NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Musker II MWC NU Babadan, Ketua PCNU Ungkap Hasil Survei Alfara Institute

Sambutan Ketua PCNU, memotivasi pengurus untuk tidak terlena dengan kebesaran jumlah nahdliyin

NU Online Ponorogo – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Babadan menggelar Musyawarah Kerja (Musker) II di Aula MI Ma’arif Darul Ulum Ngrambang, Desa Pondok, Kecamatan Babadan, Ahad (26/7). Kegiatan ini menjadi forum konsolidasi organisasi sekaligus penyusunan program kerja MWC NU Babadan untuk satu tahun ke depan.

Musker II dihadiri jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah MWC NU Babadan, pengurus ranting, lembaga dan adan otonom. Ketua PCNU Ponorogo Dr. Idam Mustofa, M.Pd, ikut hadir membuka Musker sekaligus memberikan pembinaan dan arahan strategis kepada peserta musyawarah.

Dalam sambutannya, Ketua PCNU Ponorogo menegaskan bahwa MWC NU memiliki posisi yang sangat strategis sebagai ujung tombak penguatan organisasi di tingkat kecamatan. Menurutnya, seluruh program kerja harus diarahkan pada penguatan pelayanan kepada jam’iyah sekaligus memperkuat kehadiran NU di tengah masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Ketua PCNU mengungkap hasil survei Alfara Institute yang dilakukan pada akhir tahun 2025, saat dinamika dan konflik internal PBNU masih menjadi perhatian publik. Menurutnya, di tengah situasi tersebut, hasil survei justru menunjukkan bahwa basis kultural Nahdlatul Ulama tetap sangat kuat. Sebanyak 57 persen responden mengaku “berbudaya NU”, sebuah istilah yang dimaknainya dari laporan survei untuk menggambarkan masyarakat yang memiliki kedekatan dengan tradisi, nilai, dan praktik keagamaan khas NU, meskipun tidak seluruhnya tercatat sebagai warga organisasi secara administratif.

“Hasil survei ini menunjukkan bahwa NU memiliki kekuatan budaya yang sangat kokoh. Kepercayaan masyarakat tetap stabil meskipun saat itu konflik PBNU sedang menjadi sorotan. Ini adalah modal sosial yang sangat besar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, temuan tersebut sekaligus menjadi amanah bagi seluruh pengurus NU. Kekuatan budaya yang dimiliki NU harus dijaga melalui pelayanan umat, pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kaderisasi.

“Pengurus NU tidak cukup hanya mengelola organisasi, tetapi juga harus terus merawat tradisi dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang hidup di tengah masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Musker II MWC NU Babadan menjadi forum evaluasi pelaksanaan program sebelumnya sekaligus menyusun rencana kerja yang selaras dengan kebijakan NU. Berbagai usulan dari ranting, lembaga, dan badan otonom dibahas secara partisipatif agar program yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga NU di tingkat akar rumput.

Kontributor: Sahabat Media LTN

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *