Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Ziarah Makam Muassis NU : Merekam Spirit Perjuangan

Rombongan PCNU Ponorogo sedang berada di makam Rais PCNU pertama KH. Mansur Josari, Jetis.

NU Online Ponorogo – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2020, PCNU Ponorogo kembali menggelar ziarah ke makam para muassis NU di wilayah Kabupaten Ponorogo. Selain untuk melestarikan tradisi amaliyah, agenda ziarah kali ini juga dimaksudkan untuk menghidupkan kembali sekaligus meneladani semangat perjuangan para muassis dalam memperjungkan NU.

Hal ini ditegaskan Sekretaris PCNU Ponorogo Dr. H. Luthfi Aminuddin M.Ag, saat ditemui NU Online Ponorogo di sela acara, Minggu (18/10). “Ziarah makam para muassis NU ini diharapkan dapat menumbuhkan ghirah kita dalam berjam’iyah dengan meneladani para muassis dalam berjuang di NU,” kata Luthfi

Luthfi mengatakan, ziarah makam adalah tradisi yang sudah lama mengakar di kalangan nahdliyin. Tradisi ritual keagamaan yang ditandai dengan membaca wirid dan do’a ini biasanya dilakukan warga NU hampir sepanjang tahun. Karena itu, pengurus NU harus memfasilitasi tradisi warganya. “Dalam rangka memperingati HSN seperti sekarang ini, hampir semua pengurus NU di berbagai tingkatan menggelar acara ziarah. Begitu juga cabang (PCNU Ponorogo, Red),” terangnya.

Untuk tahun ini, lanjutnya, Panitia Pelaksana HSN 2020 sudah menetapkan beberapa makam yang diyakini sebagai titik simpul santri. Di antaranya makam para masyayikh Pesantren Gebang Tinatar Tegalsarai, makam Bathoro Katong, makam tokoh tarekat KH. Abu Dawud Durisawo. Untuk makam muassis, dipilihlah 2 ulama yang menjadi cikal bakal lahirnya NU di Ponorogo. Yaitu makam KH. Mansur di Josari Kecamatan Jetis, dan makam KH. Ibrahim di komplek pemakaman umum Gondoarum Kecamatan Ponorogo. Keduanya adalah Rais dan Ketua PCNU Ponorogo pertama.

Rais PCNU Ponorogo sedang memimpin tahlil di makam Ketua PCNU Ponorogo pertama KH. Ibrahim di TPU Gondo Arum, Ponorogo

Perlu diketahui, PCNU Ponorogo termasuk cabang yang didirikan pada pada periode awal lahirnya NU. Bahkan tercatat sebagai cabang ketujuh yang diresmikan HBNO (sekarang PBNU, Red) pada tahun 1927, atau hanya setahun setelah berdirinya NU. Berdirinya PCNU Ponorogo tidak lepas dari perjuangan Kyai Mansur dan Kyai Ibrahim. Kebetulan keduanya merupakan sahabat karib Rais Akbar sekaligus pendiri NU Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari saat nyantri di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo.

Hal senada disampaikan Rais PCNU Ponorogo KH. Moh. Sholihan Al-Hafidz. Ziarah ke makam para ulama, katanya, sangat penting agar bisa meneladani perjuangan para ulama jaman dulu. Sebab ulama adalah simbol pergerakan yang utama sejak berdirinya NU. “Ziarah ini mengingatkan kita pentingnya menelusuri jejak perjuangan ulama. Pada ujungnya kita memiliki pemahaman, betapa pentingnya peran kyai dalam perjuangan dan pergerakan NU,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Nurul Quran Pakunden ini.

Katib PCNU Kyai Romadhon Fauzy menambahkan, upaya meneladani para muassis NU sama saja dengan upaya menyambung sanad keilmuan santri dengan kyainya. “Pada intinya, meskipun ziarah makam itu sudah menjadi tradisi NU, yang jauh lebih penting adalah upaya kita sebagai santri untuk menyambung sanad keilmuan dengan kyainya,” ungkap salah satu pengasuh Ponpes Hudatul Muna Jenes yang akrab disapa Gus Fauzy ini.

Makna ziarah makam muassis NU sebagai bagian dari penjagaan sanad keilmuan kyai-santri juga disinggung Drs. H. Fatchul Azi, MA, ketua PCNU Ponorogo. Menurutnya, NU adalah jam’iyah diniyyah ijtimaiyyah atau organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Sebagai organisasi keagamaan, NU punya kewajiban menjaga berlakunya otentisitas ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat, baik dalam hal aqidah, ibadah, muamalah maupun akhlak.

Masih menurut pria yang saat ini memegang amanah sebagai ketua PCNU Ponorogo pada periode ketiga ini, otentisitas ajaran Islam akan terjaga dengan baik manakala sanad keilmuan Islam itu tetap terjaga. “Penjagaan sanad ilmu itu dapat dilihat seperti pada saat transfer keilmuan di Ponpes, pengijazahan ilmu dan hikmah, juga menjaga hubungan kyai-santri. Ziarah makam muassis NU adalah salah satu bentuk dari penjagaan sanad keilmuan tersebut. Dengan ziarah, maka generasi sekarang menjadi lebih yakin akan adanya ketersambungan ilmu dari para muassis NU. Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk berziarah kubur, karena akan menjaga kelurusan hati dalam beragama seiring dengan ingatnya kepada kematian yang pasti terjadi,” pungkasnya.

 

Reporter : Idam

Editor : Lege

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *