NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Perkuat Tradisi Pesantren 104 Santri Ikuti Lomba Kitab Kuning, PCNU Ponorogo

Para Peserta Lomba Dari Berbagai Pondok Pesantren

 

NU Online Ponorogo – Sebanyak 104 santri yang merupakan utusan dari 10 lembaga pondok pesantren di Kabupaten Ponorogo mengikuti perlombaan baca kitab kuning yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ponorogo melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menghidupkan tradisi keilmuan pesantren sekaligus mempererat silaturahmi antarpesantren.

Perlombaan tersebut menghadirkan dua cabang kitab yang dilombakan, yakni Kitab Fathul Qorib dan Kitab Imrithi. Peserta yang mengikuti perlombaan dibatasi dengan usia maksimal 17 tahun. Melalui kedua cabang tersebut, para santri mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dalam membaca, memahami, dan menguasai literatur klasik Islam atau yang dikenal dengan istilah turats.

Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 13.30 WIB. Rangkaian perlombaan diikuti para delegasi pondok pesantren dengan semangat dan antusiasme dalam menunjukkan kemampuan keilmuan yang selama ini dipelajari di lingkungan pesantren. Pengumuman para juara dijadwalkan pada pukul 13.10 WIB.

 

Salah satu potret santri peserta lomba

Dalam pesan pembukaan, Dr. Idam Mustofa menyampaikan bahwa perlombaan ini tidak hanya bertujuan mencari santri terbaik, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarpesantren. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN).

Menurutnya, peringatan Hari Santri tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial atau parade semata. Momentum tersebut perlu diisi dengan kegiatan yang mencerminkan identitas sejati seorang santri, yakni mengaji, mengasah ilmu pengetahuan, serta merawat kebersamaan.

Melalui perlombaan ini, para santri diharapkan semakin terdorong untuk meningkatkan etos dan gairah dalam menuntut ilmu atau tholabul ‘ilmi. Kompetisi juga menjadi ruang untuk mengukur kemampuan sekaligus memotivasi santri agar terus memperdalam kajian kitab-kitab yang menjadi bagian penting dari tradisi pendidikan pesantren.

Sementara itu, RMI PCNU Ponorogo berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat keberadaan literatur klasik Islam atau turats agar tidak terpinggirkan di tengah perkembangan zaman. Kajian kitab kuning dinilai tetap memiliki relevansi dalam membentuk tradisi keilmuan santri, sehingga perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

Tak hanya santri saja namun juga di ikuti oleh santriwati

Melalui ajang ini, RMI ingin menunjukkan bahwa santri generasi sekarang tetap mampu menguasai, bangga, dan relevan dalam mempelajari teks-teks karya ulama terdahulu. Kemampuan membaca dan mengkaji kitab kuning bukan sekadar tradisi masa lalu, melainkan bagian dari identitas keilmuan pesantren yang perlu dipertahankan.

Adapun perlombaan ini merupakan inisiatif mandiri PCNU Kabupaten Ponorogo dan tidak menjadi bagian dari kompetisi berjenjang menuju tingkat wilayah maupun provinsi. Seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan sebagai agenda internal PCNU Ponorogo dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional sekaligus memperkuat tradisi keilmuan di lingkungan pesantren.

Dengan melibatkan puluhan santri dari berbagai pondok pesantren, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertemuan dan pertukaran semangat belajar antargenerasi pesantren. Lebih dari sekadar perlombaan, agenda tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi mengaji dan mengkaji kitab kuning tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan santri.

Kontributor: Mahasiswa KPI UIN Ponorogo

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *