
NU Online Ponorogo – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ponorogo menyambut gembira pelantikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031. Pelantikan ini menjadi momentum penguatan konsolidasi organisasi dan pemerataan pelaksanaan program hingga ke tingkat cabang.
Harapan tersebut disampaikan Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idam Mustofa, menyambut pelantikan PBNU yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur.
Menurut Dr. Idam, program-program PBNU perlu dikonsolidasikan dan disosialisasikan secara sistematis hingga tingkat PCNU. Dengan demikian, kebijakan dan program yang dirumuskan di tingkat pusat dapat dipahami, diterjemahkan, dan dilaksanakan secara efektif oleh struktur NU di daerah.
“Kami berharap seluruh program PBNU tidak berhenti pada tataran kebijakan pusat, tetapi dikonsolidasikan dan disosialisasikan sampai ke tingkat PCNU. Cabang perlu memperoleh informasi yang utuh, panduan yang jelas, serta ruang koordinasi agar program tersebut benar-benar bisa dijalankan sesuai dengan kebutuhan warga NU di daerah,” ungkapnya.
Ia menegaskan, keberhasilan program organisasi tidak hanya ditentukan oleh perencanaan di tingkat pusat, tetapi juga oleh efektivitas komunikasi, koordinasi, dan pelibatan struktur organisasi hingga tingkat bawah. Karena itu, konsolidasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar seluruh jajaran NU memiliki pemahaman dan arah gerak yang sama.
Selain konsolidasi program, PCNU Ponorogo juga menaruh perhatian pada pengadaan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (KARTANU). PCNU berharap penanganan pengadaan dan pelayanan KARTANU dapat dilimpahkan kepada masing-masing PCNU dengan dukungan sistem digital Digdaya yang efektif dan efisien.
Ditambahkan Dr. Idam, pelibatan PCNU akan mempermudah pelayanan kepada warga NU karena struktur cabang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat serta memahami kondisi organisasi di wilayahnya.
“Pengadaan KARTANU perlu segera diperkuat dengan memberikan peran yang lebih besar kepada masing-masing PCNU. Namun, pelimpahan penanganannya harus didukung sistem Digdaya yang benar-benar efektif dan efisien, sehingga proses pendataan, pendaftaran, penerbitan, dan pemutakhiran data anggota dapat berjalan lebih mudah, tertib, dan akuntabel,” tegasnya.
Ia berharap sistem Digdaya tidak sekadar menjadi perangkat administrasi, tetapi juga menjadi instrumen penguatan basis data keanggotaan dan tata kelola organisasi. Dengan sistem yang terintegrasi dan mudah digunakan, PCNU diharapkan dapat memberikan pelayanan keanggotaan secara lebih cepat sekaligus meningkatkan validitas data warga NU.
Idam menilai, KARTANU memiliki arti strategis bagi penguatan organisasi. Pendataan anggota yang baik akan membantu NU mengetahui potensi kader, memperluas jangkauan pelayanan, serta memperkuat hubungan antara struktur organisasi dan warga di tingkat akar rumput.
Oleh : Sahabat LTN NU