Prof. Dr. Muhammad Ibrohim Al-Asymawi: Kita Wajib Bersyukur Hidup di Indonesia

NU Online Ponorogo – Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti Pondok Pesantren Ainul Ulum, Pulung, Kabupaten Ponorogo, pada Ahad (9/10/2025). Ratusan santri, wali santri, dan masyarakat umum memadati area pesantren untuk mengikuti Ijazahan Kubro atau pemberian sanad amalan yang dipimpin langsung oleh ulama besar asal Mesir, Almuhaddis Prof. Dr. Muhammad Ibrohim Al-Asymawi.
Prof. Al-Asymawi merupakan Guru Besar Ilmu Hadis Universitas Al-Azhar Kairo sekaligus Khodim Tarekat Syadziliyah Mesir. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan ijazah atas lima amalan utama, yaitu: Sholawat Burdah, Dalailul Khoirot, Sholawat Asnuroniyah, Sholawat Nuril Anwar, dan Hadis Musalsal Mahabbah.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Ainul Ulum Pulung, K. Subhan Fathu Alam atau yang akrab disapa Gus Cang, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menjaga otentisitas dan kesinambungan sanad keilmuan Islam.

“Kegiatan ini bertujuan menyambungkan sanad keilmuan, khususnya sanad sholawat. Dengan demikian, amalan para santri dan jamaah memiliki rujukan dan pertanggungjawaban guru yang jelas serta bersambung (muttashil),” ujar Gus Cang dalam sambutannya.
Dalam tausiyahnya, Prof. Dr. Muhammad Ibrohim Al-Asymawi menyampaikan apresiasi terhadap kuatnya tradisi keilmuan Islam di Indonesia.
“Kita patut bersyukur hidup di Indonesia. Banyak pondok pesantren yang masih kokoh menjaga dan mengajarkan ilmu secara turun-temurun dari para guru,” tuturnya.
Beliau juga menilai antusiasme masyarakat Indonesia dalam mencari ilmu sebagai sebuah keberkahan besar.
“Banyak orang di Indonesia senang berkumpul dengan ulama untuk menimba ilmu. Ini tradisi yang sangat baik dan perlu terus dijaga,” tambahnya.

Prosesi ijazahan berjalan lancar dan penuh kekhusyukan. Para jamaah mengikuti setiap lafaz ijazah dengan khidmat. Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Muspika Kecamatan Pulung, yang memberikan dukungan penuh terhadap penguatan tradisi keagamaan di wilayah tersebut.
Kontributor: Walit Nuril Anwarudin
Editor: Bunga Sakura