NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Menjaga Hidrasi Sehat Selama Puasa Ramadan: Beberapa Tips Pentingnya Asupan Cairan dari dr Mazidu Ahli Urologi

Tetap sehat, terpenuhi cairan saat menunaikan ibadah puasa Ramadan

NU Online Ponorogo – Bulan Ramadan adalah momen suci yang dinanti umat Muslim untuk memperkuat ikatan spiritual. Namun, di tengah ibadah puasa yang menuntun pada pengendalian diri, tak sedikit orang yang mengabaikan kebutuhan dasar tubuh, termasuk asupan cairan.
Mitos seperti “banyak minum akan mengganggu wudhu” atau “cukup minum sekadarnya saat sahur dan berbuka” masih sering dijadikan alasan untuk membatasi konsumsi air. Padahal, menurut dr. Riza Mazidu Sp.U, dokter spesialis urologi di Ponorogo, membatasi cairan justru berisiko mengganggu kesehatan, terutama fungsi ginjal. Lalu, bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidrasi tanpa mengganggu ibadah?

Dr. Riza menegaskan bahwa kebutuhan cairan tubuh selama puasa tidak berbeda dengan hari biasa. Pada orang sehat, tubuh memerlukan minimal 2.000 ml (8 gelas) air per hari untuk menjalankan fungsi fisiologisnya. “Membatasi air hanya karena takut batal wudhu adalah kekeliruan. Justru, kurang cairan bisa memicu kelelahan, gangguan konsentrasi, hingga risiko jangka panjang pada ginjal,” ujarnya. Kuncinya adalah mengatur strategi konsumsi air secara optimal di luar jam puasa.

Air bukan sekadar pelepas dahaga. Dalam paparan dr. Riza, air berperan sebagai “supir” yang menggerakan sistem tubuh:
1. Sirkulasi dan Pencernaan, Air membantu transportasi nutrisi, oksigen, dan hormon ke seluruh tubuh, sekaligus melancarkan proses pencernaan dan penyerapan makanan.
2. Detoksifikasi, Ginjal bergantung pada air untuk menyaring limbah metabolisme melalui urine dan keringat. Kurang cairan menyebabkan penumpukan racun yang berisiko merusak ginjal.
3. Regulasi Suhu, Air menjaga suhu tubuh tetap stabil, terutama di tengah cuaca panas atau aktivitas fisik.
4. Kesehatan Otot dan Sendi, Air melumasi sendi dan mencegah kram otot, sehingga tubuh tetap lentur saat menjalani aktivitas selama puasa.
5. Kesehatan Kulit, Hidrasi cukup mencegah kulit kering dan keriput, menjaga elastisitas alaminya.

Agar kebutuhan 2.000 ml air terpenuhi, dr. Riza merekomendasikan pembagian waktu minum sebagai berikut:
– Saat Berbuka, Mulai dengan 1-2 gelas air putih. Hindari minuman manis berlebihan yang justru memicu dehidrasi.
– Setelah Tarawih, Konsumsi 1-2 gelas air untuk menggantikan cairan yang hilang selama ibadah.
– Sebelum Tidur, Minum 1 gelas air demi menjaga metabolisme semalaman.
– Sahur, Penuhi 2-3 gelas air secara bertahap untuk persiapan puasa keesokan hari.

Selain air putih, cairan juga bisa diperoleh dari buah tinggi air seperti semangka, melon, dan jeruk, serta makanan berkuah seperti sop atau sayur bening. “Ini cara cerdas untuk memaksimalkan hidrasi tanpa merasa ‘kebanjiran’ air,” tambahnya.

Dr. Riza mengingatkan pentingnya memantau warna urine sebagai tanda hidrasi. Berdasarkan tabel warna urine yang ia sarankan, urine kuning jernih hingga kuning muda menunjukkan kondisi terhidrasi. Sebaliknya, urine kuning pekat atau kecoklatan adalah alarm dehidrasi. “Volume urine normal sekitar 1.500 ml per hari. Jika asupan cairan cukup, frekuensi buang air kecil akan teratur tanpa warna yang pekat,” jelasnya.

Ketika kita puasa tidak perlu takut fungsi ginjal akan terganggu karena kebutuhan cairan kita penuhi saat malam hari.

Dr. Riza menutup dengan pesan: “Jangan takut minum cukup air selama bisa diatur waktunya. Kecuali bagi penderita penyakit tertentu seperti gagal jantung atau ginjal kronis yang perlu konsultasi dokter terlebih dulu.” Dengan strategi tepat, puasa Ramadan tidak hanya khusyuk secara spiritual, tetapi juga menyehatkan secara jasmani.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Mari jaga hidrasi, jaga kesehatan!

Kontributor: Nanang Diyanto/LKNU Ponorogo)

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *