
NU Online Ponorogo – Suasana ruang tunggu poliklinik siang itu tidak terlalu ramai. Dari balik pintu, seorang pria paruh baya melangkah masuk, langkahnya sedikit gontai. Di tangannya tergenggam map berisi hasil laboratorium dan catatan medis. Ia duduk di hadapan dr. Riza Mazidu Sholikin, SpU—dokter lulusan Universitas Airlangga Surabaya yang akrab disapa dr. Zidu.
Pasien itu sudah beberapa kali menjalani hemodialisis. Dengan suara penuh harap, ia bertanya, “Dok… apakah saya bisa sembuh seperti teman saya itu? Dia juga cuci darah, tapi cuma tiga kali. Setelah operasi sama dokter, dia langsung lepas dari mesin cuci darah.”
Dr. Zidu terdiam sejenak. Ia menghela napas, lalu menatap pasiennya dengan tatapan yang lembut namun tegas. “Teman Anda itu menderita batu ginjal yang letaknya di saluran setelah ginjal,” ujarnya perlahan. “Batu itu menyumbat aliran urine. Begitu diangkat lewat operasi, salurannya terbuka, urine bisa keluar normal lagi. Fungsi ginjalnya pun kembali.”
Ia berhenti sebentar, seolah memberi jeda agar kalimatnya meresap. “Sedangkan Anda,” lanjutnya, “sudah lebih dari sepuluh tahun menderita diabetes. Kondisi itu pelan-pelan merusak jaringan ginjal dari dalam. Ini bukan soal tersumbat atau tidak—ini soal ginjal yang sudah rusak secara permanen.”
Dalam dunia medis, penjelasan dr. Zidu menggambarkan pembagian besar penyebab gagal ginjal. Ada yang bersifat pre-renal, ketika masalah timbul sebelum ginjal—misalnya karena dehidrasi, perdarahan, atau penurunan aliran darah. Ada pula yang post-renal, seperti batu ginjal, tumor, atau pembesaran prostat yang menghalangi aliran urine. Dan yang terakhir, renal atau intrinsik, saat kerusakan terjadi di dalam ginjal itu sendiri, biasanya akibat penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi.

Kasus sang teman termasuk post-renal—masalahnya ada di “hilir” dan bisa diperbaiki dengan operasi. Sementara kasus pasien di hadapan dr. Zidu termasuk renal/intrinsik. Ginjalnya rusak akibat nefropati diabetik, kondisi yang terjadi ketika kadar gula darah tinggi bertahun-tahun menyebabkan perubahan struktural di glomerulus, unit penyaring di ginjal. Perlahan tapi pasti, membran basal menebal, jaringan mengeras, dan fungsi penyaringan pun merosot.
Menurut data Kementerian Kesehatan, diabetes dan hipertensi adalah penyebab utama penyakit ginjal kronis di Indonesia. Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencatat, lebih dari sepertiga kasus gagal ginjal kronis berawal dari tekanan darah tinggi, dan hampir sepertiga lagi akibat diabetes. Berbeda dengan batu ginjal, kerusakan akibat diabetes tidak bisa diangkat lewat pisau bedah—yang tersedia hanyalah pengendalian progresinya dan terapi pengganti ginjal seperti dialisis atau transplantasi.
Dr. Zidu tidak memaparkan panjang lebar di ruang periksa itu. Ia hanya menutup penjelasannya dengan kalimat yang terasa menenangkan, “Yang penting sekarang, Anda terus berobat dengan dokter yang menangani, tetap menjalani cuci darah sesuai jadwal, dan menjaga pola hidup sebaik mungkin. Kesembuhan bisa punya banyak bentuk—terkadang bukan berarti bebas dari penyakit, tapi bisa tetap menjalani hidup dengan baik.”
Di luar ruangan, pasien itu berjalan pelan. Harapannya tentang operasi mungkin pupus, tetapi ia pulang membawa pengertian baru: tidak semua gagal ginjal punya pintu keluar yang sama. Ada yang bisa dibuka dengan satu tindakan bedah, ada pula yang hanya bisa dilalui dengan kesabaran dan perawatan jangka panjang.
Kontributor: Nanang Diyanto/ LKNU Ponorogo