Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

MUKA GANDA AMERIKA

Oleh: Sunartip Fadlan (Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Mutawakkil dan Majelis Hasbunallah Indonesia)

Sumber : https://www.facebook.com/1579789234/posts/10217103311166475/?extid=Qo7Jx6goabHHFxXW&d=n

Peta Geopolitik Dunia

Hari ini, sekian pakar banyak geopolitik menyatakan bahwa kutub dan poros politik kekuasaan dunia terbagi menjadi 3 + 1: Amerika bersama sekutunya (Inggris, Perancis, Australia, dll) dengan warna Kapitalis, China bersama sekutunya (Korea Utara, Vietnam, dll) dengan warna Komunis, Iran (yang terhitung sepi pendukung) dengan warna Syi’i, ditambah negara yang tidak mau terseret 3 poros di atas dan tetap sangat beresiko diilfintrasi di berbagai sektor (ekonomi, pertahanan keamanan, budaya, teknologi, model pendidikan, dll).

Kejahatan Amerika dalam Sejarah

Bahwa pembukaan dokumen seperti dilansir MetroTV di atas jelas memiliki kepentingan penguasaan, penundukan, dan infiltratif atas sejarah Bangsa Indonesia.

Amerika dengan segenap hegemoninya tidak pernah berhenti “meracuni”, “menjajah”, dan mengatur negara-negara di dunia sesuai dengan arah kebijakannya, dengan berbagai cara yang mereka bisa lakukan.

Hal itu juga mereka lakukan di saat Presiden Sukarno lebih “nyaman” dengan poros kekuatan Rusia-China di tahun 60-an. Maka terbukti mereka mengakui dengan terbuka pada tayangan di atas atas campur tangan mereka dalam mengatur arah sejarah bangsa dan negara ini tahun 1965. Tidak heran, maka Presiden Suharto dikenal sangat kental dengan kebijakan Amerika-sentris (pendekatan militer, DOM, penanganan berbagai parpol hingga mereduksi mereka semua menjadi “hanya” 3 parpol di tahun 1972 hingga reformasi, hingga membuat sekian banyak wadah wadah ormas sebagai penegendalian atas kebijakan pemerintah berkuasa; ICMI, MUI, Kosgoro, ormas kepemudaan hingga darmawanita, sungguh Pak Harto dalam hal ini sangat lihai). Dan lembaran sejarah masyarakat pasti mencatat bagaimana Pak Harto mengatur sekian kuat jangan sampai ada rivalitas yang membahayakan kepemimpinannya. Dus, banyak aksi cekal atas da’i-da’i, budayawan, tokoh agama, dll yang berseberangan dengannya. Gus Dur dan Cak Nun mengalami ini berulang-ulang di jaman Pak Harto. Bahkan Muktamar NU dan ormas lain bisa dipastikan terinfiltrasi kekuatan penguasa di jaman Pak Harto.

Namun, saat Pak Harto mulai dekat dengan kalangan muslim, mulai mau shalat, jum’atan bahkan haji, Amerika ngamuk. Dan tipologinya hampir bisa dipastikan, nabok nyilih tangan, meminjam kekuatan moneter dunia secara organisasi atau perorangan untuk menghancurkan perekonomian negara yang tidak tunduk padanya. IMF dan George Soros adalah contoh nyata hegemoni kerakusan kekuasaan Amerika terhadap negara-negara di dunia. George Soros melakukan aksi borong atas rupiah, kemudian menahannya beberapa kurun waktu, untuk memaksa pemerintah mencetak mata uang dalam jumlah sangat besar. Ketika lembaran cetak baru beredar, maka rupiah yang ia simpan dilepas ke pasaran melalui sekian banyak anak perusahaannya di Indonesia. Ekonomi Indonesia limbung, bahkan Asia dan sebagian belahan dunia limbung. Lalu datanglah IMF sebagai “pahlawan” penyelamat Indonesia menawarkan pinjaman dengan berbagai aturan yang bertujuan memberangus berbagai elemen bangsa yang berpotensi melawan Amerika dalam skala makro ke depannya.

Siapapun Yang Berkuasa Pasti “Diatur”

Siapapun presiden terpilih tidak bisa lepas dari hegemoni 3 poros kekuasaan dunia di atas. Jika tidak, maka bangsanya sangat beresiko akan menjadi bangsa yang kesepian, terembargo secara tidak langsung oleh negara-negara poros dan sekutunya, hingga bahkan tidak hanya tidak bisa bermain di kancah peta global. Ia bahkan tidak bisa membangun dan menguatkan negaranya dengan berbagai kebutuhan makro yang tidak mungkin dicukupi oleh bangsa itu sendiri. Maka bisa dipastikan siapapun presiden terpilih di berbagai negara termasuk Indonesia harus memiliki “keberpihakan” kepada poros-poros tersebut.

Bagaimana Memposisikan Diri

Islam tidak menafikan sinergitas dengan siapapun dan apapun selama tidak membahayakan dan atau bahkan mencerabut maqashidu-sy-Syari’ah al-khams. Siapapun bisa dan boleh dipergauli dalam kesetaraan martabat berbangsa, saling menghormati dan menjaga.

Maka Pilihannya Tiga

Satu Bangsa dan Negara Indonesia tampil sebagai kekuatan poros baru (non Blok bahasnya Pak Karno, yang sebenarnya juga membuat blok baru), dengan memaksimalkan hubungan bilateral dan multilateral dengan berbagai bangsa dan negara lain di dunia dengan tetap menjunjung tinggi nilai dan norma berbangsa. Dengan tetap menanggung resiko direcoki, dikooptasi, diinfiltrasi hingga dirusuhi di tengah perjalanan. Presiden Sukarno Indonesia, Muammar Kadafi Libya, Sadam Husein Iraq, dan berbagai pemimpin negara-negara lainnya di dunia. Membangun kekuatan baru atas kekuatan yang sudah ada jelas merupakan ancaman bagi mereka.

Dua; Tetap “berporos” sebagaimana selama ini dilakukan presiden-presiden sebelumnya. Presiden Sukarno cenderung ke poros USSR (Konunis-Rusia), Presiden cenderung ke poros Kapitalis-Amerika yang juga dijungkalkan Amerika dalam reformasi 1998 karena tidak mau tunduk dengan Amerika di tahun-tahun 95-98, Presiden Habibie mengikuti jejak mbalelo Pak aras hegemoni Amerika yang kemudian laporannya ditolak MPR dengan salah satu alasan lepasnya Timor Timur, Presiden Abdurrahman Addakhil Wachid yang terhitung ingin mandiri dan tidak bisa diatur oleh semua poros dengan masa jabatan yang akhirnya juga dibuat pendek oleh tangan tangan kekuasaan poros-poros itu melalui kaki tangan mereka di Senayan, Presiden Megawati yang malu-malu menyatakan diri dekat dengan poros China, Presiden Jokowi yang notabene diusung kelompok yang berporos ke China.

Tiga Model pendekatan dan komunikasi internasional ala Presiden Abdurrahman Wachid yang berusaha lepas dari berbagai poros dengan tetap berusaha membangun kepercayaan, humanitas, kesetaraan dan komunikasi dengan berbagai poros yang ada. Bahkan Gus Dur pertama kali melakukan lawatan luar negeri negara yang dipilih adalah negara yang dipimpin Fidel Castro yang Komunis dengan tetap bercanda dengan Bill Clinton.

Catatan
Tulisan ini nggak penting-penting amat. Jangan terlalu dipikirkan! Biar nggak pusing 😁
Jangan lupa ngopi ☕️

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *