NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Pengajian Ahad Pon Spesial Hari Santri 2026, Gus Abdurrahman Syah Ajak Jamaah Perkuat Ilmu Dan Keilmuan NU

NU Online Ponorogo – Pengajian Ahad Pon yang digelar pada Ahad (18/10) berlangsung spesial dalam rangka menyambut Kick Off Hari Santri Nasional 2026. Dalam kesempatan tersebut, Gus Abdurrahman Syah, M.H., menyampaikan tausiyah tentang pentingnya menjaga tradisi keilmuan, memperkuat hubungan dengan para ulama, serta merawat eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) di tengah berbagai tantangan.

Dalam tausiyahnya, Gus Abdurrahman mengawali dengan menjelaskan makna Raudhah sebagai hakikat dari majelis ilmu. Ia mengajak jamaah untuk memperbanyak doa ketika menghadiri majelis ilmu, karena majelis tersebut merupakan ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan mengharapkan keberkahan.

NU dan Tantangan Zaman

Gus Abdurrahman menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi NU yang saat ini menghadapi berbagai kritik, cacian, perundungan, dan tekanan dari beragam arah. Menurutnya, situasi tersebut perlu disikapi dengan memperkuat keilmuan, menjaga persatuan, serta merawat tradisi keagamaan yang telah diwariskan oleh para ulama.

Ia juga menyinggung sebuah prediksi yang disebut berasal dari peneliti Jerman mengenai kemungkinan meredupnya NU pada 2036. Pernyataan tersebut menjadi pengingat agar warga NU tidak terlena dengan besarnya organisasi, tetapi terus menjaga kualitas keilmuan, kesalehan, dan kesinambungan kaderisasi ulama.

“NU niki jamaah ngaji, tidak aneh-aneh,” demikian salah satu pesan yang ditekankan dalam tausiyahnya. Pesan tersebut menggambarkan pentingnya mempertahankan karakter NU sebagai organisasi yang berakar pada tradisi pengajian, pembelajaran agama, dan bimbingan para ulama.

Memahami Makna Sawadul A’dzam

Dalam pembahasannya mengenai sawadul a’dzam, Gus Abdurrahman mengingatkan bahwa kekuatan umat tidak semata-mata diukur dari banyaknya jamaah atau pengikut. Lebih dari itu, kekuatan umat juga terletak pada keberadaan para ulama, orang-orang shaleh, dan mereka yang memiliki kedalaman ilmu serta keteguhan dalam mengamalkan ajaran agama.

Ia menekankan pentingnya menjaga kejelasan sanad keilmuan di lingkungan pesantren. Menurut penjelasan yang disampaikan dalam pengajian, identitas dan afiliasi pesantren perlu dipahami secara benar agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Gus Abdurrahman juga menyinggung pentingnya ketelitian dalam mengenali pesantren yang mengatasnamakan NU. Pesan tersebut menggaris bawahi bahwa tradisi pesantren tidak hanya berkaitan dengan identitas organisasi, tetapi juga dengan kesinambungan sanad ilmu, ajaran, dan keteladanan para guru.

Ilmu sebagai Jalan Menuju Kedekatan kepada Allah

Dalam bagian lain tausiyahnya, Gus Abdurrahman menjelaskan bahwa derajat kewalian yang tinggi berkaitan erat dengan ilmu. Menurutnya, jalan keilmuan merupakan salah satu jalan penting untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., sebagaimana keteladanan para ulama yang menempuh perjalanan panjang melalui belajar, mengajar, dan mengamalkan ilmu.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Pesan tersebut merujuk pada firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 42:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ

“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan.”

Menurutnya, kebaikan dalam hubungan sosial perlu berjalan seiring dengan ketaatan kepada Allah. Sikap baik kepada sesama manusia tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban ibadah, terutama shalat.

Terkait shalat, ia menjelaskan perlunya membedakan antara ketentuan sah atau tidaknya ibadah berdasarkan syariat, dan persoalan diterima atau tidaknya ibadah yang menjadi hak Allah Swt. Dengan demikian, umat Islam perlu memperhatikan ketentuan fikih sekaligus memperbaiki keikhlasan dan kualitas ibadahnya.

Menjaga Persatuan dan Berpegang pada Ulama

Dalam tausiyahnya, Gus Abdurrahman juga mengutip ungkapan Arab:

إِنَّ أُمَّتِي لَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى الضَّلَالَةِ

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat (berkumpul) di atas kesesatan.”

Ungkapan tersebut mengandung pesan tentang pentingnya persatuan umat dan kewaspadaan terhadap penyimpangan. Ia mengingatkan bahwa ketika muncul suatu pandangan atau praktik yang dianggap menyimpang, diperlukan pembanding berupa ilmu, dalil, dan penjelasan para ulama agar masyarakat dapat menilai persoalan secara proporsional.

Melalui pesan tersebut, jamaah diajak untuk tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai polemik, melainkan memperkuat pemahaman agama melalui pengajian, menjaga adab terhadap ulama, serta membangun sikap yang bijaksana dalam menyikapi perbedaan.

Pada akhir tausiyah, Gus Abdurrahman menyampaikan harapan agar NU semakin berkembang, kokoh, dan terus memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat luas. “Semoga NU tambah ngremboko,” menjadi doa penutup yang mencerminkan harapan agar NU senantiasa tumbuh dalam kekuatan tradisi keilmuan, kesalehan, persatuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pengajian Ahad Pon spesial Kick Off Hari Santri Nasional 2026 ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali pentingnya ilmu, sanad keilmuan, tradisi pesantren, serta peran ulama dalam membimbing kehidupan umat.

Kontributor : Tim Media LDNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *