
NU Online Ponorogo — Pimpinan Cabang GP Ansor Ponorogo menggelar sarasehan Pra-Konfercab di Gedung D INSURI Ponorogo, Ahad (30/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan KH Abdul Muhaimin dan Gus Rizal Mumazziq yang memberikan perspektif historis serta arahan strategis bagi kader Ansor dan Banser.
Dalam pemaparannya, KH Abdul Muhaimin mengingatkan bahwa NU pernah berada dalam pusaran pertarungan politik besar pada 1960-an. “Sejarah NU jangan lagi diblokir hanya pada hal-hal mistik. Kita harus berani berhadapan dengan pertarungan pemikiran,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dinamika politik saat ini juga menuntut kewaspadaan. “Saya sering melihat operasi intelijen berlangsung terus sejak 1965, gerakan 212, hingga hari ini,” katanya.
Salah satu A’wan PBNU ini mengkritisi fenomena saling menyalahkan antar kelompok yang mengatasnamakan Ansor atau Banser. “Jangan membawa Ansor ke pertarungan politik sempit,” tegasnya.
Sementara itu, Gus Rijal Mumazziq menyoroti kecenderungan sebagian kader terjebak pada romantisme sejarah.

“Kadang kita terlalu bangga dengan masa lalu sampai lupa mengkritik diri sendiri,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Ansor harus kembali pada khittah sebagai penolong umat. “Ciri Ansor itu sederhana: kalau ada orang kesusahan, Ansor datang. Bukan sebaliknya,” tegasnya.
Gus Rijal yang saat ini menjabat Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Timur juga mengisahkan keteladanan sahabat Nabi, Tsabit Al Ansori yang rela memberikan makanan terakhir keluarganya kepada tamu Rasulullah. “Dari kisah itu kita belajar: Ansor itu memberi, bahkan ketika tak punya apa-apa,” ungkapnya.
Menutup sesi, para narasumber menekankan pentingnya membaca potensi kader secara proporsional. KH Abdul Muhaimin mengutip nasihat KH Hamid Pasuruan: “Kader itu seperti pohon kelapa. Tidak semua jadi santan, tapi semua ada gunanya. Tugas kita mengenali potensinya.”
Sementara Gus Rijal mendorong GP Ansor Ponorogo untuk terus memperkuat kultur organisasi dan konsistensi kader di tengah masyarakat.
Kontributor: Sahabat Media LTN