
NU Online Ponorogo — Gerakan solidaritas kemanusiaan yang digerakkan oleh PC Muslimat NU Ponorogo membuahkan hasil yang menggembirakan. Melalui jaringan organisasi dari tingkat ranting hingga cabang, Muslimat NU Ponorogo berhasil menghimpun donasi sebesar Rp265 juta untuk membantu para korban bencana banjir di wilayah Sumatera.
Ketua PC Muslimat NU Ponorogo, Hj. Tufy Laili Thahir, menjelaskan bahwa penggalangan dana ini merupakan tindak lanjut atas himbauan PW Muslimat NU Jawa Timur tertanggal 2 Desember 2025. Himbauan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan menggerakkan seluruh struktur organisasi.
“Kami segera meneruskan himbauan ini kepada seluruh jajaran, mulai dari PAC, PR, hingga perangkat dan lembaga terkait seperti YPM NU, YKMNU, IHMNU, dan HIDMAT. Alhamdulillah, semuanya bergerak dengan semangat kebersamaan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sekretaris PC Muslimat NU Ponorogo, Hj. Aning Rachmawati, menambahkan bahwa dana yang berhasil dihimpun tersebut telah disalurkan melalui YKMNU Jawa Timur pada 2 Januari 2026.
“Alhamdulillah, amanah dari para donatur sudah kami salurkan melalui jalur resmi. Ini menjadi bentuk tanggung jawab kami agar bantuan benar-benar sampai kepada para korban yang membutuhkan,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa capaian tersebut menempatkan PC Muslimat NU Ponorogo sebagai peringkat kedua tertinggi se-Jawa Timur dalam penggalangan donasi, setelah PC Muslimat NU Kabupaten Madiun.
Sementara itu, Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idam Mustofa, memberikan apresiasi tinggi atas capaian signifikan yang diraih oleh Muslimat NU Ponorogo. Menurutnya, peran aktif para ibu-ibu Muslimat menjadi bukti kuatnya basis sosial NU yang bergerak dari bawah.
“Ini bukti bahwa kekuatan NU ada pada jamaahnya. Gerakan ibu-ibu Muslimat sangat luar biasa, penuh empati dan ketulusan. Mereka bergerak dari hati, dari kepedulian yang nyata,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jati diri Nahdlatul Ulama. Respons cepat Muslimat NU Ponorogo menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan benar-benar dihidupkan dalam tindakan nyata.
“Ini bukan sekadar instruksi organisasi, tetapi panggilan nurani. NU selalu hadir untuk umat, terlebih dalam kondisi darurat seperti bencana,” pungkasnya.
Kontributor: Sahabat Media LTN