
NU Online Ponorogo — Pagi masih muda ketika halaman Masjid NU Ponorogo mulai dipadati jamaah, Ahad (31/5/2026). Di bawah suasana yang teduh, mereka berkumpul mengikuti Pengajian Rutin Ahad Pon, agenda bulanan yang telah menjadi bagian dari denyut kehidupan keagamaan warga Nahdlatul Ulama di Ponorogo.
Pengajian yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Ponorogo itu menghadirkan Mustasyar PCNU Kabupaten Madiun, Drs. KH. Muhammad Shodiq, sebagai penceramah utama. Acara berlangsung khidmat dengan iringan lantunan shalawat dari Grup Hadrah Syifaul Qulub Muslimat NU Ranting Siwalan, Mlarak, serta dihadiri Ketua PCNU Ponorogo Dr. Idham Mustofa, M.Pd., jajaran pengurus PCNU, badan otonom, dan ratusan jamaah dari berbagai wilayah.
Dalam tausiyahnya, KH. Muhammad Shodiq mengajak jamaah untuk mensyukuri kesempatan menghadiri majelis ilmu. Menurutnya, pengajian bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan salah satu jalan yang Allah bukakan agar manusia memperoleh ketenangan hidup dan limpahan rahmat-Nya.
Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, ia menjelaskan bahwa orang-orang yang berkumpul di rumah Allah untuk membaca, mempelajari, dan mendiskusikan ajaran agama akan memperoleh empat kemuliaan sekaligus. Mereka akan diturunkan ketenangan (sakinah), diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, serta disebut-sebut oleh Allah SWT di hadapan para malaikat-Nya.
“Kalau kita diberi kesehatan dan kesempatan untuk hadir di majelis ilmu, jangan sampai disia-siakan. Ini adalah nikmat yang luar biasa besar,” ujarnya.

Menurut KH. Shodiq, tradisi pengajian, tahlilan, istighasah, manaqiban, dan berbagai amaliah yang hidup di lingkungan Nahdlatul Ulama merupakan sarana yang diwariskan para ulama untuk menjaga kedekatan umat dengan Allah SWT. Karena itu, warga NU perlu terus merawat dan menghidupkannya sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keimanan.
Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan mengikuti pengajian bukan terletak pada seberapa sering seseorang hadir, melainkan pada perubahan sikap dan perilaku setelah mendapatkan ilmu. Pengajian seharusnya melahirkan pribadi yang lebih sabar, lebih peduli kepada sesama, serta semakin rajin beribadah.
Salah satu pesan yang banyak mendapat perhatian jamaah adalah pentingnya sifat dermawan. KH. Shodiq menjelaskan bahwa para kekasih Allah atau wali Allah dikenal bukan hanya karena ketekunan ibadahnya, tetapi juga karena kelapangan hati mereka dalam membantu orang lain.
Menurutnya, kedermawanan tidak semata diukur dari besar kecilnya pemberian, melainkan dari keikhlasan seseorang dalam berbagi tanpa menunggu diminta. Sikap demikian menjadi salah satu jalan turunnya rahmat dan ridha Allah SWT.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membentuk generasi yang saleh. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, orang tua dituntut menjadi teladan bagi anak-anaknya, terutama dalam menjaga ibadah dan akhlak.
“Anak-anak tidak hanya membutuhkan nasihat. Mereka membutuhkan contoh. Pendidikan yang paling pertama dan paling menentukan tetap berasal dari rumah,” katanya.
KH. Shodiq juga mengajak jamaah untuk tidak terlalu larut dalam urusan dunia hingga melupakan kehidupan akhirat. Menurutnya, dunia hanyalah tempat singgah yang sementara, sedangkan kehidupan akhirat merupakan tujuan yang kekal. Karena itu, keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan bekal ukhrawi harus terus dijaga.
Bagi warga Nahdliyin, lanjutnya, majelis ilmu merupakan salah satu sarana terbaik untuk menjaga keseimbangan tersebut. Melalui pengajian, umat tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan agama, tetapi juga mendapatkan ruang untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat beribadah, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Menjelang akhir acara, KH. Muhammad Shodiq memimpin doa bersama untuk keselamatan bangsa, keberkahan masyarakat Ponorogo, kemajuan Nahdlatul Ulama, serta kebaikan generasi penerus. Doa juga dipanjatkan agar LDNU PCNU Ponorogo terus istiqamah menghadirkan kegiatan dakwah yang memberi manfaat luas bagi umat.
Pengajian Ahad Pon pagi itu pun berakhir, tetapi pesan yang disampaikan tetap tertinggal di benak para jamaah: bahwa di tengah kesibukan hidup, selalu ada ruang untuk kembali mendekat kepada Allah, dan salah satu jalannya adalah melalui majelis ilmu yang dirawat dengan istiqamah.
Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo