NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Refleksi Empirik Dakwah Santri Di Era Digital

Tim Redaksi menampilkan secara berkala tulisan dari pemenang Lomba Penulisan Artikel Populer bertema Santri dan Moderasi Keagamaan yang diselenggarakan PC ISNU Ponorogo dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2020. Berikut ini adalah artikel pemenang Juara III kategori umum :

===========================================================================

Refleksi Empirik Dakwah Santri Di Era Digital

Apa yang terbersit pertama kali ketika membaca atau mendengar kalimat era digital?. Kalimat ini memang sudah tidak asing lagi bagi kita, saat ini kita telah sampai pada masa dimana segala hal telah dimudahkan dengan kehadiran teknologi, khususnya internet, masa inilah yang disebut dengan era digital.

Era digital mendorong manusia untuk terus berinovasi dalam segala hal, sehingga menghadirkan banyak sekali perubahan pada lini kehidupan masyarakat. Perubahan yang signifikan tersebut berimbas pada berubahnya cara berfikir manusia, cara hidup dan cara berhubungan satu dengan yang lain.

Pesatnya teknologi ini merambah setidaknya pada dunia ekonomi, politik dan pendidikan. Pada tataran dunia ekonomi misalnya, segala kegiatan perekonomian saat ini sangat memungkinkan dilakukan melalui media online tanpa mengharuskan tatap muka begitu pula pada dunia pendidikan. Terlebih kondisi dunia menghadapi pandemi covid 19 yang seolah belum menemukan titik terang kapan akan berakhir.

[Kebijakan Pemerintah seperti social distancing, physical distancing, work from home, kelas-kelas online, stay at home dan lain-lain seolah menjadi stimulus semakin pesatnya teknologi berkembang, manusia akan terus berfikir bagaimana caranya tetap dapat menjalankan aktivitasnya meskipun harus di rumah saja. Sehingga adaptasi terhadap kebiasaan baru dalam kehidupan mutlak dilakukan.

 

Pesantren dan Era Baru Teknologi

Tantangan kehidupan era baru yang syarat akan perkembangan teknologi tidak hanya memaksa masyarakat umum untuk mengikutinya, dunia pesantren pun tak pelak terkena imbasnya. Pesantren sebagai sentral pendidikan Islam diharapkan mampu menghasilkan output santri yang berkualitas tidak hanya dari segi keilmuan tetapi juga santri yang mampu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, sehingga pada akhirnya nanti mampu untuk survive di masyarakat.

Al-Qabisi salah satu tokoh pendidikan abad IV Hijriyah menyatakan bahwa pendidikan Islam diharapkan dapat menumbuhkembangkan pribadi yang selaras dengan nilai-nilai Islam yang benar, mampu mengembangkan akhlak, menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang teguh kepada ajaran agama dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama. Tidak berlebihan jika kemudian pemerintah ingin mewujudkan par excellence sistem pendidikan Islam yang baik dengan madrasah dan pesantren sebagai role model-nya. Maka pesantren sudah saatnya untuk mengikuti perkembangan zaman dengan menerapkan teknologi sebagai bagian dari pembelajarannya.

Namun sebagian pesantren masih memilih untuk menutup diri dari perkembangan teknologi dan masih berpegang pada pembelajaran konvensional dengan banyak pertimbangan. Padahal perkembangan teknologi masa kini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan manajemen pesantren agar lebih berkembang. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan pembangunan kepada khalayak luas, pun juga menyampaikan dakwah keagamaan dengan sasaran masyarakat yang lebih luas.

Di era keterbukaan dan kemudahan akses ilmu keagamaan saat ini, pada akhirnya memudahkan setiap orang untuk belajar Ilmu agama dengan sangat mudah sehingga fenomena saat ini banyak bermunculan da’i – da’i baru baik dari kalangan santri maupun bukan. Da’i dari pesantren mempunyai keluasan Ilmu agama demikian juga wawasan spiritual yang terbentuk sekian lama di dalam pesantren. Puluhan tahun dihabiskan untuk nyantri, berinteraksi langsung dengan para kyai sehingga santri memiliki wawasan humanistik dan wawasan spiritual yang mumpuni.

Namun faktanya da’i-da’i baru yang notabene belajar agama dengan cara otodidak mayoritas mempunyai keahlian berdakwah yang kekinian dan asyik, sehingga masyarakat jauh lebih tertarik, karena masyarakat lebih mengutamakan komitmen figure daripada komitmen nilai. Padahal tidak jarang keilmuan yang mereka punyai masih sebatas pemahaman secara teori semata, tidak mendapatkan transmisi keilmuan dari para kyai secara langsung.

Mengutip kata-kata Gus Baha jika hal ini terus dibiarkan maka eksistensi santri yang mondok belasan tahun akan kalah dengan ustadz-ustadz online yang baru hijrah. Maka seyogyanya santri memiliki materi dan metode dakwah yang mumpuni. Berkenaan dengan materi dakwah tentunya tidak diragukan lagi. Yang harus menjadi perhatian adalah tentang metode dakwah. Saat ini masyarakat yang dihadapi adalah masyarakat milenial yang tentunya membutuhkan strategi khusus juga. Pemilihan strategi khusus dengan memanfaatkan teknologi internet dapat menjadi salah satu pilihan bagi penyampaian dakwah dengan digital.

Santri sebagai manifestasi seorang muslim mempunyai tanggungjawab pribadi untuk berdakwah. Maka perlu dibekali teknologi agar mampu bersaing dalam hal metode dakwah kontemporer. Sehingga diharapkan santri bisa ikut berkontribusi pada pembangunan negara lewat perannya mensyiarkan ajaran agama. Santri harus melek terhadap metode dakwah digital, meski tidak menafikan metode dakwah konvensional bil-khitabah (al-ittishalatul lisaniah maupun al-ittishalatul isyariyyah) maupun dakwah bil-kitabah. Sudah saatnya santri hadir dengan dakwah digital, menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Mencari solusi bagaimana dakwah tetap tepat sasaran dan tepat guna.

Jihad Baru Era Digital

Jika dulu jihad santri adalah melawan penjajah maka sekarang santri dituntut untuk mereinterpretasikan makna jihad yakni jihad dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada seperti radikalisme, terorisme, pornografi dan berita-berita hoax, ujaran kebencian, termasuk juga konten-konten Ilmu agama yang tidak mempunyai sanad keilmuan yang jelas. Maka santri sebagai seorang da’i yang memiliki keluasan ilmu agama diharapkan mampu menjadi filter atau tempat tabayyun yang tepat.

Stigma di masyarakat harus dihilangkan bahwa santri yang bermukim di pondok pesantren diidentikkan dengan Islam yang masih tradisional dan tidak mengikuti perkembangan zaman terutama teknologi. Santri harus diperkenalkan metode-metode dakwah baru di era digital, sehingga waktu yang dipunyai santri tidak hanya untuk mengkaji ilmu keagamaan saja tetapi juga mampu menyuarakan ilmunya melalui ruang-ruang virtual kepada masyarakat.

Pemberdayaan terhadap santri dapat dilakukan dengan pemberian pelatihan-pelatihan IT secara berkesinambungan dan kontinyu. Selain itu materi-materi dasar IT juga perlu diperkenalkan dan menjadi materi tambahan selain materi bidang keagamaan. Sehingga tidak menutup kemungkinan metode pengajaran ke depan dapat dilakukan melalui media. Termasuk juga pengenalan metode dakwah digital melalui media sosial seperti twitter, facebook, Instagram, youtube channel, life streaming, website pesantren, konten-konten keagamaan baik melalui artikel-artikel keagamaan, meme, kata-kata mutiara, ayat-ayat Al-Quran, Hadist dan lain-lain.

Tentunya semua itu harus disikapi dengan bijak oleh pesantren, regulasi yang tepat dan sesuai dengan ekosistem pesantren harus diambil agar tantangan pengenalan era digital dapat berjalan balance dengan situasi keagamaan di pesantren. Sehingga adanya ekosistem digital tidak mengganggu sama sekali kesakralan sebuah pesantren.

Pemerintah melalui hari santri dan Undang-Undang Pesantren yang memastikan bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan saja tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan fungsi pengabdian kepada masyarakat. sejatinya memberikan stimulus dan angin segar agar santri juga dapat turut serta pada pembangunan bangsa, karena santri adalah pilar penegak bangsa yang perjuangannya senantiasa dinantikan kini dan nanti. Santri diharapkan mampu menjawab kebutuhan ummat, penerus pejuang dalam agama Allah, berpegang teguh pada pancasila sebagai dasar Negara serta senantiasa berpedoman pada agama.

Akhirnya, momentum hari santri semoga dapat digunakan untuk senantiasa meningkatkan dan memberdayakan santri. Sehingga pada porsinya santri dapat bersinergi bersama masyarakat melaksanakan pembangunan bangsa, mewujudkan Indonesia kuat dengan santri sebagai garda terdepan pelindung NKRI.

 

ARLINTA PRASETIAN DEWI

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera