atau tidak.</p>
<p><em>Kedua, </em>instropeksi diri. instropeksi diri adalah upaya seseorang untuk mengoreksi diri sendiri di masa lalu. Apa yang dikoreksi? Yang dikoreksi adalah kesalahan di masa lalu, kemaksiatan di masa lalu, dosa-dosa yang pernah dibuat dimasa lalu. Untuk apa? untuk diperbaiki setelah Romadhan. Dengan semangat ini, seseorang tidak saja menjadi orang yang beruntung (<em>Robih</em>) tetapi juga orang yang putih bersih seperti bayi yang baru lahir.</p>
<p style="text-align: right;">جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.</p>
<p style="text-align: right;">اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.</p>
<p style="text-align: right;">اَلْخُطْبَةُ الُثَّانِيَةُ</p>
<p style="text-align: right;">         اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.</p>
<p style="text-align: right;">        اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ !</p>
<p style="text-align: right;">اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِا لرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْ</p>
<p style="text-align: right;">تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ</p>
<p style="text-align: right;">عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.</p>
<p style="text-align: right;">اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ</p>
<p style="text-align: right;">يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatu-qadar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Menyambut Lailatu Qadar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatu-qadar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyambut Lailatul Qadar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatul-qadar-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatul-qadar-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2025 02:36:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6949</guid>

					<description><![CDATA[<p>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Warga nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatul-qadar-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/">Menyambut Lailatul Qadar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6950" aria-describedby="caption-attachment-6950" style="width: 1600px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6950" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/03/KHUTBAH-JUMAT_MENYAMBUT-LAILATUL-QADAR-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption id="caption-attachment-6950" class="wp-caption-text">Khutbah Jumat Menyambut Lailatul Qadar</figcaption></figure>
<p><em>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,</em></p>
<p>Warga nahdliyin yang dirahmati Allah, berikut teks Khutbah Jumat bahasa Jawa dengan judul Menyambut Lailatul Qadar.</p>
<p style="text-align: right;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد<br />
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang jum’ah Rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing kesempatan ingkang sae puniko, monggo kulo panjenengan sami ningkataken taqwa kito dumateng Allah SWT kelawan nglampahi sedoyo perintah-perintahipun lan ninggalaken sedoyo ingkang dados awosanipun, keranten mboten wonten bekal ingkang langkung sae ingkang kulo panjenengan sami beto wonten ngarso dalem Allah SWT kejobo taqwa.</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang jum’ah Rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing bulan Ramadhan puniko, kita bade manggihi sawijining dalu ingkang estu mulya. Dalu puniko inggih ingkang dipun sebat malam <em>lailatul qodar, </em>Allah sampun jelasaken bilih dalu puniko inggih dalu ingkang langkung sae katimbang sewu wulan utawi menawi dipun etang wonten etangan tahun luwih saking 80 tahun. Allah SWT dawuh:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ  تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ</p>
<p><em>Artosipun: saktemene wus nurunake (Al Quran) sopo kito ing dalem wengi kamulyan. Lan ngertio sopo siro opo iku wengi kamulyan? Wengi kamulyan iku luwih apik katimbang sewu wulan. Ing dalem wengi iku poro malaikat lan malaikat Jibril kelawan izin pengerane piro-piro moloikat iku ngatur sekabehe urusan. Wengi kui (kebak) kasejahteraan tumekone fajar (QS. Al Qadr: 1-5)</em></p>
<p>Wonten ing dalem ngadepi lailatul Qadar, wonten piro-piro prinsip ingkah kedah kulo panjenengan sami anut.</p>
<p><em>Sepindah</em>, lailatul Qadar puniko inggih dalu ingkang dipun rahasiaaken kalian Allah SWT. Tujuanipun inggih punika supados umat Islam senantiasa ngreko doyo kagem ibadah. Kedah ngrantos lan ngupayaaken supados mboten ketinggalan. Naliko perasaan meniko ingkang muncul, tiyang muslim bade terus menerus istiqomah anggenipun ngibadah kelawan ngurip-nguripi wengi-wengine wulan Ramadhan kelawan semangat lan pados Ridha nipun Allah SWT.</p>
<p><em>Kaping kalih, </em>tiyang muslim mboten usah sibuk anggenipun pados tondo-tondo lailatul qodar ingkang sampun dipun critaaken kaliyan poro ulama kados angin sepoy-sepoy ing wekdal dalu, suasana sepi, wonten ing injing sinar matahari putih lan lintu-lintunipun. Kedah dipun Yakini, bilih sopo wonge ingkang ngibadah kelawan istiqomah, sungguh-sungguh wonten ing nglampahi ibadah siyam sarto istiqomah ngibadah, Allah SWT bade maringi kenikmatan malam sewu wulan puniko, walaupun mboten manggihi tondo-tondonipun. Umat Islam mboten pareng bersifat oportunis. Nopo niku? Inggih puniko ngibadah namung wonten wengi-wengi malem ganjil wonten ing sedoso terakhir wulan Ramadhan. Artosipun, umat Islam kedah bersungguh-sungguh nglampahi ibadah wonten saben-saben dalu Ramadhan, mboten namung wonten ing wengi-wengi tertentu.</p>
<p><em>Kaping tigo, </em>umat Islam saget nderek rumus-rumus ulama kados Imam Al Ghazali ingkang jelasaken bilih awal wulan Ramadhan menawi dipun awali dinten sabtu mongko lailatul qadar tibo wonten malam 23 (kados dene ingkang dipun jelasaken wonten ing kitab <em>‘Ianatu al Tholibin</em> juz 2). Nopo ingkang dipun ngendikaaken Imam al Ghazali sami kaliyan nopo ingkang sampun dingendikaaken kalian imam Abu hasan Al Shazali bilih menawi awal Ramadhan inggih puniko Sabtu, mongko Lailatul Qadar tibo wonten malem 23 (kados ingkang sabut kasebat wonten kitab <em>Hasyiyah al Shawi</em>). Benten kaliyan pendapat ingkang dipun jelasakan kaliyan kitab <em>Hasiyah Al Bajuri</em>, bilih Lailatul Qadar puniko malem ke 21 menawi awal Ramadhan wonten ing dinten sabtu. Ingkang kedah kito pahami inggih puniko, rumus-rumus niki saget ugi bener, saget ugi salah. Ananging menawi kita nderek rumus-rumus kesebat inggih saget, asal jagi syaratipun inggih puniko konsisten utawi istiqomah wonten ing wengi-wengi lintunipun. Sampun ngantos dados muslim oportunis.</p>
<p><em>Kaum muslimin rahimakumullah,</em></p>
<p>Wonten ing wulan siyam puniko, ingkah paling penting inggih puniko semangat kito kagem nglampahi siyam kaliyan roso iman lan ngarep-ngarep ridhonipun Allah SWT. Utawo siyam kaliyan diiringi introspeksi diri. Menawi niki dipun lampahi, <em>insyaalllah</em> kulo panjenengan sami saget angsal lailatul Qadar. Rasulullah SAW dauh:</p>
<p style="text-align: right;">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p><em>Artosipun; sopo wonge nglakoni poso kelawan iman lan instrospeksi diri, mongko bakal dingapuro dosa-dosane kaliyan Allah SWT (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no 760)</em></p>
<p><em>Sepindah</em>, iman. Iman inggih puniko sebuah refleksi kesadaran ingkang tergabung wonten ing tigo aspek, inggih puniko akal, hati lan tumindak. Tegesipun bilih siyam punika dipun lampahi kanti dasar iman tegesipun siyam ingkang dipun sadari, dipahami lan diyakini, sanes paksaan, sanes pura-pura lan sanes keranten motif-motif lintunipun kados dene pengen di elem, pengen diregani utawi lintu-lintunipun. Keranten siyam inggih puniko urusan Allah SWT. Allah SWT piyambak ingkang bade mbales, AllahSWT ingkang bade mbiji poso kito sampun dilampahi kanti iman nopo mboten.</p>
<p><em>Kaping kalih, </em>introspeksi diri. Introspeksi diri meniko usaha kagem ngoreksi awak dewe wonten ing masa lalu. Punopo dipun koreksi? Ingkang dikoreksi inggih puniko kekhilafan wonten ing masa lalu, kemaksiatan masa lalu, dosa-dosa ingkah pernah dilampahi masa lalu. Kagem nopo? Kagem dipun dandani bibaripun Ramadhan. Kanti semangat niki, tiyang niku mboten mawon dados tiyang kang bejo (<em>Robih</em>) tapi nggih dadosaken tiyang yang putih bersih kados dene bayi ingkang nembe lahir.</p>
<p style="text-align: right;">جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.</p>
<p style="text-align: right;">اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.</p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: center;">اَلْخُطْبَةُ الُثَّانِيَةُ</p>
<p style="text-align: right;">         اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.</p>
<p style="text-align: right;">        اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ !</p>
<p style="text-align: right;">اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِا لرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْ</p>
<p style="text-align: right;">تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ</p>
<p style="text-align: right;">عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.</p>
<p style="text-align: right;">اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ</p>
<p style="text-align: right;">يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatul-qadar-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/">Menyambut Lailatul Qadar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Jawa NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/menyambut-lailatul-qadar-khutbah-jumat-bahasa-jawa-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengikuti Tauhid Yang Benar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</title>
		<link>https://nuponorogo.or.id/mengikuti-tauhid-yang-benar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/</link>
					<comments>https://nuponorogo.or.id/mengikuti-tauhid-yang-benar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Feb 2025 12:53:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuponorogo.or.id/?p=6782</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berikut adalah Teks Khutbah Jumat Bahasa Indonesia. Khutbah I... </p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/mengikuti-tauhid-yang-benar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Mengikuti Tauhid Yang Benar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6783" aria-describedby="caption-attachment-6783" style="width: 1600px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-6783" src="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/KHUTBAH-JUMAT-_INDO.jpg" alt="" width="1600" height="900" srcset="https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/KHUTBAH-JUMAT-_INDO.jpg 1600w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/KHUTBAH-JUMAT-_INDO-300x169.jpg 300w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/KHUTBAH-JUMAT-_INDO-1024x576.jpg 1024w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/KHUTBAH-JUMAT-_INDO-768x432.jpg 768w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/KHUTBAH-JUMAT-_INDO-1536x864.jpg 1536w, https://nuponorogo.or.id/wp-content/uploads/2025/02/KHUTBAH-JUMAT-_INDO-355x199.jpg 355w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption id="caption-attachment-6783" class="wp-caption-text">Khutbah Jumat NU</figcaption></figure>
<p>Berikut adalah Teks Khutbah Jumat Bahasa Indonesia.</p>
<p>Khutbah I</p>
<p style="text-align: right;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ<br />
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.<br />
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد<br />
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang jum’at rahimakumullah</em></p>
<p>Setiap hari umur kita bertambah mendekati kematian. Pendengaran sudah mulai berkurang, penglihatan sudah mulai buram, rambut memutih, kekuatan berkurang, gigi mulai ompong dan kulit mulai keriput. Itu semua adalah tanda bahwa kematian semakin dekat. Oleh karena itu, persiapkan diri kita masing-masing dengan takwa. Takwa adalah <em>imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi </em>(melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangannya). Dengan takwa, kita akan menghadapi semuanya dengan tenang dan bahagia.</p>
<p><em>Kaum muslimin sidang Jum’at rahimakumullah</em></p>
<p>Allah SWT memberi pahala yang besar untuk umat Islam yang mau berjihad di jalan Allah SWT. Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena dengan jihad agama Islam bisa tersebar dan karena jihad pula umat Islam <em>ya’lu wa la yu’la alaihi </em>(pada posisi tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya). Dan Allah SWT juga menyatakan bahwa siapa yang berjihad di jalan Allah SWT akan diberi petunjuk kepada jalan-jalan Allah SWT. Firman Allah SWT dalam surah al-‘Ankabut ayat 69 berbunyi sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: right;">اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ</p>
<p><em>Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan kami, maka sungguh akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.</em></p>
<p>Jihad dapat dibagi menjadi tiga. <em>Pertama, </em>jihad dalam arti berperang mengangkat senjata melawan orang-orang kafir di medan perang. Yang dikorbankan adalah nyawa, harta dan lain-lain. <em>Kedua, </em>jihad dalam arti jihad melawan hawa nafsu, mengalahkan godaan-godaan nafsu syaithoniyah. Menurut Rasulullah SAW, jihad melawan hawa nafsu lebih besar dari jihad pertama, jihad untuk tidak merasa paling benar, jihad untuk tidak merasa sombong, jihad tidak korupsi, jihad untuk tidak hasud, jihad melawan malas beribadah, jihad melawan malas belajar ilmu agama, jihad melawan sifat kikir dan pelit, jihad melawan sifat individualis dan lain-lain. <em>Ketiga, </em>jihad dalam perdebatan ilmiah untuk meluruskan paham-paham yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.</p>
<p>Jika jihad yang pertama dan kedua sudah sering disampaikan. Maka kali ini, kita akan menyampaikan jihad yang ketiga yaitu jihad meluruskan paham-paham yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Jihad melawan paham yang menyimpang dalam sejarah pernah dilakukan oleh mereka yang termasuk dalam kelompok Ahlussunnah Wal jama’ah. Tokoh yang terkenalnya adalah Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Dua tokoh teologi ini berani membuka ruang debat melawan kelompok <em>Mujassimah</em> dan <em>Musyabbihah</em> atau kelompok yang mengatakan bahwa Allah SWT memiliki bentuk fisik seperti manusia atau yang menyerupakan Allah SWT sama dengan makhluk (manusia). Kata “<em>yadullah” </em>dalam al-Qur’an misalnya diartikan dengan tangan Allah SWT”.</p>
<p>Konsep tauhid atau konsep teologi yang diusung oleh kedua ulama tersebut dan kemudian dikembangkan oleh para penerusnya adalah seperti yang telah sering kita dengar di musholla-masjid dalam “pujian” (<em>wujud, qidam, baqo’, mukholafatulil khawadisi</em> dan lain-lain) atau yang lebih dikenal dengan istilah sifat wajib 20, 20 sifat mustahil dan satu sifat jaiz bagi Allah SWT.  4 sifat wajib bagi Rasul, 4 sifat mustahil dan 1 sifat jaiz bagi Rasulullah SAW. Sifat-sifat itu kemudian dikenal dengan istilah sifat 50. Lalu bagaimana dengan konsep tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma’ wassifah. Jawabnya adalah pembagian tauhid menjadi tiga tersebut bukanlah dari kelompok Asy’ariah dan Maturidiyah.</p>
<p><em>Kaum Muslimin sidang Jum’ah Rahimakumullah</em></p>
<p>Sebagai orang awam, marilah kita mengikuti paham Ahlussunah Wal Jamaah seperti yang diungkapkan oleh pendiri NU, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dengan mengikuti Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidy. Menurut Syeikh Al-Zabidi, penyusun kitab <em>Ithaf Sadat al-Muttaqien, </em>syarah dari kitab <em>Ihya’ Ulumiddin </em>milik al-Ghazali, bahwa yang dimaksud dengan <em>Ahlussunnah </em>adalah pengikut dari madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi.</p>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong><strong>إِذَت أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ فَالمُرَادُبِهِمُ اْلأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ</strong></p>
<p><em>Artinya: Apabila disebut Ahlussunnah, maka yang dimaksud adalah pengikut al-Asy’ari dan pengikut Al-Maturidi</em></p>
<p>Jika mengikuti ayat al-Qur’an diatas surah al-‘Ankabut ayat 69, pengikut Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi telah mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Buktinya adalah penyebaran Islam di wilayah Eropa Timur dilakukan oleh umat Islam saat itu sebagai pengikut Abul Hasan al-As’ari dan Abu Manshur al-Maturidi dengan komando Dinasti Utsmani di Turki. Demikian pula penyebaran ajaran Islam di daerah Timur seperti Daratan India hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia dilakukan oleh mereka yang mengikuti al-Asy’ari dalam tauhid dan Imam Syafi’i dalam fiqh.</p>
<p>Menjadi wajar dan masuk akal jika umat Islam terbesar di Indonesia mengikuti al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam bidang tauhid atau teologi. Dengan mengikuti dua ulama tersebut, insyaallah kita juga akan mendapat hidayah. Amiin. Oleh karena itu, kita harus hati-hati dengan aliran baru yang datang yang berbeda dengan dua imam tersebut.</p>
<p style="text-align: right;">جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.</p>
<p style="text-align: right;">اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.</p>
<p>Khutbah II</p>
<p style="text-align: right;">  !اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.</p>
<p style="text-align: right;">       اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ  اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِالرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.</p>
<p style="text-align: right;">اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ</p>
<p style="text-align: right;">اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِوَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ</p>
<p>Ditulis Oleh: Dr. K. Iswahyudi, M.Ag / Wakil Ketua PCNU Ponorogo</p>
<p>The post <a href="https://nuponorogo.or.id/mengikuti-tauhid-yang-benar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/">Mengikuti Tauhid Yang Benar &#8211; Khutbah Jumat Bahasa Indonesia NU</a> appeared first on <a href="https://nuponorogo.or.id">NU PONOROGO</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuponorogo.or.id/mengikuti-tauhid-yang-benar-khutbah-jumat-bahasa-indonesia-nu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
