NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Belajar dari Nabi Musa: Beriman di Tengah Jalan Buntu*

Momentum 10 Muharram mengingatkan kita pada kisah Nabi Musa a.s. ketika berada di jalan buntu: di depan terbentang laut, di belakang dikejar bala tentara Fir‘aun. Dari peristiwa ini, khutbah mengajak jamaah meneguhkan iman, menjaga ikhtiar, dan tidak menyerah pada keputusasaan.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِيْ قَصَصِ الْأَنْبِيَاءِ عِبْرَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ خَيْرُ الزَّادِ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ۝ قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Pada momentum 10 Muharram, hari ‘Āsyūrā, kita mengingat satu peristiwa besar dalam sejarah, yakni diselamatkannya Nabi Musa a.s. dan kaumnya dari kejaran Fir‘aun. Sejarah ini dibadikan dalam Surat Al-Syu’ara: 61-62.

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ۝ قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Artinya: “Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’

Kisah ini bukan sekadar cerita lama. Ia berbicara langsung kepada kehidupan kita hari ini: kepada keluarga yang sedang menanggung beban, kepada pekerja yang cemas dengan penghasilan, kepada orang tua yang memikirkan masa depan anak, kepada orang sakit yang menunggu kesembuhan, kepada siapa pun yang pernah merasa hidupnya berada dalam jalan buntu.

Jalan buntu itu nyata. Dalam hidup, ada saat ketika usaha terasa tidak cukup, doa terasa belum terjawab, dan nasihat orang lain tidak segera meringankan beban. Di depan seperti ada laut. Di belakang seperti ada kejaran masalah. Pada saat seperti inilah kisah Nabi Musa memberi pelajaran: iman tidak selalu membuat masalah langsung hilang, tetapi iman menjaga manusia agar tidak runtuh, tidak tumbang sebelum pertolongan Allah datang.

Inilah pesan utama khutbah kali ini untuk kita semua. Jalan buntu dalam pandangan manusia belum tentu menjadi akhir dalam ketetapan Allah. Orang beriman tidak menutup mata terhadap masalah, tetapi ia juga tidak menyerahkan hatinya kepada keputusasaan. Ia melihat kenyataan dengan jernih, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan tetap menggantungkan hasil kepada Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam hadits shahih Muslim yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas ra, disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Āsyūrā. Hadis menyebutkan sebagai berikut:

قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللهُ فِيهِ مُوسَى، وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَأَمَرَ بِصَوْمِهِ

Artinya: “Rasulullah saw hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa di bulan ‘Asyura, kemudian mereka ditanya tentang puasanya tersebut, mereka menjawab: “Hari ini adalah hari di mana Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa as dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa.” Kemudian Nabi bersabda: “Kami lebih utama dengan Nabi Musa dibanding dengan kalian.” Lalu Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpuasa di hari Asyura.” (HR. Muslim no. 1130).

Lalu Rasulullah saw. berpuasa pada hari itu dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa. Maka puasa ‘Āsyūrā bukan hanya ibadah pribadi untuk mencari pahala. Ia juga cara kita merawat ingatan iman, ia mengandung pembelajaran penting: bahwa Allah menolong hamba-Nya, bahwa kezaliman tidak kekal, dan bahwa manusia tidak boleh kehilangan harapan di hadapan kesulitan.

Ayat yang kita baca tadi menggambarkan keadaan yang sangat genting. Bani Israil melihat pasukan Fir‘aun mendekat. Mereka panik dan berkata: إِنَّا لَمُدْرَكُونَ — “Kita pasti akan tersusul.” Secara manusiawi, ucapan itu bisa dipahami. Mereka lelah, takut, dan tidak melihat jalan keluar. Tetapi Nabi Musa menjawab dengan kalimat yang pendek dan kuat: كَلَّا، إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ — “Tidak. Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Perbedaannya terletak pada cara melihat. Para pengikut Nabi Musa melihat ancaman yang semakin mendekat. Nabi Musa juga melihat ancaman itu, tetapi hatinya tidak berhenti di situ. Ia melihat Allah Yang Maha Menolong. Mereka berkata, “Kita selesai.” Sementara Nabi Musa berkata, “Allah akan memberi petunjuk.” Mereka melihat jalan tertutup. Nabi Musa yakin bahwa Allah mampu membuka jalan yang belum tampak oleh mata manusia.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Iman seperti inilah yang kita perlukan dalam kehidupan masyarakat hari ini. Banyak orang bukan tidak bekerja, tetapi hasilnya belum cukup. Banyak keluarga bukan tidak berusaha rukun, tetapi ujian datang bertubi-tubi. Banyak anak muda bukan tidak ingin maju, tetapi kesempatan terasa sempit. Banyak orang menanggung masalah dalam diam karena malu, takut disalahkan, atau tidak tahu harus bercerita kepada siapa.

Di tengah keadaan seperti itu, agama tidak boleh hadir hanya sebagai kata-kata yang jauh dari kenyataan. Agama harus menjadi kekuatan yang menenangkan hati, meluruskan ikhtiar, dan menggerakkan kepedulian. Masjid, majelis, keluarga, dan masyarakat harus menjadi ruang yang membuat orang merasa ditopang, bukan dihakimi; dikuatkan, bukan ditambah bebannya.

Namun keyakinan kepada pertolongan Allah tidak berarti kita boleh pasif. Nabi Musa tidak hanya berkata, “Allah bersamaku,” lalu berhenti. Ketika Allah memerintahkan agar tongkat dipukulkan ke laut, Nabi Musa melaksanakannya. Maka terbukalah jalan yang sebelumnya tidak terlihat.

Di sinilah makna tawakal yang benar. Tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Tawakal adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan rendah hati, lalu menerima ketentuan Allah tanpa kehilangan adab. Doa tidak menggantikan usaha. Usaha juga tidak boleh membuat kita merasa tidak membutuhkan Allah. Keduanya harus berjalan bersama.

Inilah sikap beragama yang seimbang. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, kita diajarkan tawāzun: menjaga keseimbangan antara ikhtiar dan doa; tawassuṭ: tidak berlebihan dalam rasa takut atau rasa percaya diri; i‘tidāl: tetap tegak dalam kebenaran; dan tasāmuḥ: menjaga akhlak serta persaudaraan. Nilai-nilai ini penting, sebab orang yang sedang tertekan mudah sekali tergelincir: mudah marah, mudah menyalahkan, mudah mengambil jalan pintas, bahkan mudah menzalimi orang lain.

Karena itu, iman harus tampak dalam akhlak. Orang yang sedang sulit tetap harus jujur. Orang yang punya kuasa tetap harus adil. Orang yang kecewa tetap harus menjaga lisan. Orang yang merasa benar tetap harus rendah hati. Kesulitan hidup tidak boleh menjadi alasan untuk menipu, menyakiti keluarga, merampas hak orang lain, atau merusak persaudaraan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kisah Nabi Musa juga mengingatkan kita tentang bahaya watak Fir‘aun. Fir‘aun bukan hanya nama seorang penguasa zalim pada masa lalu. Fir‘aun adalah lambang kesombongan, penindasan, dan perasaan paling berhak mengatur hidup orang lain. Watak itu bisa muncul di mana saja: di rumah, di tempat kerja, di pasar, di lembaga, bahkan di dalam diri kita sendiri.

Watak Fir‘aun muncul ketika seseorang merasa boleh merendahkan orang lain karena punya jabatan. Ia muncul ketika hak pekerja diabaikan. Ia muncul ketika orang miskin dipersulit, sementara orang kuat dimudahkan. Ia muncul ketika orang tua keras tanpa kasih sayang, ketika pemimpin menutup telinga dari nasihat, ketika tetangga tidak peduli pada tetangga yang kelaparan, ketika lisan kita melukai tetapi kita merasa biasa saja.

Maka memperingati ‘Āsyūrā tidak cukup dengan mengingat bahwa Fir‘aun pernah tenggelam. Yang lebih penting adalah memastikan sifat Fir‘aun tidak hidup dalam diri kita. Jangan sampai kita mengutuk kezaliman dalam sejarah, tetapi membiarkan kezaliman kecil tumbuh dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan hati kita sendiri.

Sebaliknya, kita belajar dari Nabi Musa: berani menghadapi kezaliman, tetapi tetap bersandar kepada Allah; tegas memegang prinsip, tetapi tidak kehilangan akhlak; membela yang lemah, tetapi tidak menebar kebencian. Inilah agama yang membawa maslahat: menguatkan tauhid, membentuk budi pekerti, menjaga persaudaraan, dan membuat kehidupan bersama menjadi lebih adil.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Di sekitar kita, selalu ada orang yang sedang berada di tepi “laut” kehidupannya. Ada yang dikejar utang. Ada yang dikejar kecemasan. Ada yang dikejar konflik keluarga. Ada yang dikejar biaya pendidikan. Ada yang dikejar rasa sepi dan putus asa. Kita mungkin tidak mampu membelah laut seperti mukjizat Nabi Musa. Tetapi kita bisa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah bagi orang lain.

Pertolongan itu tidak selalu besar. Kadang berupa bantuan uang semampunya. Kadang berupa pekerjaan yang kita bukakan. Kadang berupa nasihat yang tidak menggurui. Kadang berupa telinga yang mau mendengar. Kadang berupa doa yang tulus. Kadang cukup dengan tidak menambah beban orang yang sudah berat hidupnya.

Karena itu, momentum 10 Muharram hendaknya melahirkan empat amal. Pertama, memperkuat hubungan dengan Allah melalui puasa, doa, istighfar, dan shalat yang lebih dijaga. Kedua, menghadapi masalah dengan ikhtiar yang halal, terukur, dan sabar. Ketiga, membersihkan diri dari sifat Fir‘aun: sombong, zalim, keras hati, dan meremehkan orang lemah. Keempat, menjadi penolong bagi orang lain yang sedang berada dalam kesempitan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang kuat imannya, jernih pikirannya, lembut hatinya, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah membukakan jalan keluar dari setiap kesempitan, memberi petunjuk dalam setiap kebingungan, dan menjaga kita dari putus asa serta kezaliman.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ، وَمِنْ أَوْلِيَائِكَ الصَّالِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَارْزُقْنَا مِنْ حَيْثُ لَا نَحْتَسِبُ.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْهُمْ رُعَاةً لِلْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالْمَصْلَحَةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا، لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

*Abid Rohmanu (Pengurus Aswaja Center dan Wakil Dekan I Fasya UIN Kiai Ageng Muhammad Besari)

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *