NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Kiai Sunartip Fadlan dan Mimpi yang Menjadi Nyata: Merawat Tradisi, Menggerakkan Santri

Reyog “Ki Ageng Mirah” Lesbumi PCNU Ponorogo

NU Online Ponorogo — Gelaran Festival Reyog Nasional Ponorogo ke-XXXI baru saja usai. Ribuan pasang mata menyaksikan kemegahan panggung dan atraksi para peserta dari berbagai daerah. Di antara penampilan yang menyita perhatian, hadir Reyog Lesbumi PCNU Ponorogo “Ki Ageng Mirah”, kelompok reyog yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama dan digerakkan oleh semangat para santri muda.

Di balik keberhasilan itu, ada sosok yang tak banyak berada di depan panggung, tetapi justru menjadi salah satu penggerak utama di belakang layar. Ia adalah KH. Sunartip Fadlan, Wakil Ketua PCNU Ponorogo Bidang Kebudayaan dan Lingkungan Hidup.

Jauh sebelum panggung Festival Reyog Nasional digelar, Kiai Sunartip telah menanamkan optimisme kepada para santri dan pegiat Lesbumi. Di tengah berbagai keterbatasan, ia selalu mengulang satu kalimat yang kemudian menjadi penyemangat bersama.

“Sesuatu yang tidak mungkin, bisa menjadi kenyataan.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan. Sebab, membentuk satu kelompok reyog bukanlah perkara mudah. Harus mengumpulkan anak-anak muda dari berbagai ranting NU dan badan otonom, mencari anggota yang usianya relatif sepadan, membangun kekompakan, menyediakan kostum, dadak merak, ganongan, Klono Sewandono, hingga seperangkat gamelan.

Belum lagi kebutuhan yang terus mengikuti di belakangnya: konsumsi saat latihan rutin, biaya transportasi, akomodasi, bahan bakar kendaraan, hingga berbagai pengeluaran tak terduga lainnya.

“Berat,” demikian Kiai Sunartip kerap mengatakan.

Namun justru dari sesuatu yang tampak mustahil itulah, ia ingin membuktikan bahwa santri mampu melakukannya.

Kiai Sunartip Fadlan (Waka Bidang Kebudayaan dan Lingkungan Hidup) PCNU Ponorogo

Bersama tokoh reyog senior yang akrab disapa Mbah Jenggo, Kiai Sunartip bergerak dari satu pintu ke pintu lainnya. Mereka menggalang dana, mencari donatur, mengajak para dermawan untuk ikut berpartisipasi. Tak jarang keduanya harus merogoh kocek pribadi demi memastikan latihan tetap berjalan dan para remaja NU itu dapat tampil membawa nama organisasi dan daerahnya.

Tidak ada target yang muluk-muluk.

“Yang penting bisa ikut,” begitu pesan yang selalu disampaikan Kiai Sunartip.

Dan target sederhana itu telah tercapai. Bahkan, tahun ini menjadi penampilan kedua Reyog Lesbumi PCNU Ponorogo “Ki Ageng Mirah” di Festival Reyog Nasional. Pada tahun sebelumnya, kelompok ini juga berhasil tampil dan memperoleh penghargaan khusus, sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan tersendiri meski belum berdiri di podium juara.

Bagi Kiai Sunartip, prestasi penting, tetapi ada hal yang lebih utama untuk dijaga.

Ia selalu mengingatkan para penari, penabuh gamelan, dan seluruh kru agar kesenian tidak sampai mengalahkan kewajiban kepada Tuhan.

“Boleh berseni, tetapi jangan sampai mengganggu shalat. Kalau memang harus tampil, pandailah memperhitungkan waktu dan mengalkulasi jadwal shalat agar keduanya bisa berjalan seiring,” pesannya.

Baginya, menjaga tradisi dan menjalankan ibadah bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru harus berjalan berdampingan.

Mendampingi, menguatkan, dan meneguhkan. Sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin

Malam itu, ketika penampilan Reyog Lesbumi PCNU Ponorogo “Ki Ageng Mirah” berakhir, wajah Kiai Sunartip tampak berbinar. Dari kursi VVIP, ia berkali-kali mengucapkan rasa syukur dan kebanggaannya.

“Alhamdulillah… Alhamdulillah…”

Ucapan itu berulang keluar dari lisannya, seolah menjadi ungkapan lega setelah perjalanan panjang yang penuh perjuangan.

Di sampingnya, Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idham Mustofa, M.Pd., turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas penampilan para remaja NU tersebut. Kehadiran keduanya di meja VVIP menjadi simbol dukungan penuh PCNU Ponorogo terhadap ikhtiar Lesbumi dalam menjaga warisan budaya leluhur.

Barangkali, di tengah gemerlap Festival Reyog Nasional, tidak semua orang mengetahui cerita di balik panggung. Tentang bagaimana sekelompok santri muda berlatih dengan segala keterbatasan. Tentang bagaimana para kiai dan sesepuh bergotong royong mencari biaya agar mimpi itu tetap menyala.

Kader kader kebanggaan NU, asuhan Kiai Sunartip Fadhlan

Dan di antara semua kisah itu, ada satu pelajaran yang diwariskan KH. Sunartip Fadlan kepada generasi muda Nahdlatul Ulama:

Bahwa sesuatu yang tampak mustahil tidak selalu harus menyerah pada kenyataan. Dengan gotong royong, pengorbanan, dan keyakinan, hal yang semula dianggap tidak mungkin dapat berubah menjadi kenyataan.

Sebagaimana reyog yang terus hidup dari generasi ke generasi, demikian pula semangat para santri untuk menjaga budaya dan merawat tradisi. Sebab, bagi Kiai Sunartip Fadlan, kebudayaan bukan sekadar tontonan, melainkan jalan pengabdian—ikhtiar untuk menjaga jati diri, merawat warisan leluhur, dan menghadirkan Islam yang akrab dengan budaya masyarakatnya.

Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *