Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Makam Auliya’ Dibuka Lagi, NU Ranting Ngrupit Penuhi Janji

NU online Ponorogo – Sedianya April 2020 Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PR NU) Ngrupit merencanakan ziarah makam auliya’ di Jawa Timur atau sering disebut wali lima. Namun, begitu pemerintah mengumumkan zonaisasi wilayah yang terpapar covid-19 semua destinasi makam auliya’ ditutup. Karena itu, rencana yang sudah matang itu ditunda sampai waktu yang ditentukan.

“Segala persiapan mulai pendaftaran peserta, penarikan iuran dan pemesanan bus sudah dilakukan sejak September 2019,” ujar Pitoyo salah pengurus PAC GP Ansor Jenangan yang terlibat dalam kepanitiaan.

Rombongan ziarah makam wali lima Jawa Timur berpose di area parkir makam Tebuireng sesaat sebelum melanjutka perjalanan
Rombongan ziarah makam wali lima Jawa Timur berpose di area parkir makam Tebuireng sesaat sebelum melanjutka perjalanan

Begitu pemerintah menerapkan kebijakan new normal atau adaptasi baru pada masa pandemi, semua pengelola makam belum juga berani membuka akses peziarah. Pengurus PR NU Ngrupit kembali harus bersabar.

Masuk Oktober 2020 tersiar kabar dibukanya kembali makam auliya’ di Jawa Timur. Ini mendorong pengurus PR NU untuk kembali merencanakan ziarah makam auliya’.

Di bawah koordinasi Lembaga Dakwah PRNU Ngrupit, Sabtu (21/11) pukul 13.00 1 rombongan bus terdiri dari 40 orang bertolak dari rumah Wahib di Dukuh Karanganyar menuju Jombang. Destinasi pertama adalah makam di kompleks Pesantren Tebuireng Jombang. Di sana rombongan membaca tahlil untuk almarhum Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari, KH.A. Wahid Hasyim dan Gus Dur beserta seluruh dzuriyah Pesantren Tebuireng.

Destinasi kedua makam Syaikh Jumadil Kubro di Trowulan Mojokerto. Selepas dari Trowulan rombongan menyelesaikan ziarah ke makam Sunan Ampel Surabaya, dilanjutkan ke Gresik. Sesampainya di Gresik rombongan berziarah ke makam Sunan Giri di Kebomas, lalu menuju makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim.

Tanpa menggunakan waktu yang lama untuk sekedar istirahat, rombongan menuntaskan ziarah ke makam Sunan Drajad di Paciran Lamongan. Rangkaian ziarah berakhir di makam Sunan Geseng, Asmarakandi, dan Sunan Bonang, semuanya berada di Kabupaten Tuban. Rombongan sampai di Ngrupit, Ahad (22/11) malam.

Saat diminta keterangan, apakah ada penerapan protokol kesehatan di masing-masing makam Pitoyo membenarkannya.

“Memang tidak ada cek suhu badan, cuma di pintu masuk makam ada pengawalan ketat. Di situ ada personil dari kepolisian dan TNI beserta petugas resmi makam,” terang Pitoyo.

Ditambahkan Pitoyo, petugas di semua makam selalu memperingatkan rombongan peziarah yang baru datang agar menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan sebelum masuk area makam. Meski begitu, lanjut Pitoyo, tidak ada pembatasan jumlah peziarah yang diperbolehkan masuk area makam.

“Tapi praktiknya di dalam makam jamaah tetap berjubel penuh sesak. Tidak ada bedanya dengan situasi normal,” ungkapnya berseloroh.

Di akhir perbincangan dengan NU online Ponorogo, Pitoyo mengungkapkan kegembiraan para pengurus NU Ranting Ngrupit karena dapat berziarah dalam kondisi aman dan sehat.

“Alhamdulillah, ini program yang sudah lama, akhirnya terlaksana dengan tertib dan aman,” pungkasnya. (dam)

Reporter : Idam
Editor : Budi

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *