
NU Online Ponorogo – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ponorogo memberikan rekomendasi terhadap terbentuknya kepengurusan Pimpinan Cabang (PC) ISHARI NU Ponorogo masa khidmat 2026–2031. Rekomendasi tersebut disampaikan langsung oleh Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idam Mustofa, M.Pd., saat menghadiri pertemuan para pegiat ISHARI NU di Masjid An Nur Kalam, Desa Bulu, Kecamatan Sambit, Senin malam (22/6).
Dalam kesempatan itu, Dr. Idam menyampaikan apresiasi atas terbentuknya kepengurusan PC ISHARI NU Ponorogo yang dinakhodai oleh Mohamad Ghufroni Al Hafidz sebagai ketua. Menurutnya, keberadaan kepengurusan yang definitif menjadi langkah penting untuk memperkuat eksistensi ISHARI NU sebagai badan otonom NU yang bergerak dalam pelestarian dan pengembangan seni hadrah.
“Yang terpenting saat ini adalah kepengurusan sudah terbentuk. Dengan adanya kepengurusan yang sah, ISHARI NU dapat segera melakukan konsolidasi organisasi dan menyusun program-program yang lebih terarah,” ujarnya.
Dr. Idam menegaskan bahwa PCNU Ponorogo akan segera menerbitkan rekomendasi resmi sebagai dasar pengajuan Surat Keputusan (SK) kepengurusan kepada PW ISHARI NU Jawa Timur.
“PCNU Ponorogo segera mengeluarkan rekomendasi kepengurusan PC ISHARI NU Ponorogo. Setelah itu, kepengurusan dapat diajukan untuk memperoleh SK dari PW ISHARI NU Jawa Timur,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar organisasi bukan sekadar membentuk struktur kepengurusan, melainkan memastikan keberlanjutan kaderisasi. Karena itu, pengembangan dan pembinaan pegiat hadrah ISHARI harus menjadi perhatian utama pengurus yang baru.
“Kaderisasi pegiat hadrah ISHARI NU jauh lebih penting. Organisasi harus mampu melahirkan generasi penerus yang mencintai shalawat, menjaga tradisi, dan meneruskan perjuangan para pendahulu,” katanya.

Dalam arahannya kepada para aktivis ISHARI NU, Dr. Idam juga menekankan pentingnya nilai-nilai dasar dalam berorganisasi, yakni keikhlasan, kesabaran, dan “uwul” (iuran, Red). Ia bahkan menggunakan istilah “uwul” untuk menggambarkan semangat memiliki terhadap organisasi.
“Kalau sudah punya rasa uwul atau merasa memiliki, maka organisasi akan dirawat dengan sungguh-sungguh. Keikhlasan, kesabaran, dan rasa memiliki itulah yang harus menjadi fondasi perjuangan di ISHARI,” pesannya.
Malam itu menjadi momentum bersejarah bagi kebangkitan ISHARI NU di Ponorogo. Tidak kurang dari 150 pegiat ISHARI dari berbagai kecamatan hadir dan memeriahkan kegiatan tersebut. Mereka bergantian menampilkan lantunan shalawat dan qasidah dengan iringan rebana yang menggema di dalam masjid.
Berbagai gerakan hadrah khas ISHARI NU turut ditampilkan, mulai dari gerakan duduk dan berdiri secara serempak, ayunan badan yang selaras dengan irama rebana, hentakan tangan yang kompak, hingga formasi-formasi hadrah yang mencerminkan kedisiplinan dan kekompakan para pegiat. Penampilan tersebut menunjukkan kekayaan tradisi hadrah ISHARI NU yang tidak hanya bernilai seni, tetapi juga menjadi media dakwah serta sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Berdasarkan konfirmasi dari Sekretariat PCNU, Selasa (23/6) rekomendasi dari PCNU Ponorogo telah diterbitkan. Diharapkan PC ISHARI NU Ponorogo segera dapat menjalankan berbagai program pembinaan dan pengembangan hadrah secara lebih terstruktur di seluruh wilayah Kabupaten Ponorogo.
Kontributor: Sahabat Media LTN