
NU Online Ponorogo – Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ponorogo sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darunnaja Jalen, Ngrukem, Mlarak, K. Hanif Abdul Ghofir (Gus Hanif) menegaskan pentingnya edukasi bagi masyarakat luas agar lebih cermat dan selektif dalam memilih pesantren bagi putra-putrinya.
Menurutnya, keragaman model dan ciri khas pesantren lahir bukan untuk saling bersaing, melainkan saling melengkapi dan memberi solusi atas kebutuhan santri yang beragam.
Pandangan tersebut disampaikan Gus Hanif dalam video dokumentasi tausiyah yang disebarkan oleh Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Ponorogo, Gus Rohman melalui sebuah group WA, Sabtu (7/11).
Gus Hanif menjelaskan bahwa pesantren sejak zaman dahulu memiliki kekhasan, keunggulan, serta ruang gerak masing-masing. Ada pesantren yang memadukan kurikulum salaf dengan pendidikan formal, ada yang murni mengkaji kitab kuning tanpa sekolah formal, hingga pesantren yang ramah bagi santri kurang mampu secara ekonomi dengan memberi ruang belajar sambil bekerja.
”Pesantren itu tidak harus menampung semua, tapi memberi solusi untuk semua. Mestinya kita tahu bahwa kolaborasi itu saling mengisi,” tambahnya.
Ditegaskannys, masing-masing pesantren itu punya ciri khas, sehingga ada ruang-ruang yang memang perlu diisi dari pesantren lain yang pesantren satu tidak bisa mengisi.
Dihubungi NU online Ponorogo melalui saluran WhatsApp, Gus Hanif mencontohkan, bagi calon santri yang ingin menempuh pendidikan tinggi, ada pesantren khusus mahasiswa yang mendukung perkuliahan. Begitu pula bagi keluarga dhuafa yang ingin anaknya tetap mondok meski terkendala biaya, ada pesantren yang mengakomodasi kebutuhan tersebut. Karena itu, kunci utamanya adalah kolaborasi antar-pesantren untuk saling mengenali potensi dan mengarahkan santri ke tempat yang tepat.
Edukasi mengenai tipologi pesantren dinilai sangat krusial agar masyarakat tidak salah memilih lingkungan belajar, yang sering kali berujung pada kekecewaan atau bahkan menyalahkan lembaga pesantrennya.
”Paling penting ini adalah edukasi untuk publik. Jangan sampai kita itu salah masuk pesantren, yang akhirnya malah menyalahkan pesantrennya. Kalau kita tahu potensinya, kolaborasinya jalan, maka tidak akan tabrakan dan tidak ada lagi alasan ingin mondok tapi terkendala keadaan,” pungkasnya.
Dengan memahami karakter dan visi setiap pondok, para orang tua diharapkan dapat menempatkan anak-anaknya di pesantren yang paling selaras dengan potensi, bakat, serta kondisi keluarga, demi melahirkan generasi santri yang berkah dan berakhlak mulia.
Kontributor : Mahasiswa KPI UIN Ponorogo